Metropolitan Limosin hitam melaju membelah jalanan tol beraspal mulus, meninggalkan lanskap hijau Desa Sukamaju yang perlahan memudar digantikan oleh siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang angkuh.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma kayu cendana bercampur parfum mahal, keheningan terasa begitu pekat sekaligus mengintimidasi.
Kimberly duduk menyudut di dekat jendela, memeluk kedua lututnya erat-erat, jantungnya masih bertalu hebat.
Baju kaos pudar dan kain jarik yang dipakainya terasa sangat kontras dengan jok kulit premium mobil ini.
Matanya sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya, Justin Devano Ardiansyah.
Pria itu kini tidak lagi memakai kemeja robek yang penuh noda darah, Marco, tangan kanannya, telah menyiapkan kemeja hitam baru bertingkat custom-tailored yang membungkus sempurna tubuh kekarnya.
Gurat kelelahan di wajah Justin lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin, tajam, dan berwibawa wajah asli seorang penguasa dunia bawah tanah.
Dia tengah fokus menatap layar tabletnya, membaca laporan bisnis, seolah penculikan yang baru saja dilakukannya terhadap seorang gadis desa adalah urusan sepele.
"Sampai kapan kau akan terus menatap jendela seperti itu?" suara berat Justin memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Kimberly tersentak, dia memalingkan wajah, menatap langsung pada netra hitam Justin yang kini beralih menatapnya.
"Tuan Justin, tolong turunkan aku. Aku tidak punya tempat di kota ini. Aku hanya akan menyusahkanmu."
Justin menaruh tabletnya di meja kecil lipat. Dia menggeser duduknya, mengikis jarak di antara mereka hingga Kimberly bisa merasakan aura dominan yang mencekam.
"Sudah kukatakan di desa, Kimberly. Hidupmu yang lama sudah selesai sejak kau mengeluarkan peluru dari bahuku. Namamu sudah tercatat oleh informan musuh. Jika aku meninggalkanmu di gubuk itu, malam ini kau hanya akan menjadi mayat tanpa kepala."
Kata-kata Justin yang begitu lugas dan kejam membuat bulu kuduk Kimberly meremang.
"Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang duniamu! Aku hanya penjual jamu!"
"Maka belajarlah menjadi wanita dari seorang Justin Devano Ardiansyah," sahut Justin dingin namun sarat akan penekanan posesif.
"Kau tidak perlu menjual jamu lagi. Tugasmu sekarang hanya menuruti perintahku dan tetap hidup."
Mobil akhirnya melambat dan memasuki sebuah kawasan elit di perbukitan Jakarta Selatan.
Setelah melewati gerbang besi setinggi tiga meter yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata laras panjang, limosin itu berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya Eropa modern.
Dindingnya didominasi warna putih marmer dan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah kolam renang luas.
"Turun," perintah Justin singkat sembari membuka pintu mobil.
Kimberly melangkah keluar dengan ragu. Sepatunya yang berbahan kain murah berdecit di atas lantai marmer yang mengkilap.
Puluhan pelayan berseragam rapi sudah berbaris di lobi utama, menundukkan kepala begitu Justin melintas.
"Selamat datang kembali, Tuan Besar," ucap seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi, kepala pelayan di mansion tersebut.
"Bi Minah, bawa dia ke kamar utama di lantai dua. Ganti pakaiannya dengan yang layak. Panggil dokter pribadi untuk memeriksa kesehatannya secara menyeluruh. Pastikan dia tidak menyentuh benda tajam apa pun," titah Justin tanpa memandang Kimberly, lalu melangkah pergi menuju ruang kerja pribadinya di sayap kanan bangunan.
Kimberly hanya bisa terpaku melihat punggung tegap itu menjauh, dia merasa seperti seekor burung liar yang tiba-tiba ditangkap dan dimasukkan ke dalam sangkar emas yang terlalu megah untuk ukurannya.
Satu jam kemudian, Kimberly telah selesai membersihkan diri. Kamar mandi di kamar utama itu bahkan lebih luas daripada seluruh gubuknya di desa.
Air hangat yang mengalir dari pancuran emas sempat membuatnya bingung, namun bantuan dari Bi Minah membuat semuanya berjalan lancar.
Kini, Kimberly duduk di tepi ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei sutra putih.
Dia mengenakan gaun tidur satin berwarna pastel yang lembut, rambut hitam panjangnya yang biasa dikepang kini digerai indah, memancarkan aroma bunga melati dari sabun mewah yang digunakannya.
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka, Justin masuk tanpa mengetuk lebih keras, dia sudah menanggalkan jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga sikut, memperlihatkan tato naga yang melilit lengan berototnya.
Di tangannya, terdapat sebuah kotak beludru hitam kecil, melihat Justin mendekat, Kimberly refleks memundurkan posisinya hingga punggungnya membentur sandaran ranjang.
Sikap defensif gadis itu membuat alis Justin bertaut, ada rasa tidak suka yang menggelitik hatinya melihat Kimberly ketakutan padanya.
Di dunia luar, ketakutan orang lain adalah makanannya, tetapi tidak dengan gadis ini, dia menginginkan rasa hormat dan kepatuhan yang tulus dari Kimberly.
Justin duduk di tepi ranjang, tepat di depan Kimberly, dia mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan kanan Kimberly.
"Apa yang mau Anda lakukan?" bisik Kimberly lirih.
Justin tidak menjawab, dia membuka kotak beludru tersebut, mengambil sebuah gelang emas putih murni yang dihiasi berlian kecil berbentuk kelopak bunga.
