Jalan Pulang — Lirya dalam Kecepatan dan Keraguan
Lirya melesat di antara pepohonan, napasnya stabil—namun dadanya tidak.
Angin menampar pipinya, tapi yang lebih menusuk adalah satu fakta:
pamannya yang seorang Raja Demon… tidak mampu melawan organisasi yang memiliki energi anomali.
Bayangan laporan Guardian Vhaldrake berputar-putar di kepalanya, menekan seperti batu di dada.
Lirya mengingat hal lain—tentang Rei.
Tentang kisah masa lalu yang bahkan ia sendiri masih sulit memahaminya sepenuhnya:
Lirya (dalam hati):
Rei melawan monster anomali sendirian—ratusan tahun lalu—dan bahkan dia hanya bisa menyegel.
Lalu aku…?
Apa aku pantas berdiri di sisinya, sementara kekuatanku terasa seperti debu?
Ada satu detik, hanya satu detik… di mana hatinya goyah.
Lirya (dalam hati):
Apa aku harus berhenti…?
Apa aku seharusnya mundur…?
Namun detik itu lewat—hancur oleh tekad yang lebih keras dari keraguannya.
Lirya mempercepat langkahnya.
Lirya (dalam hati):
Tidak. Untuk sekarang aku harus fokus.
Aku harus cepat pulang… lalu pergi ke dunia manusia.
Aku harus menemui adik-adikku.
Dan saat ia menambah kecepatan, pikirannya meloncat lagi—ke satu hal yang mengganggu sejak tadi.
Perubahan sikap Sylvhia.
Lirya (dalam hati):
Apa yang terjadi dengan Sylvhia… kenapa ia berubah.
Setelah Rei memarahinya… dia tidak menggoda lagi.
Dia diam… menggenggam tangan Rei… lalu pergi.
Langkah Lirya sempat goyah setengah detik.
Lirya (dalam hati):
Jangan-jangan…
Jangan-jangan… Rei melukainya dengan sengaja.
Bukan karena benci—tapi karena peduli.
Supaya Sylvhia tidak ikut terseret bahaya…
Mata Lirya membesar.
Lirya (dalam hati):
Jika benar itu tujuannya apa jangan-jangan Rei sebenarnya menyukai Sylvhia.
Dan jika benar…
Tidak… aku tidak boleh kalah.
Dadanya terasa panas. Langkahnya makin menghantam tanah—seolah ia menolak kalah.
Lirya (dalam hati):
Kalau benar Rei menyukai Sylvhia…
Kalau itu benar…
Aku akan lebih aktif dan berani setelah masalah ini terselesaikan.
Lirya menggertakkan gigi—bukan karena marah pada Sylvhia, tapi karena takut kehilangan kesempatan.
Lirya (dalam hati):
Untuk sekarang aku akan melindungi adik-adikku.
Setelah itu…
Aku akan mengejar Rei dengan caraku sendiri.
Ya… itu pilihan terbaik.
Lirya melesat lebih cepat.
Lirya (dalam hati):
Tunggu aku, Rei.
Aku pasti akan membuatmu juga menyukaiku.
—Beberapa Hari Sebelum Penculikan Hina—
Rumah Keluarga Kurogane — Makan Siang yang Manis di Mulut, Pahit di Niat
Di ruang makan yang luas dan mewah, Hayato duduk bersama kedua orang tuanya.
Suasana terlihat normal—piring porselen, makanan hangat, dan senyum yang terlalu tenang.
Hayato menatap ayahnya.
Hayato :
"Ayah… bagaimana rencanamu soal keluarga Mina?"
"Mereka memutus pertunangan… dan membuat nama kita dipermalukan."
Ayah Hayato—pria beastkin dewasa dengan aura dingin yang sudah terbiasa memberi perintah—menyeka sudut bibirnya pelan.
Ayah Hayato :
"Tidak perlu khawatir."
"Aku sudah mengatur rencana pembalasan."
"Keluarga mereka akan membayar… lebih dari sekadar penghinaan."
Hayato menyeringai mendengar ayahnya akan membalas penghinaan keluarganya.
Hayato :
"Aku ingin Mina… tidak bisa hidup tenang."
"Aku ingin dia menyesal… setiap hari."
Ayahnya mengangguk kecil.
Ayah Hayato :
"Tenang."
"Aku akan pastikan itu."
Tak lama, ibu Hayato datang membawa tambahan makanan. Nadanya datar, tapi tajam—seperti pisau yang dibalut sutra.
Ibu Hayato :
"Sudah ibu bilang, gadis itu tidak pantas untukmu."
"Tapi kau memaksa kami mengejarnya."
"Sekarang jadi seperti ini."
Hayato menahan kesal. Ia menunduk, karena memang ia tidak punya bantahan.
Hayato :
"Maaf, Ibu…"
"Aku yang membuat nama keluarga kita dipermalukan."
Ibu Hayato tersenyum tipis—bukan senyum hangat, tapi senyum yang mengunci.
Ibu Hayato :
"Tidak perlu minta maaf."
"Kita akan membuat keluarga mereka… menderita di dunia ini."
Ayah Hayato menyela, lebih fokus pada hal yang menurutnya penting.
Ayah Hayato :
"Tapi ada pertanyaan."
"Apa keluarga Mina punya pendukung?"
"Tidak mungkin mereka tiba-tiba berubah tanpa sebab… kalau tidak ada yang membantu di belakang."
Hayato menghentikan sumpitnya sesaat, lalu berpikir.
Hayato :
"Sepertinya tidak."
"Di sekolah, Mina memang terlihat kembali normal."
"Tapi dia tidak dekat lagi dengan teman-teman lamanya."
"Dia seperti… mengabaikan semua orang."
"Jadi sangat tidak mungkin ada 'pendukung' yang membuatnya berani."
Ayahnya mengangguk, seperti baru saja memastikan sesuatu yang menyenangkan.
Ayah Hayato :
"Kalau begitu… semua akan sangat mudah."
Hayato tersenyum lebar. Matanya berkilat—bukan karena bahagia, tapi karena lapar akan pembalasan.
Hayato :
"Nikmatilah hari-hari damaimu, Mina."
"Karena sebentar lagi…"
"Kalian akan rindu hidup yang sederhana."
Tawa mereka terdengar di ruang makan—tawa keluarga yang rapi… namun beracun.
Lalu ponsel Hayato berdering.
Hayato melirik layar, lalu mengangkat panggilan tanpa ragu.
Hayato :
"Halo ada apa?"
Hayato terdiam mendengarkan.
Hayato :
"Iya."
"Baik."
"Tunggu di sana."
"Aku akan segera datang."
Ia menutup panggilan, lalu berdiri.
Hayato :
"Ayah, Ibu—aku harus pergi."
"Ada yang menunggu."
Ayahnya hanya mengiyakan, santai.
Ayah Hayato :
"Pergilah."
Ibunya menambahkan, tetap dengan nada yang dingin tapi manis.
Ibu Hayato :
"Hati-hatilah nak."
Hayato pergi, pintu menutup pelan.
Dan di ruang makan itu, tawa yang tadi rapi… masih menggantung di udara—
seperti racun yang belum sempat diminum korban.
