Cherreads

Chapter 178 - Bab 178: Seris Terbangun, Dendam yang Bernama Masa Lalu

Sore menjelang. Langit di luar jendela kamar hotel mulai memerah, tapi suasana di dalam kamar jauh dari hangat.

Di atas ranjang, Seris Vhal'Raine akhirnya membuka mata.

Napasnya masih berat. Kepalanya terasa seperti dipukul berkali-kali, dan setiap kali ia mencoba menggerakkan bahu—rasa nyeri langsung menjalar.

Di sisi ranjang, Noelle Morvayne duduk dengan ekspresi setengah malas tapi jelas lega.

Noelle:

"Akhirnya kau bangun."

"Jangan pingsan lagi. Repot."

Noelle mengangkat tangan lalu menjentikkan jarinya sembari berkata.

Noelle:

"Nerine, panggil yang lain."

Di belakang Noelle, Nerine bergegas pergi atas perintah kakaknya tanpa protes, rambut merah tuanya bergoyang saat ia bergerak cepat.

Nerine:

"Oke. Tunggu."

Tanpa menunggu jawaban, Nerine keluar kamar seperti angin.

Noelle menahan bahu Seris pelan agar ia bisa duduk.

Noelle:

"Pelan-pelan saja."

"Kau baru saja jadi siuman."

Seris (suara serak):

"…Berapa lama aku terbaring…?"

"Dan… bagaimana dengan kak Ravien?"

Noelle diam sejenak sembari melihat temannya yang masih mengkhawatirkan orang lain dibanding dirinya.

Noelle:

"Sekitar tiga jam kau tak sadarkan diri."

"Dan… mengenai kakakmu…"

"Dia tadi terlihat tenang."

"Tapi itu tenang yang dipaksa."

"Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau dia mendengar kau sudah siuman."

Seris menelan ludah. Hatinya langsung turun.

Dan benar saja—tidak lama kemudian, pintu kamar kembali ramai.

Satu per satu masuk: Rei, Aelria, Airi, Riku, Rika, Rinna, lalu Nerine. Suara langkah mereka menumpuk dalam satu detik yang sama.

Aelria:

"Seris bagaimana keadaanmu?"

Rinna:

"Akhirnya gadis ini sadar juga."

Rei:

"Syukurlah jika kau sudah sadar."

"Semua orang sangat khawatir Seris."

Seris tersenyum karena mereka sangat khawatir akan dirinya.

Seris:

"Terima kasih semua."

"Aku baik-baik saja untuk sekarang."

Mereka tersenyum dan bahagia melihat Seris tidak mengalami hal buruk.

Tapi momen bahagia itu tidak berlangsung lama—karena datangnya langkah "berat" dari belakang mereka seperti akan bertarung dan itu—adalah Ravien Vhal'Raine.

Begitu melihat Seris yang sudah sadar dan sudah bisa duduk, Ravien langsung maju melewati mereka semua. Wajahnya dingin, tapi matanya tidak.

Ravien (tegas, cepat):

"Seris."

"Siapa pelakunya?"

"Dan di mana Hina?"

Seris menunduk. Tangannya mengepal pelan di atas selimut.

Seris:

"Dia… Lunaria kak."

Nama itu seperti pisau yang dijatuhkan di ruangan kecil.

Beberapa orang membeku.

Seris (lanjut, terbata):

"Dia… mantanmu, Kak."

"Dia datang untuk balas dendam."

"…Dan pacarnya juga bersama dengannya."

Ravien tidak bereaksi dengan suara.

Tapi udara terasa berubah. Seperti ada sesuatu yang ingin menghancurkan dinding.

Sebelum siapa pun sempat bicara lagi—kantong dimensi Ravien bergetar.

Ravien langsung meraih bola kristal komunikasi dan menyalakannya.

Ravien:

"Cepat laporkan."

Dari kristal, terdengar suara pria demon tua—nada hormat, tegang.

Pelayan Demon Tua:

"Maaf, Tuan."

"Dari hasil penyelidikan, Lunaria dan pasangannya tidak terdeteksi di seluruh Elyndor."

"Tidak ada jejak aktivitas, transaksi, atau kontak."

"Seolah… mereka lenyap dari dunia ini, Tuan."

Ravien menegang.

Ravien (dingin, menggigit):

"Kalian sungguh tidak berguna."