Dengan perlahan namun pasti, Justin memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Kimberly yang mungil.
"Ini adalah tanda," ucap Justin, suaranya terdengar rendah dan serak.
"Siapa pun di kota ini yang melihat gelang ini, mereka akan tahu bahwa kau adalah milikku. Menyentuh seujung rambutmu berarti memicu perang dengan The Ardiansyah Syndicate."
Kimberly menatap gelang yang berkilauan di tangannya. Indah, namun terasa seperti borgol tak kasat mata.
"Kenapa Anda melakukan ini padaku, Tuan? Anda bisa memberikan uang sebagai imbalan atas pengobatan semalam, lalu membiarkanku pergi."
Justin mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Kimberly dapat mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh sang mafia.
Tangan kasar Justin bergerak naik, mengelus rahang lembut Kimberly dengan ibu jarinya.
"Uang bisa kubeli dengan mudah, Kimberly. Tapi ketulusan... dan keberanianmu menatap mataku tanpa rasa takut di malam itu, tidak bisa kubeli di mana pun," ujar Justin dengan mata yang menggelap, memancarkan kilat obsesi yang mendalam.
"Aku menginginkanmu sejak pertama kali kau menyentuh bahuku yang terluka. Di dunia yang penuh dengan ular, kau adalah satu-satunya hal murni yang ingin kusimpan."
"Tapi kita berbeda dunia! Pernikahan atau hubungan rumah tangga bukanlah hal yang bisa dipaksakan seperti ini!" protes Kimberly, matanya mulai berkaca-kaca menahan sesak.
"Di duniaku, apa yang kuinginkan akan menjadi milikku, dengan atau tanpa persetujuanmu," balas Justin dingin, dia bangkit berdiri, menatap Kimberly dari ketinggian tubuhnya.
"Mulai besok, guru etika dan desainer akan datang. Kau akan dipersiapkan untuk menjadi pendampingku. Istirahatlah, Istriku."
Kata 'Istriku' yang diucapkan Justin terdengar begitu mutlak, mengunci sisa argumen di tenggorokan Kimberly.
Justin berbalik dan melangkah keluar dari kamar, menyisakan Kimberly yang akhirnya menumpahkan air mata kesedihannya di atas bantal sutra.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka kultural bagi Kimberly, kamar mewahnya kini dipenuhi oleh gaun-gaun rancangan desainer ternama, sepatu hak tinggi yang menyiksa kakinya, serta perhiasan yang harganya bisa membeli seluruh tanah di desanya.
Setiap hari, seorang wanita paruh baya berwajah ketat melatihnya cara berjalan, cara berbicara, hingga tata cara makan malam ala bangsawan.
Kimberly yang terbiasa hidup bebas di alam desa merasa tercekik, beberapa kali dia menjatuhkan piring porselen karena tangannya gemetar, memicu helaan napas sinis dari sang guru etika.
Namun, di balik semua siksaan itu, ada satu hal yang disadari Kimberly, Justin selalu mengawasinya.
Setiap malam, Justin akan pulang larut dengan aroma cerutu dan terkadang bau darah yang samar.
Pria itu tidak pernah menyentuhnya secara kasar, Justin hanya akan tidur di sampingnya, memeluk pinggangnya dari belakang dengan erat seolah-olah Kimberly akan menghilang jika dia mengendurkan pelukannya.
Dalam tidurnya, sang mafia yang kejam itu kerap kali mengerang, bayang-bayang masa lalu yang kelam tampaknya selalu menghantuinya.
Dan entah mengapa, setiap kali Kimberly mengusap lengan kekar yang memeluknya itu, erangan Justin akan mereda.
Suatu sore, saat Kimberly sedang berada di perpustakaan besar mansion, mencoba membaca buku untuk mengusir jenuh, pintu tiba-tiba didobrak kasar.
Bukan Justin, melainkan seorang wanita cantik dengan pakaian sangat modis dan seksi melangkah masuk.
Wajahnya dipenuhi amarah, dia adalah Evelyn, putri dari ketua kartel sekutu Justin yang selama ini terobsesi untuk menjadi Nyonya Ardiansyah.
"Jadi ini pelacur desa yang dibawa Justin dari tempat sampah?" cicit Evelyn sinis, menatap Kimberly dari atas ke bawah dengan pandangan menghina.
Kimberly berdiri, mencoba tetap tenang sesuai pelajaran etika yang diterimanya, meski hatinya mencelos
"Siapa Anda?"
"Aku adalah wanita yang seharusnya berada di samping Justin! Bukan gadis kumal sepertimu!" teriak Evelyn.
Dia melangkah maju dan dengan kasar mengangkat tangannya, siap melayangkan tamparan keras ke pipi Kimberly.
Kimberly memejamkan mata, bersiap menerima pukulan, namun, tamparan itu tidak pernah tiba.
Brak!
"Sentuh dia, dan aku akan memastikan ayahmu menerima kepalamu di dalam kotak es besok pagi," sebuah suara dingin yang sangat akrab menggelegar di ambang pintu perpustakaan.
Kimberly membuka mata, Justin sudah berdiri di sana, matanya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Aura membunuh yang dipancarkannya begitu kuat hingga Evelyn langsung pucat pasi dan melangkah mundur, melupakan harga dirinya sebagai putri kartel.
Sang singa telah kembali ke sarangnya, dan dia siap mencabik siapa saja yang berani mengusik miliknya.
