Cherreads

Chapter 4 - Part 4

"Kalau ngomong ya ngomong. Jangan main tangan!" ujar Elisa dengan mata penuh kemarahan.

"Beraninya kamu menendangku. Apa kamu tahu apa statusku di rumah keluarga Wangsa?" tanya Rado dengan penuh kemarahan.

"Yang aku tahu kamu dan Michael hanyalah anak adopsi dari keluarga Wangsa. Apa yang harus dibanggakan?" jawab Elisa dengan santai sambil menarik teman baiknya pergi dari sana.

'Sial! Mereka memang tidak bisa diandalkan!' batin Linda.

"Bang...apakah benar kalau abang hanyalah anak angkat?" tanya adik kelas Rado yang lain yang ingin tahu apakah itu benar.

"Itu bukan urusanmu! Pergi kamu!" usir Rado dengan kasar yang membuat adik kelasnya ketakutan. Di 1 sisi dia merasa dipermalukan oleh Elisa yang sudah membongkar jati dirinya di hadapan teman-temannya yang lain.

"Bang, abang jangan rendah diri ya. Aku akan tetap menganggap abang sebagai abang kandungku sendiri." ucap Linda dengan penuh kepura puraan.

"Iya. Makasih ya, dik. Kamu tidak memandang rendah abangmu ini." puji Rado sambil membelai halus kepala adiknya.

Jam pelajaran berakhir yang menandakan sekolah pun berakhir. Elisa pun keluar dan melihat supir yang diaturkan oleh ayahnya telah menunggu didepan. Dia pun mengajak sahabat baiknya yang kemudian ditolak halus dan Elisa pun pulang sendiri.

"Pak, hari ini Jonathan pulang?" tanya Elisa.

"Gak tahu, nona. Coba tanya saja pada paman. Dia harusnya lebih tahu." jawab supir berbaju safari itu dengan sopan.

Sementara di kantor Jonathan sedang menyelidiki latar belakang putrinya selama ini. Didapati kalau sejak berusia 1 tahun, Elisa diculik dan sempat dijual ke beberapa negara sampai akhirnya berakhir di panti asuhan dan diasuh oleh keluarga Wangsa yang dikiranya adalah keluarga kandungnya, tapi ternyata bukan.

Elisa yang sedang belajar untuk ujiannya tiba-tiba merasa lapar dan dia pun bangun untuk mencari makan di kulkas yang hanya tersedia 1 kotak kecil susu dan sandwich. Dia pun mengambilnya.

"Tek! Elisa!" panggil ayahnya dengan kaget. "Kamu lapar ya?" tanya Jonathan setelah melihat apa yang dipegangnya.

"Iya." jawab Elisa seadanya.

"Ya udah. Ayo kita makan diluar. Aku juga belum makan dari tadi." ajak Jonathan beralasan yang membuat putrinya mengikuti ayahnya dari belakang dan mereka menuju sebuah restoran mewah.

"Selamat malam tuan Jonathan. Silakan dipilih mau makan apa." ujar seorang pelayan sambil menyodorkan menu pada pelanggan tetapnya itu.

"Ayo dipilih. Kamu mau makan apa?" tanyanya pada putrinya sambil memberikan menu.

"Hmmm! Aku pilih ini, ini dan ini. Makasih!" ucap Elisa sambil menunjukkan makanan yang diingininya.

"Itu bukan makanan bergizi. Pantesan aja kurus!" ejek ayahnya. "Aku pesan sapi lada hitam, udang mayonaise dan bayam. Itu saja!" tunjuk Jonathan pada menu.

"Baik tuan. Mohon ditunggu sebentar." ujar pelayan tersebut sambil membawa buku menu itu menuju dapur dan tak berapa lama makanan pun keluar.

"Ayo dimakan dagingnya. Ini yang paling terkenal disini lho." puji Jonathan sambil mengambilkan sapi lada hitam ke piring anaknya.

"Huek! Maaf! Tapi aku tidak bisa memakan daging. Aku akan muntah kalau makan daging. Sekali lagi maaf." sesal Elisa yang mendatangkan tanda tanya di benak ayahnya apa yang terjadi pada putrinya itu.

Selagi ayah dan anak itu bercengkrama, mendadak datanglah Suryo dan Michael ke restoran.

"Lisa, apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu bisa dengan dia?" tanya Suryo dengan penasaran.

