Beberapa menit setelah Crimgard jatuh — medan pertempuran Aquila mendadak berubah.
Tidak ada ledakan. Tidak ada benturan senjata. Tidak ada teriakan perang. Namun justru karena itulah suasananya terasa aneh. Terlalu hening. Seolah seluruh konstelasi menahan napas. Bahkan cahaya bintang yang biasanya berkilau tampak redup di mata para prajurit yang sedang menyaksikan pertarungan itu.
Kaidles yang berdiri di ruang hampa perlahan mengernyitkan dahi. Tangannya yang memegang pedang sedikit bergerak. Instingnya bereaksi. Sesuatu sedang mendekat. Dan sesuatu itu — sangat kuat.
Perlahan ia menoleh ke arah sumber tekanan yang mulai memenuhi wilayah Aquila. "Hm?" Ekspresi santainya menghilang.
---
Di kejauhan — di atas salah satu kapal armada Aquila — berdiri seorang sosok.
Tidak ada cahaya megah. Tidak ada ledakan energi. Tidak ada kemunculan dramatis. Ia hanya berdiri diam. Namun kehadirannya membuat seluruh medan perang membeku.
Sosok itu berbentuk manusia. Tubuhnya tampak seperti boneka. Bukan manusia. Bukan makhluk hidup biasa. Tubuhnya tersusun dari material misterius yang menyerupai porselen kuno dan logam. Di atas tubuh itu terpasang armor berwarna perak keemasan yang tampak tua namun megah. Wajahnya tidak menunjukkan emosi. Matanya bersinar samar seperti bintang yang jauh.
Ia terlihat seperti patung yang diberi jiwa. Atau jiwa yang terjebak di dalam sebuah patung.
---
Para prajurit Aquila yang melihatnya langsung membelalak. Beberapa bahkan spontan berlutut.
"Itu..." "Tidak mungkin..." "Pelindung Aquila..." Suara mereka bergetar.
Di atas kapal utama — Seleneva berdiri dari kursinya. Matanya membesar penuh ketidakpercayaan.
"Asgard..."
Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Makhluk yang selama ini hanya muncul dalam legenda konstelasi Aquila. Sang pelindung. Sang penjaga. Sosok yang konon hanya akan muncul ketika Aquila benar-benar berada dalam bahaya besar.
Dan sekarang — ia berdiri di hadapan mereka.
---
Seleneva perlahan mengingat masa lalu. Saat menemukan seorang anak tanpa nama di sebuah dunia yang hancur. Anak yang kemudian ia pungut dan besarkan. Saat itu ia memberinya nama. Crimgard. Nama yang terinspirasi dari sosok legendaris yang dihormati Aquila.
Karena baginya — Asgard adalah simbol penjaga yang agung. Pelindung yang selalu menjaga Aquila dari kehancuran. Namun bahkan Seleneva sendiri tidak pernah menyangka akan melihat sosok itu secara langsung.
---
Asgard tidak bergerak. Tidak berbicara. Tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Ia hanya berdiri diam di atas kapal. Seolah tidak memiliki tanda kehidupan.
Namun justru itulah yang membuat Kaidles semakin waspada.
Jenderal kekaisaran itu perlahan menurunkan pedangnya dari bahunya. Tatapannya tajam. Insting seorang veteran perang berteriak keras di dalam benaknya. Bahaya. Bahaya besar. Bahaya yang tidak boleh diremehkan.
Kaidles telah menghadapi banyak lawan sepanjang hidupnya. Monster. Penakluk konstelasi. Pemberontak. Bahkan beberapa makhluk yang mendekati level Sacred Zodiac. Namun sosok di depannya terasa berbeda. Sulit dijelaskan. Tidak memiliki aura yang meledak-ledak. Tidak memancarkan energi mengerikan. Tetapi justru karena terlalu tenang — kehadirannya terasa mengancam.
"Hmph..." Kaidles mempererat genggaman pada pedangnya. "Jadi ini alasan Aquila masih bertahan selama ini..." Matanya tidak pernah lepas dari Asgard.
---
Sementara di seluruh armada Aquila — para prajurit menatap penuh harap. Mereka tahu satu hal. Jika legenda itu benar. Jika sosok itu benar-benar Asgard.
Maka pertarungan di Aquila — belum berakhir.
