Cherreads

Chapter 25 - Bab 25

"Pertama-tama saya ingin mengatakan selamat atas kelulusan kalian." Berdiri di depan podium, pria paruh baya berjanggut menatap ke arah ketiga peserta yang telah lulus ujian.

Duduk di salah satu bangku, Ives menatap pak tua itu sambil mendengarkannya dengan tenang. Duduk di sebelahnya adalah Biscuit, dia juga lulus dalam ujian Hunter ini, sedangkan di bangku depan ada Botobai si pria garang dengan kumis dan alis aneh.

Mengeluarkan sebuah kartu, Netero melanjutkan, "Kartu yang telah diberikan adalah Hunter License, dengan kartu ini kalian mampu mengakses sembilan puluh persen negara di seluruh dunia, serta tujuh puluh lima persen akeses ke tempat terlarang."

"Sembilan puluh lima persen akses publik dapat kalian nikmati tanpa perlu mengeluarkan biaya sama sekali. Kartu ini juga dapat dijual dengan harga yang sangat tinggi. Tapi perlu diingat bahwa kalian tidak bisa mengajukan penggantian kartu, jadi kalau hilang, maka itu menjadi tanggung jawab kalian sendiri."

"Dengan ini, saya menyatakan bahwa ketiga peserta yang hadir adalah Hunter terlisensi!" Netero memberikan penjelasan singkat tentang manfaat Hunter License sambil mengangguk puas kepada ketiga peserta yang lulus itu.

Sore harinya, di sebuah bandara.

"Tuan Botobai, terima kasih banyak karena telah merawatku. Aku berhutang budi kepadamu." Ives dengan tulus berterima kasih kepada Botobai Monstruo.

"Sama-sama, dan panggil aku Botobai saja. Kalau begitu sampai jumpa lagi, nak." Melambaikan tangan, Botobai berpamitan.

Menoleh ke Biscuit, Ives bertanya, "Jadi, apa rencanamu sekarang, Biscuit? Apakah kamu mau belajar dengan Botobai atau Netero?" Benar, belum lama ini keduanya ditawari oleh kedua pemimpin dojo itu. Dia sendiri memang ingin segera berlatih, tapi dia ingin mendengar pendapat Biscuit terlebih dahulu.

"Aku masih belum menentukan, kalau kamu bagaimana?" Biscuit menggeleng dan balik bertanya.

"Aku akan pergi ke Shingen-ryu dan berlatih di sana." Apakah kamu bercanda? Pilihan utama jelas berlatih di bawah Netero bimbingan Netero. Ini adalah kesempatan langkah, dan pak tua itu juga telah menawari mereka secara pribadi. Walaupun di sisi lain dia kaget Botobai telah menguasai Nen dan juga teman lama Netero, tapi dibandingan dengan Netero, jelas Netero lebih unggul.

Tapi mengingat Monstruo telah menawari mereka dan juga membantu merawat lukanya, dia berencana untuk mampir dan belajar darinya juga di masa depan.

"Kalau begitu aku ikut denganmu. Walaupun aku sendiri merasa agak tidak enak untuk menolak tawaran baik Botobai."

"Jangan khawatir, kita dapat berkunjung dan meminta nasehatnya nanti. Bukankah dia bilang dia tidak keberatan?" Ives merangkulnya sambil tersenyum.

"Kamu benar." Biscuit mengangguk.

"Tapi, sebelum pergi ke Shingen-ryu dojo ayo pergi mengunjungi Glam Gas Land terlebih dahulu. Ingat, kamu sudah berjanji padaku."

"Seperti yang kamu minta, ratuku. Aku akan membeli tiket, kamu tunggu di sini."

Glam Gas Land adalah kota megah dengan banyak sekali hiburan, seperti casino, sirkus, hotel mewah, dan berbagai tempat pariwisata lainnya. Seperti yang dia bilang, York New dibandingkan dengan Glam Gas Land cenderung pucat. Bahkan di akhir tahun lima puluhan, perkembangan hiburan di sini begitu pesat, bahkan jauh menyaingi bumi sebelumnya.

Tak lama setelah mendarat, mereka langsung menyewa taksi dan pergi ke hotel terdekat. Setelah check in, mereka keluar untuk jalan-jalan.

Neon terang menghiasi banyak gedung di sepanjang jalan, malam hari di kota ini begitu aktif, bahkan lebih hidup dari pada di siang hari.

