Di bawah langit malam yang dalam,
cahaya bulan menyelimuti Desa Batu dengan kilau pucat yang tenang.
Di tepi desa seekor makhluk besar berwarna putih berdiri anggun.
Bulu-bulunya memanjang hingga lima atau enam meter, bersih tanpa noda, memantulkan cahaya seperti salju abadi.
Makhluk itu dikenal sebagai Caldirus dari ras Phoenix salju. Ia tidak berjalan di tanah. Tubuhnya melayang beberapa inci di atas permukaan, seolah-olah dunia tidak mampu sepenuhnya menahannya.
Di atas punggungnya, beberapa sosok berdiri. Dua di antaranya adalah burung kecil kembar, mereka halus seperti ukiran giok, kulit mereka bersinar lembut di bawah cahaya bulan.
Mata mereka jernih dan hidup.
Dahulu telur mereka ditemukan tim pemburu saat sedang keluar desa
Tanpa ada yang tahu dimana induknya
Mereka membawa dan berusaha menjaga tumbuh sampai cukup mampu bergerak sendiri untuk hidupnya
Namun sekarang setelah bertemu dengan induk mereka, mereka kembali ke habitatnya masuk hutan belantara.
Saat ini Mereka melambaikan sayap tangan kecil mereka ke arah desa.
"Selamat tinggal!"
Suara mereka terdengar sangat ringan,
namun membawa kehangatan.
Penduduk desa membalas dengan senyum. Dalam beberapa saat
Caldirus itu bergerak.
Tanpa suara. Tanpa hentakan.
Ia meluncur perlahan, lalu semakin cepat, meninggalkan jejak cahaya putih di kegelapan.
Tak lama kemudian ia menghilang di balik hutan pegunungan yang jauh.
"Jangan lupa!" Suara nyaring tiba-tiba memecah suasana.
Dia lah sikecil Xiao Xuan berdiri di depan,
melambaikan tangannya dengan semangat.
"Kalau kembali nanti—
bawa susu dari Macan Tutul Bertanduk Salju dan Gajah Beku Kuno!"
—
Untuk sesaat hening.
Lalu tawa meledak di seluruh desa.
"Lihat itu!"
"Si kecil lagi-lagi memikirkan susu!"
Anak-anak lain mulai mengejek dengan riang.
"Si kecil empat tahun masih tidak bisa berhenti minum susu!"
Xiao Xuan memerah.
Wajahnya seperti apel matang.
"Aku hanya… ingin mencicipi sedikit saja!" bantahnya pelan.
"Aku dengar itu berbeda… bukan berarti aku benar-benar ingin minum!"
Namun kata-katanya justru membuat tawa semakin keras.
Beberapa orang dewasa mendekat,
mengusap rambutnya,
bahkan mencubit pipinya dengan gemas.
Malam yang sebelumnya tegang
perlahan berubah hangat.
Seolah-olah semua bahaya yang baru saja berlalu…
tidak pernah benar-benar terjadi.
Namun itu hanya di permukaan.
Semakin larut malam suasana berubah.
Langit menjadi lebih gelap.
Gunung-gunung tinggi menjulang seperti bayangan raksasa, membungkus dunia dalam keheningan yang berat.
Dari kejauhan
raungan makhluk buas terdengar.
Suara itu bergema di antara lembah dan tebing,.mengingatkan semua makhluk hidup akan satu hal dunia di luar sana…
tidak pernah benar-benar damai.
Namun di tengah kegelapan itu
terdapat satu tempat yang berbeda.
Desa Batu.
Di pusatnya, berdiri sebuah pohon hitam yang hangus. Batangnya tua dan retak,
seolah-olah pernah terbakar oleh sesuatu yang tidak dikenal.
Namun anehnya satu cabang masih hidup. Daunnya berkilau lembut,
memancarkan cahaya redup seperti napas kehidupan yang tersisa.
Cahaya itu menyebar perlahan,
membentuk lapisan tak terlihat yang menyelimuti seluruh desa.
Menghalangi kegelapan.
Mengusir ancaman.
Menjadikan tempat itu
sebuah pulau kecil ketenangan di tengah lautan bahaya.
