Hening di kamar itu terasa panjang setelah Seris mengakhiri kalimatnya.
"...luka itu belum selesai."
Seris menunduk, napasnya masih berat, seolah setiap kata yang keluar barusan ikut menggerus tenaganya.
Rinna—yang dari tadi gelisah—akhirnya tidak tahan. Ia maju setengah langkah, alisnya berkerut.
Rinna:
"Terus… setelah itu gimana?"
"Setelah kakakmu menyuruh pasukan dikumpulkan… apa yang terjadi ke mereka berdua?"
Suara Rinna terdengar spontan—bukan berniat jahat, tapi rasa penasarannya terpeleset jadi dorongan.
Airi yang sedari tadi hanya mengamati, tegang dan diam… akhirnya bersuara. Nadanya pelan, tapi tegas.
Airi:
"Rinna… jangan paksa Seris."
"Kalau Seris tidak sanggup, jangan paksa lebih jauh."
Rinna langsung tersentak. Wajahnya berubah kaku, lalu menunduk.
Rinna:
"A-ah… maaf."
"Aku… aku cuma—"
Seris mengangkat wajahnya perlahan. Lalu… ia tersenyum kecil pada mereka. Senyum yang lemah, tapi tulus.
Seris:
"Tidak apa-apa, Rinna."
"Aku memang sudah janji dari awal… aku akan cerita sampai selesai."
Noelle mendengus kecil dari sisi ranjang, tapi tidak menyela. Nerine menahan napas seperti anak kecil yang menunggu cerita, sementara Rei diam—tatapannya berat, seolah ia sudah menebak arah tragedinya.
Seris menghela napas panjang.
Seris:
"...Cerita ini berat."
"Jadi tolong… kalau aku berhenti sebentar, jangan salah paham."
Semua hanya mengangguk pelan.
Aelria:
"Kami akan dengarkan."
"Karena kami semua di sini peduli."
Seris tersenyum melihat semua temannya sangat peduli terhadap kakaknya.
Seris menutup mata sebentar, lalu membuka lagi—seolah menarik pintu masa lalu.
—Tiga Tahun Lalu — Keesokan Harinya
Pagi itu, rumah keluarga Vhal'Raine terlihat seperti biasa.
Langit cerah.
Pelayan berlalu-lalang.
Dan di ruang makan… Lirya—kakak pertama mereka—duduk santai dengan senyum usil seperti biasa.
Lirya:
"Ravien~"
"Kenapa muka kamu seperti sedang merencanakan sesuatu?"
"Jangan bilang… kamu mau membuat masalah di belakangku?"
Ravien hanya diam melanjutkan sarapannya.
Biasanya, Ravien akan mendecak dan membalas dengan satu dua kalimat sinis yang masih ada "hangatnya".
Tapi pagi itu…
Ravien bahkan tidak menoleh.
Ia duduk tegak.
Melanjutkan makan dengan tenang.
Tatapannya kosong—dingin, seperti kaca.
Lirya menyipitkan mata. Senyumnya perlahan hilang.
Lirya:
"…Oi."
"Ada apa dengan kamu?"
"Apakah ada yang mengganggumu di akademi?"
Ravien merapikan alat makannya dan beranjak pergi.
Seris yang masih lebih muda saat itu duduk di sisi, menatap kakaknya yang pergi menjauh.
Seris (dalam hati):
Kak Ravien… kenapa berbeda?
Lirya menoleh ke Seris.
Lirya:
"Seris."
"Apa yang terjadi sama kakakmu di akademi?"
Seris menggeleng pelan.
Seris:
"A-aku nggak tahu, Ka Lirya…"
"Kemarin sore dia pulang seperti biasa… dan setelah itu… dia masuk ke dalam kamar setelah berbicara sesuatu kepada Sebastian."
Lirya mengerutkan alis, merasa ada suatu masalah pada adiknya.
Matanya beralih ke seorang pria tua demon yang berdiri rapi di sisi pintu—kepala pelayan keluarga mereka.
Sebastian.
Lirya memanggil tanpa menoleh.
Lirya:
"Sebastian, kemari."
Sebastian menghampiri Lirya dan menunduk sopan.
Lirya:
"Jelaskan sekarang."
"Apa ada yang terjadi waktu aku pergi bertugas?"
Sebastian:
"Tidak ada apa-apa, Nona."
"Semuanya berjalan normal."
Kalimat itu terlalu rapi. Terlalu cepat.
Dan Lirya tahu—jawaban yang terlalu rapi biasanya menyembunyikan kebohongan.
Udara di ruang makan berubah ketika Lirya menaruh sendok makannya.
Ia bertanya sekali lagi kepada pelayan itu.
Suaranya tetap halus—tapi aura di baliknya… tajam seperti bilah.
Lirya:
"Sebastian."
"Kemarin Ravien bicara padamu."
"Apa yang dia katakan?"
"Dan kenapa sikapnya berubah?"
Sebastian berkeringat dingin.
