Cherreads

Chapter 504 - Ambisi yang Terangkat

Langit telah kembali tenang. Tidak ada lagi retakan dimensi. Tidak ada lagi tekanan aneh.

Namun — dari kejauhan — suara gemuruh terdengar.

VRRRRRRMMMMM—!!

Puluhan kendaraan militer melaju. Diikuti oleh unit udara yang berputar di atas. Dan di garis terdepan — Varbosta.

Ia berdiri tegap. Tatapannya langsung tertuju pada medan yang baru saja menjadi pusat pertarungan besar. Pasukan di belakangnya bersiaga. Namun — mereka tidak bergerak lebih jauh. Karena sesuatu telah berubah.

---

Di sisi lain —

Para pahlawan APH yang tersisa — mulai mundur. Satu per satu. Tanpa perlawanan. Tanpa kata-kata.

Mereka semua tahu — Dooms telah dikalahkan. Dan tanpa pemimpinnya — tidak ada alasan untuk melanjutkan pertarungan.

Marika menatap Storm dari kejauhan. Lalu berbalik. Menghilang bersama yang lain.

Rizen dan Lgris sudah tiada. Dan sekarang — APH memilih mundur.

Pertarungan besar itu — benar-benar berakhir.

---

Varbosta berjalan maju. Langkahnya berat. Namun penuh wibawa. Ia berhenti tidak jauh dari Storm dan yang lainnya. Tatapannya menilai situasi dengan cepat.

"…Jadi ini akhirnya." Suaranya tegas.

Aryes melangkah maju. "Ya." Jawabannya singkat.

Varbosta menyilangkan tangannya. "Di mana Dooms?"

Aryes menatap langit sebentar. Lalu kembali. "…Sudah tidak ada."

Hening sejenak. Angin berhembus. Membawa ketenangan yang aneh setelah semua yang terjadi.

Varbosta mengangguk pelan. Seolah sudah menduga. "Kalau begitu…" Ia menoleh ke pasukannya. "Turunkan siaga."

Perintah itu langsung dijalankan. Pasukan mulai meredakan posisi tempur. Tidak ada lagi ancaman langsung.

Namun — Aryes belum selesai. Tatapannya serius. "Ada hal lain."

Varbosta menatapnya. "Bicara saja."

Aryes menarik napas pelan. Lalu — mengatakan sesuatu yang telah lama ia simpan.

"Aku akan mewujudkan ambisiku."

Varbosta menyipitkan mata. "Apa yang akan kau lakukan?"

Aryes menoleh ke langit. Seolah melihat sesuatu yang jauh di atas sana. "Nexus." Sedikit jeda. "Kapal antariksa antarbintang."

Varbosta terdiam sejenak. Memproses. Lalu — "…Kau serius?"

Aryes tersenyum tipis. "…Selalu."

Ia kembali menatap Varbosta. "Dalam beberapa waktu ke depan — kapal itu akan diterbangkan."

Suasana menjadi sedikit berbeda. Lebih tenang. Namun juga — penuh makna.

Aryes melanjutkan. "Bumi tidak akan lagi menjadi satu-satunya tujuan." Tatapannya tajam. "…Aku akan membuka jalan ke luar sana."

Ke bintang. Ke galaksi. Ke sesuatu yang belum pernah dijangkau manusia.

Varbosta tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat Aryes. Lalu — mengangguk.

"Pergi saja jika itu tujuanmu." Suaranya tegas. "Bumi…" Ia menoleh ke arah kota-kota di kejauhan. "Akan tetap berdiri." Tatapannya kembali serius. "Selama aku di sini."

Tidak ada kesombongan. Hanya keyakinan.

Seorang pemimpin perang — yang sudah terbukti di medan tempur.

More Chapters