Cherreads

Chapter 172 - Bab 172: Hukuman Puding, dan Kabar Gelap dari Kerajaan Demon

Dapur Rumah Nyra — Kael yang Kesal Tapi Sudah Lupa

Di meja makan dapur, Kael duduk dengan kedua tangan menyilang, wajahnya masih masam—bukan karena lapar, tapi karena harga diri yang "dipukul" oleh ulah Kanna.

Kael (dalam hati):

Padahal hampir saja aku dapat pasangan… tapi semua gara-gara Kanna. Ah sudahlah.

Lagipula aku cuma menggoda sedikit elf-elf itu… buat ngetes apakah aku masih mempesona seperti dulu.

Langkah kaki terdengar.

Garm, Nyra, dan Kanna masuk ke dapur.

Kanna langsung duduk di sebelah Kael, diam, sambil mengusap-usap telinganya yang masih sedikit sakit.

Kanna (pelan):

"Sakit sekali kak Nyra kejam."

Kael menoleh sekilas.

Kael (dalam hati):

Rasakan itu, bocah.

...Tapi dia kelihatan kesakitan juga.

Ya sudah. Anggap saja pelajaran.

Di sisi lain, Garm dan Nyra mulai menyiapkan bahan masakan sore itu, berbicara pelan.

Garm (pelan):

"Sayang… apa kamu nggak terlalu berlebihan tadi menghukum Kanna?"

Nyra melirik tajam tanpa menghentikan tangannya.

Nyra :

"Kamu jangan terlalu memanjakan Kanna."

"Dia memang usil, dan kalau dia salah—apalagi sengaja—itu nggak baik."

"Jangan bela dia, Garm."

"Atau kamu yang akan kuhukum."

Garm mundur selangkah, merinding.

Garm :

"B-baik."

"Aku nggak berani lawan kemauan istriku…"

"Aku siapin bahan-bahan aja."

Nyra tersenyum kecil, puas.

Nyra :

"Bagus."

"Itu yang aku suka dari kamu."

—Maaf dan Hukuman yang Lebih Kejam dari Pukulan

Di meja makan Kanna menoleh pelan ke Kael.

Kanna :

"Kakek…"

Kael menjawab singkat tanpa menoleh penuh.

Kael :

"Apa."

Kanna menarik napas.

Kanna :

"Kanna… minta maaf."

"Kanna janji nggak akan ulangi lagi."

Kael diam beberapa detik, menatap gelas di depannya.

Kael (dalam hati):

Ternyata bocah ini nggak seburuk yang kukira. Dididik benar.

Berani minta maaf. Aku suka sikap ini.

Kael akhirnya mengangguk kecil.

Kael :

"Baik. Aku maafkan."

"Tapi sebagai hukuman… selama satu bulan ini, kamu dilarang memakan puding buatanku."

Kanna membeku.

Kanna :

"YA—?!"

"Kakek jahat!"

"Kenapa dari semua hukuman harus itu?!"

"Kakek… tolong ubah…!"

Kael memijat pelipis, pusing oleh rengekan.

Kael :

"Baik."

"Satu minggu."

Wajah Kanna langsung cerah seolah baru dibebaskan dari penjara.

Kanna :

"Yeay…!"

"Makasih Kakek."

—Makan Siang — Pertanyaan Kael yang Mengganggu Pikirannya

Garm mulai menghidangkan makanan. Nyra menyusul membawa beberapa piring lain. Saat Nyra hampir kewalahan, Garm sigap mengambil sebagian.

Garm :

"Hati-hati."

"Biar aku yang bawa sisanya."

"Kamu duduk saja."

Nyra menatap punggung Garm yang kembali ke dapur.

Nyra (dalam hati):

Ibu… Ayah…

Kalian tidak perlu khawatir lagi.

Aku sudah punya orang yang bisa kuandalkan…

Jadi… doakan kami yang terbaik dari sana.

Kanna menyenggol lengan Kael, berbisik heboh.

Kanna :

"Kakek, lihat!"

"Kakakku sama Kak Garm…"

Kael menahan wajah datarnya, pura-pura tidak peduli.

Kael :

"Iya, aku sudah tahu."

"Itulah kenapa aku setuju jemput kamu tadi."

"Kalau aku tetap di rumah, aku akan jadi badut yang nonton kemesraan mereka."

Kanna terkekeh kecil mendengar keluhan Kael.

Tak lama, Garm kembali membawa sisa makanan. Mereka mulai makan.

Di tengah makan, Kael menaruh sendoknya.

Kael :

"Nyra. Garm."

"Aku mau tanya sesuatu."

Garm dan Nyra berhenti.

Garm :

"Apa yang mau Senior tanyakan?"

Nyra :

"Benar, Senior. Kedengarannya serius."

Kael menggeleng.

Kael :

"Bukan masalah serius."

"Di sini… apa ada minuman yang namanya Angel Tears?"

Nyra mengernyit heran.

Nyra :

"Minuman apa itu…? Aku baru dengar."

Garm berpikir sejenak, lalu menatap Kael.

Garm :

"Senior… yang Anda maksud… Devil's Tears?"

"Kalau itu… ada."

"Minuman keras kelas atas para Bangsawan dan Raja-raja."

"Tapi tidak dijual bebas. Karena bahannya sangat langka."

Kael condong sedikit.

Kael :

"Kamu tahu rasanya? Warnanya? Atau bahannya?"

Garm menggeleng.

Garm :

"Aku nggak suka minum begituan."

