Keheningan masih menyelimuti medan perang Aquila. Semua mata tertuju pada satu sosok. Asgard. Pelindung legendaris konstelasi Aquila. Ia berdiri diam di atas kapal armada tanpa menunjukkan sedikit pun ekspresi. Matanya yang bercahaya samar memandang ke arah Kaidles.
Kaidles mengangkat pedangnya perlahan. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi.
Dan benar saja. Asgard mengangkat satu tangannya ke depan. Hanya itu. Gerakan yang sangat sederhana. Beberapa detik kemudian — ruang di depannya bergetar.
*BRRRRRMMMMM! *
Energi raksasa berkumpul di telapak tangannya. Bukan petir. Bukan api. Bukan cahaya biasa. Melainkan gelombang kekuatan yang bahkan sulit dipahami oleh para prajurit Aquila.
Lalu — gelombang itu dilepaskan.
*BOOOOOOOOMMMMMM!! *
Serangan raksasa melesat melintasi ruang angkasa. Kecepatannya begitu tinggi hingga meninggalkan jejak terang di sepanjang lintasannya. Kaidles langsung bereaksi. Matanya membelalak. Ia mengangkat pedang besarnya dan menahan serangan itu dari depan.
Ledakan dahsyat mengguncang wilayah sekitarnya. Ruang hampa bergetar. Asteroid-asteroid kecil hancur menjadi debu. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Aquila — Kaidles terdorong.
Bukan hanya selangkah. Tubuhnya terpental jauh.
*BOOOOM! *
Ia menabrak sebuah asteroid besar hingga permukaannya retak. Pecahan batu angkasa beterbangan ke segala arah.
Para prajurit Aquila terdiam. Tidak ada yang bersuara. Mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Kaidles Lorevath. Jenderal utama Kekaisaran. Orang yang sejak tadi mendominasi pertarungan. Baru saja dipukul mundur.
---
Di kapal utama Aquila —
Seleneva segera berlari menuju Crimgard yang terjatuh. Ia berlutut di samping pemuda itu. Lalu dengan hati-hati mengangkat tubuhnya ke dalam pelukannya.
"Crimgard…" Suara Seleneva terdengar pelan. Ketenangan sang ratu sedikit runtuh. Ia menggenggam tubuh Crimgard erat. Takut. Takut jika pemuda itu tidak akan bangun lagi. Takut kehilangan seseorang yang telah lama menemaninya.
Waktu terasa berjalan lambat. Beberapa detik berlalu.
Lalu — kelopak mata Crimgard bergerak. Perlahan terbuka. "…Yang Mulia Ratu?"
Suara lemah itu membuat Seleneva langsung menghela napas lega. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Syukurlah…"
Crimgard masih tampak kebingungan. Saat melihat ekspresi Seleneva, ia memahami bahwa dirinya sempat kehilangan kesadaran. Ia mencoba bangkit. Meski tubuhnya masih terasa berat.
Lalu pandangannya beralih ke luar. Ke arah medan perang. Dan saat itulah ia melihatnya.
Seorang sosok berdiri diam di kejauhan. Tubuh seperti boneka. Dilapisi armor kuno yang megah. Tanpa ekspresi. Tanpa gerakan berlebihan. Namun memancarkan kehadiran yang luar biasa.
Crimgard membelalak. "Itu…" Ingatan masa kecilnya langsung muncul. Cerita-cerita yang dulu sering diceritakan Seleneva. Tentang pelindung Aquila. Tentang penjaga agung yang selalu mengawasi konstelasi dari balik bayangan. Tentang legenda yang dianggap banyak orang hanya dongeng.
"Apa itu Asgard…" gumam Crimgard.
Seleneva mengangguk pelan. "Ya. Itulah Asgard."
Crimgard terdiam.
---
Di kejauhan —
Debu asteroid yang hancur mulai menghilang. Dan dari balik pecahan batu itu — muncul sosok Kaidles. Jenderal kekaisaran perlahan melangkah keluar. Masih memegang pedangnya. Masih berdiri tegak.
Namun kali ini — tatapannya benar-benar berbeda. Tidak ada lagi sikap santai. Tidak ada lagi senyum meremehkan. Kaidles Lorevath memandang lawannya dengan kewaspadaan penuh.
Ia akhirnya menyadari satu hal. Pelindung Aquila yang berdiri di depannya — bukan sekadar legenda.