"Percumaku latih hingga kalian mendapat julukan Pasukan Elit… jika hal 'sepele' begini pun tak bisa kalian jalankan."

Pelayan Demon Tua:

"Saya mohon maaf, Tuan—"

Ravien:

"Maaf kau bilang."

Ravien menggenggam kristal lebih keras.

KREK!

Suara itu kecil… tapi cukup membuat semua orang berhenti bernapas.

Aelria (dalam hati):

Apa dia gila, mau menghancurkan itu.

Seris (dalam hati):

Kak Ravien...

Detik berikutnya, Rei maju dan meraih pergelangan tangan Ravien. Pegangannya kuat—terlalu kuat untuk ukuran "manusia biasa".

Ravien menoleh cepat. Matanya menatap Rei, terkejut setengah detik… lalu kembali dingin.

Ravien (dalam hati):

Dari mana kekuatannya berasal.

Rei (tenang tapi tegas):

"Cukup, Ravien."

"Marah tidak akan mengembalikan Hina lebih cepat."

"Dan Seris baru siuman. Jangan bikin dia hancur lagi."

Ravien menahan napas. Dalam satu tarikan, aura yang tadi hampir meledak… dipaksa turun.

Ia memutus komunikasi begitu saja, tanpa pamit.

Ravien (suara rendah):

"Lepaskan aku."

Lalu ia berbalik, berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi.

Rinna refleks mau mengejar.

Rinna:

"Kau—"

Rei (menahan dengan isyarat):

"Biarkan Rinna."

"Beri dia ruang untuk tenang."

"Untuk sekarang kita harus fokus pada Seris."

"Dan untuk Ravien… aku akan coba menyusulnya nanti."

Rinna hanya bisa menuruti perkataan Rei karena menurutnya logis.

Ruangan kembali hening beberapa detik, hanya terdengar napas Seris yang masih tidak stabil.

Aelria mendekat, duduk di sisi ranjang, suaranya lembut.

Aelria:

"Seris…"

"Katakan dengan lengkap… siapa yang menyerangmu dan apa hubungannya dengan Ravien."

"Kami semua di sini akan membantu."

"Tapi… kita perlu paham. Biar kita tahu langkahnya."

Seris menatap satu per satu wajah di ruangan itu—mereka tidak menuntut, tapi semua menunggu.

Walau Seris ragu harus menceritakan kisah kelam kakaknya tapi melihat semua orang sangat peduli akhirnya Seris membulatkan tekad.

Seris menghela napas panjang.

Seris:

"…Baiklah."

"Aku akan cerita."

Ia menunduk, seolah menarik masa lalu keluar dari dada.

Tiga Tahun Lalu — Sebelum Ravien Menjadi 'Ravien yang Sekarang'

Seris (narasi):

"Bermula pada tiga tahun lalu…"

"Kak Ravien yang sekarang kalian kenal beberapa bulan lalu bukanlah Ravien di masa lalu."

"Dia… sangat baik kepada semua orang termasuk orang lemah."

"Hingga Baiknya sampai menyebalkan."

Noelle menyilangkan tangan, ekspresinya datar seperti tidak percaya, tapi matanya serius.

Seris melanjutkan, suaranya semakin pelan.

Seris:

"Dia suka menolong ras lain… bahkan yang membencinya."

"Itu yang membuat dulu ia memiliki banyak teman."

"Hingga beberapa bulan setelah itu…"

"Dia bertemu seorang gadis beastkin."

Seris menelan ludah.

Seris:

"Seorang beastkin… ras kelinci."

"Ceria. Ramah. Selalu terlihat seperti cahaya."

"Kak Ravien… jatuh cinta pada gadis itu."

"Kak Ravien mencoba mencari tahu apa yang gadis itu suka dan tidak suka."

"Dan itu membuat kak Ravien belajar memasak."

Nerine:

"Jadi dari situlah kakakmu sangat hebat dalam memasak?"

Seris mengangguk kecil tanda membenarkan.

Di ruangan itu akhirnya mereka paham bagaimana demon itu bisa memasak dan tahu apa tujuannya.

Seris melanjutkan.

Seris:

"Hingga akhirnya mereka berpacaran berkat perjuangan dan bantuan teman-temannya."

"Saat pacaran kak Ravien selalu menuruti apa pun yang gadis itu minta."

