Rumah Mina — Beberapa Menit Setelah Mereka Pergi
Mobil melaju pelan meninggalkan kompleks. Di kursi penumpang, Yukino merapikan tas kecilnya, lalu menoleh ke suaminya dengan senyum yang masih sisa hangat dari sarapan tadi.
Yukino:
"Yah… jadi besok kita ke mana?"
Ayah Mina memegang kemudi lebih erat sebentar, lalu menjawab pelan—seolah takut kalau ia berkata terlalu keras, harapan kecil itu akan pecah.
Ayah Mina:
"Aku mau ajak kalian ke pedesaan."
"Teman lama ayah punya rumah kecil di sana… dan banyak perkebunan di sana."
"Kita bisa lihat alam… jauh dari kota."
Yukino membayangkan udara segar, suasana tenang, dan Mina yang mungkin bisa tersenyum tanpa beban.
Yukino:
"Wah…"
"itu… sederhana."
"Tapi… aku suka."
Ayah Mina tersenyum tipis. Untuk sesaat—hanya sesaat—mereka seperti kembali jadi pasangan biasa yang hanya merencanakan hal kecil.
Setelah kurang dari dua puluh menit, mobil berhenti di parkiran mal pusat kota.
Ayah Mina memarkir rapi, turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Yukino.
Mereka baru beberapa langkah menuju pintu masuk mal ketika…
Ponsel Yukino bergetar.
Nama yang muncul membuat dahi Yukino berkerut: salah satu tetangga mereka.
Yukino (bingung):
"Halo… ada apa?"
Dari seberang—suara panik, terburu-buru, nyaris menangis.
Tetangga (di telepon):
"Yukino—! Cepat pulang!"
"Api keluar dari dalam rumahmu—besar sekali!"
"Kami sudah panggil bantuan, tapi—tolong cepat!"
Waktu seperti berhenti.
Ponsel itu jatuh dari tangan Yukino.
Tubuhnya membeku. Matanya kosong, seperti tidak sanggup memproses kata "kebakaran".
Ayah Mina menoleh cepat.
Ayah Mina:
"Sayang? Ada apa?"
Yukino hanya membuka mulut—tapi suara tak keluar. Air mata muncul duluan, lalu lututnya melemas.
Ayah Mina segera mengambil ponsel yang jatuh, menempelkan ke telinga.
Ayah Mina (tegang):
"Ini saya. Jelaskan apa yang terjadi?"
Suara tetangga bergetar.
Tetangga (di telepon):
"Ya, Pak… rumah Bapak… tiba-tiba terbakar dari dalam, entah dari mana…"
"Kami sudah panggil bantuan, tapi sampai sekarang api belum juga padam…"
"Cepat pulang, Pak—!"
Ayah Mina menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Ayah Mina (menahan napas):
"Terima kasih. Kami pulang sekarang."
Panggilan ditutup.
Ayah Mina memegang bahu istrinya dan menuntunnya kembali ke mobil.
Ayah Mina (lembut, tapi buru-buru):
"Sayang, masuk dulu. Tarik napas."
"Kita pulang sekarang."
Di dalam mobil, Yukino hanya bisa menangis—tangannya menutup mulut, tapi bahunya gemetar.
Ayah Mina menyalakan mobil, langsung memutar balik.
Di tengah jalan, ia menghubungi Mina.
Beberapa nada… lalu tersambung.
Mina (di telepon):
"Ayah… ada apa?"
Suara Ayah Mina retak, tapi ia memaksa tetap stabil.
Ayah Mina :
"Mina… cepat pulang."
"Rumah kita… terbakar."
Ada jeda. Jeda yang membuat dunia terasa menggantung.
Mina (di telepon, shock):
"Apa…? Terbakar?"
"Baik, Ayah—aku pulang sekarang!"
"Tunggu aku!"
Ayah Mina menghela napas berat.
Ayah Mina :
"Baik… cepat, Nak. Kami tunggu."
Panggilan berakhir.
Ayah Mina menggenggam kemudi lebih keras.
