Cherreads

Chapter 206 - Ia Tidak Diizinkan Mati

Vella menyipitkan matanya.

"Hancur? Aku punya cadangannya. Dan gedung ini? Hanya sewaan. Kau tidak menghancurkan apa pun, Kaivan. Sungguh disayangkan, semua usahamu sia-sia."

Ia menutupi luka di matanya dengan tangan, lalu tubuh Kaivan terangkat ke udara, tersorot cahaya redup seperti bilah tajam yang haus darah. Setiap langkah Vella menggema dingin di ruangan itu, sementara Kaivan membalas tatapannya dengan kekesalan yang terasa nyata.

Namun sebelum serangan itu sempat mendarat, suara langkah kaki lain terdengar dari sudut gelap ruangan. Ringan… namun setiap langkahnya terasa seperti menggeser udara itu sendiri. Dari balik bayangan muncul seorang anak laki-laki, usianya tidak lebih dari awal remaja, berpakaian sederhana. Wajahnya tenang, matanya tajam. Ia menatap langsung ke arah Vella lalu berbicara dalam bahasa asing.

"Er darf nicht sterben."

Vella membeku. Tatapannya langsung beralih tajam ke arah anak itu. Udara di sekitar mereka berubah dingin, nyaris membeku. Namun ia menolak untuk dihentikan. Kemarahan meledak di dalam dirinya, lalu ia melemparkan gumpalan logam besar ke arah bocah itu.

"Diam! Aku tidak menerima perintah dari siapa pun!" teriaknya.

Anak itu terus berjalan tanpa terganggu sedikit pun. Ia mengangkat satu tangannya perlahan, lembut, namun dengan keyakinan mutlak.

Apa yang terjadi setelahnya membuat dunia seolah berhenti berputar.

Wajah Vella kehilangan warna. Kesombongan di matanya hancur seketika, digantikan oleh ketakutan murni. Ia menjerit histeris lalu jatuh dan berguling di lantai.

"HHHAAAAAAH! TIDAAAK!"

Kaivan menatap dengan ngeri. Untuk pertama kalinya, ia melihat Vella, musuh mengerikan itu, runtuh oleh ketakutan yang tak terlihat. Apa yang dilihat wanita itu? Apa yang diperlihatkan anak tersebut kepadanya? Ia tidak tahu. Namun untuk sesaat, malam itu terasa benar-benar sunyi.

Anak itu mendekati Kaivan dengan langkah tenang yang sama. Ia berhenti di depan Kaivan yang terikat lalu berbicara pelan namun tegas.

"Sind Sie Kaivan? Benutzer von Tome Omnicent?"

Kaivan mengernyit. Kata-kata itu terdengar seperti bahasa Jerman, namun ia tidak benar-benar memahaminya. Dengan napas lemah, ia menjawab.

"Aku tidak mengerti bahasamu."

Anak itu tersenyum tipis lalu mengganti bahasanya dengan aksen asing.

"Oh, begitu. Jadi kau Kaivan, ya? Pengguna Tome Omnicent? Kenapa kau tidak membawanya? Kenapa kau tidak memasang kristalnya ke buku itu?"

Kaivan mengamatinya dengan hati-hati. Ia tahu dirinya tidak boleh mengungkap apa pun, jadi ia mengalihkan pembicaraan.

"Aku tidak membutuhkan kekuatan Tome Omnicent. Aku tidak ingin dikendalikan olehnya." Suaranya terdengar tenang, meski jantungnya gemetar.

Anak itu membungkuk sedikit lebih dekat, tatapannya seolah menembus jiwa Kaivan.

"Bagus. Aku suka jawaban itu. Tetaplah seperti itu, jangan membuat segalanya merepotkan untukku."

Ia melangkah mundur.

Sementara itu, Vella yang masih menjerit kehilangan kendali atas kemampuannya. Logam yang mengikat Kaivan melonggar lalu jatuh ke lantai. Namun sebelum Kaivan sempat bereaksi, anak itu menghilang begitu saja, larut ke udara kosong.

Vella terengah-engah, kebingungan memenuhi wajahnya.

Rapi terhuyung memasuki ruangan saat itu juga, tubuhnya penuh luka dan darah. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, pria itu menghantam kepala Kaivan menggunakan benda berat hingga membuatnya pingsan.

"N-Nyonya… apakah Anda baik-baik saja?" tanya Rapi dengan suara gemetar.

Vella menenangkan dirinya lalu menggeleng pelan.

"Polisi sudah menunggu di luar. Masukkan saja dia ke sel. Kita tidak bisa membunuhnya… Dia akan marah," bisiknya serak.

Mereka menyeret tubuh Kaivan yang tak sadarkan diri keluar dari gedung. Di luar, teman-teman Kaivan, Felicia, Raphael, dan yang lainnya, mengawasi dari balik bayangan. Ketakutan memenuhi wajah mereka saat melihat Vella dan Rapi berjalan tertatih sambil membawa Kaivan.

