Kota Veyra siang itu terang—hangatnya jatuh di batu jalanan, dan suara tawa orang-orang dari berbagai ras bercampur seperti musik kota.
Di pusat kota, air mancur menari dalam kilau, sementara Kael duduk di salah satu bangku, menatapnya lama.
Ia diam… terlalu lama.
Kael (dalam hati):
Apa aku akan begini terus? Hidup damai… tanpa tujuan…?
Pikirannya melayang pada satu nama yang tak pernah benar-benar pergi:
Kael (dalam hati):
Zeraphine… di mana kau sekarang?
Dari empat teman lamanya… Kael sudah melihat tiga bayangan yang kini diselimuti energi anomali—tak lagi terasa seperti mereka yang dulu. Dan hanya Zeraphine, teman terakhir yang belum ia temukan… sekaligus cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan.
Kael berharap, sungguh berharap—dia baik-baik saja.
Namun ingatan lain ikut menusuk: elf pegawai guild pedagang yang siang itu masuk gang… lalu lenyap tanpa jejak.
Kael (dalam hati):
Apa yang kau lakukan di gang itu…? Dan ke mana kau pergi?
Kael berdiri.
Keputusan sederhana diambil dengan tatapan yang berubah serius.
Ia berjalan kembali ke guild pedagang.
—Guild Pedagang — Meja Resepsionis
Gedung itu masih ramai. Berbagai ras keluar-masuk, membawa barang, gulungan kontrak, dan kartu transaksi.
Kael menelusuri barisan meja resepsionis.
Namun… meja di pojok yang ia ingat pagi tadi kosong. Tidak ada elf dingin itu.
Kael mengerutkan dahi.
Lalu ia berjalan ke resepsionis lain—seorang Resepsionis Beastkin perempuan menyambutnya.
Resepsionis Beastkin :
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
Kael :
"Aku ingin menanyakan pegawai elf yang tadi pagi berada di pojok sana.
Yang membantu menilai batu energiku. Dia… ke mana?"
Gadis Beastkin itu berpikir sejenak, lalu menatap Kael dari atas ke bawah, seolah menimbang sesuatu.
Resepsionis Beastkin :
"Maaf. Informasi pribadi terkait pegawai kami tidak bisa kami berikan.
Itu menyangkut privasi."
Kael terdiam.
Lalu… ia melakukan hal bodoh.
Hal yang bahkan di kepalanya sendiri terdengar salah—tapi sudah terlanjur keluar.
Kael (berbohong):
"Dia menipuku pagi tadi.
Aku perlu menemui dia secara pribadi."
Mata resepsionis itu membesar sesaat.
Lalu alisnya menegang—bukan marah, tapi curiga.
Resepsionis Beastkin (dalam hati):
Tidak mungkin… Shiori itu terlalu teliti. Dia pegawai yang paling rapi.
Sementara Kael langsung menyesal.
Kael (dalam hati):
Kenapa aku pilih kebohongan seburuk itu?
Kalau diselidiki dan ketahuan… aku bukan cuma 'pria seribu tahun tanpa pasangan'… aku bakal jadi 'pria seribu tahun—tanpa pasangan—dan pembual'…
Resepsionis itu akhirnya bicara lagi, nadanya resmi.
Resepsionis Beastkin :
"Baik. Jika Anda membuat laporan seperti itu, kami harus menyelidiki kebenarannya.
Bila terbukti, kami akan membantu menyelesaikan masalah Anda."
Kael hampir tersedak napasnya sendiri.
Kael (dalam hati):
Gawat. Diselidiki beneran.
Ia nyaris berkata, lupakan saja—
Namun saat pikirannya panik mencari jalan keluar…
Terdengar suara dingin dari belakangnya.
Suara Perempuan:
"Ada apa Misa? Apa ada masalah?"
Kael menegang.
Resepsionis Beastkin itu melihat di belakang Kael, lalu… senyumnya muncul seperti orang yang baru dapat kesempatan bergosip.
Resepsionis Beastkin :
"Ah, kebetulan! Shiori, pria ini bilang kamu menipunya pagi tadi.
Benarkah itu?"
Kael membeku dan berbalik pelan.
Dan Shiori ada tepat di belakangnya.
Kael (dalam hati):
Jadi… namanya Shiori.
Shiori menatapnya—dari atas ke bawah—dengan wajah datar, tanpa sedikit pun ekspresi, seperti boneka cantik yang lupa cara berkedip.
Shiori (ras elf):
"Kamu. Kemarilah."
Suaranya datar, tapi ruangan di sekitarnya seperti ikut mengecil.
Shiori menoleh kepada Misa.
Shiori :
"Misa tolong jaga shift-ku sebentar."
Barulah ia menatap Kael lagi.
Shiori :
"Ikut aku."
Kael (gugup):
"B-baik…"
Di sepanjang lorong menuju ruang dalam, Kael berdebat dengan dirinya sendiri.
Kael (dalam hati):
Aku akan dimarahi habis-habisan.
Tapi… aku perlu tahu kenapa dia ada di gang itu…
Setidaknya sekarang aku tahu namanya. Ada 'keuntungan' kecil dari kebodohanku.
—Ruang Kecil Guild — Dua Gelas di Meja
Tak lama Shiori membuka salah satu pintu di sana.
Ruangan itu sederhana: rak buku, meja, beberapa kursi, dan lemari pendingin sihir.
Shiori masuk lebih dulu.
