Di dalam markas X.A.R.A —
Suasana berubah drastis. Tidak lagi tenang. Tidak lagi santai. Namun — sibuk.
Langkah kaki terdengar di mana-mana. Suara mesin. Instruksi cepat. Dan percakapan para ilmuwan yang saling bersahutan.
"Pastikan stabilizer aktif!"
"Energi inti Nexus harus sinkron!"
"Koordinat awal sudah dimasukkan?"
Di tengah semua itu — Violys berdiri. Wajahnya serius. Matanya terus memantau berbagai layar.
"Percepat semuanya." Suaranya tegas. "Kita tidak punya banyak waktu."
Di belakangnya — puluhan ilmuwan bergerak cepat. Mempersiapkan satu hal besar.
*Nexus S-4473. * Kapal antariksa antarbintang — yang akan membawa mereka keluar dari batas Bumi.
---
Di area utama —
Beberapa orang berkumpul. Bukan orang biasa. Namun — tokoh-tokoh penting dunia.
Kael. Deathrays. Robert. Seren. Dan beberapa lainnya.
Mereka semua berdiri. Mengamati satu sosok di depan mereka.
Storm. Ia berdiri tenang. Tatapannya tidak goyah. Namun — berbeda dari sebelumnya.
Kael menyilangkan tangannya. "…Jadi ini keputusanmu."
Storm mengangguk. "…Ya."
Deathrays menatapnya datar. "…Kau meninggalkan Bumi?"
Storm menggeleng pelan. "Bukan meninggalkan." Ia menatap semua orang di sana. "…Mempercayakan."
Hening sejenak. Semua orang memperhatikan.
Storm melanjutkan. "…Bumi akan tetap aman." Tatapannya serius. "Selama kalian di sini." Ia melihat satu per satu. "…Aku tidak lagi ingin bertarung dengan ancaman biasa." Nada suaranya berubah. "…Tujuanku sudah berbeda."
Seren menatapnya. "…Storm…"
Namun Storm tidak berhenti. Ia menatap ke arah langit — yang terlihat dari kaca besar markas itu.
"…Aku ingin melihat lebih jauh." Sedikit jeda. "…Lebih dari ini."
Kael memperhatikannya dengan serius. "Luar angkasa."
Storm mengangguk. "Ya." Ia menggenggam tangannya pelan. "…Aku ingin menjelajahi alam semesta."
Kata-kata itu — tidak ringan. Tidak sederhana. Karena semua yang ada di ruangan itu tahu — apa artinya. Itu bukan sekadar perjalanan. Namun — menantang sesuatu yang belum pernah dijangkau.
Robert menghela napas. "…Itu bukan hal kecil."
Deathrays menambahkan. "…Itu bahkan mendekati mustahil."
Storm tersenyum tipis. "Aku tahu." Namun — ia tidak mundur. "…Justru itu alasannya."
Hening. Semua orang terdiam. Karena mereka mulai mengerti.
Ini bukan tentang melarikan diri. Bukan tentang menghindari tanggung jawab. Namun — tentang melangkah lebih jauh. Melampaui batas.
"…Aku ingin melihat…" Storm menatap lurus ke depan. "Apa yang ada di luar sana."
Galaksi. Makhluk asing. Dimensi lain. Bahkan aturan semesta itu sendiri.
"…Dan membuktikan…" Nada suaranya semakin dalam. "…bahwa aku bisa sampai ke sana."
Beberapa orang masih ragu. Itu terlihat jelas. Namun — tidak ada yang menolak. Karena mereka tahu satu hal: Storm bukan lagi seseorang yang bisa dihentikan.
Kael akhirnya berbicara. "Kalau begitu." Ia menatap Storm. "…Jangan mati di luar sana." Nada suaranya datar. Namun itu adalah bentuk kepercayaan.
Deathrays tidak berkata apa-apa. Namun ia tidak menentang. Itu sudah cukup.
Seren tersenyum. Meski ada kekhawatiran. "Hati-hati, Kak Storm."
Storm mengangguk. "Itu hal yang pasti."
