Cherreads

Chapter 176 - Bab 176: Api yang Datang Saat Luka Belum Selesai

Satu Jam Sebelumnya — Rumah Mina

Ruang makan rumah Sakurai masih hangat oleh aroma sup dan nasi—pagi itu seharusnya tenang. Mina sudah pergi lebih dulu, meninggalkan ayah dan ibunya di meja makan.

Namun ketenangan itu… hanya kulit luar.

Ayah Mina (dalam hati):

Aku masih belum punya jalan keluar…

Ayah Mina tetap menatap mangkuknya, tapi sendoknya berhenti bergerak. Ibunya—yang duduk di sebelahnya—memandang wajah suaminya lebih lama dari biasanya. Seperti mencari "kebenaran" dari raut yang dipaksakan normal.

Ibu Mina:

"Yah…"

"…apa kita benar-benar siap menghadapi keluarga Kurogane?"

Pertanyaan itu pelan, tapi berat. Seolah satu kata "Kurogane" bisa mengubah udara di dalam rumah.

Ayah Mina menarik napas—panjang, berat, seperti napas orang yang menyimpan banyak hal.

Ayah Mina:

"Hutang bukan masalah utamanya."

"Tapi pemutusan pertunangan itulah yang membuat keluarga mereka terasa jadi penghinaan."

Ia menatap meja. Lalu menatap tangan sendiri—tangan yang sudah terlalu lama menandatangani keputusan-keputusan yang menyakitkan keluarga.

Ayah Mina:

"Kalau soal uang… kita bisa cari."

"Tapi soal harga diri… keluarga mereka tidak akan diam."

Ibu Mina menegang. Wajahnya pucat, tapi ia memaksa tetap tegar.

Ibu Mina:

"Jadi… benar-benar tidak ada jalan keluar?"

Ayah Mina berhenti makan. Sendoknya diletakkan pelan—bunyi kecil yang membuat ruang makan terasa lebih sunyi.

Ayah Mina:

"Ada… satu kemungkinan."

"Tapi aku belum tahu apakah mereka akan mau membantu."

Ibu Mina menatap suaminya cepat.

Ibu Mina:

"Benarkah masih ada solusi?"

Ayah Mina ragu. Seolah kemungkinan itu saja bisa membawa masalah lain.

Ayah Mina:

"Ada satu keluarga bangsawan di kota ini."

"Aku tidak mengenal dekat."

"Tapi… aku pernah melihat mereka di acara kerja sama antar ras."

Ia mengingat—ruang pesta, pakaian formal, senyum palsu, dan… satu keluarga yang bahkan keluarga Kurogane pun terlihat menahan napas di dekat mereka.

Ayah Mina:

"Saat itu aku menemani keluarga Kurogane."

"Dan… Kurogane sangat menghormati mereka."

"Bukan menghormati seperti formalitas."

"Lebih… seperti takut."

Ibu Mina terdiam. Lalu menatap suaminya dengan tegas—untuk pertama kalinya sejak masalah ini meledak, ia berbicara seperti orang yang benar-benar memutuskan sesuatu.

Ibu Mina:

"Kalau begitu…"

"Apa bisa untuk coba hubungi mereka."

Ayah Mina menghela napas panjang, seperti menelan pil pahit.

Ayah Mina:

"Ayah tidak yakin dengan itu."

"Tapi Ayah akan coba yang terbaik."

Ibu Mina menggenggam tangan suaminya diatas meja.

Ibu Mina:

"Semoga… mereka berbaik hati."

Suara notifikasi ponsel memotong ketegangan.

Ayah Mina mengangkat ponsel—pesan dari Mina.

"Ayah, aku mungkin pulang terlambat. Aku mau coba kafe baru sebentar."

Ayah Mina tersenyum kecil tanpa sadar. Senyum yang membuat Ibu Mina langsung menoleh—karena senyum itu langka akhir-akhir ini.

Ibu Mina:

"Itu Mina?"

Ayah Mina:

"Iya."

"Dia bilang mau pulang agak telat… mau coba kafe baru."

Ibu Mina ikut tersenyum, lebih lega.

Ibu Mina:

"Kalau Mina pulang sore…"

"Yah, kita belanja dulu untuk persiapan liburan besok."

Ayah Mina mengangguk, lalu berdiri. Mereka beres-beres cepat.

Ibu Mina:

"Tidak usah bantu aku. Ayah siapkan mobil saja. Kita harus cepat."

Ayah Mina menuruti. Ia menuju garasi, memanaskan mobil.

Sepuluh menit kemudian, Ibu Mina sudah rapi, membawa tas kecil. Ia mengunci pintu rumah, lalu naik ke mobil.

Mobil bergerak meninggalkan halaman.

Beberapa detik setelah mobil menjauh…

Dari sudut yang tak terlihat—di balik tiang listrik—beberapa sosok sedang mengamati mereka yang sudah pergi.

Mereka tidak bicara.

Hanya menatap mobil itu sampai hilang.

Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel dari saku. Jarinya bergerak cepat—mengirim pesan singkat ke seseorang.

Tidak ada suara selain "klik" kecil.

Salah satu dari mereka menatap layar—lalu menyelipkan ponsel kembali, seperti menutup peti mati.

Dan… keheningan yang terasa salah.

—Kembali ke kafe— Ketika Dunia Mina Mendadak Terbakar

Suasana kafe sempat menegang—bukan karena kopi, bukan karena kue, tapi karena kalimat Mina yang menusuk seperti pisau.

Mina:

"Jadi selama ini…"

"kamu mendekatiku memang ada niat tersembunyi, ya, Natsumi?"

