Ketegangan di Ursa Major mencapai puncaknya. Ribuan kapal perang memenuhi ruang angkasa. Cahaya mesin, meriam energi, dan perisai pertahanan menyala di berbagai arah. Seolah seluruh konstelasi sedang menahan napas menunggu satu perintah yang akan memulai peperangan besar.
---
Di barisan depan armada kekaisaran —
Thraxor berdiri di atas kapal utamanya. Jubahnya berkibar perlahan diterpa arus energi kosmik. Pedang raksasa miliknya tertancap di sampingnya. Tatapannya tetap tertuju pada Tyrannons. Tidak kepada Pegasus. Tidak kepada Arcas. Tidak pula kepada para pemberontak lainnya. Hanya kepada Tyrannons.
Perlahan Thraxor mengangkat tangannya.
Seluruh armada kekaisaran langsung siaga. Para komandan menerima perintah secara bersamaan. "Seluruh armada bersiap tempur!" "Siapkan meriam utama!" "Perisai penuh!" "Formasi serang!"
Suara perintah menggema di berbagai kapal. Barisan armada mulai bergerak. Meriam-meriam raksasa mengarah ke depan.
Thraxor tetap tenang. Tujuannya tidak pernah berubah sejak awal. Ia tidak datang untuk menghancurkan Ursa Major. Tidak datang untuk menaklukkan konstelasi lain. Ia hanya memiliki satu tugas. Menangkap Tyrannons. Dan membawanya kembali ke kekaisaran. Itu saja.
---
Di sisi lain medan perang —
Hydra tertawa puas. Kepala-kepalanya bergerak ke berbagai arah sambil mengamati armada musuh. "Lihatlah. Kemenangan sudah jelas." Salah satu kepalanya menyeringai. "Aku telah menaklukkan begitu banyak konstelasi. Dan setiap kali perang dimulai — hasilnya selalu sama."
Di belakangnya, armada Hydra membentuk formasi raksasa yang menutupi sebagian ruang angkasa. Jumlah mereka benar-benar mengerikan. Hydra sangat percaya diri. Baginya, para pemberontak hanyalah satu lagi lawan yang akan dikalahkan.
---
Sementara itu — tidak jauh dari sana.
Virgo sedang menghadapi masalah yang berbeda.
"Taurus." Virgo melayang di depan Zodiac raksasa itu sambil menyilangkan tangan.
Taurus menoleh. "Apa?"
"Aku tahu kau ingin bergerak."
"Tentu saja." Taurus mengangguk. "Perang sudah hampir dimulai." Palu raksasanya sedikit terangkat. "Aku bisa mengakhirinya lebih cepat."
Virgo langsung menggeleng keras. "Tidak boleh."
"Tapi—"
"Tidak." Virgo mengulanginya sekali lagi.
Taurus terdiam.
Virgo menghela napas. "Kau terlalu kuat. Kalau kamu ikut bertarung sekarang, situasinya bisa semakin tidak terkendali."
Taurus terlihat tidak puas. Ia memang datang untuk menjalankan perintah Leo. Dan melihat semua orang bersiap bertarung membuatnya ingin bergerak.
Namun Virgo segera memikirkan cara lain. Lalu matanya berbinar. "Aku punya ide."
Taurus menatapnya.
Virgo tersenyum ceria. "Kalau kau tetap diam dan tidak ikut campur — nanti aku akan mengajakmu melihat nebula."
Taurus berkedip. "Nebula?"
"Iya." Virgo mengangguk mantap. "Nebula yang benar-benar indah."
Taurus langsung terdiam. Wajahnya yang besar terlihat berpikir serius. Karena sebenarnya — meskipun sangat kuat — ia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal di galaksi. Dan salah satu hal yang belum pernah ia lihat secara langsung adalah nebula.
Beberapa detik berlalu. Lalu Taurus mengangguk pelan. "Baik."
Virgo tersenyum lega. "Kau setuju?"
"Aku ingin melihat nebula." Jawaban Taurus begitu sederhana hingga Virgo hampir tertawa.
"Kalau begitu, tetap di sini."
Taurus menurut. Ia menurunkan kembali palunya. Lalu benar-benar berdiri diam seperti gunung raksasa di tengah ruang angkasa.
Virgo menghela napas panjang. Setidaknya satu bencana berhasil dicegah.
---
Sementara itu — di kedua sisi medan perang —
Armada kekaisaran dan armada pemberontak terus mempersiapkan diri.
Badai besar yang akan menentukan nasib banyak konstelasi — tinggal menunggu waktu untuk dimulai.