"Tapi… teman demon-ku sering minum."

"Kalau nggak salah warnanya ungu."

"Baunya menyengat. Aku nggak tahan waktu dia menawarkan beberapa tahun lalu."

Kael menatap piringnya, pikirannya berputar.

Kael (dalam hati):

Berarti bukan itu.

Jadi… bagaimana mungkin dia tahu resep yang seharusnya hanya ada di dunia lamaku?

Terkecuali kalau dia adalah...

Ah lupakan itu tidak mungkin dia.

Nyra memperhatikan ekspresinya.

Nyra :

"Senior… kamu ingin sekali minuman itu?"

Kael menggeleng cepat.

Kael :

"Tidak."

"Aku cuma kepikiran sesuatu."

"Lupakan saja."

"Ayo lanjut makan."

Nyra (dalam hati):

Senior menyembunyikan sesuatu.

Tapi pasti ia punya alasan sendiri untuk tidak menceritakan nya.

—Beralih— Kerajaan Demon, Sore yang Menghitam

Langit Menuju Istana — Vhaldrake Menembus Penghalang

Di langit, Vhaldrake melesat dengan wujud demihuman. Angin di sekelilingnya seperti tunduk, dan awan terbelah oleh aura yang tidak kelihatan namun terasa menekan.

Ia menerobos penghalang istana demon seolah itu kain tipis.

Beberapa prajurit demon di depan gerbang istana menunduk ngeri. Tidak ada yang berani menatapnya lama-lama, walau ia terlihat "biasa".

Vhaldrake berjalan melewati mereka, membuka pintu istana, masuk ke ruangan yang remang.

Ia menuju singgasana dan duduk disana.

Vhaldrake :

"Azravel, di mana kamu? Keluarlah."

Tak lama, sosok Raja Demon datang tergesa, wajahnya pucat, napasnya tidak stabil.

Azravel :

"M-maaf… Guardian Vhaldrake…"

"Saya tidak menyambut anda dengan megah…"

Vhaldrake tidak peduli basa-basi.

Vhaldrake :

"Aku ingin menanyakan sesuatu."

"Jawab jujur."

Azravel menelan ludah.

Azravel :

"B-baik… saya akan menjawab…"

Vhaldrake mencondongkan tubuhnya.

Vhaldrake :

"Apakah di wilayahmu ada masalah… atau gerak-gerik mencurigakan akhir-akhir ini?"

Azravel tersentak.

Azravel (dalam hati):

Bagaimana Guardian bisa tahu…?

Aku harus jawab apa…?

Kalau bohong, wilayah demon musnah…

Tapi kalau jujur… apakah Guardian sanggup menghadapi 'mereka'…?

Mata Vhaldrake menyipit.

Vhaldrake (membentak):

"Jawab sekarang."

"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."

"Aku mau dengar langsung dari mulutmu."

Azravel gemetar, akhirnya menyerah.

Azravel :

"Baik, Tuan…"

"Sudah beberapa tahun ini… wilayah kami seperti dibelah dari dalam."

"Beberapa anak-anak bangsawan menghilang."

"Saya menyelidiki, mencoba memusnahkan…"

"Tapi kami tidak bisa melawan mereka."

"Petinggi mereka mengancam—kalau saya lanjut, wilayah demon akan dihilangkan."

"Saat saya mendengar itu saya mencoba melawan petinggi mereka namun saya kalah karena orang itu memiliki semacam energi—"

Azravel tercekat, seolah ingatannya menekan tenggorokan.

Vhaldrake melanjutkan dengan suara dingin.

Vhaldrake :

"Karena mereka memiliki energi anomali."

"Benar?"

Azravel terkejut karena Vhaldrake sudah tahu.

Azravel :

"Benar, Tuan…!"

"Bukan hanya pemimpin mereka."

"Orang-orang yang mereka culik… juga mulai punya energi serupa."

"Sebagian dari mereka kembali…"

"Tapi tatapan mereka kosong."

"Dan energi yang mengalir dari tubuh mereka bukan lagi milik ras demon."

"Itulah alasan kami tidak bisa apa-apa."

"Saya meminta bantuan raja ras lain…"

"Dan… sepertinya mereka juga mengalami hal yang sama."

Ruangan mendadak terasa berat.

Aura Vhaldrake menekan dinding, membuat lilin-lilin bergetar.

Vhaldrake memukul tepi singgasana.

Vhaldrake :

"Kurang ajar…"

"Mereka berani berbuat begitu di dunia ini."

Ia menatap Azravel tajam.

Vhaldrake :

"Untuk sekarang, jaga wilayahmu. Jaga rakyatmu."

"Kalau ada keadaan gawat… kabari segera."

Vhaldrake mengeluarkan sebuah kalung dengan batu magis, menyerahkannya.

Azravel menerima dengan kedua tangan, kepala tertunduk.

Azravel :

"Terima kasih…"

"Saya bersumpah akan membantu semampu saya…"

Vhaldrake berbalik.

Vhaldrake :

"Aku akan menyelesaikan ini… secepatnya."

Ia melesat keluar istana, terbang menembus langit.

Di perjalanan, matanya tajam—tidak lagi tenang.

Vhaldrake (dalam hati):

Masalah ini terlalu serius.

Aku harus mengabari mereka semua…

Termasuk bocah itu…

Karena jika dia terlambat mengetahui semuanya…

Dunia ini akan kehilangan lebih dari sekadar satu ras.

More Chapters