Natsumi membeku. Dadanya naik turun. Ia ingin bicara, tapi kata-kata seperti macet di tenggorokan.

Natsumi:

"Mina… tenang dulu. Aku—"

Mina (memotong, tajam):

"Tidak."

"Aku sudah cukup 'tenang' dalam hidupku untuk dibohongi berkali-kali."

"Kau mengatakan bahwa kita teman, tapi kau hanya ingin memanfaatkanku."

Yuna—gadis demon—menggertakkan gigi. Tatapannya tajam, penuh emosi.

Yuna:

"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan!"

"Natsumi memiliki alasan tersendiri melakukan itu."

Mina menoleh ke Yuna—mata Mina dingin, dan kali ini tidak gentar.

Mina:

"Kau demon yang bahkan tidak kukenal."

"Tentu saja kau sebagai temannya pasti akan membela Natsumi."

Lalu Mina kembali menatap Natsumi—tatapannya lebih sakit daripada marah.

Mina:

"Terima kasih untuk kebaikanmu beberapa hari ini."

"Tapi cukup sampai sini."

"Aku harap… kamu tidak mendekatiku lagi."

"Dan jangan pernah hadir di hadapanku."

Natsumi menunduk. Tangannya gemetar halus di bawah meja.

Natsumi (dalam hati):

Bukan begitu… Mina… bukan begitu…

Yuna hendak membalas lagi—namun sebelum suara itu keluar, Ilysta menurunkan cangkirnya. Bunyi "tek" kecil, tapi cukup membuat meja itu seperti disiram air dingin.

Ilysta (dingin):

"Kalian bertiga…"

"tidak malu dilihat seluruh orang dari berbagai ras di kafe ini?"

Puluhan pasang mata sudah menatap sejak kursi bergeser—dan kini kafe itu benar-benar hening.

Ilysta menatap Yuna dulu—membuat demon itu langsung menahan napas, lalu menatap Natsumi—membuat Natsumi diam, lalu akhirnya menatap Mina.

Tatapan Ilysta tidak berteriak. Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.

Ilysta:

"Dan kau, manusia…"

"Jaga nada bicaramu."

Mina tersenyum tipis—senyum yang tidak bahagia.

Ilysta (lanjut, datar):

"Kau aman… hanya karena Sumi menganggapmu teman."

Mina mengepalkan tangan, tapi ia tidak mundur.

Ilysta:

"Dan kau…"

"berteriak meminta kebenaran…"

"tanpa mau mendengar penjelasan."

"Itu bukan keberanian."

"Itu hanya ingin merasa aman."

Kalimat itu menghantam Mina tepat di tempat yang paling sensitif.

Mina membuka mulut—ingin membalas—

Namun ponselnya berdering.

Nama "Ayah" menyala di layar.

Mina mengangkat panggilan dengan cepat.

Mina:

"Ayah?"

Dari ujung sana terdengar isak—suara Ibu.

Mina membeku.

Mina:

"Ayah… ada apa?"

Lalu suara Ayah masuk, pecah tapi dipaksa tegas.

Ayah Mina (di telepon):

"Mina… cepat pulang."

"Rumah kita… terbakar."

Seluruh warna di wajah Mina seperti hilang dalam satu detik.

Mina:

"Apa…? Terbakar?"

"Baik, Ayah—aku pulang sekarang!"

"Tunggu aku!"

Ayah Mina:

"Baik… cepat, Nak. Kami tunggu."

Panggilan berakhir.

kafe tetap ramai… tapi dunia Mina seperti sunyi total.

Mina mengambil semua barang yang ada di kursinya dan pergi dari sana.

Di saat ia hendak pergi, ia menatap Ilysta—tajam.

Mina:

"Kau beruntung… hari ini aku memilih pulang."

"Aku punya urusan yang lebih penting…"

"…daripada meladeni kalian."

Lalu Mina menoleh ke Natsumi—untuk terakhir kalinya, suaranya tidak bergetar, tapi ada luka yang sangat jelas.

Mina:

"Natsumi."

"Ingat kata-kataku."

"Jangan pernah mendekatiku lagi."

"Kita bukan teman."

"Dan urusan keluargaku…"

"dan urusan Rei…"

"jangan pernah kau ikut campur."

Natsumi tidak mengangkat kepala. Kepalannya tertunduk, tangannya mengepal menahan sesuatu yang ingin meledak—bukan amarah… tapi ia tidak bisa mengatakannya sekarang.

Natsumi (dalam hati):

Mina… jangan…

Yuna bergerak refleks, ingin mengejar—namun Ilysta mengangkat tangan, menahan lengan Yuna tanpa melihatnya.

Ilysta (dingin):

"Duduk, Yuna."

"Tidak usah kau kejar."

Yuna hanya menggertakkan gigi, dan terpaksa menahan diri.

Mina sudah berlari keluar kafe.

Bel pintu berbunyi sekali.

Lalu hilang.

Di meja itu, udara terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ilysta menatap Natsumi—kali ini tidak tajam, tapi tegas.

Ilysta:

"Sumi."

"Duduk."

"Ceritakan semuanya."

"Tanpa ditutupi."

Natsumi masih menunduk sembari menghembuskan napas pelan.

Lalu ia menutup mata sebentar—seolah menahan sesuatu di dadanya—dan duduk pelan.

Natsumi (dalam hati):

Kenapa jadi begini.

Kalau aku jujur sekarang… semua akan keluar dari rencanaku.

Natsumi (pelan):

"…Baiklah."

More Chapters