Cherreads

Chapter 171 - Bab 171: Teriakan di Jalan, Lelucon di Gerbang

Jalan Utama Kota Veyra — Kael yang Menyesal

Setelah keluar dari pintu guild pedagang, Kael berjalan di antara keramaian kota dengan wajah kusut, seperti orang yang baru saja memenangkan masalah.

Kael (dalam hati):

Tindakan bodoh… cuma karena penasaran, aku sampai bohong dan menuduh orang.

Tapi… setidaknya aku tahu namanya: Shiori.

Kael menghela napas.

Kael (dalam hati):

Dingin. Tanpa ekspresi.

Tapi… dia bukan gadis yang jahat.

Namun pikirannya tiba-tiba tersentak.

Ia berhenti di tengah jalan.

Kael (dalam hati):

Tunggu… bukankah tujuan awalku… soal gang itu? Kenapa dia masuk gang dan menghilang?

Kesal pada dirinya sendiri, Kael refleks berteriak cukup keras.

Kael:

"KENAPA AKU BISA LUPA TUJUAN AWALKU?!"

Beberapa orang yang lewat—elf, beastkin, bahkan peri—menoleh kaget. Ada yang mempercepat langkah, ada yang pura-pura tidak dengar.

Kael tidak peduli.

Ia menutup mata, menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.

Namun bayangan suara Shiori menampar pikirannya.

"Tapi kalau kamu membuat masalah lagi… aku tidak akan semurah ini."

Kael menelan ludah.

Kael (dalam hati):

Aneh juga… aku takut pada satu gadis elf.

Lalu ingatan lain muncul: minuman merah itu.

Kael memegang dadanya sebentar, seakan rasa itu masih tertinggal di lidah.

Kael (dalam hati):

Minuman itu… kenapa rasanya seperti yang pernah kuminum dulu?

Dan… kenapa dia tahu tentang minuman itu?

Apa di kota ini juga ada minuman itu?

Ia menggeleng keras, memaksa pikirannya berhenti.

Kael (dalam hati):

"Ah sudahlah… nanti aku tanya Garm dan Nyra."

"Sekarang yang penting… jemput Kanna."

Dan Kael melanjutkan langkahnya.

—Teras yang Hangat

Sementara itu, di teras rumah sederhana Nyra, Garm duduk diam menatap halaman, pikirannya lebih berat daripada tubuhnya yang sudah pulih.

Garm (dalam hati):

Aku akan menjaga mereka…

Aku akan membahagiakan mereka… dan aku tidak akan meninggalkan mereka.

Tanpa ia sadari datang langkah pelan.

Nyra datang membawa teh dan buah, lalu duduk di samping Garm… dan tanpa ragu menyandarkan kepala di bahunya.

Garm sempat kaget sesaat, tapi tidak menjauh.

Nyra:

"Kamu mikirin apa dari tadi?"

Garm:

"Ah tidak ada… cuma mikirin masa depan."

Nyra diam sejenak, lalu suaranya turun lembut.

Nyra:

"Rencana kamu ke depan… apa?"

Garm menatap ke depan, lalu berkata jujur—tanpa bercanda.

Garm:

"Aku akan menikahimu."

"Aku akan jaga Kanna seperti adikku sendiri."

"Aku akan bahagiakan kalian… sampai Kanna punya keluarga sendiri…"

"Dan menyisakan kita hidup berdua hingga tua."

Nyra tersenyum, tapi ada sesuatu yang menguji di ujung matanya.

Nyra:

"Jadi… kamu cuma merawat aku dan Kanna hingga Kanna punya keluarga…"

"Terus kita hidup berdua sampai akhir hayat…"

"Tanpa anak?"

Garm baru sadar kalimatnya terdengar seperti itu.

Ia panik, tangannya bergerak kecil seolah ingin membenarkan udara.

Garm:

"B-bukan begitu!"

"Aku cuma… takut kamu nggak mau."

"Aku nggak bisa maksa istriku—"

Nyra tertawa kecil.

Nyra:

"Siapa bilang aku nggak mau?"

"Ingat ya… aku dan Kanna itu ras rubah terakhir."

"Kalau kami berhenti di sini… ras kami benar-benar selesai."

Garm membeku.

Lalu wajahnya memerah pelan, seperti orang yang barusan diberi tugas besar.

Garm:

"Kalau… suatu hari nanti… kita sudah berkeluarga…"

"Kamu… mau berapa…?"

Nyra menepuk kepala Garm ringan, kesal tapi malu.

Nyra:

"Dasar bodoh."

"Ngapain nanya begitu sekarang?"

"Itu masih jauh."

"Dan kamu masih punya tugas yang kuberi."

"Ingat itu."

Garm tersenyum—nakal, tapi tulus.

Garm:

"Baik."

"Sampai saat itu tiba… aku jalankan tugasmu… sebagai calon suami masa depanmu."

Nyra mendecak, pipinya merah.

Nyra:

"Dasar gombal."

Garm menoleh, suaranya pelan menekan.

Garm:

"Tapi kamu suka, kan?"

Nyra menatap halaman, senyumnya kecil tapi jujur.

Nyra:

"Iya."

"Aku suka kamu yang begitu."

Hening yang nyaman.

Lalu Nyra teringat sesuatu.

Nyra:

"Ngomong-ngomong…"

"Kamu sudah minta Senior Kael jemput Kanna?"

Garm:

"Sudah."

"Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai."

Seolah menjawab, suara ceria dari pintu depan terdengar.

