Di dalam kamar pribadi —
Storm berbaring di kasur. Menatap langit-langit. Diam.
Tidak ada yang bisa dia lakukan. Tidak ada tugas. Tidak ada pertarungan. Hanya — menunggu.
"…Membosankan." Suaranya pelan.
Ia memutar tubuhnya. Menatap ke arah dinding. Namun tetap saja — tidak ada perubahan.
---
Tiba-tiba —
Suasana terasa berbeda. Hening yang aneh.
Dan dari dalam kesadarannya — sebuah suara muncul. Pelan. Namun jelas.
"…Kalian sudah masuk…"
Storm langsung terdiam. Matanya terbuka sedikit. Fokus.
"…Apa?"
Namun suara itu tidak berhenti.
"…Wilayah mereka…" Nada suaranya berat. "…perompak… alien…"
Storm langsung duduk perlahan. Ekspresinya berubah. Lebih serius.
---
Velora melanjutkan.
"…Jangan remehkan…" "…Salah satu komandannya…" Sedikit jeda. "…mereka setara… seratus pahlawan biasa di Bumi…"
Kata-kata itu — cukup jelas. Cukup untuk menunjukkan — bahaya yang sebenarnya.
---
Storm menyipitkan matanya. "…Itu terdengar menarik."
Bukan takut. Bukan ragu. Namun — penasaran.
Ia ingin bertanya lagi. "…Di mana pemimpin mereka —"
Namun — suara itu hilang. Begitu saja. Hening kembali. Seolah tidak pernah ada.
---
Storm terdiam. Beberapa detik. Lalu menghela napas pelan.
"…Pergi lagi."
Ia sudah terbiasa. Velora tidak selalu berbicara. Dan ketika berbicara — selalu singkat.
"…Berhibernasi, ya."
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Menatap kosong ke depan.
Namun pikirannya — tidak kosong.
---
Perompak luar angkasa. Komandan setara seratus pahlawan. Dan — wilayah yang sudah mereka masuki.
Storm tersenyum tipis. "…Akhirnya ada sesuatu."
Bukan keluhan lagi. Namun — antusiasme.
---
Ia berdiri perlahan. Menatap ke arah pintu.
"…Kalau mereka memang ada…" Tangannya mengepal pelan. "…datang saja."
Matanya tajam.
