Cherreads

Chapter 168 - Bab 168: Libur Musim Panas, Senyum yang Punya Maksud

Pagi itu, kamar Natsumi Kagehara selalu terlihat rapi—seolah pemiliknya tidak pernah meninggalkan kekacauan sedikit pun.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.00.

Natsumi membuka mata tanpa panik.

Libur musim panas.

Tidak ada bel sekolah, tidak ada suara gaduh koridor, tidak ada tatapan bermuka dua yang harus ia baca.

Ia bangkit pelan, menuju kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian, ia keluar sambil mengeringkan rambut. Aroma sabun masih hangat menempel pada kulitnya. Natsumi duduk di depan meja rias kecil—menyisir rambut, merapikan poni, memastikan semuanya sempurna.

Tak lama—

Tok! Tok! Tok!

Ketukan dari pintu kamar.

Dari balik pintu terdengar suara seorang pelayan.

Pelayan Elf :

"Nona… sarapan sudah disiapkan. Nyonya memohon Nona untuk turun sekarang."

Natsumi mendecak kecil, bukan karena kesal—lebih seperti kebiasaan manja yang sudah lama.

Natsumi :

"Iya, iya… aku turun. Masuk saja. Aku butuh bantuan pada rambutku."

Dari luar terdengar jeda sopan.

Pelayan Elf :

"Mohon izin… saya masuk, Nona."

Pintu dibuka pelan.

Masuklah seorang elf perempuan dengan aura tenang—usia sekitar awal tiga puluhan, posturnya anggun, geraknya rapi seperti seseorang yang terbiasa menjaga rumah besar. Tatapannya lembut, tapi sikapnya selalu terjaga.

Ia berdiri sedikit menunduk, formal seperti biasa.

Pelayan Elf :

"Apa yang Nona butuhkan?"

Natsumi menatapnya lewat cermin.

Sorot matanya berubah—lebih lunak.

Natsumi :

"Jangan terlalu formal."

"Aku sudah bilang… anggap aku adikmu."

Pelayan itu terlihat kikuk, tapi jelas bahagia mendengar kata itu.

Pelayan Elf :

"Maaf, Nona. Saya… tidak pantas berbicara santai kepada anak majikan."

Natsumi membalik kursinya sedikit, menatap langsung.

Natsumi :

"Kau merawatku sejak bayi."

"Kalau aku memanggilmu kakak, itu bukan 'tidak pantas'."

"Itu… hakku."

Pelayan elf itu akhirnya menghela napas kecil—lalu tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul.

Pelayan Elf :

"…Baik."

"Kalau itu keinginanmu."

Ia mulai membantu merapikan rambut Natsumi dengan telaten, gerakannya rapi—seolah merias boneka mahal, tapi dengan kasih sayang yang nyata.

Setelah rambut rapi dan wajah Natsumi tertata, Natsumi berdiri dan melangkah ke pintu.

Natsumi :

"Ayo turun. Makan bareng."

Pelayan itu langsung menggeleng halus.

Pelayan Elf :

"Saya masih harus membereskan beberapa ruangan, Nona."

Natsumi menahan diri agar tidak mencebik.

Lalu ia mengangguk, namun nadanya jelas memerintah—bukan sebagai Nona, tapi sebagai "adik" yang keras kepala.

Natsumi :

"Kalau sudah selesai, cepatlah bergabung."

"Aku tunggu."

Pelayan itu tampak terkejut mendengar kalimat "aku tunggu", lalu menunduk.

Pelayan Elf :

"…Terima kasih."

Natsumi turun ke lantai satu.

Ruang makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan—wangi sup hangat, roti panggang, dan makanan manis yang terlalu mewah untuk ukuran "sarapan biasa".

Di meja makan sudah ada kedua orang tuanya.

Seorang pria dengan aura tenang tapi berat—jelas bukan orang biasa.

Dan seorang wanita dengan senyum lembut, tapi tatapannya tajam seperti bisa membaca isi kepala anaknya.

Natsumi menarik kursi dan duduk.

Natsumi :

"Pagi Ibu, Ayah."

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Kamu kenapa lama sekali turun, Sumi."

"Sarapan hampir dingin."

Natsumi :

"Aku merias rambut dan wajahku Bu."

Ayah Natsumi (ras demon):

"Untuk apa merias diri kalau kamu tidak akan menemui siapa pun?"

Natsumi menyeringai tipis.

Natsumi :

"Aku ingin selalu cantik."

"Setidaknya… mendekati Ibu."

Sang ibu tertawa pelan, jelas menikmati keberanian anaknya.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Kamu tidak akan bisa menang dariku kalau aku ikut merias wajahku."

