Cherreads

Chapter 502 - Menuju Awal Perjalanan Baru

Keheningan.

Tidak ada lagi kehancuran. Tidak ada lagi tekanan. Infinite Dimensions telah runtuh. Dan yang tersisa hanyalah — ruang kosong yang perlahan kembali stabil.

Di tengahnya — Storm berdiri.

Api kosmik telah menghilang. Wujud Xyrares Vonalys lenyap tanpa jejak. Tubuhnya kembali seperti semula.

Dan untuk beberapa saat — ia hanya diam.

Matanya perlahan terbuka. Napasnya kembali normal.

"Apa sudah selesai…" Suaranya pelan. Seolah memastikan — bahwa semua ini benar-benar telah berakhir.

Tidak ada jawaban. Tidak ada suara Velora. Tidak ada tekanan dari Dooms.

Hanya — sunyi.

Storm menunduk. Lalu — matanya tertuju pada sesuatu di dekatnya. Sebuah benda kecil. Berputar pelan di ruang kosong.

Ia berjalan mendekat. Langkahnya ringan. Namun terasa berat.

Tangannya terulur — dan ia menangkapnya.

*Sebuah belati bernama Dimensional Travel Dagger. *

Storm menatapnya. Wajahnya — tidak menunjukkan kesedihan. Tidak juga kemarahan. Namun — kosong.

"…Jadi ini…"

Ia menggenggamnya perlahan. Masih mencoba memahami. Apa yang baru saja terjadi. Tentang Dooms. Tentang Olive. Tentang dirinya sendiri.

Namun — tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan.

Hanya — pemahaman yang belum sepenuhnya tersusun.

Ia menutup matanya sejenak. Lalu menarik napas panjang.

"Sekarang terasa lebih baik."

Storm membuka matanya kembali. Tatapannya berubah. Bukan lagi kosong. Namun — tegas.

Ia menggenggam belati itu lebih kuat. Lalu menyimpannya.

"…Aku tidak akan berhenti di sini."

Ia menatap ke depan. Ke arah ruang yang luas. Yang tak terbatas. Yang menunggu untuk dijelajahi.

"…Aku bukan hanya bertarung…" Suaranya tenang. Namun penuh makna. "…aku akan melihat semuanya."

Bayangan bintang. Galaksi. Dunia yang tak terhitung — seolah terbentang di hadapannya.

"…Alam semesta ini terlalu luas…" Sedikit jeda. "…untuk berhenti hanya karena satu kehilangan."

Ia melangkah maju. Satu langkah. Namun penuh arti.

"…Aku akan terus berjalan."

Tidak untuk melarikan diri. Tidak untuk membalas. Namun — untuk mencapai puncak.

"…Dan membuktikan…" Tatapannya semakin tajam. "…bahwa aku bisa sampai di takhta abadi."

Meski harus melawan — makhluk terkuat. Makhluk paling mengerikan.

Atau bahkan — takdir itu sendiri.

More Chapters