Medan perang Ursa Major kini berada di ambang kekacauan yang lebih besar. Di satu sisi — berdiri Jenderal Thraxor. Monster perang kekaisaran yang bahkan mampu menahan serangan gabungan Pegasus dan Arcas. Di sisi lain — muncul Hydra bersama armadanya yang jumlahnya seperti lautan tanpa akhir.
Kehadiran mereka membuat keseimbangan perang mulai bergeser. Para prajurit Tartanos mulai saling memandang. Sebagian menggenggam senjata mereka lebih erat. Sebagian lagi mulai merasakan ketakutan. Karena untuk pertama kalinya — mereka benar-benar melihat betapa besar kekuatan yang berdiri di belakang kekaisaran.
Pegasus memutar tombaknya perlahan. Arcas mengepalkan tangannya. Rea ikut menegang melihat jumlah armada yang terus berdatangan.
Hydra tertawa pelan. Sedangkan Thraxor hanya berdiri tenang sambil memegang pedang raksasanya. Keduanya terlihat seperti dinding besi yang mustahil ditembus.
---
Namun — di tengah tekanan itu — Tyrannons melangkah maju.
Langkahnya tidak cepat. Tidak pula penuh amarah. Tetapi penuh keyakinan. Armor di tubuhnya masih dipenuhi bekas luka pertempuran. Napasnya masih berat akibat duel sebelumnya. Namun matanya tetap menyala.
Tyrannons mengangkat pedangnya ke atas. Cahaya dari bilah pedang itu memantul ke armada Tartanos di belakangnya. Semua orang menoleh. Hening sesaat menyelimuti medan perang.
Lalu Tyrannons berbicara.
"Aku tahu kekaisaran kuat." Tatapannya mengarah ke Thraxor. Kemudian ke Hydra. "Aku tahu jalan yang kupilih tidak mudah." Suaranya semakin tegas. "Bahkan mungkin mustahil."
Beberapa prajurit Tartanos menundukkan kepala.
Tyrannons tetap melanjutkan. "Tapi galaksi ini tidak bisa terus hidup dalam ketakutan." Angin kosmik berhembus melewati jubahnya. "Aku akan tetap melawan." Pedangnya bersinar lebih terang. "Meski harus kehilangan segalanya." Tatapannya tidak goyah sedikit pun. "Bahkan jika aku harus kehilangan diriku sendiri — aku akan terus maju demi galaksi yang kembali damai."
---
Hening kembali menyelimuti medan perang. Kali ini — ketakutan di pihak pemberontak perlahan berubah menjadi semangat. Pegasus tersenyum tipis. Arcas mengangguk kecil. Beberapa prajurit Tartanos mulai mengangkat senjata mereka kembali.
Mereka menyadari satu hal. Selama Tyrannons masih berdiri di depan mereka — perlawanan terhadap kekaisaran belum berakhir.
