Cherreads

Chapter 495 - Kebenaran yang Terungkap

Di dalam Infinite Dimensions — api kosmik masih menyala. Dimensi terus meleleh. Tekanan semakin berat.

Storm melesat maju. Cosmic Hell Sword terangkat — siap mengakhiri.

Namun — sesaat sebelum tebasan itu turun — Dooms berbicara.

"…Storm."

Suaranya tidak lagi sepenuhnya dingin. Ada sesuatu yang berbeda.

Storm tetap menyerang — namun matanya sedikit menyipit. "…Apa lagi?"

Dooms menatapnya. Seolah akhirnya melihat sesuatu yang selama ini terlewat. "Aku ingat sekarang."

Storm tidak berhenti. Pedangnya turun —

SLAAASH!!!

Namun Dooms menahan — dengan susah payah. Benturan besar terjadi. Namun kali ini — Dooms tidak langsung membalas. Ia tetap menatap Storm.

"…Mata itu…" Api kosmik menyala di sekitar mereka. Namun Dooms tetap fokus. "…Tatapan itu…"

Dan akhirnya — sebuah kalimat keluar. Pelan. Namun mengguncang segalanya.

"Kau… anakku."

HENING.

Storm terbelalak. Gerakannya terhenti. Pedangnya berhenti di tengah tekanan.

"…Apa?" Suaranya rendah. Tidak percaya.

Api kosmik di sekitarnya bergetar. Tidak stabil.

Dooms melanjutkan. Tatapannya tidak lagi sekadar seorang pemimpin. Namun — seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang hilang.

"Aku mencarimu — di seluruh semesta."

Energi di sekitarnya mulai berubah. Tidak lagi hanya tekanan — namun juga sesuatu yang lebih dalam.

"Ribuan dimensi — aku telusuri."

Storm mundur sedikit. Matanya masih terbuka lebar. "Diam kau."

Namun Dooms tidak berhenti. "Namun aku tidak pernah menemukanmu." Sedikit jeda. "Dan sekarang…" Matanya menatap lurus ke arah Storm. "…kau berdiri di hadapanku."

Storm menggertakkan giginya. Auranya kembali naik — namun kali ini tidak stabil. "…Jangan bercanda." Suaranya tegas. Namun ada sedikit goyahan.

Api kosmiknya bergetar.

Dooms melangkah satu langkah. Tidak menyerang. Tidak bertahan. Hanya mendekat.

"Nama 'Realms' — bukan kebetulan."

Storm terdiam sesaat. Matanya menyipit. Namun pikirannya mulai kacau. Potongan-potongan yang tidak pernah ia pahami — mulai terasa aneh.

"Tidak mungkin…"

Namun Dooms melanjutkan. Suaranya kini lebih pelan. "…Kau adalah anakku."

Tekanan di dalam Infinite Dimensions berubah. Bukan lagi hanya pertarungan. Namun — konfrontasi kebenaran.

Storm berdiri diam. Pedangnya masih di tangan. Namun tidak lagi menyerang. Matanya menatap Dooms. Penuh pertanyaan. Penuh penolakan.

More Chapters