Cherreads

Chapter 26 - Bab 26

Hari sudah sore, setelah menikmati perjalanan di Grand Canyon, Ives dan Biscuit kembali ke pusat kota. Ketika sedang jalan-jalan sambil mengobrol, mereka menjumpai segerombolan orang di taman kota, penasaran mereka mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.

Berdiri di pusat adalah seorang gadis muda berpakaian imut. Ia memiliki wajah yang manis dan mata yang berkilau seperti bintang di malam hari.

"Bukankah dia gadis yang kita temui siang hari tadi?" Ives langsung mengenalinya.

"Ya, dia memang gadis yang kita temui sebelumnya. Mungkinkah dia seorang street performer?" Biscuit ikut berkomentar.

"Permisi, apakah Anda tahu mengapa ada banyak orang yang berkumpul di sini?" Ives yang penasaran bertanya kepada salah satu penonton.

"Kamu tidak tahu? Sebentar lagi akan ada pertunjukan sulap, namanya Honora, setiap beberapa bulan sekali dia akan melakukan pertunjukan di sini." Kata penonton itu dengan ekspresi antisipasi.

"Jadi begitu." Ives mengangguk.

Karena dari belakang agak kurang kelihatan, dia memutuskan untuk maju sedikit ke depan. Dan memang, dari depan, dia bisa melihat penampilan gadis itu dengan jelas.

"Halo semuanya! Saya akan melakukan pertunjukan sulap, ini melibatkan kartu yang saya pegang!" Gadis bernama Honora itu berkata lantang sambil menunjukkan kartu yang dia pegang serta tersenyum cerah.

Dengan gerakan tangan yang lincah, gadis itu mengocok kartunya sedemikian rupa sampai sepenuhnya tercampur.

Melihat gerakan cepat tangan gadis itu, para penonton dibuat semakin tertarik.

Gadis itu berjalan menuju ke arah penonton acak, kemudian memintanya untuk mengambil salah satu kartu dari tangannya.

"Sudahkan Anda mengambilnya?" Tanya Honora dengan manis.

"Ya." Penonton acak itu mengangguk.

"Ingat baik-baik kartu khusus yang Anda pegang, jangan mengatakannya secara lantang. Kalau sudah, masukkan ke dalam tumpukan kartu ini dan kocok." Honora memberi instruksi sederhana.

Penonton itu mengangguk lalu menaruhnya secara acak di antara tumpukan kartu itu. Di genggamannya, tumpukan kartu itu kira-kira berjumlah lima puluh dua. Mengambil napas, dia mulai mengocoknya dengan kecepatan tercepatnya, tapi, dibandingkan dengan kecepatan yang ditunjukkan gadis itu sebelumnya, kecepatannya bisa dibilang seperti siput.

Setelah puas dan yakin kartunya telah telah tercampur, penonton itu memberikannya kembali kepada gadis itu. Ngomong-ngomong, sebelum dia menumpukknya, dia telah memberi sedikit tanda kecil, hal ini untuk memastikan apakah kartunya sama atau tidak, tentunya hal ini dia lakukan tanpa sepengetahuan gadis itu.

"Oke, nampaknya tuan yang satu ini telah selesai mengacaknya. Untuk menambah keacakan, saya akan menambahkan satu set kartu lagi." Dengan satu tangan, gadis itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah set kartu yang masih tersegel. Dengan lihai, dia melemparkannya keatas dan mengelupas plastik serta bukaan wadah kartu tersebut, semuanya dilakukan dengan satu tangan!

Setelah selesai, dia langsung menumpuknya di atas kartu yang telah ada. Menatap ke arah penonton, Honora lalu menekukkan kartu-kartu berjumlah lebih dari seratus itu ke lengkungan yang dibutuhkan, kemudian kartu itu meledak ke arah langit!

Dengan gerakan atraksi yang menghibur serta presisi luar biasa, Honora menyusun kembali setiap kartu menjadi sebuah tumpukan.

Para penonton yang melihat aksi ini bertepuk tangan sambil tertawa takjub.

