"Berisik! Apakah kau lupa siapa rajanya disini!?"
"Ini perintahku, tidak ada ruang untuk membantah!"
Sambil menahan kegembiraan, aku menatap tajam para penasehat tua yang masih mengoceh.
"...."
Pada saat itu juga, ruangan tiba tiba hening, para penasehat tua tertegun, tak percaya jika raja yang biasanya pendiam akan membentak seperti itu.
Setelah mendapatkan ketenangan yang dia inginkan, Vali merasa puas lalu mengalihkan pandangannya pada para kesatria.
"Evakuasi di batalkan, aku ingin kalian memimpin pasukan untuk menenangkan semua orang."
Vali memberi instruksi baru kepada mereka, meskipun belum memastikan, Vali merasa game simulasi presiden yang baru aktif bisa menyelesaikan masalah goblin.
"Katakan pada mereka..."
"Tidak, kumpulkan saja mereka di depan istana, aku akan berbicara langsung nanti."
Aku ingin menitipkan beberapa pesan tapi tidak jadi, sepertinya semua akan lebih mudah jika aku berbicara langsung nanti.
Untuk sekarang, ayo kosongkan ruangan dulu agar aku bisa mempelajari game simulasi yang baru saja aktif.
"Oke, kerjakan sekarang!"
Aku menatap Drud, si kapten kesatria dan mendesaknya.
"Baik, yang mulai!"
Drud menjawab dengan tegas, sedikit membungkukkan badannya lalu berbalik menuju pintu keluar.
Kesatria lain tidak ketinggalan, mereka berbalik dan berjalan pergi, kecuali satu yaitu Anna.
"Yang mulia..."
"Ayo cepat, Anna!"
Melihat Anna terdiam, Drud tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Drud menghela nafas, namun keputusan Vali sudah bulat dan dia hanya bisa mematuhinya.
Beberapa saat kemudian, orang terakhir keluar dari great hall. Ruangan itu menjadi sepi, menyisakan Vali yang duduk sendiri di singgasananya.
"Sekarang sudah sepi."
Merasakan keheningan di sekitar, aku menghela nafas lalu mengalihkan pandanganku pada layar dan gadis mini di depanku.
Kusebut gadis mini, tentu saja karena ukurannya tidak besar, mungkin hanya 40 atau 50 cm.
Dia memiliki rambut hijau tua yang sangat mencolok, mungkin karena diciptakan sebagai asisten Ai, pakaiannya juga cukup formal yaitu kemeja putih polos dan blaazer hitam yang tidak di kancingkan.
Namun dia juga memiliki atribut yang unik yaitu dua roket berbentuk sayap yang memberinya kesan futuristik dan ajaib pada saat bersamaan.
Dengan perasaan ragu dan berharap, aku mengulurkan tanganku dan mencolek pipi gadis mini itu.
"Lembut dan hangat, benda ini benar benar nyata!"
Saat jariku merasakan tekstur kulit yang begitu halus, detak jantung ku langsung meningkat tajam karena itu berarti semua yang aku lihat sekarang itu nyata!
Game simulasi presiden benar benar aktif di dunia ini!
[Pak, meskipun saya ini adalah Ai pribadimu. Namun menyentuhku tanpa ijin itu termasuk pelanggaran terhadap undang-undang perlindungan tenaga kerja.]
Saat aku dengan asik memainkan pipi Lara, gadis itu tiba tiba mengerutkan bibirnya dan berkata dengan kesal.
"Haha, maaf maaf, aku terlalu bersemangat."
Aku tertawa canggung kemudian melepaskan pipi Lara yang sudah mulai memerah. Mau bagaimana lagi, pipi Lara sangat lembut, lebih lembut dari boneka manapun di dunia ini.
"Lara, apakah layar ini beneran Sistem Game [simulasi presiden] yang aku tahu?"
Meskipun sudah yakin, aku tetap bertanya dengan sungguh sungguh, tak ingin kecewa karena tebakanku sendiri.
