Hutan Terlarang — Di Depan Gerbang Dimensi
Rei masih duduk di atas batu depan gerbang dimensi.
Entah kenapa… dadanya seperti tidak tenang. Wajahnya menegang, mata heterokromnya menatap segel itu seakan menunggu sesuatu yang tak terlihat.
Di sebelahnya, Lirya memperhatikan, semakin lama semakin gelisah.
Lirya (dalam hati):
Apa yang terjadi…?
Kenapa Rei kelihatan sangat khawatir…?
Akhirnya Lirya menegur.
Lirya:
"Rei… ada apa?"
"Kenapa ekspresimu begitu…?"
Rei melirik sekilas, lalu kembali menatap gerbang.
Rei:
"Entah kenapa… perasaanku tidak tenang."
Lirya menelan ludah.
Lirya:
"Apa itu tentang jiwamu di seberang sana?"
"Kalau benar… aku bisa menyuruh keluargaku membantu melindunginya."
Rei menggeleng pelan.
Rei:
"Terima kasih… tapi tidak perlu."
"Yang kukhawatirkan… bukan cuma dari sana."
"Dari sini juga."
Lirya tersentak.
Lirya:
"Dari sini…?"
"Apa ada masalah dengan gerbangnya?"
Rei menggeleng pelan.
Rei:
"Segel masih aman."
"Tapi aku tidak tahu… apa yang mengganggu perasaanku di dunia ini."
"Karena aku tidak bisa melihat masa depan."
Lirya:
"Aku harap… dunia ini dan Bumi tidak mengalami sesuatu…"
Rei (dalam hati):
Aku harap juga demikian.
Tak lama terdengar langkah kaki pelan dari arah pohon besar.
Lirya menoleh, lalu melihat Sylvhia berjalan mendekat.
Lirya:
"Ratu… kemana saja sejak tadi?"
"Apa kau sudah baikan?"
Mendengar nama Sylvhia, Rei terkejut sesaat—namun ia tidak menoleh. Ia tetap menatap gerbang.
Rei:
"Sudah puas bertingkah seperti anak kecil, Sylvhia?"
Lirya membeku sembari sedikit kesal dengan perkataan Rei.
Lirya:
"Rei… jangan begitu."
"Sylvhia pergi karena perkataanmu tadi."
"Jangan tambah sakit hatinya lagi, Rei."
Nada Lirya sedikit marah. Tapi Rei tidak menggubris.
Rei (dalam hati):
Andai kau tahu, Lirya…
Aku melakukan ini agar dia tidak terlibat bahaya.
Sylvhia juga berhenti beberapa langkah, mendengar semua itu.
Sylvhia (dalam hati):
Jadi… aku memang seperti anak kecil…?
Dan kau benar-benar membenciku, Rei…?
Kalau kau tidak menyukai sikapku… aku akan mencoba merubahnya.
Aku akan membuatmu menyadari keberadaanku.
Sylvhia melanjutkan langkah. Lirya refleks meminta maaf.
Lirya:
"Sylvhia… maaf."
"Aku yakin Rei punya alasan…"
Sylvhia tidak menanggapi permintaan maaf itu. Ia hanya tersenyum lembut pada Lirya.
Sylvhia:
"Terima kasih, Lirya."
"Tapi tak apa. Aku baik-baik saja."
Sembari Ia memberikan senyuman kecil kepada Lirya
Lalu Sylvhia duduk di samping Rei—diam—menatap gerbang tanpa berkata apa-apa.
Lirya menahan napas melihat Sylvhia tiba-tiba duduk disamping Rei.
Lirya (dalam hati):
Apa dia akan menggoda lagi…?
Kalau iya aku harus menghentikannya…
Atau Rei akan berkata kasar lagi…
Rei sendiri justru makin bingung.
Rei (dalam hati):
Apa yang dipikirkan wanita ini…?
Kenapa dia tidak mendengarkanku…?
Apa aku kurang tegas mengusirnya demi keselamatannya…?
Aku tidak mau orang terdekatku jadi korban… sekali lagi.
Rei menghela napas dengan sedikit kesal, lalu bicara tanpa menoleh kemanapun—seolah berbicara pada udara.
Rei:
"Aerisyl."