Seris yang duduk di depannya ikut tegang—karena ia tahu… kalau Lirya sudah memasang nada itu, artinya ia benar-benar marah.
Seris cepat menyela.
Seris:
"Ka Lirya… tahan emosimu…"
"Kalau Ka Lirya terus begini… aku juga akan ikut terseret."
Lirya tersentak. Ia menoleh, lalu… seolah baru sadar diri.
Lirya:
"…Maaf, Seris."
"Aku lupa… kamu ada di sini."
Seris menghela napas lega.
Seris:
"Jangan lakukan itu lagi di depanku…"
Lirya menatap Sebastian lagi—kali ini masih tegas, tapi tidak lagi "berniat membunuh".
Lirya:
"Sekarang jawab."
"Yang sebenarnya."
Sebastian menunduk dalam. Suaranya gemetar kecil, tapi tetap sopan.
Sebastian:
"Mohon maaf… Nona."
"Memang ada hal buruk terjadi… yang berkaitan dengan perubahan sikap Tuan Muda Ravien."
Lirya mengepal tangannya di atas meja seperti sudah menduga ada yang di sembunyikan.
Lirya:
"Ceritakan."
Seris juga menahan napas.
Sebastian:
"Kemarin… salah satu bawahan saya memperlihatkan sesuatu kepada Tuan Muda."
"Sesuatu yang… menghancurkan kepercayaannya."
"Dan hari ini… beliau memberi perintah."
Lirya menatap tajam.
Lirya:
"Perintah apa?"
Sebastian diam, seolah enggan. Tapi Lirya melangkah satu langkah—cukup untuk membuat udara kembali menghitam.
Lirya:
"Ingatlah Sebastian, aku calon Ratu Demon berikutnya."
"Dan pamanku Raja Demon saat ini."
"Jangan sembunyikan apa pun—apalagi soal keluargaku."
Sebastian akhirnya bicara, terbata-bata.
Sebastian:
"Tuan Muda… memerintahkan saya untuk memanggil seluruh Pasukan Elit yang ia latih…"
"Untuk berkumpul di dua tempat."
"Di rumah keluarga sahabatnya… dan di rumah keluarga Nona Lunaria."
"Dan menunggu perintah selanjutnya."
Seris dan Lirya membeku.
Lirya:
"…Bocah itu…"
"Apa yang ia rencanakan?!"
Seris—yang tadinya diam—tiba-tiba tersadar. Wajahnya pucat.
Seris:
"Ka Lirya… kalau Pasukan Elit sudah dikerahkan…"
"itu berarti Kak Ravien tidak berniat menakut-nakuti."
"Dia berniat menghabisi."
Lirya menoleh cepat menanggapi perkataan adiknya yang mungkin saja terjadi.
Seris (panik):
"Jika benar seperti itu…"
"Kita harus menghentikannya sebelum dua keluarga itu… benar-benar musnah di hari yang sama."
Lirya terdiam satu detik—lalu murka itu meledak.
Lirya:
"GILA…!"
"Apa yang sebenarnya terjadi hingga ia berbuat begitu."
Tanpa menunggu lebih jauh, Lirya bangkit dari tempat duduknya dan berbalik.
Lirya:
"Sebastian. Seris."
"Kalian ikut aku. Sekarang."
"Kita harus menghentikan tindakan nekat Ravien, sebelum semuanya terlambat."
—Satu Jam Kemudian — Rumah Sang Sahabat
Kereta kuda sihir melaju seperti diburu.
Begitu sampai di halaman rumah sang sahabat…
Seris dan Sebastian langsung membeku.
Mayat.
Bukan satu dua yang bertebaran.
Tapi puluhan.
Tubuh para demon penjaga… para anggota keluarga… jatuh seperti boneka rusak. Darah sudah mengering, tapi bau besi masih menusuk.
Di sudut gerbang, seorang penjaga masih hidup—menggigil, wajahnya pucat seperti mayat yang lupa mati.
Lirya menghampiri dengan langkah cepat.
Lirya:
"Apa yang terjadi?!"
"Kenapa bisa begini?"
Penjaga itu menatap Lirya seperti melihat malaikat sekaligus hukuman. Bibirnya bergetar.
Penjaga:
"S-saya… saya tadi pergi beli camilan…"
"Saat saya kembali… halaman sudah penuh… mayat…"
"Pasukan itu… mereka sangat terlatih…"
"Mereka… membiarkan saya hidup…"
"Dan… mereka tidak bilang apa-apa…"
"Mereka hanya pergi seperti tugas mereka sudah selesai…"
Lirya mengepalkan tangan sampai gemetar.
Lirya:
"Ravien…"
"Apa yang kamu perbuat…?"
Seris menahan napas. Matanya berkaca.
Seris:
"Ka Lirya… kita harus ke tempat satunya."
"Cepat… sebelum terlambat."
Lirya menoleh ke Sebastian.
Lirya:
"Antar. Kami sekarang."
Sebastian:
"Baik, Nona!"