[Aku tidak tahu apa yang anda maksud "Game simulasi presiden" tapi aku memang di ciptakan untuk membantu anda agar menjadi presiden berkualitas.]
Lara memiringkan kepalanya tampak sedikit bingung, namun dia tetap menjelaskan dengan apa adanya.
"Tidak tahu?"
Mendengar perkataannya, aku mengangkat alisku dengan bingung bahkan ragu apakah tebakanku salah.
[Untuk layar ini, ini adalah panel akses teknologi Super Construction.]
"Sekarang aku yakin, aku benar benar mengaktifkan cheat!"
"Hehe, sekarang semuanya jadi lebih mudah."
Mendengar nama teknologi yang keluar dari mulut Lara, perasaan cemas di hatiku akhirnya sirna. Aku tertawa lepas, akhirnya aku bisa terbebas dari rasa khawatir terhadap dunia baru.
Konstruksi super, seperti namanya, adalah fitur utama di game "simulasi presiden." yang aku mainkan, sederhananya, fitur ini memungkinkan pemain untuk membangun bangunan apa saja secara instan selama sumber daya tersedia.
Dan yang luar biasanya, karena simulator presiden adalah game sci-fi, banyak bangunan di dalamnya yang memiliki buff dan kekuatan super.
Seperti Pusat Data yang memiliki kemampuan untuk menyimpan data seluruh penduduk desa dan memberi presiden kemampuan untuk mengetahui semua tentang penduduk desa dalam bentuk data.
Mirip seperti kemampuan Appraisal yang banyak dimiliki oleh tokoh utama anime fantasi.
"Untuk menguji, ayo coba fitur konstruksi super."
"Lara, gunakan sumber daya yang tersedia, perbaiki kantor presiden."
[Perintah diterima, teknologi konstruksi super di aktifkan]
Setelah Lara berbicara, cahaya biru perlahan muncul dari pusat ruangan kemudian menyebar perlahan ke segala arah.
Cahya itu terlihat sangat aneh, aku mengulurkan tanganku dan merasakan sentuhan darinya, jelas, cahaya ini bukan hanya foton tapi kumpulan materi canggih yang tidak aku kenal.
Kemudian, dibawah pengamatan ku, segala sesuatu di dalam ruangan ini mulai berubah.
Singgasana yang sebelumnya terlihat keras dan lapuk kembali baru, seperti kursi mewah yang baru saja di keluarkan dari pabrik.
Lantai marmer di perbarui, tidak ada rasa usang dan rusak. Tembok retak retak juga menghilang, berubah menjadi tembok putih bersih tanpa noda.
Ada beberapa ornamen baru seperti bendera, foto, dan lampu gantung. Persis seperti ruang penerimaan tamu di istana negara modern.
...
Disaat Vali sedang bereksperimen dengan cheat nya, para kesatria dan prajurit mulai mengumpulkan para penduduk di depan kastil.
Di atas benteng pertahan kastil, Anna menatap kerumunan orang di bawah dengan ekspresi rumit lalu bergumam.
"Bahkan di saat seperti ini pun, dia sangat keras kepala."
"Dia tidak berubah, masih peduli pada rakyat biasa."
"Aku tidak mengerti, kenapa dia sangat berbeda dari bangsawan lain."
Meskipun Anna tidak membenci dan bahkan mengagumi kepribadian Vali, tapi sebagai kesatria pelindung yang telah bersama Vali sejak kecil, dia tidak ingin tuannya mati meskipun sebagai seorang pahlawan yang melindungi rakyat.
"Dia berbeda, tapi itulah yang membuatku bertekad untuk melayaninya sepanjang hidupku."
Di samping Anna, Drud menimpali perkataan gadis itu dengan suara penuh kekaguman.
Drud berbeda dari kesatria lainnya, dia tidak berasal dari keluarga bangsawan, melainkan berasal dari rakyat jelata dan memulai karirnya sebagai prajurit biasa.