"Aku tahu kau ada di sini sejak tadi."
"Jadi bicaralah—apa yang hendak kau katakan."
Tak lama angin sejuk berkumpul, membentuk sosok demihuman: Aerisyl sang Ratu Roh Angin.
Dan Lirya yang melihat itu terkejut karena ini merupakan pertama kalinya ia melihat Guardian Elyndor yang lain selain Sylvhia.
Aerisyl:
"Maaf… aku baru mau menampakkan diri."
"Aku hanya ingin menyampaikan: Vhaldrake sudah menyelidiki."
"Yang terlibat… bukan para raja."
"Tapi sebuah organisasi."
"Detailnya… akan Vhaldrake jelaskan saat tiba."
Wajah Rei makin tegang.
Rei (dalam hati):
Apa dunia ini… akan bernasib sama seperti duniaku dulu?
Apa aku akan kehilangan semuanya lagi…?
Di saat itu, tangan kecil dan hangat meraih tangan Rei—menggenggamnya.
Rei terkejut. Ia menoleh.
Itu tangan Sylvhia.
Rei (dalam hati):
Apa yang akan dia lakukan sekarang…?
Sylvhia hanya menggenggam sesaat, mengusap pelan—seperti menenangkan sembari tersenyum ke arah gerbang—lalu melepaskan.
Tanpa kata, ia berdiri dan berjalan kembali menuju pohon besar.
Rei terpaku.
Rei (dalam hati):
Apa yang terjadi…?
Kenapa perubahan sikapnya justru membuatku semakin khawatir…?
Lirya pun ikut heran.
Lirya (dalam hati):
Dia bilang baik-baik saja…
Tapi kenapa rasanya tidak begitu…?
Aerisyl menatap punggung Sylvhia yang menjauh.
Aerisyl (dalam hati):
Jadi… kau mencoba lebih dewasa, ya.
Itu mungkin lebih baik.
Semoga Rei bisa menerimanya.
—Satu Jam Kemudian— Vhaldrake Tiba
Hampir satu jam berlalu. Akhirnya Vhaldrake mendarat tergesa-gesa, debu dan daun beterbangan.
Lirya yang melihat kedatangan Vhaldrake yang merupakan Guardian lain nya pun kembali terkejut tidak percaya karena sudah bertemu tiga Guardian disatu tempat hingga tidak bisa berkata apa-apa.
Vhaldrake:
"Hei, bocah."
"Lama tidak berjumpa."
"Kelihatannya kau sudah tidak kesepian lagi."
Rei menatapnya dingin.
Rei:
"Tidak usah basa-basi, Vhaldrake."
"Langsung saja. Info apa yang kau bawa?"
Vhaldrake tersenyum miring.
Vhaldrake:
"Kau memang tidak bisa diajak bercanda."
"Tapi aku suka sikapmu itu."
"Baiklah—kembali ke topik."
Vhaldrake menatap Rei, lalu Lirya.
Vhaldrake:
"Benar, seperti yang Aerisyl bilang."
"Ada organisasi yang terlibat."
"Mereka menculik para bangsawan—dari berbagai ras."
"Lalu memberi mereka kekuatan."
"Para raja kesulitan menghadapi organisasi ini."
Lirya membelalak.
Lirya:
"Bahkan para raja… tidak bisa menghancurkan organisasi itu…?"
Vhaldrake mengangguk.
Vhaldrake:
"Benar."
"Bahkan Raja Demon saat itu yaitu paman mu Lirya, pun tidak bisa melawan."
"Karena para pengikut mereka… dan bangsawan yang diculik… telah memiliki energi anomali."
Lirya (dalam hati):
Bahkan paman tidak bisa menghadapi organisasi itu.
Dan bagaimana bisa ada organisasi yang memiliki energi anomali.
Semua yang ada di sana terdiam.
Rei—tiba-tiba—mengeluarkan energi.
Tanah retak halus di bawah kaki Rei.
Daun-daun beterbangan liar tanpa arah.
Bahkan segel gerbang bergetar samar.
Tekanan tak kasatmata menyapu hutan, membuat Lirya dan Aerisyl reflek panik.
Lirya (dalam hati):
Apa-apaan tekanan ini... aku tidak bisa bernapas.
