Cherreads

Chapter 175 - Bab 175: Suara di Belakang Mina, dan Serangan yang Hampir Terlambat Dihentikan

Cafe itu ramai—aroma kopi, kue hangat, dan tawa orang-orang bercampur jadi satu. Mina duduk sendiri di meja kecil dekat jendela, mencoba menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan.

Namun ketenangan itu pecah ketika suara familiar terdengar dari meja belakangnya.

Suara yang sangat ia kenal.

Bukan Hayato.

Bukan orang tuanya.

Melainkan…

Mina (dalam hati):

…Natsumi…?

—Meja Belakang— Tiga Gadis, Dua Rahasia, Satu Target

Di meja belakang Mina, Natsumi baru kembali dari toilet. Ia menarik kursi, duduk, lalu menundukkan kepala sebentar.

Natsumi:

"Maaf ya… toiletnya ramai sekali. Banyak pengunjung."

Teman Natsumi yang ras demon—gadis dengan aura hidup yang "berisik" bahkan saat duduk diam—melambaikan tangan santai.

Gadis Demon:

"Gak apa-apa. Aku justru senang."

"Kue di sini… lumayan enak."

Natsumi tersenyum lega.

Lalu ia menoleh ke teman satunya—seorang gadis elf yang duduk anggun, ekspresinya datar, kalem, nyaris seperti tidak pernah terkejut oleh apa pun.

Natsumi:

"Kalau kamu gimana?"

Gadis Elf:

"Biasa saja."

"Tidak seenak yang diucapkan si rakus ini."

Seketika si demon menegang.

Gadis Demon (kesal):

"Aku tidak rakus!"

"Hanya saja… kalau makanannya enak…"

"…aku bisa lupa diri."

Ia menyilangkan tangan, mendengus, lalu menambahkan dengan bangga:

Gadis Demon:

"Dan kalau aku makan banyak, aku bisa jadi lebih kuat."

Natsumi terkekeh.

Natsumi:

"Kalau kue di sini bisa bikin kamu bantu aku…"

"aku bisa lega."

Namun tiba-tiba suasana berubah.

Si demon—yang tadi santai—mendadak menatap Natsumi tajam.

Gadis Demon (serius):

"Jujur, Natsumi."

"Untuk apa kamu menghubungi kami?"

Gadis elf ikut menatap Natsumi—lebih dingin, lebih tajam.

Gadis Elf (tegas):

"Benar, Sumi."

"Kamu tidak pernah menghubungi kami lagi sejak kejadian di sekolah lama kita."

"Sekarang tiba-tiba… setelah bertahun-tahun…"

"…kamu menyuruh kami untuk datang."

"Dan hanya menunggu."

"Tanpa memberikan penjelasan apapun."

Ia meletakkan cangkirnya perlahan.

Gadis Elf:

"Jadi jelaskan sekarang."

"Apa maksudmu mengundang kami beberapa hari ini?"

"Atau kami akan pergi."

Natsumi berhenti tertawa. Wajahnya mengeras sebentar—bukan marah, tapi seperti seorang yang akhirnya memutuskan untuk membuka kartu… sedikit saja.

Natsumi:

"Kalian sudah lihat 'teman' yang kuceritakan beberapa hari ini, kan?"

Si demon menyender santai ke kursi, tapi matanya waspada.

Gadis Demon:

"Iya."

"Gadis manusia itu."

"Yang kita lihat dari kejauhan beberapa hari ini kan."

Natsumi menyeringai tipis.

Natsumi:

"Benar."

"Namanya Mina."

"Teman baruku… yang pernah kuceritakan ke kalian."

Gadis elf menyipitkan mata.

Gadis Elf:

"Jujur saja, Sumi."

"Apa tujuanmu sebenarnya?"

"Jangan-jangan… kamu akan berbuat seperti dulu."

Natsumi menatap lurus ke depan.

Natsumi:

"Mungkin."

"Tapi tergantung dia."

Nada itu membuat udara jadi dingin.

Natsumi:

"Namun sebelum itu."

"Aku ingin membantunya."

"Aku masih merasa bersalah…"

"…karena dulu aku menyebarkan rumor buruk tentang dia."

Si demon mendengus pelan—lalu justru tersenyum miring.

Gadis Demon:

"Kamu memang tidak berubah."

"Selalu melakukan apa pun sesukamu."

"Selama itu bisa membuatmu senang."

Lalu ia menunjuk Natsumi dengan sendok kue, seperti menuduh tapi juga memuji.