Xiao Xuan berdiri di bawah cahaya itu.
Ia menatap ke arah hutan yang telah menelan hilangnya Caldirus dan lainnya
Untuk sesaat
matanya tidak lagi seperti anak kecil.
Ada sesuatu yang lebih dalam di sana.
Seolah-olah ia bisa merasakan
bahwa dunia di luar sana…
tidak hanya luas.
Tetapi juga…sangat berbahaya.
Angin malam berhembus pelan.
Dan dalam keheningan itu
tidak ada yang menyadari bahwa
resonansi halus di dalam tubuh Xiao Xuan… kembali berdenyut
Pagi pun telah tiba, cahaya matahari jatuh lembut di halaman Desa Batu.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya,
anak-anak tidak hanya berdiri untuk melatih tubuh mereka.
Kedisiplinan Anak-anak Di Desa begitu luar biasa, Sehingga tidak perlu repot berbicara soal latihan rutin di pagi hari
Karena pada dasarnya mereka sudah dibina bahwa demi menghadapi segala kemungkinan terburuk terjadi setidaknya tubuh mereka telah siap menerima itu.
Saat ini Di hadapan mereka
berjejer berbagai jenis senjata.
Pedang, tombak, kapak, busur, bahkan beberapa alat musik sederhana.
Beberapa terlihat berat dan kasar.
Beberapa lainnya tampak halus dan indah. Namun di mata para tetua dan orang dewasa mereka semua sama hanya saja kegunaan nya yang berbeda
Para Tetua dan Kepala Desa pun tiba
Didepan anak-anak . Salah satu Tetua
Bernama Lin Yuan Melangkah lebih dulu
"Semua hal memiliki spritualitas .
Ketika suatu objek mencapai tingkat surgawi seperti Batu, kayu, besi dan semuanya demikian itu akan mendapatkan spritualitas nya sendiri. Seiring berjalannya waktu spritualitas nya akan terus-menerus meningkat hingga mencapai ketinggian tak terhingga. Setelah beberapa waktu dan mengalami perubahan kuantitatif itu akan memiliki tingkatan otonomi tertentu. Layaknya seperti sedang dalam proses bertumbuh dewasa"
Suasana langsung hening.
Beberapa anak saling memandang.
Kepala Desa Lin Feng menyambung dari samping
"Sejak Dahulu kala, Senjata bagi seorang kultivator melambangkan kebanggaan nya, ada banyak sekali orang memilih senjata yang cocok dengan mereka sehingga tak terhitung banyak jumlahnya teknik-teknik muncul sepanjang sejarah zaman.
Inilah juga awal sebuah akademi atau pembelajaran bermunculan diluar sana Sebagai bahan untuk meneruskan sebuah metode dan warisan dari teknik-teknik yang telah muncul pada generasi penerusnya. Tapi ketahuilah tidak mudah menciptakan hal yang bersifat baru .
Namun tetap, berbagai metode yang telah ada dibawah langit dalam arti tertentu memiliki kesan yang sama .
Yah benar , Masing-masing dari mereka bertujuan agar metode itu tidak hilang ditelah dan terkubur oleh Zaman.
Sebagian besar metode yang ada
pada dasarnya memiliki akar yang sama
Karena semuanya berasal dari pemahaman yang sama terhadap Dao
"
Tetua Lin Xin berkata
"Baik itu berbagai senjata ataupun alat musik tidak lain mereka hanyalah media
Alat untuk digunakan para kultivator
Yang penting bukanlah bentuknya
melainkan bagaimana kalian menggunakannya."
"Dan ingatlah, Ketika sampai pada keadaan bertempur untuk waktu yang lama, kalian akan memahami karakteristik lawan anda .
Namun semakin lamanya waktu dalam pertempuran sehingga berlarut-larut itu menyebabkan semakin sulit untuk mendapatkan hasil yang jelas dalam Pertempuran. Lalu pada akhirnya siapapun yang terlebih dahulu melihat celah lah yang akan keluar sebagai pemenangnya "
Anak-anak yang berkumpul pun mendengar kan dengan seksama dan bersamaan menganggukkan kepalanya
"Kesampingkan penggunaan Alat Musik Suara dalam bentuk alat dari kultivator karena penerapan penggunaan berbeda dalam bentuk awal sebagai senjata.
