Di dalam sebuah ruangan tinggi — dengan dinding kaca yang memperlihatkan kota luas di bawahnya — Kael berdiri diam.
Tangannya berada di belakang punggung. Tatapannya lurus ke depan. Seolah tidak ada yang bisa menggoyahkan pikirannya.
Di belakangnya — dua orang berdiri. Jazz dan Merry.
Layar-layar hologram di ruangan itu menampilkan berbagai data. Rekaman pertempuran. Energi dimensi. Dan satu informasi utama — Dooms: dikalahkan.
"…Jadi benar." Suara Jazz memecah keheningan. "Dia kalah."
Merry menatap layar dengan serius. "Energi dimensi yang terdeteksi juga sudah hilang sepenuhnya." Ia menoleh ke arah Kael. "Itu berarti — pahlawan terkuat sudah tidak ada lagi."
Hening sejenak. Suasana terasa berat. Karena mereka semua tahu — apa artinya itu. Tanpa Dooms — keseimbangan berubah.
Jazz menghela napas pelan. "Kalau makhluk dimensi lain mengetahui ini — mereka bisa saja datang."
Merry mengangguk. "Terutama yang bermusuhan. Bumi bisa jadi target."
Namun — di tengah semua itu — Kael tetap diam. Ia hanya — berpikir.
Lalu akhirnya berbicara.
"…Tidak." Suaranya tenang.
Jazz dan Merry terdiam.
Kael melanjutkan. "Dooms bukan penjaga keseimbangan." Sedikit jeda. "Dia pelanggar."
Layar di depannya berubah. Menampilkan data tentang aktivitas Dooms. Perburuan makhluk dimensi. Penghancuran entitas penjaga.
"Dia memburu mereka — yang seharusnya tidak disentuh."
Merry menyipitkan mata. "Penjaga dimensi…"
Kael mengangguk. "Selama aturan semesta tidak dilanggar — mereka tidak akan bertindak."
Jazz menyilangkan tangannya. "…Jadi selama kita tidak memicu apa pun — kita akan aman?"
Kael tidak langsung menjawab. Ia menatap kota di bawahnya. Lampu-lampu yang menyala. Kehidupan yang berjalan seperti biasa.
"Relatif." Satu kata. Namun cukup jelas.
Merry menghela napas. "Itu bukan jaminan."
Kael mengangguk kecil. "Memang tidak." Ia berbalik. Menghadap mereka berdua. "Selalu ada kemungkinan."
Layar di belakangnya menampilkan berbagai bentuk makhluk asing. Makhluk dari luar dimensi. Tidak semuanya bersahabat.
"Beberapa dari mereka — tidak peduli aturan."
Jazz tersenyum tipis. "Berarti kita tetap harus siap."
Kael menatapnya. "Itu selalu."
Hening kembali. Namun kali ini — bukan karena ketegangan. Melainkan — kesadaran. Bahwa dunia ini — masih berbahaya. Masih penuh ancaman. Namun juga — masih berdiri.
Karena keseimbangan — belum benar-benar hancur.
Kael kembali menatap ke luar. "…Untuk sekarang — biarkan dunia tenang." Suaranya rendah. Namun pasti. "Selama tidak ada yang mengusik — tidak akan ada yang datang."
Lampu kota tetap berkelap-kelip seperti biasa.