Kanna (teriak):

"KAKAK! AKU PULANG!"

Kanna berlari ke teras, wajahnya cerah tidak seperti biasanya.

Nyra menatapnya heran.

Nyra:

"Kok kamu senang banget hari ini?"

"Ada apa?"

Garm menoleh, mencari satu orang lagi.

Garm:

"Kanna… Senior Kael mana? Kamu nggak bareng dia?"

Kanna menahan tawa, matanya berkilat jahil.

Kanna:

"Ada hal lucu hari ini…"

"Tapi tunggu kakek Kael balik dulu, hehe."

Belum sempat Nyra bertanya lagi, terdengar suara pria dari pintu depan—kesal, berat, dan jelas sekali arah marahnya.

Kael:

"Kanna!"

"Kamu keterlaluan!"

"Kemarin… sebagai hukuman… aku akan mendidikmu supaya sopan pada orang yang lebih tua!"

Kael berjalan cepat ke teras. Kanna langsung mundur mencari perlindungan—bersembunyi di belakang Nyra dan Garm.

Nyra tersenyum canggung.

Nyra:

"Senior… ada apa?"

"Kenapa marah sekali?"

Garm ikut menenangkan, meski senyum di bibirnya nyaris muncul.

Garm:

"Iya, Senior."

"Kanna masih anak-anak… jangan terlalu serius."

Kael mencoba menahan emosi. Tapi Kanna malah menjulurkan lidah, mengejek dari balik mereka.

Kael menegang.

Ia menutup mata sebentar, lalu memilih kabur ke dapur seperti orang kalah perang.

Kael:

"…"

Kael masuk ke dapur dan duduk di meja makan, berusaha menenangkan napas.

Di teras, Garm menatap Kanna serius.

Garm:

"Sekarang jelaskan."

"Apa yang membuat Senior Kael marah begitu?"

Kanna tertawa, lalu mulai bercerita.

—Kilas Balik— Gerbang Sekolah Kanna

Di depan gerbang sekolah, Kanna berjalan bersama dua temannya: satu elf dan satu beastkin.

Teman Elfnya menatap Kanna ragu.

Teman Elf:

"Kanna… itu beneran kakekmu?"

"Yang pagi tadi?"

Kanna:

"Iya."

"Bukan kakek asli sih…"

"Tapi panggilan buat orang yang lebih tua."

"Mengingat umurnya… yang udah lebih dari seribu tahun."

Teman Beastkinnya menatap tidak percaya, tapi akhirnya mengangguk.

Teman Beastkin:

"Jika yang mengatakan itu orang lain aku tidak akan percaya."

"Tapi kalau kamu yang bilang… aku jadi yakin."

Teman Elf melihat ke seberang gerbang sekolah dan melihat sosok yang dibicarakan.

Di sana, Kael terlihat berbicara dengan beberapa gadis elf—tawa kecil terdengar dari mereka.

Teman Elf:

"Eh… Kanna."

"Itu… kakekmu, kan?"

"Dia… sepertinya sedang menggoda gadis-gadis elf…"

Kanna menoleh.

Melihat itu, ide jahil langsung lahir.

Ia pamit cepat kepada dua temannya.

Kanna:

"Aku… beresin dulu."

"Sampai jumpa."

Kanna melambaikan tangan dan berlari ke arah Kael dan tiba-tiba berteriak dengan suara yang cukup kencang untuk didengar semua orang.

Kanna (teriak):

"AYAH! KAMU NGAPAIN DI SINI?! IBU MENANGIS DARI TADI DIRUMAH!"

Kael membeku di tempat.

Wajahnya panik setengah mati.

Kael (dalam hati):

Apa yang dilakukan bocah ini?!

Sejak kapan aku jadi "Ayah"?!

Dan yang lebih mengerikan…

Aura di sampingnya berubah.

Para gadis elf yang tadi tertawa… menegang, lalu menatap Kael dengan marah, seolah Kael baru saja mempermainkan mereka padahal "punya keluarga".

Satu pukulan.

Lalu dua.

Lalu tiga.

Kael dipukuli bertubi-tubi sampai ia hanya bisa pasrah.

Setelah puas, para gadis itu pergi dengan kesal.

Kanna tertawa puas.

Kanna:

"Rasakan itu, kakek!"

"Berani-beraninya menggoda gadis muda!"

"Lupa umur sendiri!"

Kael berdiri sempoyongan, muka penuh amarah.

Kael:

"KANNA! KAMU KETERLALUAN!"

Kanna langsung kabur pulang, dan Kael mengejar dari belakang.

—Kembali ke Teras— Hukuman Cubit Telinga

Kanna selesai bercerita sambil tertawa.

Garm menghela napas—antara kesal dan ingin tertawa.

Garm:

"Jadi itu…"

"Kamu bener-bener keterlaluan, Kanna."

Nyra yang sedari tadi menahan diri akhirnya menjewer telinga Kanna.

Nyra:

"Jangan ulangi lagi!"

"Kamu nggak lihat Senior Kael Nampak kesal?"

Kanna meringis.

Kanna:

"A-ampun, Kak…!"

"Aku janji nggak ulangi!"

"Aku bakal minta maaf ke kakek Kael!"

Nyra melepas jewerannya.

Kael masih ke dapur dan duduk diam.

Untuk pertama kalinya hari itu.

Ia tidak memikirkan Kanna.

Ia memikirkan rasa itu.

Rasa yang mungkin tidak ada di kota ini.

More Chapters