Cherreads

Chapter 1 - Bab 1. Sang Penguasa Pemangsa

Malam di pinggiran Desa Sukamaju tidak pernah sesunyi ini, biasanya, suara jangkrik dan gesekan daun bambu menjadi irama pengantar tidur yang damai.

Namun malam itu, atmosfer berubah mencekam, bau asap mesiu dan bau anyir darah samar-samar terbawa angin malam, merusak kesucian desa kecil yang terisolasi tersebut.

Di dalam sebuah gubuk kayu sederhana di ujung desa, Kimberly baru saja selesai merapikan sisa rajutan jamunya.

Gadis berusia dua puluh tahun itu memiliki kecantikan yang murni tanpa riasan wajah, dengan rambut hitam legam yang dikepang dua, dan sepasang mata bulat yang selalu memancarkan ketulusan.

Kehidupannya sangat sederhana; dia hanya seorang gadis yatim piatu yang menyambung hidup dengan menjual jamu tradisional keliling dan berkebun.

Prak!

Suara pintu belakang rumahnya yang terhempas keras mengejutkan Kimberly, dia tersentak, hampir menjatuhkan pelita minyak di tangannya.

"Si-siapa di sana?" bisik Kimberly dengan suara bergetar.

Melangkah perlahan ke arah dapur dengan sebilah pisau pemotong sayur yang dipegangnya erat, jantung Kimberly berdegup kencang.

Begitu sampai di ambang pintu dapur, matanya terbelalak, seorang pria bertubuh tegap ambruk di lantai tanahnya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam satin yang robek di bagian bahu, memperlihatkan luka tembak yang masih mengalirkan darah segar.

Kulitnya pucat, namun rahangnya yang tegas dan garis wajahnya yang terahat sempurna memancarkan aura dominasi yang luar biasa, bahkan dalam kondisi sekarat sekalipun.

Dia adalah Justin Devano Ardiansyah.

Bagi dunia luar, nama itu adalah sinonim dari malaikat maut.

Justin adalah pemimpin tertinggi dari The Ardiansyah Syndicate, organisasi mafia terbesar yang menguasai jalur bisnis gelap, pelabuhan, hingga kasino di ibu kota.

Pengkhianatan dari salah satu anak buahnya saat transaksi rahasia di wilayah pinggiran membawanya terdesak hingga ke desa terpencil ini.

"J-Jangan mendekat..." geram Justin.

Suaranya serak, rendah, dan penuh ancaman, sepasang mata elangnya yang tajam dan dingin menatap Kimberly, mencoba mengintimidasi meskipun kesadarannya berada di ambang batas.

Kimberly ketakutan. Dia tahu pria di hadapannya ini berbahaya, tato naga yang mengintip dari balik kemejanya yang robek dan pistol perak yang tergeletak di samping tubuhnya adalah bukti nyata.

Namun, melihat darah yang terus mengucur, rasa kemanusiaan Kimberly mengalahkan ketakutannya.

"Anda terluka parah. Jika tidak diobati, Anda bisa mati," ucap Kimberly, mencoba menenangkan suaranya.

Kimberly perlahan berlutut, meletakkan pisaunya, dan mendekati Justin, ketika tangan kecilnya yang halus menyentuh bahu Justin untuk memeriksa luka, pria itu dengan gerakan kilat mencengkeram pergelangan tangan Kimberly.

Cengkeramannya begitu kuat seperti catok besi.

"Jika kau mencoba menjebakku... aku bersumpah akan mematahkan lehermu, Gadis Kecil," bisik Justin tepat di telinga Kimberly. Napasnya yang panas dan berbau alkohol serta darah membuat Kimberly merinding.

"Aku hanya ingin menolongmu! Di desa ini tidak ada rumah sakit, dan jika orang-orang melihatmu seperti ini, mereka akan gempar," balas Kimberly berani, menatap langsung ke dalam mata hitam pekat milik sang mafia.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Justin, ada seorang wanita terlebih lagi hanya seorang gadis desa sederhana yang berani menatap matanya tanpa rasa tunduk atau ketakutan yang histeris.