"Apa urusanmu?" ketus Elisa.

"Apa urusanku? Aku ini ayah angkatmu, Lis. Apa begini hormatmu pada ayah yang sudah membesarkanmu?" jawab Suryo dengan nada marah sambil memegangi bahu anak angkatnya dengan keras.

"Aku ayah kandungnya!" jawab Jonathan sambil mendorong Suryo untuk menjauh dari anaknya.

"Apa? Kamu ayah kandungnya?" tanya Suryo dengan nada tak percaya.

"Hasil DNA sudah aku kirim ke emailmu. Kamu lihatlah sendiri! Ayo nak, kita pulang!" ajak Jonathan sambil menggandeng tangan anaknya yang membuat ayah dan anak itu hanya bengong.

Sesampainya di kediaman Jonathan, sebuah mansion megah bergaya minimalis modern di kawasan elit, Elisa tampak menciut. Rumah itu terlalu besar, terlalu bersih, dan terlalu asing baginya. Lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangannya yang masih mengenakan seragam sekolah sederhana.

"Selamat datang di rumah, Nak!" ucap Jonathan lembut, mencoba menghilangkan kecanggungan. Ia menggandeng tangan Elisa masuk. "Ini sekarang rumahmu juga. Tidak ada aturan ketat di sini. Kau bisa tidur sampai siang, makan apa saja yang kau mau—kecuali mungkin kita perlu diskusi soal menu nanti—dan melakukan apapun yang membuatmu bahagia."

Elisa hanya mengangguk kecil. Perutnya kembali keroncongan, mengingat kejadian di restoran tadi. Rasa mual saat melihat daging sapi masih menghantuinya. Jonathan yang peka segera menangkap gelagat itu.

"Max!" panggil Jonathan pada kepala pelayannya yang sudah menunggu di ruang tengah. "Siapkan kamar tamu utama di lantai dua untuk Nona Elisa. Pastikan suhu ruangan nyaman, selimutnya tebal, dan... siapkan bubur hangat dengan kaldu sayuran. Tanpa daging. Ulangi, tanpa sedikitpun daging atau produk hewani di dalamnya."

"Baik, Tuan Jonathan!" jawab Maks sigap.

Malam itu, Elisa duduk di tepi tempat tidur empuk yang jauh lebih luas dari kasur lipat yang biasa ia pakai di rumah Wangsa. Jonathan duduk di kursi sampingnya, menatap putrinya dengan pandangan penuh penyesalan.

"Elisa! Ayah ingin bertanya sesuatu. Tadi di restoran ... kenapa kau tidak bisa makan daging? Apakah kau alergi?" tanya Jonathan pelan.

Elisa menunduk, jari-jarinya memilin ujung selimut sutra. Ingatan kelam itu menyerbu kembali. Bukan alergi, melainkan trauma mendalam yang tertanam di alam bawah sadarnya sejak usia balita.

"Bukan alergi, Pa. Dulu ... saat aku diculik dan dijual ... aku pernah dikurung di sebuah gudang gelap di perbatasan negara. Pemiliknya ..... mereka memberi makan kami hanya sisa-sisa daging busuk yang mereka paksa masuk ke mulut kami. Jika kami menolak atau muntah, mereka akan memukul kami lebih keras. Selama tiga bulan, aku hanya memakan daging bangkai itu agar tetap hidup. Sejak saat itu, setiap kali aku mencium bau daging matang atau melihat teksturnya, otakku langsung mengingat bau busuk itu dan rasa dipukuli. Tubuhku otomatis menolaknya." bisik Elisa, suaranya bergetar.

Jonathan terdiam. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar cerita itu. Bayangan seorang balita mungil, putri kandungnya sendiri, dipaksa memakan daging busuk sambil dipukuli, membuat darahnya mendidih sekaligus hancur lebur. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang harus ditanggung Elisa kecil dulu.

"Maafkan Ayah! Ayah terlambat ... Ayah seharusnya ada di sana untuk melindungimu. Mereka ... mereka monster! Aku akan pastikan mereka yang menyakitimu dulu, jika masih hidup, merasakan neraka yang sesungguhnya." isak Jonathan, air mata pria tegap itu akhirnya tumpah. Ia memeluk Elisa erat-erat, seolah ingin melindungi gadis itu dari seluruh kejahatan di dunia ini.