Gadis Demon:

"Tapi itu yang aku suka dari kamu."

Natsumi tertawa kecil.

Natsumi:

"Itu juga aku pelajari dari kamu."

"Jadi jangan salahkan aku menjadi seperti ini."

Mereka berdua tertawa.

—Meja Depan— Mina Mendengar Semuanya

Mina—yang sedari tadi membeku—meremas ujung roknya pelan.

Mina (dalam hati):

Apa maksud mereka…?

'Tergantung dia'… apa maksudnya aku?

Jadi selama ini Natsumi…

…mau memanfaatkanku?

Tapi apa yang dia mau dariku?

Napas Mina menegang.

Mina (dalam hati):

Aku tidak akan terjebak untuk kedua kalinya.

Untuk sekarang aku akan dengarkan mereka.

Kalau Natsumi benar-benar memanfaatkanku…

…aku juga tidak akan memaafkannya.

Mina menggigit bagian dalam bibirnya sampai terasa asin.

Tangannya menggenggam roknya lebih kuat—bukan karena takut… tapi menahan marah.

—Detik yang Salah— Energi yang Berubah

Gadis elf yang sedang mengangkat cangkirnya… berhenti.

Pupilnya bergerak tipis, bukan ke Natsumi, bukan ke Yuna—

melainkan ke meja di depan mereka.

Natsumi:

"Ada apa?"

"Kenapa kamu lihat aku begitu…?"

"Ada masalah dengan omonganku?"

Gadis Elf(tenang):

"Tidak ada."

"Ada seseorang mendengar… dan emosinya naik."

"Kalau dia hanya penasaran, tidak masalah."

"Kalau dia pengintai… itu masalah."

Si demon langsung menegang, kursinya berderit.

Gadis Demon:

"Pengintai?"

"Atau ancaman dari mereka?"

Gadis elf menggeleng tipis.

Gadis Elf:

"Belum tentu ancaman."

"Tapi ada yang mendengar… dan emosinya naik."

Mina yang mendengar itu hanya menelan ludah.

Mina (dalam hati):

Gawat…

Jangan-jangan…

…karena amarahku tadi?

Apa mereka sadar aku mendengar?

Sepertinya mereka bukan gadis biasa…

—Serangan yang Hampir Terjadi

Natsumi melihat teman Demon-nya dan mengangguk.

Dalam sepersekian detik—

Natsumi bangkit.

Kursinya bergeser tajam.

Si Demon juga berdiri—lebih cepat. Tubuhnya melompat, seolah gravitasi hanya aturan yang bisa ia abaikan.

Natsumi (dalam hati):

Kalau kau mata-mata…

kau salah besar…

Si demon sudah di udara, niatnya jelas.

Gadis Demon (dalam hati):

Kalau kau salah satu dari mereka…

Aku tidak akan terlambat kali ini—

Mina merasakan aura pembunuh dari atas dan sisi kanannya—dingin, tajam, seperti pisau di tengkuk.

Ia membalikkan kepala dengan cepat—

Dan melihat sesosok gadis demon tepat di atasnya… dan di sisi kiri, Natsumi yang juga sudah siap menyerang.

Mina refleks bersuara, suaranya pecah oleh kaget karena benar itu adalah orang yang ia kenal.

Mina:

"Natsumi…?!"

Mata Natsumi membesar.

Natsumi (dalam hati):

MINA?!

Apa yang dia lakukan di sini—

Gawat… aku harus hentikan Yuna!

Natsumi berubah arah—bukan menyerang Mina, tapi menghentikan temannya sendiri.

Dengan satu gerakan, Natsumi menahan serangan si demon di udara—mengunci pergelangan, mematahkan arah serangannya, memaksa tubuhnya mendarat mundur.

Si demon menoleh, marah dan bingung.

Gadis Demon:

"Eh?!"

"Sumi kenapa kamu hentikan aku?!"

Natsumi menarik napas cepat, lalu berkata tegas.

Natsumi:

"Hentikan, Yuna."

"Dia temanku."

"Dia Mina."

Yuna membeku.

Natsumi menelan napas—seolah baru sadar betapa dekatnya ia barusan kehilangan Mina.

Mina—yang jantungnya hampir loncat—menatap Natsumi dengan mata bergetar. Suara Mina terdengar pelan, tapi tajam.

Mina:

"Natsumi…"

"Apa maksud ucapanmu tadi…?"

"Yang kamu bilang…"

"'tergantung aku'…?"

"Dan siapa mereka?"

More Chapters