"Membelikan apa pun yang gadis itu mau."

"Dan kak Ravien tidak pernah komplain… selama gadis itu tersenyum."

"Kami tidak pernah curiga dengan hubungan mereka selama kak Ravien bahagia."

Lalu suara Seris mulai bergetar.

Seris:

"Sampai suatu hari…"

"Kak Ravien bilang dia tidak bisa pulang bareng gadis itu."

"Gadis itu bilang 'tidak apa-apa'…"

Seris menutup mata sebentar.

Seris:

"Padahal… saat itu Kak Ravien ingin menyiapkan kejutan untuk sang gadis."

"Karena besoknya merupakan hari ulang tahun gadis itu."

Rei memejamkan mata, seolah sudah bisa menebak.

Seris melanjutkan, lebih cepat—seolah kalau ia berhenti sebentar, ia akan tidak sanggup.

Seris:

"Sore itu… semua murid pulang."

"Tapi tidak dengan kak Ravien… ia masih di kelas, menulis rencana yang akan ia berikan kepada sang gadis."

"Tak lama salah satu bawahan Kak Ravien datang…"

Seris meniru nada yang ia ingat, lebih kaku.

Seris (meniru bawahan):

"'Tuan… Nona Lunaria yang anda suruh saya pantau…'"

"'saya melihat dia berada di rumah sahabat Anda.'"

"'Dan mereka masuk ke dalam kamar. Berdua.'"

Seris membuka mata—tatapannya kosong, seperti melihat kejadian itu lagi.

Seris:

"Kak Ravien marah mendengar laporan itu."

"Dia tarik kerah bawahannya."

"Dia bilang jangan ngomong sembarangan."

Seris menggenggam selimut.

Seris:

"Tapi bawahan itu… memberikan bukti dengan mengeluarkan bola kristal."

"Dan memperlihatkan apa yang ia lihat dan rekam…"

Ia berhenti. Menggenggam erat selimutnya. Napasnya tersendat.

Lalu ia memaksa bicara.

Seris:

"…Pacarnya…"

"…tidur dengan sahabat Kak Ravien—di belakang Ravien."

"Dan… mereka bicara tentang rencana."

Seris menutup wajah sebentar.

Seris:

"Gadis itu bilang…"

"Dia bersama Kak Ravien karena hartanya."

"Dan itu sudah mereka rencanakan sejak awal… hingga berjalan sukses."

Suasana kamar jadi berat.

Aelria menahan napas.

Riku mengepalkan tangan, rahangnya mengencang—sebagai pria yang selalu menahan emosi, ini salah satu hal yang paling ia benci: pengkhianatan yang memakai perasaan sebagai alat.

Seris melanjutkan, suaranya lebih kecil.

Seris:

"Kak Ravien menghancurkan bola kristal itu."

"Dan darah menetes di tangannya."

"Tapi Ravien tidak merasakan sakitnya."

"Yang ia rasakan… hanya hening dan amarah."

Seris menatap ke lantai, seolah takut menatap mereka.

Seris:

"Lalu bawahan itu bertanya…"

"'Perintah apa selanjutnya, Tuan?'"

Seris menelan ludah sekali lagi.

Seris:

"Dan Kak Ravien… berkata…"

Ia menirukan suara yang ia dengar dulu—dingin, tajam, seperti pisau.

Seris (meniru Ravien masa lalu):

"'Ubah rencana besok.'"

"'Kumpulkan semua pasukan. Besok pagi.'"

"'Di rumah mereka dan tunggu perintahku.'"

Seris menghela napas panjang—seolah baru selesai menahan beban.

Seris:

"…Dan setelah itu…"

"semuanya berubah."

"Menjadi kak Ravien yang kalian kenal sekarang ini."

Suasana hening seperti menerima fakta yang tak bisa dihindari.

Seris:

"Aku takut… takut kak Ravien akan kembali seperti masa itu."

Rei akhirnya melangkah dan duduk di pinggir kasur mencoba menenangkan.

Rei:

"Tenang, Seris."

"Aku mungkin tidak sekuat Ravien—tapi aku akan membantunya."

"Dan kamu tidak sendirian."

"Kita semua di sini."

Seris mengangguk kecil.

Tapi di dalam dadanya, ia tahu—luka itu belum selesai.

Dan di suatu tempat… Hina masih belum kembali.

More Chapters