Tujuan pertama adalah restoran, sebelum jalan-jalan, pergi ke restoran memang sudah menjadi hal yang wajib. Restoran yang mereka kunjungi adalah restoran yang mengkhususkan diri pada masakan laut.

"Kamu nampak begitu senang, kita baru saja datang dan belum mengunjungi situs utama." Ives terkekeh.

"Bukankah menyenangkan bersantai seperti ini setelah ujian Hunter yang melelahkan itu? Dan seperti yang kamu bilang, tempat ini luar biasa." Kata Biscuit sambil menikmati makanan yang telah disuguhkan.

"Memang. Ngomong-ngomong tentang Hunter, apakah kamu masih ingin menjadi Stone Hunter?"

"Ya, aku telah memikirkannya cukup lama, dan aku sangat yakin dengan pilihanku." Biscuit mengangguk. "Bagaimana denganmu?"

"Masih tidak kepikiran sama sekali. Aku akan mencoba mencari tahu yang mana yang cocok untukku nanti." Ives mengusap bibirnya. Makanan di sini memang enak, tapi juga mahal. Untungnya mereka cukup kaya setelah menjual dua cakar aneh itu.

Keluar dari restoran, Ives pergi ke dealer terkedat untuk membeli motor. Malam ini mereka akan mengunjungi banyak tempat, pergi dengan taksi cukup merepotkan, jadi kendaraan diperlukan.

Duduk di kursi belakang, Biscuit memeluk erat pinggangnya sambil sesekali tertawa. Memang dalam perjalan mereka mengobrolkan banyak hal. Tujuan mereka adalah roud-trip helikopter, ini permintaan pribadi Biscuit. Dia pribadi lebih suka road-trip di Grand Canyon, tapi sayangnya mereka perlu menundanya sampai besok.

Setelah melihat pemandangan indah melalui helikopter, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat, malam ini cukup menyenangkan, dan mereka tidak sabar untuk menikmati liburan hari kedua mereka.

Keesokan harinya, siang hari.

"Apakah kamu temannya? Bajingan, segera kembalikan barang-barang kita." Pria dengan perawakan gemuk menatap ketiga orang itu dengan tatapan garang, seakan-akan telah siap untuk memukuli mereka.

"Nak, aku tidak ingin menyakiti anak kecil seperti kalian, cepat bayar atau kalau tidak..."

"Tunggu? Apa maksud kalian?" Melirik gadis kecil yang tiba-tiba bersembunyi di belakangnya, Ives menatap segerombolan pria marah itu dengan tenang.

"Temanmu telah mencuri dagangan kita." Pria kurus menunjuk gadis itu dengan geram.

"Apakah benar demikian?" Ives bertanya dan dijawab dengan gelengan kepala dan ekspresi takut. Menghela nafas, dia mengeluarkan dompetnya dan memutuskan untuk membayar mereka, "Berapa banyak yang telah diambil oleh temanku?"

"Dia berhutang-"

"Oke, sekarang sudah beres, kan?"

"Lain kali jangan sampai kita menangkapnya." Mendengus, orang-orang itu kemudian pergi.

"Jadi, siapakah teman kecil kita ini?" Ives menoleh ke arah gadis yang terlihat dua atau tiga tahun lebih muda darinya sambil menyilangkan tangannya.

"T-terima kasih." Tidak mau menjawab, gadis itu berlari pergi setelah mengucapkan terima kasih.

"Hei, kamu mau lari ke mana!" Biscuit ingin mengejar, tapi Ives menghentikannya.

"Tidak apa-apa. Mari pergi, bukankah kamu sudah tidak sabar mengunjungi Grand Canyon?"

"Kamu terlalu baik, Ives." Biscuit cemberut.

"Dia memang terlihat cukup kesusahan, tidak ada salahnya untuk menolong seseorang sesekali." Ives hanya bisa tersenyum kecil.

"Lagian siapa sih dia?"

"Entah." Melihat penampilannya, memang dia tidak merasa familiar sama sekali. Rambut gadis itu berwarna pink kemerahan, dia juga mengenakan kostum manis dengan corak checkerboard dengan desain seperti kostum badut. Tidak peduli bagaimana dia mencoba, dia tetap tidak bisa mengenalinya.

Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77

More Chapters