Ayah Mina (dalam hati):
Siapa… yang tega melakukan ini…?
Tapi… aku tidak bisa menuduh siapa pun tanpa bukti.
Ia melirik istrinya yang masih menangis, lalu memaksakan suara lembut.
Ayah Mina:
"Sayang… dengar."
"Selama kita masih hidup… kita masih bisa bangun lagi."
Yukino mengangguk kecil, tapi menangisnya tidak berhenti.
Kurang dari lima belas menit—mereka sudah melihat asap dari kejauhan.
Saat mobil berhenti di ujung jalan… kenyataan menghantam tanpa ampun.
Rumah mereka… tinggal rangka hitam.
Tak ada warna. Tak ada atap. Tak ada bentuk "rumah" lagi—hanya arang, puing, dan bau hangus.
Yukino menjerit.
Yukino:
"Tidak… tidak… tidak…!"
Ia berlari, tapi tetangga menahannya.
Ayah Mina berdiri terpaku. Lalu air matanya jatuh—pelan, tapi deras.
Tetangga mengerumuni, menenangkan, menjelaskan, menunjuk ini-itu… tapi kata-kata mereka terdengar seperti dari jauh.
Dan di antara kerumunan—
Mina datang.
Mina memanggil.
Mina:
"Ayah! Ibu!"
Yukino melepas diri dari pegangan tetangga dan memeluk putrinya keras, seolah takut Mina ikut menghilang.
Mina memeluk balik… menahan napas… menahan tangis…
Tapi begitu melihat rumahnya benar-benar habis…
Air mata Mina pun jatuh.
Di kerumunan—ada beberapa pasang mata yang tidak ikut menenangkan.
Salah satu di antara mereka berbisik sangat pelan—hampir seperti doa yang kejam.
Sosok itu tersenyum tipis—tidak ikut panik, tidak ikut berduka.
Sosok Tak Dikenal (pelan):
"Terimalah hadiah dari kami, Mina."
—Altar dan Janji Palsu—
Ruangan Gelap yang Seperti Altar
Kesadaran Hina kembali… seperti ditarik paksa dari kedalaman.
Kepalanya berat. Dadanya sesak. Udara terasa… menekan.
Ia membuka mata.
Gelap.
Bukan gelap biasa—gelap yang terasa "hidup". Seolah ruangan itu meminum cahaya.
Satu-satunya penerangan datang dari altar batu tempat ia terbaring—cahaya redup memantul pada besi-besi jeruji yang berada jauh di sekeliling ruangan.
Hina:
"Di mana ini?"
Hina mencoba mengingat.
Yang terakhir ia ingat hanyalah tubuhnya diseret—lalu tekanan energi menindihnya sampai gelap.
Hina (serak):
"…Sora…?"
Di sampingnya—Sora bergerak lemah, mengeluarkan suara kecil. Ia juga tampak lemas, seperti energi di tempat ini mengikat napas mereka berdua.
Hina mencoba bangkit—
Tapi pergelangan tangan dan pergelangan kakinya tertahan.
Ia menunduk.
Empat belenggu energi gelap melilit—seperti gembok yang bukan terbuat dari besi, tapi dari "niat" yang jahat.
Hina (terengah):
"Apa… ini…?"
Ia menarik. Sakit. Tenaganya terkuras cepat.
Hina (dalam hati):
Ravien… tolong aku.
Lalu—
Suara dari kegelapan.
Pelan, tapi jelas. Seolah ruangan itu sendiri yang berbicara.
Suara Wanita:
"Oh…"
"Akhirnya kau sadar, gadis kecil."
Hina menoleh tajam. Dadanya naik turun.
Hina:
"Siapa kau?!"
Dari gelap, sosok itu melangkah masuk ke batas cahaya altar.
Telinga kelinci. Senyum yang tidak hangat. Mata yang memantulkan sesuatu yang rusak.
Lunaria:
"Aku Lunaria."
"Mantan kekasih Ravien."
"Dan kau…"
"adalah sesuatu yang dibutuhkan rencana Masterku."
Hina menggertakkan gigi.