Kael mengikuti, duduk di kursi yang ditunjuk tanpa diminta.
Shiori menuju lemari pendingin, mengambil minuman berwarna merah, menuang dua gelas, lalu meletakkan satu di depan Kael.
Shiori :
"Minumlah. Ini bukan racun."
Kael menelan ludah, lalu meraih gelas itu, masih gugup.
Shiori duduk di seberangnya, meminum gelasnya sendiri tanpa tergesa.
Hening beberapa detik.
Lalu Shiori membuka suara, tetap datar.
Shiori :
"Apa yang membuat anda berpikir saya menipu anda?"
Kael merasa punggungnya dingin.
Kael :
"A-aku minta maaf karena mengatakan itu. Itu… ucapan bodoh.
Aku hanya… ingin mengenalmu."
Shiori menatapnya tanpa berkedip.
Lalu ia berkata, dingin dan tegas.
Shiori :
"Minumlah lalu pergi.
Saya akan melupakan kejadian hari ini."
Ia meletakkan gelasnya pelan.
Shiori :
"Tapi kalau anda membuat masalah lagi… saya tidak akan semurah ini."
Kael buru-buru mengangguk.
Kael :
"Terima kasih. Aku akan melakukan apa pun untuk memperbaikinya."
Ia meneguk minuman itu cepat—mungkin terlalu cepat.
Dan seketika matanya membesar.
Rasa itu… menghantam seperti kenangan.
Bukan hanya enak.
Tapi… terlalu familiar.
Shiori memperhatikan reaksinya.
Shiori :
"Bagaimana? Anda suka minuman yang saya buat?"
Kael menelan, lalu spontan menjawab—tanpa menyadari mulutnya berlari lebih cepat dari otaknya.
Kael :
"Iya… aku sangat suka. Ini… minuman favoritku di masa lalu, bersama—"
Kalimatnya berhenti.
Mulut Kael menutup mendadak.
Seakan ia baru sadar: ia hampir menyebut sesuatu yang seharusnya tidak mungkin diketahui orang asing.
Shiori tidak mengubah ekspresi sedikit pun.
Namun suaranya menusuk halus.
Shiori :
"Baik. Masalah selesai. Anda sudah minum.
Sekarang anda bisa pergi. Saya harus kembali bekerja."
Kael menaruh gelas perlahan, berdiri dengan wajah kaku, lalu membungkuk kecil.
Kael :
"Maaf… dan terima kasih."
Ia keluar cepat, seolah takut ruangan itu menelannya.
Di belakang pintu yang menutup—
Shiori menatap gelas Kael, lalu berbisik lirih, nyaris tidak terdengar.
Shiori :
"Dasar demon tua… bodoh."
—Kembali ke Aula — Dua Teman, Dua Cara
Di luar ruangan, Misa yang tadi menyambut Kael dengan senyum ramah.
Misa :
"Bagaimana, Tuan? Sudah selesai?"
Kael tertawa kecil—canggung.
Kael :
"Sudah. Tidak ada masalah.
Hanya… kesalahpahaman soal perhitungan mata uang."
Misa :
"Syukurlah. Shiori merupakan pegawai teladan. Dan sangat teliti.
Walau dingin dan tanpa ekspresi… dia orang baik."
Kael mengangguk, lalu berpamitan.
Saat Kael keluar dari guild pedagang, Misa tidak melihat—
bahwa Shiori sudah berdiri di samping dirinya itu.
Dan Misa hampir melompat karena kaget.
Misa :
"Ya ampun! Kenapa kamu muncul tiba-tiba? Kamu ini seperti hantu, Shiori!"
Shiori menatapnya datar temannya yang kaget.
Shiori :
"Maaf. Itu sudah jadi kebiasaanku… sejak lama."
Misa mengerucutkan bibir, lalu menyenggol Shiori pelan, menggoda.
Misa :
"Jadi? Apa yang terjadi? Benarkah kamu menipunya?"
Shiori diam beberapa detik.
Lalu jawabannya keluar tenang… terlalu tenang.
Shiori :
"Tidak terjadi apa-apa. Hanya kesalahpahaman kecil."
Ia menoleh sedikit.
Shiori :
"Aku memang menipunya.
Tapi bukan soal uang."
Mata Misa melebar, lalu ia tersenyum lebar seperti menemukan harta.
Misa :
"Oh? Kalau bukan uang… terus apa?"
Hati? Atau—"
Shiori memandangnya seperti jijik, ekspresinya tipis tapi jelas.
Shiori :
"Kamu menjijikkan Misa."
Misa tertawa kecil, tapi Shiori sudah berjalan pergi.
Shiori :
"Kembali bekerjalah Misa.
Jika tidak ingin Ketua memarahimu lagi di bulan ini."
Misa :
"Iya, iya! Tapi bantu aku lagi kalau Ketua marah ya!"
Shiori tidak menoleh.
Hanya suaranya yang terdengar datar dari jauh.
Shiori :
"Urus sendiri."
Misa mendesah dramatis.
Lalu seorang pelanggan memanggil, dan ia kembali memasang wajah profesional untuk bekerja lagi.
Sementara di balik keramaian guild—
Shiori menatap arah pintu keluar yang tadi dilalui Kael.
Dan untuk pertama kalinya hari itu… ada sesuatu yang hampir mirip emosi dalam bisik hatinya.
Shiori (dalam hati):
Maaf, Kael. Belum waktunya.
Bersabarlah… sampai aku bertemu dengannya dan memastikan sesuatu.
