Cherreads

I'm a King Playing a Presidential Simulator in Another World?!

Thig_ist
--
chs / week
--
NOT RATINGS
2.3k
Views
Synopsis
Reincarnated as the King of an Imperial State Destined to Fall!? This Is Bad!! What Am I Supposed to Do? . . . What!? A horde of goblins is about to attack?! Damn it! There’s no way I’m going to survive this! [Loading...] Huh?? What is this? I have a cheat ability? But what the hell is this cheat? Isn’t this the simulation game I played yesterday? A Presidential Simulator? Please! This is a world filled with magic and monsters! What the hell is a president supposed to do here? [Ding! Greetings, Honorable Mr. President. I am Lara, your Super AI. Sufficient resources have been secured. Would you like to construct a Level 1 Weapons Factory now?] [Level 1 Weapons Factory: Capable of producing 100 Kar98k rifles and 1,000 rounds of ammunition per day.]
VIEW MORE

Chapter 1 - 1. Pangeran ke-3

Membuka mata, sungguh aneh.

Tidak ada plafon putih polos yang biasa kulihat saat bangun tidur, tidak ada juga buku komik yang semalam aku baca.

Dihadapanku sekarang adalah sebuah aula seluas 20 meter persegi dengan lantai marmer putih.

Lantainya sudah usang, namun memberiku perasaan kontras antara megah dan ketinggalan zaman pada saat yang sama.

Karpet merah panjang tergelar lurus dari pintu setinggi 3 meter hingga ke singgasana tempatku duduk.

Aneh sekali, kenapa aku duduk di sini? Apakah aku masih bermimpi? Kenapa suasananya sangat nyata?

Dan karpet merah itu membuatku salah fokus, hanya kain usang namun seperti memisahkan dua dunia yang berbeda.

Di sebelah kanan, 10 orang berdiri tegak dengan aura ganas, masing masing memakai armor besi dan pedang tergantung di pinggang mereka, orang orang itu menatapku hormat dengan mata mereka yang setajam elang.

Postur seperti itu, tatapan fokus itu, aku hanya pernah melihatnya dari tatapan instruktur militer yang mengunjungi sekolahku dulu saat SMA.

Di sebelah kanan terlihat jauh berbeda, 5 orang berdiri dengan pakaian rapih dan elegan. Mereka terlihat sudah di usia paruh baya, beberapa orang bahkan mengenakan kacamata menunjukan kalau penglihatan mereka sudah berkurang.

Tak terkecuali, semuanya memancarkan aura yang tenang disekelilingnya.

Pakaian mereka terlihat seperti sarjana Yunani kuno yang aku lihat dalam lukisan di museum.

"Yang mulia, gerombolan goblin hampir tiba di gerbang timur, situasi ini berbahaya, mohon ikut dengan kami untuk pergi ke kota Blackstone terlebih dahulu!"

"Ya, ibu kota ini sudah tidak aman! Saat goblin tiba, pasukan kita tidak akan mampu mempertahankannya!"

Dua orang dari sisi kiri berbicara dengan cemas. Drud dan Anna, nama kedua orang asing itu terlintas di kepalaku begitu saja.

Kemudian, serangkaian ingatan asing menyerbu kepalaku, bagai tetesan air hujan di malam hari, dinginnya menusuk hingga ke tulang belakang.

Vali Alvector? Lahir dari ibu bernama Vania Arthanea, Hah? Benua Ember tahun 1850 kalender Jamea?

Pada usia 5 tahun, mulai belajar membaca dibawah bimbingan ibu dan mahir setelah 2 tahun kerja keras.

Pada usia 10 tahun, mulai belajar sihir dibawah bimbingan langsung penyihir kerajaan namun ternyata bakatku biasa saja?

Elemen api: Bulu api.

Elemen air: Tombak air.

Pada usia 15 tahun, karena hanya bisa mempelajari dua sihir level C, latihan berpedang pun dimulai dibawah bimbingan kesatria perak.

Teknik ayunan dasar, tebasan lurus ke depan, tebasan sabit, tusukan depan, tangkisan.

Teknik berpedang sangat melelahkan, dan aku lebih suka menyendiri di perpustakaan jadi aku hanya memiliki sedikit teman bermain?

Hmm? Karena bakatku yang buruk dalam sihir dan pertarungan, aku dijuluki "Slime Emas" oleh saudara-saudaraku? Kenapa plot ini klise sekali? Dan kenapa aku suka membaca? Jujur saja, aku sudah cukup membaca waktu sekolah dulu!

"Ugh..."

"Jadi begitu, aku bereinkarnasi ke dunia ini tapi baru memulihkan ingatanku sekarang."

"Pangeran ketiga kekaisaran Alvector, lemah dan tidak berbakat, tidak disukai oleh kerabat dan bahkan ayah sendiri."

"Dan sekarang aku berusia 20 tahun, sesuai tradisi kekaisaran, para pangeran akan di kirim ke berbagai negara bawahan untuk menjadi raja disana."

"Plot yang tidak asing, bukankah selanjutnya raja akan mati dan para pangeran akan berperang untuk menjadi Raja?"

