Di ruang navigasi —
Layar besar menampilkan jalur perjalanan. Bintang-bintang berkelap-kelip di luar sana. Dan di tengah semua itu — Arabels tetap berdiri di posisinya.
Matanya fokus. Namun ada semangat di dalamnya. Seolah semua ini — adalah mimpi yang akhirnya terwujud.
---
Pintu terbuka pelan. Storm masuk. Langkahnya tenang seperti biasa.
Arabels langsung menoleh. "…Kamu akhirnya datang." Senyumnya kecil. Namun tulus.
Ia memperhatikan Storm beberapa detik. "…Kamu diam lagi." Nada suaranya ringan. Namun penuh arti.
Storm tidak langsung menjawab. Ia berdiri di sampingnya. Menatap ke luar — tanpa menoleh.
---
Arabels sedikit memiringkan kepala. "…Apa yang kamu pikirkan?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun cukup untuk membuka sesuatu.
Beberapa detik hening. Lalu — Storm berbicara.
"…Di balik semua cahaya itu…" Suaranya rendah. Tenang. "…ada satu yang berbeda."
Arabels mengerutkan kening. "Berbeda?"
Storm tetap menatap lurus. "…Bergerak." Satu kata. Namun cukup membuat suasana berubah. "…Pelan — tapi tidak berhenti."
Arabels langsung melihat ke layar. Memperbesar area bintang. Mencari. Namun — tidak ada yang mencurigakan menurut sistem.
"…Aku tidak melihatnya."
Storm tidak terkejut. "…Memang tidak akan terlihat." Ia menyilangkan tangan. Tatapannya tajam. "…Kalau hanya pakai alat."
Arabels menoleh kembali. Menatap Storm. "…Lalu bagaimana?"
Storm akhirnya berbicara lebih jelas. "…Kita diawasi."
Hening.
Kalimat itu — langsung mengubah suasana.
Arabels tidak langsung menjawab. Namun matanya sedikit melebar. "Apa… dari jauh?"
Storm mengangguk pelan. "Sangat jauh." Ia menatap ke arah kegelapan. "…Tapi cukup jelas." Nada suaranya tidak ragu. Tidak bercanda.
---
Arabels kembali melihat ke layar. Kini dengan perasaan berbeda. Bukan lagi sekadar navigasi. Namun — kewaspadaan.
"…Apa itu yang menyerang tadi?"
Storm tidak langsung menjawab. Namun — "…Mungkin." Ia menghela napas pelan. "…Atau sesuatu yang lebih buruk."
---
Arabels menggenggam tangannya pelan. Namun ia tetap berdiri tegak. Tidak mundur.
"…Jadi kita benar-benar tidak sendiri."
Storm tersenyum tipis. "Kita tidak pernah sendirian di alam semesta ini."