Ada kilau kejujuran di mata Kimberly yang entah bagaimana meruntuhkan pertahanan keras milik Justin.

Perlahan, cengkeraman tangan Justin mengendur, dan sedetik kemudian, sang penguasa kegelapan itu pingsan total.

Dengan susah payah, Kimberly menyeret tubuh kekar Justin ke atas dipan bambu miliknya.

Sepanjang malam, Kimberly tidak tidur, dengan telaten, dia membersihkan luka tembak di bahu Justin, mengeluarkan peluru yang bersarang di sana menggunakan alat seadanya yang disterilkan dengan api, lalu membalutnya dengan tumbukan daun binahong dan kain bersih.

Setiap kali jarinya menyentuh kulit dada Justin yang bidang dan penuh bekas luka masa lalu, jantung Kimberly berdebar aneh, pria ini seperti misteri yang berbahaya, namun sangat memikat.

Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah dinding bambu, ajustin perlahan membuka matanya.

Rasa sakit di bahunya sudah jauh berkurang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di tubuhnya.

Dia menoleh dan menemukan gadis semalam sedang tertidur dengan posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di pinggiran dipan, masih memegang kain kompresan yang sudah mengering.

Justin terdiam.

Dia memandangi wajah tidur Kimberly. Begitu damai, begitu polos, di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan, wanita-wanita berbaju minim yang mendekatinya hanya menginginkan uang dan kekuasaannya.

Namun gadis ini, dia menyelamatkan nyawanya tanpa tahu siapa dia sebenarnya, Justin bangkit duduk, mengabaikan rasa perih di bahunya.

Dia mengulurkan tangan tangannya yang kasar, dengan lembut mengelus pipi Kimberly yang halus, sentuhan itu membuat Kimberly terbangun.

"Eh? Anda sudah sadar? Bagaimana keadaan Anda? Apa lukanya masih sakit?" Kimberly langsung memberondong Justin dengan pertanyaan penuh kekhawatiran, spontan menyentuh dahi Justin untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Justin terpaku, kehangatan tangan Kimberly seolah mencairkan gunung es yang selama bertahun-tahun membeku di hatinya.

Dia menangkap tangan Kimberly, bukan dengan cengkeraman kasar seperti semalam, melainkan dengan genggaman yang protektif dan posesif.

"Siapa namamu?" tanya Justin, suaranya kini terdengar berat dan dalam.

"Kimberly. Cukup panggil Kim," jawabnya agak gugup karena jarak mereka yang sangat dekat.

"Kimberly..." Justin mengeja nama itu seolah itu adalah sebuah mantra.

"Aku Justin."

"Tuan Justin, sebaiknya Anda istirahat lagi. Aku akan membuatkan bubur dan teh hangat untukmu," kata Kimberly hendak berdiri, namun Justin menahan pergelangan tangannya.

"Kau tahu siapa aku, Kimberly? Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada hidupmu karena kau telah mencampuri urusanku?" tanya Justin dengan senyum misterius yang sarat akan bahaya, Kimberly menelan ludah.

"Aku tidak peduli siapa Anda di luar sana. Di rumah ini, Anda hanyalah seorang pasien yang membutuhkan bantuan."

Justin terkekeh rendah, sebuah tawa yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah didengar oleh para anak buahnya.

Keberanian gadis desa ini benar-benar menarik perhatiannya, detik itu juga, ego posesif seorang Justin Devano Ardiansyah bangkit.

Dia menginginkan gadis ini. Bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya, di dalam benaknya yang gelap, Justin sudah memutuskan: gadis desa ini telah menjadi miliknya.

Tiga hari berlalu. Justin menyembunyikan keberadaannya di gubuk Kimberly sambil memulihkan diri.

Selama tiga hari itu pula, Justin menyaksikan kehidupan Kimberly yang bersahaja.

Dia melihat bagaimana Kimberly dengan sabar menumbuk jamu, menyapa tetangga dengan senyum manis, dan memasak makanan sederhana yang anehnya terasa lebih nikmat daripada hidangan restoran bintang lima langganan Justin.

