Cherreads

Chapter 169 - Bab 169: Rencana yang Tak Terucap, Suara yang Dikenal

—Rumah Natsumi — Percakapan Orang Tua

Di ruang makan, Ayah Natsumi melanjutkan sarapannya seolah percakapan tadi hanya angin lewat.

Namun Ibu Natsumi tidak bisa setenang itu.

Ia menatap suaminya dari seberang meja—mata kelinci yang lembut, tapi penuh firasat.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Menurutmu… apa yang sedang direncanakan Sumi kali ini?"

"Dia tiba-tiba menanyakan keluarga Kurogane."

Ayahnya mengaduk minuman, lalu menjawab tanpa tergesa.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Aku juga tidak tahu."

"Natsumi berpikir tidak seperti anak-anak lain yang seusia dengannya."

Ia melirik istrinya, seolah menuding dengan halus.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Seharusnya kamu bisa menebaknya sendiri."

"Kamu lebih mengenal Natsumi daripada aku—yang hanya ayahnya."

Sang ibu tertawa kecil, ada pahit yang disembunyikan dalam nada itu.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Aku memang sedikit tahu cara pikirnya…"

"Tapi tidak seratus persen."

Lalu senyumnya meredup.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Aku hanya berharap… kejadian itu tidak terulang lagi."

Ayahnya tidak menjawab cepat kali ini.

Sendoknya berhenti sesaat—pertanda ia juga mengingat "masa lalu" yang dimaksud.

Dan di ruangan itu, untuk beberapa detik, hanya ada suara peralatan makan… dan kekhawatiran yang tidak diucapkan.

—Hari Pertama Libur Musim Panas

Di rumah Mina keesokan paginya, Sakurai Mina bangun seperti biasa.

Hari pertama libur musim panas.

Ia meraih ponsel, menatap layar sebentar.

Kosong.

Ia sudah menduga. Bahkan jika ada pesan—hatinya tidak yakin sanggup membalasnya.

Mina bangkit, mandi, lalu turun menuju dapur dengan rambut masih setengah basah.

Di meja makan, sarapan sudah tersaji.

Ibunya menata piring, ayahnya sudah duduk menunggu.

Ayah Mina:

"Bagaimana sekolahmu?"

Mina menarik kursi pelan, duduk, lalu menjawab dengan tenang yang dipaksakan.

Mina:

"Situasi… sudah lebih baik."

"Tapi ancaman Hayato… sepertinya benar-benar akan dijalankan. Dari ucapannya terakhir di sekolah."

Ayahnya mengangguk, suaranya tegas, seperti orang yang sudah membuat keputusan.

Ayah Mina:

"Kamu tidak perlu khawatir. Ayah sudah mencari solusi."

"Ayah juga sudah memberi tahu karyawan tentang apa yang mungkin terjadi pada perusahaan."

Mina menatap ayahnya lama—lalu tersenyum tipis.

Mina:

"Terima kasih…"

"Dan maaf… karena aku mengambil keputusan yang membuat semuanya jadi seperti ini."

Sebelum ayahnya sempat menjawab, ibunya datang membawa sesuatu dari dapur dan duduk.

Nada sang ibu lembut, tapi menusuk tepat di luka.

Ibu Mina:

"Tidak perlu minta maaf, Mina. Justru kamilah yang seharusnya minta maaf."

"Karena dulu… karena ego kami… kami membiarkan putri kami menanggung pilihan yang terlalu berat."

Air mata Mina jatuh tanpa izin.

Bukan karena sedih semata.

Tapi karena untuk pertama kalinya… ia merasa dipeluk oleh keluarganya, bukan ditinggalkan oleh keadaan.

Mina (bergetar, tersenyum):

"Terima kasih, Ibu… Ayah…"

Ayahnya meletakkan sumpitnya, menatap Mina lurus.

Ayah Mina:

"Jangan menangis. Kita hadapi semuanya bersama."

"Selama kalian bisa bahagia nanti… Ayah akan terus berusaha."

Ibunya lalu mengingatkan soal rencana liburan beberapa hari.

Ayah Mina tampak baru benar-benar menyadari rencana itu.

Ayah Mina:

"Oh, iya… soal liburan."

"Mina, apa kamu ingin mengajak teman?"

Mina terdiam.

Kata teman terasa asing, seperti sesuatu yang pernah ia miliki lalu hilang.

Mina:

"Aku… tidak punya."

Ibunya terlihat ingin bicara—tapi menahan diri.

Ia sudah terlalu sering memaksa putrinya dulu.

Sekarang, ia memilih diam… dan menghormati pilihan Mina.

Setelah sarapan, Mina izin keluar ke minimarket untuk membeli sesuatu.

Ibunya mengangguk, ayahnya mengingatkan hal sederhana—yang bagi Mina terasa hangat.

Ayah Mina:

"Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam."

Mina berjalan, dan dalam hati ia mengakui sesuatu yang jarang ia ucapkan.

Mina (dalam hati):

Aku senang… akhirnya aku tidak menghadapi ini sendirian.

Di minimarket, barang yang ia cari ternyata sudah habis.

Ia pulang dengan tangan kosong… lalu memutuskan berjalan sedikit untuk mengisi kepala dengan angin.

Tak lama, ia menemukan sebuah kafe baru—ramai, wangi kopi dan kue keluar sampai ke jalan.

Mina masuk. Seorang pelayan menghampiri dan menawarkan bantuan.

Ia meminta tempat yang bisa dipakai untuk bersantai, dan pelayan itu mengantarnya ke meja kosong yang tersisa.

Setelah memilih kue dan minuman, pelayan itu berpamitan—lalu bergerak ke meja di belakang Mina.

Di meja itu ada dua gadis:

Yang satu demon, satunya elf.

Pelayan menawarkan tambahan.

Gadis Elf(suara lembut):

"Tidak perlu, terima kasih."

Lalu suara satunya—lebih hidup, energinya berlebihan—menyela cepat.

Gadis Demon(suara ceria-berlebihan):

"Tambahkan beberapa kue lagi ya! Yang bisa dibawa pulang juga!"

Gadis demon itu tertawa terlalu lepas—dan entah kenapa, Mina merasa tawa itu bukan tawa orang yang hidup di dunia yang sama dengannya.

Pelayan mencatat, lalu pergi.

Sambil menunggu pesanannya, Mina mengirim pesan pada ayahnya:

Mina (pesan):

"Ayah, Mina mungkin pulang sore. Mina sedang mencoba kafe baru."

Balasan ayahnya cepat.

Ayah Mina (pesan):

"Baik. Hati-hati pulangnya. Jangan terlalu malam."

Mina menatap layar, senyum kecil muncul tanpa disuruh.

Namun di saat itulah—

Dari belakangnya terdengar suara lain, lebih dekat.

??? (dari belakang):

"Maaf menunggu lama… toiletnya antre sekali. Kafe ini ramai banget…"

Mina membeku.

Suaranya… terlalu dikenal.

Jantungnya seperti berhenti satu detik.

Di dalam hati Mina hanya ada satu kalimat yang berputar:

Mina (dalam hati):

…suara itu. Apakah itu dia…?

Dan kafe yang tadi terasa hangat… tiba-tiba menjadi terlalu sunyi bagi telinganya.

More Chapters