Hina:
"Lepaskan aku!"
"Kalau tidak—Ravien tidak akan memaafkanmu!"
Lunaria tertawa.
Tawa itu memantul di jeruji besi, bergema sampai membuat tulang belakang Hina terasa dingin.
Lunaria (dingin):
"Ravien?"
"Kau kira aku akan takut pada demon itu."
"Aku bisa membunuhnya… kalau aku mau."
"Karena aku jauh lebih kuat saat ini dibanding dirinya."
Hina membeku. Napasnya tercekat.
Hina:
"…Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."
Lunaria memiringkan kepala, seolah benar-benar terhibur.
Lunaria:
"Aku iri padamu."
"Kau mencintainya sampai seperti itu."
"Ravien pasti bangga memiliki kekasih yang rela berkorban untuknya."
Ia mendekat beberapa langkah, menatap Hina seperti menilai barang.
Lunaria:
"Aku tidak akan membunuh Ravien…"
"kalau kau menuruti permintaanku."
Hina menatap tajam, menahan gemetar.
Hina:
"Aku tidak percaya orang jahat."
Lunaria tersenyum tipis—senyum yang lebih berbahaya daripada tawa.
Lunaria:
"Jahat?"
"Kenapa kau tidak bilang itu pada priamu."
"Dia… dan keluarganya…"
"yang membuat keluargaku hilang dan membuatku menjadi seperti ini."
Hina menelan ludah.
Hina:
"Aku memang tidak tahu masa lalu kalian…"
"Tapi cara yang kau lakukan sekarang…"
"Tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang."
Wajah Lunaria berubah—tajam, serius.
Ia mencondongkan wajahnya dekat sekali, hingga Hina bisa merasakan aura dingin dari tubuhnya.
Lunaria:
"Kau tidak berada pada posisiku saat itu."
"Jadi kau tidak tahu rasanya kehilangan."
Hina berusaha bicara, tapi Lunaria memotong dengan suara yang lebih pelan—lebih menakutkan.
Lunaria:
"Kesendirianmu…"
"tidak sebanding dengan kesendirianku."
"Aku melihat keluargaku hilang di depan mataku."
"Dan aku belajar satu hal: Dunia mereka hanya paham satu bahasa: kekerasan."
"Jadi aku akan menghancurkan mereka."
"Dimulai dari Ravien."
Hina menatap Lunaria—dan untuk pertama kalinya, bukan hanya takut… tapi juga mengerti ada lubang besar di balik tatapan itu.
Hina menunduk, suaranya melemah.
Hina:
"Aku mohon…"
"Lakukan apa pun padaku…"
"…asal jangan sakiti Ravien."
Lunaria berhenti.
Lalu tersenyum—senyum kemenangan.
Lunaria:
"Baik."
"Aku berjanji."
"Aku tidak akan menyakitinya."
"Selama kau menuruti semua permintaanku."
Hina gemetar.
Hina:
"…Kau benar-benar akan menepati janji itu?"
Lunaria (tanpa ragu):
"Aku berjanji."
Lunaria tersenyum melihat Hina.
Lunaria (dalam hati):
Aku memang janji tidak akan menyakitinya.
Tapi aku tidak janji dia tidak akan terluka.
Hina memejamkan mata.
Ia tahu ini jebakan. Ia tahu ini mungkin dusta.
Tapi ia juga tahu…
Jika ada peluang sekecil apa pun untuk menjaga Ravien tetap hidup—
Ia akan mengambilnya.
Hina (pelan):
"…Baik."
Lunaria tertawa lagi.
Tawa kemenangan, tawa yang memantul di jeruji besi, tawa yang membuat ruangan altar terasa semakin gelap.
Lunaria:
"Pintar."
"Akhirnya… kau mengerti."
"Untuk sekarang kau harus mengikuti semua yang akan kuperintahkan tanpa terkecuali."
Dan di dalam hati Hina—hanya ada satu permohonan yang selalu ia ucapkan tanpa putus:
Hina (dalam hati):
Selama Ravien bisa selamat.
Aku akan melakukan apa pun.