Karena pengalamannya itu, Drud sangat menghargai rakyat biasa meskipun sekarang sudah menjadi ksatria raja. Jadi, saat melihat Vali begitu mementingkan keselamatan rakyat biasa, dia sangat tersentuh.
...
Di depan gerbang kastil, orang orang berkerumun dengan ekspresi putus asa di wajah mereka.
"Sebenarnya apa yang diinginkan raja?"
"Kenapa dia mengumpulkan kita disini?"
"Apakah dia akan memerintahkan kita untuk mengulur waktu dengan menahan goblin ?"
"Sudah berakhir, padahal aku baru saja akan pergi. Sekarang para prajurit dan penyihir mengepung, aku tidak bisa menyelamatkan diriku lagi."
"Aku selamat tahun lalu, apakah aku akan mati kali ini?"
Banyak suara resah terdengar di antara wajah wajah putus asa itu. Banyak diantara mereka yang tumbuh dengan mindset rakyat jelata bisa di buang kapan saja, mereka juga telah banyak mendengar situasi dimana suatu wilayah mengalami bencana dan rakyatnya ditelantarkan begitu saja.
Dalam pandangan dunia seperti itu, wajar jika ketakutan dan keraguan terhadap pemerintah tertanam dalam diri mereka.
"Kenapa kalian berbicara seperti itu, yang mulia bukan orang seperti itu!"
"Ya, yang mulia sangat baik dan tampan, dia tidak akan meninggalkan kita!"
Namun, di tengah suara negatif itu, beberapa suara nyaring dan jernih tiba tiba terdengar.
Meskipun hanya minoritas, tapi suara suara kecil itu berhasil menarik perhatian.
Semua orang menoleh, ternyata suara itu berasal dari beberapa anak kecil berumur 10 hingga 13 tahun.
Semua anak itu menatap para orang dewasa dengan tatapan tak setuju, pipi mereka menggembung seolah tidak terima idola mereka di fitnah tanpa bukti.
"Kemarin aku terjatuh, Yang mulia mebantuku berdiri dan bahkan mengantarku pulang."
Seorang gadis berbicara, membela Vali sambil memperlihatkan bekas luka kecil di lututnya.
Mendengar ucapan anak anak itu, para orang dewasa mengerutkan kening mereka dan ingin membalas.
Namun, tidak ada satu katapun keluar. Lagipula, rasa pesimis mereka bukan berasal dari kebencian, melainkan rasa takut dan kecewa yang menumpuk.
"Kalian..."
"Yang mulia telah tiba!"
Saat seseorang ingin mengatakan sesuatu, suaranya terintrupsi oleh seruan beberapa prajurit.
Mendengar suara itu, kerumunan yang tadinya berisik tiba tiba menjadi sunyi senyap.
Lagipula, meskipun mereka ragu dan takut pada penguasa, mereka tidak berani mengatakannya secara langsung.
...
"Begitu banyak orang."
Dari atas balkon kastil, aku menundukan kepalaku dan menatap kerumunan orang di bawah.
Hatiku terasa rumit, masih belum terbiasa dengan perubahan identitas yang tiba tiba ini.
Kemarin aku hanya pemuda biasa, yang bisa tidur dan bermain game dengan nyaman. Namun sekarang, aku adalah pemimpin yang menanggung nasib lebih dari 10 ribu orang.
Tidak, 10 ribu orang itu hanya jumlah penduduk kota ini saja, sementara kerajaan yang aku kuasai memiliki 3 kota dan lebih dari 50 desa dengan total penduduk lebih dari 200 ribu orang.
Sudahlah, jangan pikirkan itu dulu. Aku kembali fokus menatap para warga kota yang terus berdatangan.
Saat ini, seorang penyihir berjubah oversize datang menghampiriku lalu melantunkan sebuah mantra.
Seolah menerima panggilan sang penyihir, udara mulai berfluktuasi dan hembusan angin pun tercipta.
Dalam beberapa saat, pusaran angin muncul kemudian berubah menjadi pusaran yang bentuknya seperti horn speaker.
[Elemen angin: Pembesar suara]
Sebuah nama terlintas dalam ingatanku, itu adalah nama Sihir yang di aktifkan si penyihir.
