Cherreads

Chapter 658 - Perang di Ursa Major

Ketegangan yang sejak tadi menyesakkan seluruh konstelasi akhirnya mencapai batasnya. Di garis depan kedua kubu — Tyrannons dan Thraxor saling menatap. Tidak ada lagi kata-kata. Tidak ada lagi negosiasi. Hanya tekad yang saling berbenturan.

Perlahan — keduanya mengangkat pedang masing-masing ke atas. Aura mereka mengguncang ruang angkasa di sekitar. Lalu pada saat yang hampir bersamaan — mereka berteriak.

"SERANG!" "MAJU!"

Dalam sekejap — perang pecah.

Ribuan armada bergerak bersamaan. Meriam energi memenuhi angkasa. Ledakan muncul di berbagai penjuru. Perisai armada saling bertabrakan. Cahaya perang menerangi ruang hampa seperti badai bintang.

Hampir setengah wilayah Ursa Major kini dipenuhi armada. Jumlah mereka begitu besar hingga konstelasi yang luas itu terasa sempit. Jika perang terus berlangsung seperti ini — kerusakan yang terjadi bisa menghancurkan banyak sistem bintang.

---

Pegasus Wings langsung melesat ke langit kosmik. Sayap peraknya meninggalkan jejak cahaya. Sebelum mencapai kecepatan penuhnya — Hydra sudah menghadangnya. Salah satu kepala Hydra menyeringai. "Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu pasukanku."

Pegasus memutar tombaknya. "Bagus. Aku juga ingin melihat seberapa kuat penakluk konstelasi itu." Ledakan besar langsung terjadi ketika keduanya bertabrakan.

---

Di sisi lain —

Tyrannons kembali berhadapan dengan Thraxor. Kali ini ia tidak berniat menahan diri. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya. Aura hitam menyelimuti pedangnya. Tebasan demi tebasan menghujani Thraxor.

Namun — Thraxor tetap tenang. Pedang raksasanya bergerak dengan presisi mengerikan. Setiap serangan Tyrannons ditepis. Setiap gerakan dibaca. Seolah Thraxor sudah mengetahui apa yang akan dilakukan lawannya sebelum itu terjadi.

"Kau masih terlalu mudah ditebak," ucap Thraxor. Namun Tyrannons terus maju. Ia menolak mundur.

---

Zero melesat seperti kilat emas dan hitam di tengah medan perang. Prajurit-prajurit kekaisaran berusaha mengelilinginya. Satu per satu terpukul mundur. Armor emasnya berkilau di antara ledakan. Setiap ayunan senjatanya membuka jalan melalui lautan musuh.

Tidak jauh dari sana — Napstylea menghadapi armada Hydra yang terus berdatangan. Laser dan meriam energi membanjiri posisinya. Namun ia terus bergerak. Armor peraknya memantulkan cahaya pertempuran. "Jumlah kalian benar-benar tidak masuk akal," keluhnya. Meski begitu — ia tetap bertarung tanpa mundur.

---

Di kapal utama Tartanos —

Rea menggenggam erat pagar pengamatan. Ia ingin turun ke medan perang. Ingin membantu Tyrannons. Namun beberapa komandan pemberontak segera menahannya. "Tidak! Nona Rea tidak boleh maju!" "Itu terlalu berbahaya!" "Tyrannons sendiri yang memerintahkannya!"

Rea tahu mereka benar. Namun melihat perang sebesar ini tanpa bisa membantu membuatnya frustrasi.

---

Sementara itu —

Arcas memandangi kehancuran yang mulai menyebar di wilayah Ursa Major. Beberapa sistem asteroid sudah hancur. Puing-puing armada memenuhi ruang angkasa. Arcas memegangi kepalanya. "Kepalaku sakit…" Ia menghela napas panjang. "Kalau perang ini berlanjut — ibu pasti akan marah besar."

Namun tidak ada waktu untuk mengeluh. Ratusan prajurit kekaisaran sudah bergerak ke arahnya. Arcas langsung melesat maju. "Terserah! Aku akan menghajar kalian semua!"

---

Di tempat yang jauh lebih tenang —

Taurus berdiri seperti gunung raksasa di tengah kehancuran. Tangannya memegang palu Zodiac. Namun ia tidak bergerak. Ia hanya menonton. Baginya — perang itu terlihat seperti pertunjukan kecil.

Di atas kepalanya — Virgo melayang dengan wajah gelisah. Ia melihat kapal-kapal hancur. Prajurit terluka. Dan wilayah Ursa Major yang perlahan rusak. Hatinya tidak tenang.

"Aku harus menghentikan ini…" gumamnya. Virgo mulai mengumpulkan energinya. Namun sebelum sempat bergerak — sebuah tangan raksasa menangkapnya.

"Eh?!" Virgo terkejut.

Taurus memegangnya dengan mudah seperti seseorang mengangkat seekor burung kecil. "Taurus!" Virgo langsung protes. Namun Taurus hanya menggeleng.

"Kau bilang aku tidak boleh ikut campur."

Virgo berkedip. "Itu berbeda!"

"Tentu tidak," jawab Taurus datar. "Lalu kau juga tidak boleh ikut campur."

Virgo terdiam. Logika Taurus terdengar aneh. Namun sulit dibantah. Taurus meletakkan Virgo di atas telapak tangannya. "Duduk saja."

Virgo menunduk kesal. Namun akhirnya ia mengangguk. Jika ia memaksa turun tangan sekarang — bisa jadi justru membuat situasi semakin buruk.

---

Sementara itu — di seluruh penjuru Ursa Major — perang besar terus berkobar.

More Chapters