Cherreads

Chapter 512 - Kehidupan di Antara Bintang

Kehidupan tetap berjalan.

Meski mereka telah meninggalkan Bumi — kesibukan tidak pernah benar-benar berhenti.

---

Di ruang pribadinya —

Aryes berdiri di depan layar hologram. Data demi data terus berubah. Perhitungan lintasan. Stabilitas energi. Dan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di luar angkasa.

Tatapannya fokus. Tidak terganggu sedikit pun.

"Tidak boleh ada kesalahan." Suaranya pelan. Namun tegas. Karena ia tahu — satu kesalahan kecil saja — bisa berakibat fatal.

---

Di sisi lain —

Violys berdiri di tengah beberapa ilmuwan. Tangannya bergerak menunjuk berbagai desain.

"Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di luar sana." Nada suaranya serius. "Jadi siapkan alat yang bisa digunakan dalam kondisi ekstrem."

Salah satu ilmuwan bertanya. "Alat seperti apa?"

Violys menjawab tanpa ragu. "Adaptif." Ia menatap mereka satu per satu. "Bisa digunakan untuk bertahan atau bertarung."

Para ilmuwan mengangguk. Langsung bergerak. Karena mereka mengerti — di luar sana — tidak ada jaminan keselamatan.

---

Di ruang santai —

Suasana jauh berbeda.

Zero dan Jester duduk berhadapan. Di antara mereka — setumpuk kartu.

"Giliranmu." Zero berkata singkat.

Jester menyeringai. "Jangan menangis kalau kalah lagi."

Beberapa detik kemudian —

"—Apa?!" Jester langsung berdiri. "Sepertinya kau bermain curang!"

Zero tetap tenang. "Kau saja yang buruk, Badut aneh."

Suasana itu — sedikit mengurangi ketegangan di kapal.

---

Tidak jauh dari sana —

Lira berdiri di dekat jendela observasi. Matanya menatap ke luar. Namun bukan sekadar melihat. Ia mengamati sebuah benda bercahaya melintas jauh. Bentuknya terlihat aneh. Tidak biasa baginya.

"Ini mengagumkan." Suaranya pelan. Seolah menemukan sesuatu. "Mungkin itu peninggalan kuno…"

Ia terus memperhatikan. Mencatat dalam pikirannya. Karena baginya — alam semesta bukan hanya luas. Namun juga — penuh misteri.

---

Di koridor yang sepi —

Napstylea berdiri. Tatapannya tertuju ke satu arah.

Ia melihatnya dari kejauhan. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan.

"Bagaimana…"

Bagaimana Storm bisa mengalahkan — Dooms. Seseorang yang dulu ia hormati. Seseorang yang ia anggap — tidak terkalahkan.

Namun — ia telah memilih jalannya sendiri. Meninggalkan APH. Dan sekarang — sosok yang mengalahkannya — ada di depan matanya.

Napstylea mengerutkan kening. Ingin bertanya. Ingin tahu.

Namun — ia menghentikan dirinya sendiri.

"Itu tidak perlu."

Ia memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya kembali. Tatapannya kembali tenang.

"Aku sudah melihat jawabannya."

Karena baginya — jawaban itu sederhana. Storm menang — bukan karena keberuntungan. Bukan karena kebetulan. Namun karena — dia memang kuat.

Napstylea berbalik. Melangkah pergi tanpa bertanya.

Karena kini — ia telah tahu satu hal.

Storm benar-benar telah melampaui segalanya.

More Chapters