Ayahnya ikut menimpali, datar tapi menusuk.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Kau tidak akan menang."

"Ibumu itu standar yang tidak adil."

Natsumi langsung cemberut—cemburu yang jujur sekali.

Ia mengambil sendok dan memilih… makan saja.

Beberapa suap berlalu.

Lalu ayahnya bertanya, lebih serius.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Bagaimana dengan sekolahmu?"

"Apa ada masalah?"

Natsumi berhenti sesaat, lalu menjawab dengan tenang.

Natsumi :

"Aku baik-baik saja."

"Banyak yang menyukaiku… tapi tidak semua berniat tulus."

Ibunya menatapnya, lembut tapi penuh peringatan.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Jangan paksakan dirimu lagi dan berbuat sesuatu seperti dulu."

Natsumi mengangguk kecil.

Natsumi :

"Semua akan baik-baik saja."

Ia lalu menatap ayahnya, suaranya berubah lebih serius.

Natsumi :

"Ayah… apakah Ayah mengenal keluarga Kurogane?"

Sendok ayahnya berhenti di udara.

Ia menatap Natsumi dengan tenang—tapi tegas.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Untuk apa kau bertanya keluarga itu?"

Natsumi menjawab seperti seorang anak yang bertanya biasa, padahal matanya menyimpan sesuatu.

Natsumi :

"Temanku punya masalah dengan mereka."

"Sepertinya… keluarga itu memaksa keluarganya."

Ayahnya berpikir sejenak, lalu menjawab pelan.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Keluarga Kurogane memang berpengaruh di kota ini."

"Tapi tidak sebesar kita. Tidak perlu takut."

"Dan keluarga itu suka menekan orang lewat cara yang bersih di luar, kotor di dalam."

Ia menatap Natsumi lebih tajam.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Tapi… hubunganmu dengan temanmu itu apa?"

"Sampai kamu peduli sejauh ini?"

Natsumi menahan napas.

Lalu ia memilih jawaban yang setengah jujur.

Natsumi :

"Aku… menyebarkan rumor tanpa mencari kebenaran. Dan itu melukai dia."

"Namanya Mina. Aku ingin bertanggung jawab."

Ibunya menatap Natsumi lama.

Seolah membedah kalimat itu, sampai ke tulang.

Lalu ibunya meletakkan sendok, suaranya lembut—tapi memojokkan.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Jangan bohong, Sumi."

"Ibu tahu… kamu punya maksud lain."

"Kalau kamu tidak jujur, Ayah dan Ibu tidak akan bantu."

Natsumi justru tersenyum kecil—senyum yang menandakan ia ketahuan.

Ia menatap ibunya tanpa takut.

Natsumi :

"Hehe aku memang tidak bisa berbohong di depan Ibu."

"Aku memang menginginkan sesuatu darinya."

Ia menyuap makanannya lagi, santai, seolah membicarakan hal ringan.

Natsumi :

"Sebenarnya bantuan Ayah dan Ibu tidak perlu."

"Aku hanya ingin tahu… sampai sejauh apa keluarga Kurogane bisa bergerak."

Ibunya mengaduk supnya, lalu tertawa kecil.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Kau licik sekali, Nak."

Ayahnya menghela napas berat—bukan marah, lebih seperti sudah lelah menghadapi otak anaknya.

Ayah Natsumi (ras demon):

"Terserah. Asal jangan merusak nama keluarga kita."

"Dan jangan libatkan nama keluarga."

"Ingat siapa dirimu."

Natsumi mengangguk, lalu tersenyum manis.

Natsumi :

"Terima kasih, Ayah, Ibu."

Saat suasana mulai tenang—

Pelayan elf tadi datang dengan langkah cepat, menunduk pada sang ibu.

Pelayan Elf :

"Nyonya di ruang tamu ada teman-teman Nona datang berkunjung."

Ibu Natsumi langsung menoleh, alisnya terangkat sedikit.

Ibu Natsumi (ras kelinci):

"Mereka yang kemarin?"

Pelayan Elf :

"Benar, Nyonya."

Natsumi langsung menghabiskan makanannya lebih cepat—berbeda dari biasanya yang selalu rapi.

Ia berdiri, menyeka bibir, lalu melirik kedua orang tuanya.

Natsumi :

"Aku pergi dulu, Bu. Yah."

"Hari ini aku bersama teman-teman. Jangan suruh orang mengikutiku."

Dan tanpa menunggu izin lagi, Natsumi melangkah pergi—meninggalkan ruang makan dengan langkah ringan… tapi matanya menyimpan rencana.

More Chapters