Cherreads

Chapter 3 - Test DNA Penentu Nasib

Hujan mulai rintik-rintik turun saat Elisa membanting pintu rumah keluarga Wangsa. Di belakangnya, terdengar teriakan histeris Helen dan tangisan palsu Linda, namun Elisa tidak menoleh. Kakinya melangkah cepat menjauh dari rumah mewah yang selama ini ia sebut "neraka".

"Ke mana aku harus pergi?" gumam Elisa sambil memeluk lengan tubuhnya yang menggigil. Ia tidak punya uang, tidak punya baju ganti, dan hanya memiliki satu tujuan di kepalanya: Jonathan Suryahadiatmaja.

Elisa mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak. Dengan jari gemetar, ia mengetik nama itu di mesin pencari. Jonathan Suryahadiatmaja - CEO Surya Group. Foto seorang pria berwibawa dengan tatapan tajam muncul di layar. Berita menyebutkan kantor pusatnya berada di Menara Surya, gedung tertinggi di kawasan bisnis, hanya berjarak dua kilometer dari sini.

"Aku harus menemuimu, Papa! Entah kau percaya atau tidak, aku akan membuktikannya." bisik Elisa pada hujan yang semakin deras.

Elisa berlari kecil menembus hujan. Bajunya basah kuyup, sepatunya terciprat lumpur, tapi matanya menyala penuh tekad. Setengah jam kemudian, ia tiba di lobi Menara Surya yang megah. Para satpam sempat menghalangi karena penampilannya yang compang-camping, namun Elisa berteriak lantang bahwa ia memiliki urusan penting dengan nyawa sang CEO, hingga akhirnya ia diizinkan masuk dengan pengawalan ketat menuju lift eksekutif.

Di lantai 45, Jonathan baru saja menyelesaikan rapat panjang. Wajahnya lelah. Saat ia berjalan menuju pintu keluar gedung untuk pulang, ia dicegat oleh seorang gadis remaja yang basah kuyup dan gemetar.

"Tuan Jonathan!" seru Elisa, napasnya tersengal-sengal.

Jonathan berhenti, alisnya bertaut melihat gadis asing yang menghalangi jalannya. "Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu lolos dari keamanan?" tanyanya dingin.

"Aku Elisa! Putri kandungmu!" jawab Elisa lantang, suaranya bergetar namun jelas.

Wajah Jonathan mengerut. Ia pernah menerima banyak penipuan serupa sebelumnya. Wanita hamil palsu, anak-anak mengklaim, semua demi hartanya. "Elisa? Putri kandungku?" tanya Jonathan, nada suaranya penuh skeptisisme dan sedikit geli. "Jangan bercanda, gadis kecil. Aku tidak punya anak. Dan bahkan jika aku punya, dia tidak akan muncul tiba-tiba tengah malam dengan penampilan seperti pengemis!"

"Ini benar, Tuan Jon yang terhormat! Aku punya tanda lahir... aku tahu tentang ibuku..." jawab Elisa menjelaskan, air mata mulai bercampur dengan air hujan di wajahnya.

"Sudah! Pergi dari sini sebelum aku melaporkanmu ke polisi atas tuduhan penguntitan dan penipuan! Max, usir dia!" potong Jonathan tajam yang menandakan kesabarannya sudah habis.

Max, asisten setianya, maju ragu-ragu. "Bos, mungkin..."

"Tidak ada mungkin-mungkin! Keluar!" bentak Jonathan.

Elisa terpaku. Hatinya remuk. Pria yang ia harapkan menjadi penyelamat justru menolaknya mentah-mentah. Namun, kemarahannya membara. "Kamu mau melaporkan aku? Baiklah! Aku yang duluan akan melaporkanmu ke seluruh dunia dengan tuduhan tidak bertanggung jawab! Kamu ayah yang tega membuang anak kandungnya sendiri ke panti asuhan! Kamu biarkan aku disiksa selama 19 tahun!" teriak Elisa, air matanya tumpah deras.

Elisa berbalik dan lari keluar gedung, menangis sejadi-jadinya. Ia tidak peduli arah, ia hanya ingin menjauh dari pria yang begitu dingin itu.

Jonathan berdiri terpaku di pintu kaca. Teriakan Elisa barusan entah kenapa menusuk dadanya. Ada getaran aneh di hatinya, rasa sakit yang tidak wajar mendengar kata "disiksa" dan "panti asuhan".

"Bos, apakah Anda membiarkan dia pergi begitu saja?" tanya Max, memperhatikan perubahan wajah jonathan.

"Habisnya mau bagaimana lagi, Max? Dia pasti penipu!" jawab Jonathan sambil memegangi dada kirinya yang tiba-tiba terasa sesak.

"Tapi Bos, Bagaimana kalau dia memang benar? Bagaimana kalau dia memang anak yang hilang itu? Penyesalan seumur hidup tidak akan bisa dibeli dengan uang." desak Max pelan.

Kata-kata Max membuat Jonathan terdiam. Ia menatap hujan deras di luar. Bayangan gadis itu yang menangis memilukan terus menghantuinya. "Max... siapkan mobil. Kita ikut dia. Awasi dari jarak jauh," perintah Jonathan akhirnya, hatinya gelisah.

 

Di luar, Elisa berlari tanpa arah. Hujan yang tadinya rintik-rintik berubah menjadi badai deras. Visibilitasnya nol. Ia tersandung akar pohon di taman dekat gedung, jatuh terduduk, dan menangis sekeras-kerasnya. Tiba-tiba, ia merasa hujan tidak lagi mengenai tubuhnya. Sebuah payung hitam besar menaunginya.

"Nona Elisa, masuklah ke mobil. Bos menunggu Anda!" ucap Max sambil membukakan pintu mobil mewah yang baru saja berhenti di sampingnya.