Mereka meninggalkan penjaga itu sendirian—masih menggigil di antara mayat.
—Dua Puluh Menit Kemudian— Rumah Keluarga Lunaria
Saat kereta kuda sihir berhenti…
Mereka tahu.
Karena bau darah lebih tajam.
Halaman kedua rumah itu… juga penuh tragedi.
Namun kali ini…
Ada Ravien.
Di tengah halaman.
Menghajar seorang pria sampai tidak berbentuk lagi.
Tubuh pria itu sudah setengah tidak sadar, mulutnya tidak bisa bersuara—hanya darah dan napas patah-patah.
Tak jauh dari sana… tergeletak seorang gadis beastkin kelinci.
Lunaria.
Lunaria memandang kosong ke langit—matanya terbuka, tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
Lunaria (dalam hati):
Kenapa… sampai begini…?
Bugh! Bugh!
Hanya suara pukulan yang terdengar di tengah halaman itu.
Pasukan Elit Ravien berdiri di sekitar—diam, tatapan kosong, seperti patung.
Lirya berlari tanpa pikir panjang dan menangkap lengan Ravien yang hendak melanjutkan pukulan.
Lirya:
"CUKUP, RAVIEN!"
"Apa yang kamu lakukan?!"
Ravien menoleh perlahan.
Tatapannya dingin… seperti bukan Ravien yang ia kenal.
Ravien:
"Kau tahu… apa yang mereka perbuat di belakangku, Kak?"
Lirya menggertakkan gigi, mengingat ucapan yang di ceritakan Sebastian sebelumnya.
Lirya:
"Aku tahu."
"Tapi bukan seperti ini cara yang benar!"
Ravien tertawa kecil—tawa tanpa bahagia.
Ravien (dingin):
"Salah, kau bilang kak?"
"Mereka menjadikan kita bahan permainan."
"Mereka memanfaatkan namaku."
"Dan mereka merencanakannya sejak awal."
"Kau mau memaafkan itu… hanya karena kita harus 'terlihat mulia'?"
Lirya terkejut.
Dan… ia tidak bisa membantah.
Tangan Lirya yang menahan… sedikit melemah.
Ravien memanfaatkan itu.
Ia kembali melanjutkan pukulannya.
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara pukulan itu kembali terdengar di tengah keheningan tragedi.
Dan saat itu…
Langkah cepat berlari menghantam tanah.
Seris.
Seris mendekat dan langsung memegang pundak Ravien.
Seris:
"Kak…"
Ravien menoleh—dan…
PLAK!
Tamparan Seris mendarat.
Seris gemetar. Air matanya jatuh.
Seris (menangis):
"CUKUP, KAK…!"
"Aku tahu kamu marah… aku tahu kamu dipermalukan…"
"Tapi apa kamu tidak puas setelah memusnahkan dua keluarga dalam satu hari?!"
Ravien membeku.
Tangannya—yang tadi seperti mesin—akhirnya berhenti.
Ia melepaskan cengkeramannya dari pria itu.
Berdiri.
Menatap kosong.
Lalu… tanpa kata, ia berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
Langkahnya pelan.
Tapi berat.
Seolah membawa seluruh dunia di pundaknya.
—Kembali ke Kamar Hotel — Masa Kini
Seris:
"Itulah yang terjadi."
"Dan sekarang sikap kak Ravien kembali seperti dulu."
Ruangan hotel hening.
Tidak ada yang bicara.
Riku dan Rika saling pandang—lalu Riku akhirnya bersuara.
Riku:
"…Itu… juga pernah terjadi."
"Di sekolah kami… Ravien hampir melakukan hal yang sama pada Hayato."
"Pemicunya… demi melindungi Hina."
"Dan Hina menghentikannya… sambil menangis."
"Lalu Ravien pergi… tanpa kata."
Seris menoleh pelan.
Seris tersenyum kecil—pahit, tapi hangat.
Seris:
"…Itulah kakakku."
"Kakak yang paling peduli… tapi juga yang paling mudah hancur."
Nerine menelan ludah.
Noelle diam—lebih serius dari biasanya.
Seris mengusap matanya.
Seris:
"Sekarang… Hina menghilang."
"Dan kakakku… tidak punya alasan untuk 'menahan diri' lagi."
"Kalau dia merasa sendirian…"
"Dia bisa kembali menjadi Ravien yang waktu itu…"
Seris menunduk.
Seris:
"Dan kita…"
"…kita semua di sekitarnya… tidak bisa membantu."
Kalimat itu menggantung.
Mereka semua—Rei, Aelria, Airi, Rinna, Riku, Rika, Noelle, Nerine—merasakan satu rasa yang sama.
Tidak berguna.
Seperti kata-kata Ravien kepada Sebastian di panggilan terakhir.
Dan di tengah hening itu… hanya napas Seris yang terdengar, pelan dan rapuh—seperti luka yang belum selesai.
Di luar sana… Ravien sedang berjalan sendirian, membawa amarah yang tak punya tempat pulang.
