Cherreads

Chapter 522 - Firasat di Tengah Cahaya

Lorong panjang di dalam Nexus S-4473 terasa tenang. Langkah kaki Storm terdengar pelan saat ia berjalan menuju ruang utama. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak santai sepenuhnya.

---

Di sisi kanan —

Jester terlihat duduk sendirian. Namun tidak benar-benar sendiri. Di depannya — kartu-kartu Arcana melayang. Berputar. Dan dari setiap kartu — muncul bayangan samar. Seolah hidup.

"Ah, kau kalah lagi." Jester menyeringai. Berbicara pada bayangannya sendiri.

Storm melirik sekilas. "…Kau benar-benar aneh."

Jester hanya tertawa kecil. "Ini latihan."

---

Beberapa langkah ke depan —

Zero sibuk di ruang terbuka kecil. Bagian-bagian logam melayang di sekitarnya. Ia sedang merakit sesuatu. Armor. Lebih kompleks dari biasanya.

"…Jangan ganggu aku merakit." Katanya tanpa menoleh.

Storm tidak menjawab. Hanya lewat.

---

Di sisi lain —

Ruang perpustakaan kapal. Tenang. Dipenuhi data dan buku digital.

Lira duduk di sana. Membaca dengan fokus. Matanya menelusuri tulisan demi tulisan.

"…Peradaban sebelum galaksi ini…" Ia berbisik pelan. Seolah menemukan sesuatu menarik.

Storm hanya melihat sebentar. Lalu melanjutkan langkahnya.

---

Namun — langkahnya melambat.

Di ujung lorong — seseorang berdiri. Diam. Menghadap layar besar. Menampilkan — bintang-bintang.

Napstylea.

Ia tidak bergerak. Seolah sudah berdiri di sana — selama berjam-jam.

---

Storm mendekat. Berhenti di sampingnya.

"Apa kau tidak bosan?"

Napstylea tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju ke layar. "…Tidak." Suaranya tenang.

Storm meliriknya. "…Lalu?"

Beberapa detik hening. Napstylea akhirnya berbicara. "…Aku hanya berpikir."

Storm menyilangkan tangan. "…Tentang apa?"

Napstylea sedikit menyipitkan mata. Menatap lebih dalam ke arah cahaya-cahaya itu.

"…Aku tidak yakin kita akan baik-baik saja."

Kalimat itu sederhana. Namun — berat.

Storm tidak langsung menanggapi.

Napstylea melanjutkan. "Ini bukan sekadar perjalanan biasa." Ia menghela napas pelan. "…Firasatku — tidak tenang."

Suasana menjadi lebih sunyi.

---

Storm menatap ke arah layar. Bintang-bintang berkelap-kelip. Indah. Namun — terlalu luas.

"…Bahaya?"

Napstylea mengangguk pelan. "…Ya." Tatapannya tidak berubah. "…Bukan sesuatu yang kecil."

Storm terdiam sejenak. Lalu — tersenyum tipis.

"…Bagus."

Napstylea menoleh. Menatapnya.

Storm tetap santai. "…Kalau tidak ada bahaya — perjalanan ini akan membosankan."

Jawabannya ringan. Namun — bukan berarti ia meremehkan.

---

Napstylea kembali melihat ke layar. "Anda tidak berubah."

Storm mengangkat bahu. "…Tidak perlu berubah."

Hening kembali.

More Chapters