Namun Pengetahuan Teknik Dasar adalah sesuatu yang harus diperhatikan pada penerapan penggunaan Senjata.
Layaknya seperti identitas perkenalan
Untuk menggunakan senjata"
Tetua Lainnya menambahkan
"Sejatinya ada delapan penerapan sebagai bentuk awal menggunakan senjata, seperti menebas , menyapu , memotong, menusuk , menerobos ,
pare ,skim dan menusuk .
Akan tetapi dibandingkan jika hal itu sudah menyentuh pembelajaran metode teknik ketika kalian mulai memahami teknik Senantiasa gerakan itu akan berubah Maka akan mendapatkan beberapa kesan seperti berat dan ganas , meskipun beberapa dari metode juga menghasilkan kesan lembut namun mematikan lawannya"
Saat ini Beberapa anak menelan ludah.
"Adapun yang perlu diperhatikan
Ketika tiba serangan pertama itu selalu bergantung pada gerakan pengguna.
Lalu dilanjutkan gerakan kedua terkadang bergantung pada gerakan anggota tubuhnya. Jikapun tiba suatu keadaan sulit saat serangan tiba maka
Sesuaikan lah mulai dari gerakan kakinya. Ingatlah sebagai Calon Penggunaan Senjata kalian semua harus
Tahun tahap-tahap ini meskipun diantara kalian harus terus-menerus mengulangi"
Pada dasarnya beginilah arti khusus
Sebuah Nama bergelar Guru ,
Dengan memilih kata-kata sederhana
Akan ada anak-anak dalam proses bertumbuh memahami nya dengan baik
Hukum Rimba hanyalah setengah Benar
Dikatakan bahwa ada pohon-pohon kecil dinaungi oleh Pohon Besar namun sebelum pohon-pohon kecil itu meninggi dan menjulang ke langit lalu dihadapkan bahaya sendirian itu nantinya .
Bagaimana bisa mereka berkembang tanpa perlindungan dari pohon besar?
Sekarang Tetua Lin Yuan tersenyum tipis. "Banyak orang berkata—
dunia ini hanya tentang hukum rimba."
"Yang kuat bertahan.
Yang lemah tersingkir."
Ia menggeleng pelan.
"Itu hanya setengah benar."
"Pohon kecil tidak bisa tumbuh tanpa naungan pohon besar. Dan tanpa perlindungan mereka tidak akan pernah mencapai langit."
Beberapa anak menunduk pelan.
Kepala Desa Lin Feng berkata
"Jika tiba kalian sampai pada kontrol energi dari sebuah senjata maka itu sudah masuk pembelajaran lebih dalam
Dan Adapun mereka sudah membentuk sebuah Senjata dalam energi yang dihasilkan nya maka tahapnya sudah luar biasa dalamnya, sehingga Jika terjadi suatu keadaan yang sulit,
kalian masih bisa memiliki alternatif demi mewujudkan kemungkinan hasil yang baik dalam pertempuran meskipun itu kelak hancurnya senjata ataupun tidak memungkinkan keadaan memegang senjata kalian saat itu"
Angin pagi berhembus pelan.
Anak-anak berdiri diam,
mencerna semua yang mereka dengar.
Bagi mereka ini bukan sekadar pelajaran.
Melainkan pengenalan terhadap dunia yang lebih luas.
Di antara mereka
Xiao Xuan memegang sebuah potongan kayu kecil. Ia tidak bergerak.
Namun di dalam dirinya
darahnya berdenyut pelan.
Seolah-olah…
merespons sesuatu.
Tidak pada senjata.
Melainkan pada… prinsip di baliknya.
Para tetua meliriknya sekilas.
Tatapannya dalam.
"Jalan setiap orang… berbeda."
Ia berbicara pelan, namun cukup untuk didengar semua orang.
"Yang penting bukan senjatanya."
"Melainkan… jalan yang kalian pilih."
Matahari semakin tinggi.
Dan untuk pertama kalinya anak-anak itu tidak hanya belajar bertarung.
Mereka mulai memahami
mengapa mereka harus bertarung.