Aerisyl (dalam hati):
Bahaya jika Rei dibiarkan seperti ini, kami semua dan hutan ini bisa musnah.
Vhaldrake (dalam hati):
Sial…
Bocah ini… punya kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Rei yang menyadari energi nya meluap secara tiba-tiba langsung tersadar.
Dan menahan energinya, lalu mengatur napas.
Rei:
"Maaf aku tidak sengaja…"
"Dan mungkin ini semua salahku… karena kedatanganku ke dunia ini membuat dunia kalian terancam."
"Aku belum bisa membantu mengatasi masalah ini karena—"
Vhaldrake memotong, suaranya tegas.
Vhaldrake:
"Karena kau terikat pada gerbang ini."
"Dan dunia ini masih berdiri… karena kau tidak pergi."
"Jangan merasa bersalah."
"Kalau segel ini tidak kau jaga…"
"Masalah yang jauh lebih besar akan terjadi."
"Sama seperti beberapa puluh tahun lalu."
Aerisyl yang sudah sedikit baikan pun menambahkan, lembut tapi jelas.
Aerisyl:
"Benar, Rei."
"Kami tidak menyalahkanmu."
"Menjaga segel gerbang ini adalah tugasmu."
"Organisasi itu… biar kami yang menyelesaikannya."
Lirya ikut menguatkan setelah bisa bernapas normal.
Lirya:
"Ia Rei… kau tidak sendirian. Ada kami."
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
Rei menatap mereka—dan sekilas, seperti ada luka lama yang tersentuh.
Rei (dalam hati):
Di dunia lamaku… banyak yang menolak keberadaanku.
Tapi… di sini… mereka melindungiku… seperti keluarga lamaku dan teman-temanku dahulu…
Rei menarik napas pelan.
Rei:
"Terima kasih…"
"Karena kalian percaya padaku."
"Organisasi ini… aku serahkan pada kalian."
Rei menoleh pada Aerisyl.
Rei:
"Aerisyl."
"Kau bisakah temukan temanku."
"Mungkin sekarang dia ada di tempat Nyra."
Aerisyl mengerutkan kening.
Aerisyl:
"Apa yang kau ingin aku sampaikan?"
Rei:
"Katakan padanya…"
"Rei butuh bantuan."
"Aku ingin dia menyelidiki organisasi ini dan membantu menyelesaikannya."
Aerisyl ragu karena dari yang ia tau teman Rei sebelumnya itu hanya pandai melarikan diri.
Aerisyl:
"Apa dia mampu?"
Rei mengangguk pelan.
Rei:
"Ia bisa."
"Tapi dia butuh sesuatu… yang bisa memicu dirinya."
Aerisyl tidak bertanya lebih jauh. Ia menghilang menjadi angin.
Vhaldrake yang merasa urusannya selesaipun berpamitan.
Vhaldrake:
"Aku juga akan pergi."
"Aku harus menemui raja ras lain untuk membahas ini."
Sebelum terbang, Vhaldrake melirik ke arah pohon besar.
Vhaldrake (pelan):
"Hah… anak itu…"
"Selalu bikin ulah."
"Aku harap kau benar-benar bisa merubah sikapmu."
Sembari menggelengkan kepalanya Vhaldrake pun pergi.
Dan menyisakan Rei dan Lirya
Lirya menoleh pada Rei, suaranya lebih pelan.
Lirya:
"Rei… apa yang bisa kubantu?"
Rei menatapnya—kali ini lama.
Rei:
"Pergilah ke dunia manusia."
"Dan jagalah adik-adikmu."
"Mereka… lebih membutuhkan perlindunganmu dibanding aku di sini."
Lirya mengangguk, tegas.
Lirya:
"Baik, Rei."
"Aku rasa itu pilihan terbaik."
"Kalau itu yang kau ucapkan."
Lirya pergi, meninggalkan Rei seorang diri di depan gerbang—dengan firasat yang belum juga reda.
Rei (dalam hati):
Semoga semua bisa terselesaikan.
Rei melihat ke arah pohon besar beberapa saat.
Bayangan Sylvhia terlihat samar di antara akar-akar tua itu.
Rei (dalam hati):
Jangan buat aku kehilangan seseorang lagi.
