Matahari pagi mulai naik menggantikan bulan yang dingin, cahayanya menyinari seorang pemuda berambut merah.
Seorang pria muda berada di tengah-tengah puing puing bangunan yang runtuh, mayat berserakan dimana-mana.
Hari ini tepat hari keenam pertarungan berdarah yang terjadi di ibukota kekaisaran Zhou.
Tang Xu berada dalam posisi setengah berlutut, ia memandangi sekelilingnya, tidak ada kemungkinan ia bisa lolos dari tempat ini.
Empat orang itu melayang di langit, saling berjaga tanpa ada yang berani bergerak lebih dulu. Mereka tahu Tang Xu bukanlah seseorang yang mudah ditebak, pria itu selalu menyimpan kartu truf di saat-saat terakhir.
Walau mereka tidak tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Tang Xu atau apakah benar ada kartu truf sama sekali pengalaman bertarung melawannya membuat mereka yakin bahwa pria itu belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Tang Xu berada dalam kondisi paling lemahnya, seluruh darah keluar dari luka di tubuhnya, pandangannya mulai kabur karena darah terus keluar dari luka di tubuhnya, ia hampir mati. Apa aku harus menggunakan hal itu? Namun itu terlalu berbahaya.
Hanya hal itu yang Tang Xu pikirkan. Sebenernya ia mempunyai satu kartu truf tersembunyi yang belum pernah ia pakai sama sekali, makanya Tang Xu sedikit ragu untuk memakainya.
Tang Xu berdiam sebentar, ia berpikir dengan keras. Apa aku harus menggunakan teknik itu? Dan mempertaruhkan semuanya hari ini?
Biarlah, lagipula aku akan mati, jadi ayo bertaruh, apa aku akan mati karena teknik yang aku ciptakan ini atau mereka yang akan lebih dulu membunuhku.
Untuk terakhir kalinya, ia menatap ke arah Ju Ziyue, "Ju Ziyue, kenapa kau membantai klan Tang?" Walau dia sudah tidak terlalu peduli akan klan Tang lagi karena setelah mengalami pasang surut kehidupan ia sudah mengerti kenapa klan Tang hancur.
Ju Ziyue memandang Tang Xu dengan tatapan yang dingin. Angin fajar berhembus pelan, mengibaskan ujung pakaiannya yang telah ternoda darah.
Di matanya terlihat ia tak merasakan rasa bersalah apapun ketika ia membantai klan Tang, "Klan Tang hancur karena mereka tak cukup kuat, itu saja" kata kata itu dingin, seolah udara telah dibekukan dengan badai salju.
Tang Xu tersenyum tipis. Walau kata-kata yang diucapkan Ju Ziyue terdengar dingin. Namun hatinya merasa lega.
Ini yang ia ingin dengar selama ribuan tahun, jika Ju Ziyue beralasan dan berbicara omong kosong, itu malah seolah-olah menghina dan mengejek ia dan klannya.
Tang Xu memejamkan matanya, di beberapa detik ini ia merasa hal yang tak pernah ia rasakan selama seribu tahun terakhir.
Yaitu ketenangan.
Hal yang remeh bagi banyak orang, namun hal yang berharga bagi dirinya.
Banyak kultivator didunia ini yang sama seperti dirinya, hanya mengejar kekuatan dan ingin mendominasi dunia ini, mencapai divine.
Di beberapa detik yang paling berharga ini, ia mulai mengingat adegan-adegan sebelum ia menjadi iblis yang kejam.
Dahulu ketika ia masih sangat kecil, diantara ketiga saudaranya, ia yang paling disayang oleh orang tuanya dan seluruh klan karena berbakat dalam hal pendidikan dan strategi perang.
Karena hal itu juga kedua saudaranya membencinya karena perlakuan yang berbeda.
Banyak orang di klannya yakin kalau ia akan membangkitkan akar spritual tingkat atas, dan menjadi jenius bagi klan Tang.
Namun kenyataan begitu pahit, bukan hanya tidak membangkitkan akar spiritual tingkat atas, ia bahkan membangkitkan akar spritual sampah, yaitu hanya membangkitkan akar spritual tingkat semu.
Hal itu membuat pandangan seluruh orang di klan Tang berubah, ia tidak diperlukan lagi sebagai jenius, melainkan sebagai sampah. Seluruh orang di klan mengejeknya, bahkan orang tua yang menyayanginya juga menjauhinya dan tak pernah berbicara lagi dengannya.
Bahkan ia sampai diusir dari rumahnya sendiri.
