William, yang sempat teralihkan, menyeringai. Ia meraih kain kotor dan menyumpalkannya ke dalam mulut Kaivan. Kaivan hanya bisa menahan napas, menatap pintu yang perlahan terbuka.
Wajah Isabel muncul, dipenuhi harapan. "Kaivan! Aku membawa, "
Crash!
Sebuah hantaman menghantam belakang lehernya. Isabel langsung roboh. Tome Omnicent terlepas dari genggamannya, meluncur di lantai, berhenti di antara mereka bertiga.
Udara membeku. Bahaya mengental.
Mata William berkilat penuh hasrat. "Ada yang datang! Ambil bukunya, sekarang!" bentaknya tajam.
Namun dalam momen singkat itu, Kaivan melihat celah. Dengan sisa tenaganya, ia meraih karambit yang jatuh. Jemarinya gemetar, namun perlahan ia mulai menggesekkan bilah kecil itu pada tali yang mengikat pergelangan tangannya. Setiap gesekan menggerogoti seratnya.
William mondar-mandir, gelisah. Namun sesuatu membuatnya melirik kembali ke arah Kaivan. Mata pemuda itu telah berubah. Meski terluka, kini ada ketenangan mencurigakan di dalamnya.
Masih gemetar, Kaivan meraih Tome Omnicent. Saat ujung jarinya menyentuh permukaannya, arus aneh mengalir di tubuhnya. Lukanya tetap ada, namun rasa sakitnya tak lagi berarti. Tatapannya semakin dalam, sunyi, dan tak tergoyahkan.
William melangkah mundur. "Apa yang kau lakukan...?" suaranya kehilangan kepercayaan diri.
Kaivan membuka halaman pertama. Huruf-huruf di dalamnya bergeser perlahan. William membeku sesaat, lalu tertawa keras, tak terkendali.
"Hah! Kau belum tersinkronisasi dengan tomemu!" ejeknya.
Kaivan menegang. Ia tak tahu apa maksudnya. Namun tak ada waktu untuk memahami. William menarik pistol dan mengarahkannya ke kepala Isabel.
"Jatuhkan Tome Omnicent, atau aku akan menembus kepalanya dengan peluru!"
Dalam sekejap, Kaivan mengambil keputusan. Ia melempar Tome Omnicent ke arah William. Buku itu berputar di udara, menghantam tangan yang memegang pistol.
"AARGH!" teriak William saat senjata itu terlepas dan jatuh ke lantai.
Suara benturan itu menggema, membangunkan Isabel. Kelopak matanya bergetar, penglihatannya kabur, tubuhnya gemetar. Namun saat ia melihat Kaivan, kesadarannya kembali. Ia bangkit dan berlari ke arahnya, kelegaan sempat terpancar di wajahnya.
Namun kehangatan itu lenyap.
Mata Isabel menjadi kosong. Gerakannya berubah tajam, tak wajar. Dalam sekejap, tangannya mencengkeram leher Kaivan. Cengkeraman itu brutal, memaksa udara keluar dari paru-parunya.
Kaivan menatap dengan terkejut, berusaha melepaskan diri. "Kenapa... kenapa ini terjadi?"
Namun kekuatan Isabel terlalu besar. Ototnya menegang seperti boneka yang ditarik benang tak terlihat. Kaivan melirik panik ke sekeliling, dan melihat William mendekat, terluka namun tersenyum miring penuh kemenangan.
"Kau bingung? Tersesat?" ejek William. "Tome Omnidream... memberiku kemampuan mengendalikan siapa pun yang tak sadar. Gadis itu, sekarang melihatmu sebagai ancaman."
Tawanya mengiris udara. Tiba-tiba Isabel melepaskannya. Kaivan terengah, mengira serangan telah berakhir.
Ia salah.
Dengan gerakan halus dan presisi, Isabel memeluknya, bukan untuk menenangkan, melainkan mengunci seluruh tubuhnya. Ia mencoba melepaskan diri, namun pelukan itu seperti sangkar. Napasnya kembali tersendat, tekanan melilitnya seperti kawat dingin.
William berdiri tepat di hadapannya, senyum puas terukir di wajahnya. "Kau berada di posisi yang sangat buruk, Kaivan," katanya mengejek. Lalu ia menyerang.
Tulang Kaivan bergetar saat pukulan itu membanting kepalanya ke samping. Sebelum sempat menarik napas, pukulan lain menghantam perutnya. Tubuhnya terhuyung, namun genggaman Isabel menahannya tetap terkunci.
Pukulan demi pukulan mendarat, namun Kaivan tetap diam. Di sela napas yang terputus, suaranya terdengar rendah namun tajam.
"Pertama: kau tidak bisa membunuhku. Perintahmu hanya menangkap." Ia mengangkat dagunya, menatap langsung mata William meski darah mengalir dari bibirnya. "Kedua: anak buahmu sudah habis. Ketiga..." Ia berhenti sejenak, tatapannya tajam. "Sebagai keturunan Omnivalor, kau tidak bisa menyentuh Tome Omnicent, bukan?"
William membeku di tengah serangan. Matanya melebar. Ia berbalik panik. "Rapi! Masuk ke sini, sekarang!"
Kaivan menyeringai meski tubuhnya terkunci. "Keempat: Rapi... sedang sibuk, bukan?"
Rahang William menegang. Matanya liar menyapu ruangan. "Ke mana raksasa itu pergi?!" geramnya.
Tiba-tiba, langkah kaki tergesa memenuhi pintu. Ethan muncul, terengah, matanya langsung menajam saat melihat Isabel menahan Kaivan.
"Isabel?! Apa yang kau lakukan?!"
Sebelum Ethan mendekat, William meraih pistolnya dari lantai dan mengarahkannya.
"Tiaraaanng!!"
"Tiunduk!!" teriak Kaivan.
Ethan bergerak secara naluri. Ia berguling ke samping, peluru melesat melewatinya, cukup dekat hingga ia merasakan udara terbelah. Suara tembakan menggema, memperketat ketegangan yang sudah mencekik ruangan.
William kembali menoleh ke Kaivan, amarah membelit wajahnya. "Terlalu banyak gangguan," gumamnya dingin, bersiap menyerang.
Namun Kaivan tidak memberinya kesempatan. Ia menendang Tome Omnicent ke atas dan menekannya ke paha William.
Dalam sekejap, tubuh William menegang. Rasa sakit dari tome itu merayap di tubuhnya seperti petir. Ia terengah, mencengkeram kakinya yang terbakar saat dunia di sekelilingnya berputar.
Kaivan memanfaatkan celah itu. Dengan seluruh tenaganya, ia melempar Isabel ke arah Ethan. Gadis itu, yang masih dikendalikan Omnidream, jatuh ke dalam pelukan Ethan, gerakannya liar dan tak stabil.
William terhuyung, berusaha berdiri, namun efek tome terus menggerogotinya. Sementara itu, Kaivan melepaskan diri dari cengkeramannya.
Ia mengusap darah di bibirnya, matanya menajam. "Sepertinya sekarang kau yang terpojok, William."
Dengan langkah pincang namun penuh amarah, William berbalik, menuju arah di mana Felicia dan Rapi masih bertarung. Setiap langkahnya seperti dentuman perang. Matanya menyala, mencari sosok Rapi di tengah bayangan.