Setelah mencerna ingatan 20 tahun kehidupan ku didunia ini, aku menghirup udara dingin dan menjadi sedikit panik.

Meskipun aku bukan anak sejarah, tapi bukankah persaingan pangeran untuk memperebutkan tahta adalah hal yang diketahui semua orang?

Romawi kuno, perang 3 kerajaan di Tiongkok, dan banyak lagi, bukankah itu terjadi karena pangeran di kirim keberbagai wilayah untuk menjadi raja?

"Yang mulia!?"

"Ayo kita pergi dulu, jangan pikirkan kota ini."

Teriakan cemas membuyarkan pikiranku, aku menunduk, menatap kesatria yang telah menemaniku selama beberapa tahun di tempat ini dengan tak berdaya.

Aku tahu kenapa mereka sangat cemas. Tempat aku aku berada saat ini disebut [Benteng Aldora] sebuah wilayah yang berada berasa di bagian Utara kerajaan Alvector.

Yang paling penting, negara ini juga berbatasan langsung dengan hutan Sien, hutan monster terluas dan paling berbahaya di benua Ember.

Setiap musim dingin, goblin, monster yang tidak berbulu, akan bermigrasi dari hutan Sien untuk mencari wilayah hangat.

Goblin adalah monster humanoid, jadi keserakahan yang secara alami tertanam dalam jiwa mahluk humanoid juga dimiliki oleh mereka.

Dalam perjalan migrasi itu, goblin akan merampok permukiman yang mereka temui, seperti bandit tanpa kecerdasan yang hanya tahu merampas tanpa meninggalkan apapun.

Karena hal itu juga, wilayah tempat aku kuasai saat ini menjadi wilayah paling mundur, kumuh dan tidak terawat dari semua wilayah yang dialokasikan kepada para pangeran.

Sekilas, aku tahu kenapa sang Raja memberiku wilayah ini. Lagipula, ibuku bukanlah ratu melainkan hanya istri ketiga yang tidak tertulis dalam buku kerajaan.

Berdasarkan pengalamannya dalam membaca buku sejarah, hal ini pasti ada kaitannya dengan ratu, ibu pangeran pertama.

Menurut ingatan yang baru aku bangunkan, aku tahu kalau pangeran pertama sekarang di tempatkan di negara Seakath, negara yang hanya berjarak 300 kilometer dari kerajaan Alvector.

Sebuah wilayah yang masih bisa dilihat oleh pusat pemerintahan, memiliki ekonomi yang kuat karena berada di jalur emas pedagangan 5 negara bagian.

Sangat jelas kan? Bagaimana aku bisa berakhir di tempat yang seburuk ini?

Tapi aku tidak terus bergerumul dengan pikiran itu, yang paling penting sekarang adalah nyawaku.

"Baiklah, ayo kita pergi!"

Aku berdiri dari singgasana, turun dan berjalan menuju pintu aula.

Yang terpenting sekarang adalah nyawaku sendiri, lagipula, mungkin kurang dari 3 hari lagi ribuan Goblin akan tiba di benteng.

Dari ingatan diriku di dunia ini, pasukan yang aku miliki kurang dari 1000 orang dan hanya ada 5 penyihir rank B dan 20 rank C yang siap tempur.

Kedengarannya banyak untuk sekedar melawan goblin yang hanya beberapa persen lebih kuat dari manusia biasa.

Tapi situasi saat ini cukup mengerikan, tahun ini goblin mengalami ledakan populasi hingga 10 kali lipat dari tahun tahun sebelumnya.

Karena itulah para kesatria meminaku mengungsi ke kota lain, karena bencana goblin yang biasanya masih bisa kendalikan kini menjadi ancaman yang hampir mustahil di lawan oleh pasukan yang aku miliki sekarang.

Tahun lalu, goblin yang bermigrasi diperkirakan berjumlah 1000 ekor, 10 kali lebih banyak dari itu, bahkan formasi 5 penyihir rank B akan mengalami pengorbanan sia sia!

....

"Baik, yang mulia!"

Para kesatria pelindung berkata serempak lalu membentuk formasi segitiga di sekitar Vali, seolah ingin melindungi pemuda itu dari segala marabahaya.

Salah satu kesatria itu adalah Anna, satu satunya kesatria wanita yang ditugaskan untuk melindungi Vali.

Dia merasa lega saat Vali akhirnya berhasil di bujuk.

Mau bagaimana lagi, sebelumnya, Vali selalu kekeh untuk tetap tinggal dan mempertahankan ibu kota.

"Yang mulia, tolong tunggu sebentar!"

"Kita tidak bisa pergi begitu saja, rakyat Benteng Aldora masih membutuhkan kita!"

Pada saat ini, seorang pria dari sisi kanan mulai berbicara dengan panik.

Wajahnya dipenuhi kesalehan, dengan wajah cemas, memohon pertolongan untuk rakyat biasa.

"Hah? Apa maksudmu?"

"Jalankan saja protokol darurat, kenapa repot repot memberitahuku hal sepele ini?"