Namun tidak semua orang menjauhinya, ada pelayan yang selalu menemani Tang Xu dari ia kecil, sikap pelayan itu tidak berubah seperti kebanyakan orang, perlakuannya dan kehangatan yang dia berikan masih sama seperti dulu.
Pelayan itu sepuluh tahun lebih tua dari Tang Xu. Jika dibandingkan Ju Ziyue, kecantikannya mungkin akan tampak biasa saja. Namun di antara orang-orang pada umumnya, wajahnya tetap dapat dianggap cantik dan menawan.
Rambut hitamnya yang terhempas pelan oleh angin seperti membawa pesonanya sendiri.
Nama pelayan itu ialah Tang Yue.
Dan ada satu orang lagi yang menemaninya yaitu tunangannya, Ju Ziyue.
Ia sempat berpikir kalau Ju Ziyue mungkin akan meninggalkannya juga karena ia tidak terlahir sebagai jenius.
Namun ternyata ia salah, Ju Ziyue bukan hanya tidak meninggalkannya, bahkan ia selalu menemaninya dan bermain dengannya setiap hari disaat anak-anak yang lain meninggalkanku.
Namun itu tidak bertahan lama, pertunangan Tang Xu dengan Ju Ziyue diputus secara sepihak oleh klan Ju dan akhirnya klan Ju memutuskan untuk pergi dan pindah ke kota yang jauh.
Itu adalah kali terakhirku melihat Ju Ziyue, itu pikirku.
Setelah keluar dari klan, Tang Xu mengembara selama lima ratus tahun, menjelajahi berbagai wilayah dan menghadapi tak terhitung kesulitan. Dalam pengembaraan panjang itu, barulah aku mengetahui sebuah kebenaran pahit, klanku telah dihancurkan oleh klan Ju bersama beberapa sekte lainnya.
Tang Xu tidak terlalu mempermasalahkan ketika klannya dibantai oleh klan Ju bersama beberapa sekte lainnya. Di dunia yang kejam itu, kehancuran sebuah klan bukanlah hal yang aneh.
Namun alasan sebenarnya ia membenci Ju Ziyue bukanlah karena kehancuran klannya, melainkan karena satu hal—mengapa wanita itu juga membunuh Tang Yue, padahal gadis itu tidak ada hubungannya dengan semua itu.
Lima ratus tahun kemudian, Tang Xu kembali. Tanpa ragu sedikit pun, ia membantai seluruh klan Ju.
Dulu ia tak mampu membantai dua sekte lainnya karena kekuatannya belum cukup kuat.
Dan hari ini semua telah berakhir, ia telah membalaskan dendam klannya.
Walau di dalam hatinya ia membenci klannya, namun ia sadar selama ratusan bahkan ribuan tahun mengalami pasang surut kehidupan, kalau pada dasarnya ia adalah anggota klan Tang.
Dan apalagi itu bukan kesalahan klan Tang mengasingkannya, mungkin jika dia yang sekarang menjadi kepala keluarga Tang, ia juga akan melakukan hal yang sama.
Selama lima ribu tahun membantai banyak orang, membantai dan membunuh orang yang tak terhitung jumlahnya.
Lima ribu tahun kehidupan ini seperti mimpi.
Tang Xu perlahan membuka matanya, sinar matahari menyinari wajahnya yang telah dipenuhi darah orang lain dan darah dirinya.
"Pada akhirnya aku gagal, namun tak buruk juga, Aku telah melakukan semua hal yang aku mau,tak ada lagi penyesalan dalam hidupku"
Tang Xu menghela napas.
Pada akhirnya ia gagal mencapai tujuannya.
Yaitu mencapai divine
Ia sudah menduga hasil ini ketika ia masuk ke dalam ibu kota kekaisaran Zhou, lagipula tidak ada jalan mulus didunia ini.
Tang Xu mengeluarkan sebuah buku berwarna merah darah dari dalam dirinya. Buku itu bertuliskan Great Demon Body Refinement
Ketika kultivator mencapai tingkat kultivasi tertentu, ia bisa menyimpan barangnya di dalam dantiannya.
Buku itu melayang di tangan kanannya. Aura pembunuhan yang pekat langsung memenuhi udara disekitarnya. Jiwa jiwa berterbangan kemana mana, memancarkan aura pembantaian yang membuat keempat kultivator yang terbang di langit sesak napas.
Ini adalah aura pembantaian yang ia kumpulkan selama ribuan tahun berkultivasi.
"Apa buku ini yang kalian inginkan?" gumam Tang Xu sambil menatap buku itu. Memikirkan hal tersebut membuatnya tak mampu menahan senyum tipis di wajahnya.
"Bajingan Tang! Serahkan buku itu! Maka akan kubuat kematianmu lebih cepat!" teriak Xiao Chen dengan suara dingin.