Sihir ini memanfaatkan karakteristik udara yang merupakan penghantar getaran, pusaran angin mendeteksi getaran suara lalu memperbesar amplitudo secara masif sehingga suara yang diteruskan menjadi 10 kali lebih keras dari keadaan normal.
"Selamat siang, rakyat Aldora yang terhormat."
Setelah memilah kata, akhirnya aku menyapa para penduduk dengan sedikit rasa gugup.
"Terhormat..."
"Yang mulia, dia... Apakah baru saja mengatakan kita terhormat?"
Bagi Vali, kalimat yang baru saja dia katakan hanyalah pembukaan pidato standar. Namun, bagi rakyat Aldora, satu kata sederhana itu sangat mengejutkan, bagai sabaran petir di langit yang cerah.
Bukan hanya para penduduk, bahkan kesatria dan para pejabat istana pun melebarkan mata mereka.
"Daun daun telah berguguran menandakan musim dingin akan tiba. Namun, seperti yang kita tahu, musim dingin tidak seindah putihnya salju yang akan turun."
"Gerombolan goblin pasti akan bermigrasi ke Utara, melewati kota kecil kita yang berharga."
"Dan menurut tim ekspedisi, jumblah goblin tahun ini 10 kali lipat dari sebelumnya."
Para penduduk, kesatria pelindung, dan para prajurit menatap Vali, mendengar setiap kata raja mereka dengan seksama.
Setiap kata yang Vali ucapkan membuat hati mereka bergetar . Hampir setengah dari penduduk Aldora adalah penduduk lama yang telah merasakan beberapa kali invasi goblin.
Banyak orang yang kehilangan teman, kekasih, dan keluarga selama invasi itu. Bagi penduduk Aldora, teror goblin bahkan lebih menakutkan daripada kedatangan Naga.
Namun, banyak orang merasa kalau Vali tidak sedang menakuti mereka, terutama saat mendengar begitu banyak pujian untuk Aldora.
Lalu, mereka melihat Vali menghela nafas lalu melanjutkan dengan ekspresi agak muram.
"Saya tahu kalian merasa cemas, takut, tak berdaya saat mendengar berita ini. Bagaimanapun, jumlah mereka lebih banyak dari kita."
"Dan... Saya juga tahu pengalaman kalian semua."
"Apa yang terjadi tahun lalu. Tentang bagaimana kalian berjuang sendiri, kehilangan teman, kekasih dan bahkan keluarga tercinta."
"Aku tahu apa yang kalian khawatirkan."
Setiap kalimat yang di ucapkan Vali bagai pisau tajam yang membuka luka lama setiap penduduk Aldora. Pria, wanita, maupun anak anak kenundukan dengan tangan terkepal.
Kemudian, di saat semua orang menjadi emosional. Suara Vali kembali bergema,
"Tapi ada satu hal yang perlu kalian tau."
"AKU TIDAK AKAN BERLARI SENDIRI!"
Vali menaikan volume suaranya, hampir seperti berteriak. Suaranya yang lantang berhasil membuat semua orang mengangkat kepala mereka.
"Kalian tidak ditinggalkan, kalian tidak sendirian, setiap jiwa yang berdiri tanah ini adalah bagian dari Aldora, kalian adalah saudara saudaraku yang tercinta!"
"Aldora masih membutuhkan kalian, aku membutuhkan kalian!"
"Aku dan prajuritku akan melindungi Aldora."
"Aku, Vali Alvector, bersumpah tidak akan membiarkan setetes darah pun jatuh dari tubuh rakyat Aldora!"
"Singkirkan rasa takutmu. Tidak perlu merasa cemas. Nasib kalian ini tidak sama seperti dulu, KARENA AKU RAJANYA SEKARANG!!"
To be continued...
[A/N: saya memakai dua POV secara bergantian di novel ini, apakah itu nyaman dibaca? Tolong di jawab supaya saya bisa menyesuaikannya nanti.]