Kartu ke tiga puluh, kartu ke tiga puluh satu, kartu ke lima puluh, ke sempilan puluh, ke seratus tiga... Setiap kartu ditumpuk sedemikian rupa diiringi oleh gerakan berirama. Ketika kartu terakhir berada satu meter di atas tanah, Honora yang masih fokus bermain dan ingin mengambil kartu itu secara kebetulan melihat pria yang sebelumnya telah membantunya. Saat itu juga dia terkejut dan kehilangan konsentrasinya.

Saat kartu terakhir akan jatuh ke tanah, Honora kembali sadar dan segera mengambilnya dengan dua jarinya. Mungkin karena begitu terburu-buru, dia melakukannya secara berlebihan dan membuat gerakan yang sangat mencolok. Tapi, bukannya membuat para penonton kecewa, malahan membuat mereka semakin bertepuk tangan dengan keras.

'Ahem, fokuskan dirimu!' Gadis itu mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Berkeringat karena rasa grogi tadi, gadis itu kembali ke penonton sebelumnya sambil membawa satu kartu yang telah dipilih.

"Apakah ini kartu yang Anda pilih sebelumnya?"

"Mari aku lihat." Penonton itu mengambil kartu itu lalu mengeceknya, dan saat itu juga dia merasa kecewa, kartu ini bukan kartu yang dia pilih!

"Salah." Katanya dengan nada datar.

"Benarkah?" Honora bertanya kembali sambil mempertahankan senyumnya.

"Ya ini salah, aku tahu karena sebelumnya aku telah memberi tanda." Diragukan, tentunya penonton itu semakin kecewa.

Para penonton lain mulai berbisik-bisik, tapi saat keraguan memuncak, tiba-tiba mereka mendengar gadis itu kembali bertanya, "Ataukah kartu itu ada di dalam topi Anda?"

"Huh? Di dalam topiku? Bagaimana mung-" Saat pria itu ingin membantah, dia memang telah meraih topi di kepalanya, dan saat itu juga dia terbelalak! Tiba-tiba ada burung merpati yang terbang keluar, dan memang ada kartu di kepalanya!

"Woah!" Melihat kemunculan burung merpati itu, para penonton nampak takjub.

"Ba-bagaimana mungkin?!" Jelas dia tidak pernah melepaskan topinya, dan dia sangat yakin, topi yang dia kenakan sangat rapat. Bahkan jika gadis itu cepat, dia tidak akan mampu menyelundupkannya tanpa dia ketahui!

Pria itu mencoba memastikan lagi, dan benar saja, itu benar-benar kartu yang sama. Saat itu juga dia mengangkatnya ke atas dan berkata, "Ini adalah kartu yang telah saya pilih sebelumnya!"

Clap! Clap! Clap!

Para penonton kembali bertepuk tangan, kali ini lebih meriah.

"Terima kasih, terima kasih." Dengan gerakan anggun, Honora menunduk dan berterima kasih.

Pertunjukkan terus berlangsung, dan Honora juga memainkan berbagai trik lain agar para penonton tidak bosan, dan saat hari mau menjelang malam, pertunjukkannya akhirnya selesai.

Melihat para penonton telah bubar, Ives mendekati gadis itu sambil bertepuk tangan kecil, "Pertunjukan yang luar biasa. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu seorang Street Performer, satu yang luar biasa ahli."

"Unn... Te-terima kasih." Gadis yang sebelumnya nampak riang kini menjadi malu-malu layaknya seorang introvert. Perubahan sifat ini begitu tiba-tiba.

"I-ini untuk uang siang tadi." Tiba-tiba gadis itu menyerahkan beberapa uang untuk membayar 'hutangnya' kepada pria itu.

"Oh, aku kira kamu gadis yang tidak tahu terima kasih." Melihat gadis itu mau membayar kembali, Biscuit tersenyum kecil sambil menaruh tangannya di pinggang.

"Tidak perlu, anggap saja donasi untuk pertunjukanmu yang luar biasa." Ives menolak. Baginya, pertunjukan yang telah ditampilkan sangat worth-it untuk uang yang telah dia keluarkan.

"Baiklah... K-kalau begitu aku pergi dul-"

"Eit, jangan terlalu terburu-buru. Mengapa tidak mengobrol sedikit?" Sebelum gadis itu melarikan diri lagi, Biscuit menghentikannya.

Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77

More Chapters