Tang Xu tertawa pelan.
"Hehehe… sudah kuduga. Kalian semua menyerangku karena iri, bukan? Iri karena aku mendapatkan buku ini. Tak perlu bersikap munafik."
Ia bahkan tidak dapat menahan tawanya saat mengatakan hal itu, seolah situasi di hadapannya hanyalah lelucon yang menggelikan.
Dari dahinya keluar sebuah api berwarna merah darah dengan dikelilingi sebuah benang berwarna hitam pekat yang memancarkan sebuah aura pembunuhan dan pembantaian yang menyesakkan.
Itu slaughter demon divine fire.
Api ilahi yang sangat kuat, peringkat 10 dari daftar ilahi serta dikenal sebagai salah satu api ilahi yang memiliki sifat yang jahat dan paling susah ditaklukkan, hanya orang yang memiliki energi pembunuhan dan pembantaian yang sangat kuat dan harus memiliki hati yang tampak ampun dan kejam.
Tang Xu memegang api ilahi itu dengan tangan kirinya.
Api itu tidak melakukan pemberontakan, seolah api itu sudah tau kalau orang ini adalah tuannya mulai sekarang.
"Bajingan Tang, sejak kapan kau berhasil memurnikan slaughter demon divine fire?" ucap Xiao Chen dengan wajah yang kebingungan, ia melototi Tang Xu dan api ilahi itu dengan rasa yang tidak percaya.
Bagaimana bisa api yang bahkan tidak bisa ada orang yang menjinakkannya selama lebih dari 1 juta tahun malah jinak ditangan orang ini.
Bukan hanya Xiao Chen yang merasa kebingungan, semua orang yang ada disini sangat terkejut setengah mati ketika melihat api ilahi ini tunduk oleh Bajingan Tang Xu.
Tang Xu sebenarnya tidak pernah memurnikan slaughter demon divine fire ini. Ia juga terkejut kenapa api ilahi ini tidak memberontak.
Ketika ia mengeluarkan api ilahi ini. Ia sudah siap ketika api ilahi ini akan memberontak, namun bukan hanya tidak memberontak, bahkan api ilahi ini nurut kepadanya, seolah mengakui Tang Xu sebagai tuannya yang baru.
Tang Xu tersenyum tipis, ia memikirkan ini di dalam hati. Biarlah buat apa aku pikirkan alasan kenapa api ilahi ini bisa nurut kepadaku, yang penting sekarang aku bisa menyempurnakan teknikku.
Tang Xu menyeringai, lalu dengan tenang memasukkan api ilahi itu ke dalam buku kuno yang berada di tangan kanannya. Seketika aura pembunuhan dan pembantaian memenuhi langit di sekitarnya.
Jiwa jiwa yang ia kumpulkan di dalam buku itu diserap habis oleh slaughter demon divine fire.
"Tang Xu, apa yang ingin kau lakukan"
"Cepat Hentikan dia"
Xu Lin, Xiao Chen, Liu Xue, Ju Ziyue segera melesat cepat ke arah Tang Xu.
Setelah slaughter demon divine fire bersatu dengan buku Great Demon Body Refinement, buku itu bergabung dengan jiwa Tang Xu.
Seketika udara di area itu memadat, membentuk sebuah bola yang terbentuk dari api divine. Seketika bola api yang terbentuk dari api ilahi itu meledak, menghempaskan keempat orang itu ke tanah.
Empat orang itu batuk seteguk darah, tubuh mereka semua terbakar namun mereka masih hidup.
Mereka semua terkejut dan terheran-heran melihat Tang Xu yang tadi bisa mati kapan saja sekarang memiliki kekuatan yang mengerikan.
"Sebenernya apa yang terjadi"
'bagaimana dia bisa memiliki kekuatan seperti ini, padahal jelas kalau dia tadi hampir tidak bisa bergerak"
Setelah ledakan itu selesai, kondisi ibu kota kekaisaran Zhou makin hancur, seolah tidak pernah ada kota besar disini.
Puing-puing bangunan semuanya terbakar, mayat mayat yang berserakan di tanah juga ikut terbakar, tidak ada satupun tubuh mayat yang ada, bahkan tulang mereka pun tidak tersisa.
Alasan kenapa keempat orang itu berhasil selamat dari serangan mengerikan slaughter demon divine fire padahal tubuh mereka sudah terluka sangat parah karena jarak mereka cukup jauh dan diluar jangkauan bola api itu.
Jika mereka dalam kondisi terkuat mereka, bahkan jika mereka masuk ke dalam bola api itu, mereka masih bisa selamat walau dalam keadaan terluka parah.