Elisa membalas pelukan ayahnya, merasakan kehangatan yang selama ini ia cari-cari. "Sudah, Pa. Sekarang aku sudah aman. Bersama Papa, aku lupa semua itu perlahan-lahan."

Mereka terdiam dalam pelukan itu cukup lama, menyembuhkan luka batin masing-masing. Setelah Elisa terlihat lebih tenang dan mulai menikmati bubur hangatnya, Jonathan berubah sikap. Wajahnya yang tadi lembut kini kembali menampilkan ekspresi sang CEO yang tak tergoyahkan.

"Tidurlah yang nyenyak, Nak. Besok adalah hari baru. Dan besok juga, Ayah akan mulai membereskan segala kekacauan yang dibuat oleh keluarga Wangsa. Nama baikmu akan Ayah bersihkan. Tidak akan ada lagi yang berani menyebutmu anak pungutan atau merendahkanmu." ucap Jonathan sambil mengecup kening Elisa.

Keluar dari kamar Elisa, Jonathan langsung menuju ruang kerjanya. Ia menghubungi kepala keamanan siber Surya Group dan tim pengacara terbaiknya.

"Dengarkan aku! Aku mau audit forensik total terhadap semua perusahaan yang berafiliasi dengan nama Suryo Wangsa. Cari celah hukumnya, cari bukti penggelapan pajak, cari bukti pelanggaran hak asasi manusia jika ada. Aku ingin dalam waktu 24 jam, semua aset mereka dibekukan. Aku ingin surat pemutusan kerja sama dari semua mitra bisnis terkirim pagi ini juga. Hancurkan mereka secara legal, hancurkan sampai tidak tersisa." pinta Jonathan melalui telepon konferensi.

"Siap, Tuan Jonathan!" jawab para bawahannya serempak, menyadari nada serius atasan mereka.

Jonathan kemudian membuka laptopnya, mengetik surat pribadi kepada kepala yayasan panti asuhan tempat Elisa dulu berada. Ia berencana menyumbangkan dana besar untuk renovasi panti tersebut dan memberikan beasiswa penuh bagi semua anak di sana, sebagai bentuk tebusan dosa karena tidak bisa menyelamatkan Elisa lebih cepat.

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi. Namun di dalam mansion itu, suasana terasa hangat. Elisa tertidur lelap untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun tanpa mimpi buruk, tanpa ketakutan akan teriakan Helen atau cubitan Linda. Ia tahu, di lantai bawah, ayahnya berjaga, merancang strategi perang untuk memastikan tidak ada lagi yang bisa menyentuhnya.

Sementara itu, di rumah keluarga Wangsa yang kini terasa dingin dan mencekam, Suryo baru saja tiba. Wajahnya pucat pasi. Helen, Rado, Michael, dan Linda mengerumuninya, menuntut penjelasan.

"Papa! Apa yang terjadi? Kenapa Elisa tidak pulang? Kenapa kamu pulang sendiri?" tanya Helen panik.

Suryo menjatuhkan dirinya ke sofa, menatap kosong ke arah anaknya-anaknya. "Kita sudah tamat! DNA itu asli. Elisa adalah putri Jonathan Suryahadiatmaja. Dan Jonathan ... dia baru saja menyatakan perang terhadap kita." gumamnya lirih.

"Apa maksudnya?" tanya Rado takut-takut.

"Maksudnya, mulai besok, kita tidak punya apa-apa lagi. Rumah ini, perusahaan, uang di bank ... semua akan disikat habis oleh Jonathan sebagai balas dendam atas apa yang kita lakukan pada Elisa." jawab Suryo sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis putus asa.

Linda terduduk lemas, topeng kemunafikannya runtuh. Michael dan Rado saling berpandangan dengan wajah ngeri. Mereka menyadari, kesalahan terbesar dalam hidup mereka bukanlah mengadopsi Elisa, melainkan menyakiti gadis yang ternyata dilindungi oleh naga paling buas di hutan beton ini.

Malam itu, takdir dua keluarga telah berbalik arah sepenuhnya. Keluarga Wangsa memasuki lorong gelap kehancuran, sementara Elisa dan Jonathan memulai babak baru kehidupan yang penuh cahaya, meski dibangun di atas puing-puing masa lalu yang kelam. Perang balas dendam baru saja dideklarasikan, dan Jonathan tidak akan menunjukkan belas kasihan sedikitpun.

More Chapters