"Kami berhasil menangkap teroris ini. Lihat saja berapa banyak ledakan dan korban yang dia sebabkan," ujar Vella lantang kepada polisi dengan suara penuh tuduhan, meski ia tahu sebagian besar kehancuran itu adalah ulahnya sendiri.

Felicia mengepalkan tangannya, amarah berputar di matanya.

"Dia malah bertingkah seperti korban? Omong kosong apa ini?" desisnya.

Raphael menaruh tangan di bahu Felicia untuk menenangkannya.

"Tidak ada gunanya. Kaivan sudah terlalu sering disalahkan. Dia bahkan tidak akan bisa membela dirinya sendiri…" katanya pelan, menyembunyikan kesedihan dalam matanya.

Polisi memborgol Kaivan yang tak sadarkan diri lalu mengangkatnya ke ambulans. Lukanya sangat parah, namun ia harus tetap hidup. Ia harus menghadapi persidangan… dirinya belum diizinkan untuk mati.

Malam itu tampak seperti lukisan yang digambar dengan guratan ketakutan dan kehancuran. Langit menggantung rendah dan kelabu, membiarkan hujan turun seperti air mata dunia, membasahi aspal yang memantulkan cahaya merah dan biru. Mobil polisi dan ambulans membentuk garis pemisah antara kehidupan biasa dan tragedi. Udara dipenuhi aroma ozon, logam, dan ketegangan.

Tubuh Kaivan yang lemas terbaring di atas tandu seperti boneka yang talinya telah dipotong. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit terbuka, napasnya begitu samar hingga nyaris tak menggerakkan dadanya. Dua paramedis berlari membawanya menuju ambulans, sepatu mereka memercikkan air dan meninggalkan jejak darah tipis di atas jalan yang licin.

Suara sirene dan bisikan cemas bercampur menjadi simfoni gemetar yang membawa malam menuju fajar yang belum pasti.

Kerumunan perlahan terbelah saat ambulans yang membawa Kaivan melaju menuju rumah sakit. Raphael berdiri di trotoar dengan postur tegak, namun matanya dipenuhi kekacauan. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan ledakan emosi yang membakar dadanya. Tatapannya mengikuti tandu itu, kerutan dalam di antara alisnya memperlihatkan badai pertanyaan yang tak lagi mampu ia tahan.

"Mereka membawa Kaivan ke mana?" Suaranya memotong udara malam yang dingin, dalam dan mantap, namun sedikit bergetar oleh ketidakpastian.

Isabel berdiri satu langkah di belakangnya sambil memeluk Tome Omnicent erat di dadanya. Jemari rampingnya membalik halaman demi halaman dengan gerakan cepat dan terarah, seperti seorang pendeta yang memanggil kekuatan jauh dari sana. Cahaya lampu jalan menyentuh wajah tenangnya, namun matanya memperlihatkan kegelisahan yang sunyi. Setiap detik terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ia berhenti di sebuah halaman lalu menelusuri tulisan di sana seolah sedang membaca takdir itu sendiri. Setelah itu ia mengangkat kepala, suaranya terdengar jelas dan penuh keyakinan.

"Dia dibawa ke rumah sakit di Jalan Muhamad Toha." Kata-kata itu membuat kekacauan berubah menjadi arah tujuan.

Radit yang sejak tadi bersandar santai di tiang lampu mengangkat alisnya. Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan karena geli, melainkan seperti seseorang yang baru terbangun dari tidur panjang untuk menyambut tantangan. Ia memutar bahunya lalu melangkah maju dengan santai seperti predator.

"Jadi? Kita bakal membebaskan Kaivan atau tidak?"

Ia mendekat, tubuhnya condong ke depan, penuh ketegangan seperti siap bergerak kapan saja. Tatapannya menantang Raphael, menguji tekad temannya itu.

Namun Isabel langsung melangkah di antara mereka sebelum percikan itu berubah menjadi api. Gerakannya anggun namun tegas. Tatapannya menajam, suaranya sedikit meninggi.

"Kalau kita melakukan itu, kita akan berurusan dengan polisi. Membantu tahanan kabur bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan." Posturnya menegang, seolah sedang menahan badai yang siap dilepaskan Radit. Ia tahu satu langkah salah bisa menghancurkan mereka semua.

Livia yang memegang payung terlalu besar untuk tubuh kecilnya menatap mereka dengan mata lebar polos. Cahaya sirene memantul di matanya seperti tatapan rusa kecil yang terkejut.

"Kenapa? Kaivan bukan orang jahat. Bukankah kita harus mencoba menolongnya?" tanyanya pelan, suaranya meluncur di malam itu seperti permohonan yang rapuh.

More Chapters