Pandangan mereka berempat kembali fokus, melihat ke arah Tang Xu yang telah ditutupi oleh kabut.
Setelah kabut itu menghilang, mereka terkejut setengah mati.
Kondisi Tang Xu seolah ia sedang berada di masa puncaknya, bahkan jauh lebih kuat dari ia dimasa puncaknya.
Muncul keempat lengah di pundak Tang Xu yang berwarna merah darah dan dikelilingi oleh seuntai tali berwarna hitam yang seolah terbuat dari jiwa-jiwa yang marah.
Di dahinya, muncul sebuah mata berwarna merah darah yang seolah terbuat dari aura pembunuhan dan pembantaian.
Ini adalah teknik terakhir Great demon body refeniment, yaitu transformasi great slaying demon.
Puncak terkuat dari teknik yang ia ciptakan.
Saat ini tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan yang luar biasa.
Namun hal ini tidak bertahan lama, Jantungnya berdetak sangat kencang, seolah ingin meledak, jiwanya mulai retak.
Tang Xu berkeringat dingin "apa tubuhku tidak sanggup menahan kekuatan ini?"
Liu Xue mengangkat tangannya, membentuk segel mantra yang rumit. Seketika, suhu di sekitarnya turun drastis. Udara membeku, ruang bergetar, lalu retak seperti kaca yang dihantam kekuatan tak terlihat.
Dari celah ruang itu, sebuah pedang es raksasa perlahan muncul, memancarkan aura dingin yang mampu membekukan jiwa.
"Bajingan Tang, mati!!!" teriaknya dengan wajah penuh kebencian.
Di sisi lain, Xiao Chen menggenggam kapaknya erat-erat. Urat-urat di lengannya menonjol, energi api berkobar liar di sekelilingnya. Kapak itu membesar, ukurannya meningkat hingga sepuluh kali lipat, memancarkan panas yang mampu membakar langit.
"Iblis Tang, serahkan buku itu! Akan kubuat kematianmu cepat!" raungnya.
Xu Lin pun tidak tinggal diam. Dari ujung jarinya, segel mantra terbentuk dengan cepat. Tubuhnya berubah menjadi emas pekat, memancarkan cahaya seperti dewa perang. Ia mengepalkan tinjunya, lalu melayangkannya ke depan.
Di belakangnya, sebuah tangan raksasa berwarna emas muncul, membawa tekanan yang mampu menghancurkan gunung.
"Iblis tua, menyerah! Serahkan buku itu, dan aku akan membiarkan tubuhmu tetap utuh!"
Sementara itu, Ju Ziyue dengan tenang membentuk mantranya. Sebuah bunga merah muda yang terbuat dari api surgawi perlahan mekar di telapak tangannya. Keindahannya mematikan.
Tanpa peringatan, bunga itu melesat ke arah Tang Xu, meninggalkan jejak api yang membakar ruang.
"Bajingan Tang,mati!!"
Empat serangan dahsyat datang dari segala arah.
Beberapa bagian tubuh Tang Xu robek, jiwanya retak. Kekuatan yang ada di dalam tubuhnya melampaui kekuatan tubuh dan jiwanya.
Ia memuntahkan seteguk darah, memandangi serangan yang datang dari segala arah.
Namun di hadapan kematiannya, senyum terukir di wajahnya.
Ia tertawa.
Tawa yang semakin lama semakin keras.
"Hahahah, aku Tang Xu hari ini hidup sebagai iblis, selamanya akan menjadi iblis"
Tang Xu mebentuk mantra, sebuah simbol mantra berbentuk tengkorak muncul di depan tubuh Tang Xu.
Darah mengalir deras di tubuhnya, mengarah ke sebuah buku yang telah menyatu dengan slaughter demon divine fire.
Ia bertekad untuk meledakkan tubuhnya sendiri.
"Karena kalian semua bertekad untuk membunuhku, maka jangan salahkan aku jika kalian semua akan mati hari ini"
"Buruk, dia mencoba meledakkan tubuhnya sendiri"
"Mundur".
Di detik-detik terakhir kehidupannya, tidak ada penyesalan di hati Tang Xu. Tidak ada kesedihan.
Yang ada hanyalah kepuasan.
Ia telah menjalani hidupnya sesuai keinginannya, membantai, merebut, dan menapaki jalannya sendiri tanpa pernah menunduk.
Hanya satu hal yang tersisa...
Satu penyesalan kecil yang tak sempat ia gapai.
"Mencapai divine"
Namun itu terlambat, tubuh dan jiwa Tang Xu meledak, meratakan gunung yang berdekatan dengan ibu kota kekaisaran Zhou.