Elisa mendongak, bingung. "Dia ... dia mau bertemu saya?"

"Masuk saja, Nona." bujuk Max lembut.

Elisa masuk ke dalam mobil yang hangat. Jonathan duduk di kursi depan, tidak menoleh. "Kita ke Rumah Sakit Pusat Suryahadiatmaja. Sekarang!" perintahnya pada supir.

"Bos, apa kita perlu ..." mulai Max.

"Diam, Max. Lakukan saja!" potong Jonathan. Ia masih belum percaya sepenuhnya, tapi instingnya menyuruhnya untuk memastikan. Jika gadis ini bohong, ia akan menyerahkannya ke polisi setelah diperiksa dokter. Jika benar... Jonathan tidak berani memikirkan kemungkinan itu.

Sesampainya di rumah sakit, tim dokter langsung siaga. Sampel darah diambil dari Elisa dan Jonathan dengan prosedur tercepat. Sementara menunggu hasil awal, Jonathan duduk di ruang tunggu, gelisah.

Namun, takdir sepertinya belum selesai menguji mereka.

Saat hasil tes DNA hampir selesai diproses di laboratorium, Jonathan memutuskan untuk keluar sebentar ke area parkir belakang rumah sakit untuk menghirup udara segar dan menelepon pengacaranya terkait kasus penyerangan yang ia alami minggu lalu. Elisa, yang merasa khawatir, mengikutinya dari kejauhan.

Tiba-tiba, tiga orang pria bertopeng muncul dari kegelapan sudut parkir. Mereka adalah sisa-sisa kelompok pembunuh bayaran yang dikirim rival bisnis Jonathan.

"Jonathan Suryahadiatmaja! Malam ini ajalmu!" teriak salah satu penyerang sambil menghunus pisau.

Jonathan terperangkap. Max sedang tidak ada di sampingnya saat itu. Pisau itu diayunkan lurus ke arah dada Jonathan. Tidak ada waktu untuk bereaksi.

"AWAS!"

Sebuah tubuh mungil menerobos ke depan. Elisa melemparkan dirinya sendiri di antara Jonathan dan pisau itu.

Pisau itu menancap dalam di perut kiri Elisa. Darah segar langsung menyembur, membasahi jas putih Jonathan.

"ELISA!" teriak Jonathan histeris, menangkap tubuh gadis itu yang lemas.

Elisa tersenyum lemah, wajahnya pucat pasi. "Sekarang ... Papa percaya...?" bisiknya sebelum kehilangan kesadaran.

Jonathan gemetar hebat. Rasa sakit yang luar biasa meremukkan hatinya. Ini bukan sandiwara. Tidak ada penipu yang rela mati seperti ini. "DOKTER! BUTUH DOKTER SEKARANG!" teriaknya sambil menggendong Elisa lari masuk ke UGD.

Proses operasi berlangsung tegang. Jonathan mondar-mandir di luar ruang operasi, pakaiannya berlumuran darah putrinya. Satu jam kemudian, Max keluar membawa sebuah amplop hasil tes DNA cepat yang sempat diminta sebelum insiden itu.

"Bos+ Hasilnya keluar. Positif 99.9%. Dia putri kandung Anda." ujar Max dengan suara berat.

Jonathan merosot ke lantai, memegang amplop itu erat-erat sambil menangis. "Anakku ... maafkan Papa ... terima kasih sudah menyelamatkan Papa."

Ketika Elisa akhirnya sadar di ruang pemulihan, hal pertama yang ia lihat adalah Jonathan yang tertidur di sampingnya, menggenggam tangannya erat, dengan mata bengkak bekas menangis.

"Papa!" panggil Elisa lirih.

Jonathan terbangun seketika. "Elisa! Kau sadar? Jangan bergerak, lukamu masih..."

"Aku selamat, Pa. Dan kita sekarang keluarga, kan?" tanya Elisa lemah.

Jonathan memeluknya hati-hati, air matanya tumpah lagi. "Ya, Nak. Kita keluarga. Dan Ayah bersumpah, tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Keluarga Wangsa akan kuhancurkan, dan siapa pun yang mencoba menyentuhmu akan kuberikan pelajaran seumur hidup."

Malam itu, ikatan darah mereka resmi tersambung, dibayar dengan nyaris hilangnya nyawa Elisa. Namun, bagi Elisa, itu harga yang murah untuk mendapatkan kembali cinta seorang ayah yang tulus.

Esok harinya, dengan semangat baru meski tubuh masih lemah, Elisa meminta diantar ke kampusnya. Ia ingin menutup masa lalunya sebagai korban.

Di kampus, Rado, Michael, dan Linda sudah menunggu untuk mempermalukannya lagi, mengira Elisa tidak punya tempat tinggal.

"Dimana lagi kalau bukan kembali ke panti asuhan? Hahaha!" ejek Rado.

Linda maju dengan wajah pura-pura prihatin. "Kak, ayo pulang. Papa janji tidak akan marah."

Elisa tersenyum dingin. "Maaf, aku tidak akan kembali ke neraka itu. Hidupku sekarang sudah bahagia."

"Kurang ajar! Apa itu jawabanmu?" bentak Michael, lalu Rado mencoba menjambak rambut Elisa.

Tanpa berpikir dua kali, Elisa menendang perut Rado hingga terpental. "Jangan sentuh aku! Hidupku sudah berubah. Dan kalian... kalian tidak punya kuasa apa-apa lagi atas diriku."

Semua orang terdiam. Elisa bukan lagi gadis panti yang lemah. Ia adalah putri Jonathan Suryahadiatmaja, dan perang balas dendam baru saja dimulai.

More Chapters