Bagi Justin, gubuk kecil ini adalah surga ketenangan yang tidak pernah dia miliki di rumah mewahnya yang dingin di kota.

Dan Kimberly adalah poros dari ketenangan itu, namun, kedamaian itu pecah pada hari keempat.

Siang itu, ketika Kimberly sedang mencuci baju di sungai belakang, tiga buah mobil hitam mewah meluncur masuk ke pekarangan gubuk Kimberly, membelah keheningan desa.

Penduduk desa ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah mereka, dari dalam mobil, belasan pria berjas hitam dengan senjata api turun.

Mereka adalah anak buah setia Justin yang akhirnya berhasil melacak keberadaan sang bos setelah membersihkan para pengkhianat, dipimpin oleh tangan kanan Justin, Marco.

"Tuan Besar!" Marco segera berlutut memberikan hormat saat melihat Justin berjalan keluar dari gubuk dengan langkah tegap, meskipun bahunya masih dibalut kain seadanya.

"Maafkan keterlambatan kami. Wilayah kota sudah aman, dan para pengkhianat telah dieksekusi."

Justin hanya mengangguk dingin, auranya kembali menjadi sang Tuan Mafia yang kejam dan tak tersentuh.

"Siapkan mobil. Kita kembali ke kota sekarang."

"Baik, Tuan."

Pada saat yang sama, Kimberly kembali dari sungai dengan baskom baju di tangannya.

Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan pria bersenjata dan mobil-mobil mewah di halaman rumahnya.

Baskom di tangannya jatuh, menumpahkan baju-baju basah ke tanah, Kimberly memandang Justin dengan tatapan tidak percaya. Dia tahu Justin bukan orang biasa, tapi melihat kenyataan ini tetap membuatnya syok.

Pria yang selama tiga hari ini membantunya memetik sayur kini berdiri seperti seorang raja di antara para pembunuh.

Justin berjalan mendekati Kimberly, langkah sepatunya terdengar intimidatif, dia berhenti tepat di depan Kimberly yang mulai gemetar.

"Tuan Justin... Anda... Anda akan pergi?" tanya Kimberly dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyergap hatinya, sesuatu yang tidak dia mengerti.

Justin tidak menjawab, dia justru merengkuh pinggang ramping Kimberly, menarik tubuh gadis itu merapat ke dada bidangnya.

Kimberly terpekik kecil, wajahnya merona merah sekaligus pucat karena terkejut.

"Ya, aku akan pergi. Dan kau, ikut bersamaku," ucap Justin dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

"Apa? Tidak! Ini rumahku, duniaku ada di sini! Aku tidak bisa ikut denganmu ke kota!" tolak Kimberly panik, mencoba mendorong dada Justin.

Justin mencengkeram dagu Kimberly dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap matanya yang memancarkan kilatan obsesi yang mendalam.

"Duniaku sangat berbahaya, Kimberly. Tapi kau telah menyelamatkanku, dan itu membuatmu terlibat. Musuh-musuhku akan mencarimu jika kau tetap di sini. Mulai hari ini, keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Dan yang paling penting..." Justin mendekatkan bibirnya ke telinga Kimberly, membisikkan kata-kata yang mengunci takdir sang gadis desa.

"Kau sudah memikatku, Gadis Kecil. Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Selamat datang di hidupku, Nyonya Ardiansyah."

Sebelum Kimberly sempat memprotes, Justin mengangkat tubuhnya dengan mudah dalam gendongan bridal style.

Mengabaikan jeritan dan pukulan lemah di dadanya, Justin membawa Kimberly masuk ke dalam mobil limosin hitamnya.

Mobil-mobil itu kemudian melesat pergi, meninggalkan debu yang berterbangan di Desa Sukamaju.

Kimberly, sang gadis desa yang polos, kini telah dibawa masuk ke dalam sangkar emas milik sang Tuan Mafia, memulai babak baru kehidupannya yang penuh dengan intrik, bahaya, dan romansa yang membara dalam sebuah ikatan rumah tangga yang tak terduga.

More Chapters