Cherreads

Chapter 494 - Bayangan yang Terlupakan

Di dalam Infinite Dimensions — dimensi yang seharusnya tak berujung itu — kini terasa menyempit. Bukan karena ruangnya berkurang — namun karena tekanan dari satu keberadaan.

Api kosmik dari Xyrares Vonalys terus menyala. Melelehkan lapisan demi lapisan dimensi. Membuat Domain milik Dooms tidak lagi sempurna.

Di tengah tekanan itu — Dooms berdiri. Berusaha bertahan. Aura di sekitarnya bergetar. Menahan panas yang bukan sekadar panas — namun energi yang bisa menghapus keberadaan.

Ia mencoba menstabilkan dimensi. Namun — tidak semudah sebelumnya.

"…Energi ini…"

Api kosmik terus mendekat. Memaksa Dooms mundur beberapa langkah lagi. Ia benar-benar berada dalam posisi bertahan.

Namun — di tengah tekanan itu — matanya tertuju pada Storm. Lebih tepatnya — pada wajahnya. Pada tatapannya. Pada cara ia berdiri.

Dan entah kenapa — ada sesuatu yang terasa familiar.

Dooms sedikit menyipitkan matanya.

Serangan Storm datang lagi.

SLAAASH!!

Ia menahan. Namun pikirannya terganggu sesaat.

"…Wajah itu…"

Api kosmik menyapu di sekitarnya. Namun Dooms tetap menatap. Seolah mencoba mengingat sesuatu.

"Pernah…"

Serangan lain datang. Ia mundur lagi. Fokusnya terpecah.

"Apa yang kulihat…"

Bayangan samar muncul di pikirannya. Tidak jelas. Tidak utuh. Namun — ada sosok. Seorang anak. Seorang remaja. Seseorang yang pernah — ia temui.

Namun — tidak lengkap.

Dooms menggertakkan giginya. "…Siapa dia sebenarnya…"

Namun tekanan terus meningkat. Storm tidak memberi waktu. Ia melesat lagi. Pedangnya terangkat. Api kosmik semakin kuat.

Dooms terpaksa kembali fokus. Mengangkat pertahanannya.

BOOOOM!!

Benturan kembali terjadi. Dimensi kembali retak. Pikiran itu — terputus.

Dooms menatap Storm. Matanya kembali dingin. Namun kini — ada sedikit perubahan. Sedikit keraguan.

"Tidak mungkin?"

Ia mengabaikan bayangan itu. Karena situasi tidak memberinya ruang untuk berpikir. Setiap detik — adalah tekanan. Setiap momen — adalah ancaman.

Dan di hadapannya — Storm terus maju. Tanpa memberi celah.

Namun jauh di dalam pikirannya — satu hal masih tersisa.

Sebuah bayangan — yang belum sempat ia ingat sepenuhnya.

More Chapters