Lantai empat belas terbuka dengan cara yang berbeda dari semua lantai di bawahnya.
Bukan tangga yang mengarah ke atas dan membuka ke ruangan baru. Di lantai tiga belas, di sudut timur laut yang tidak ada selama eksplorasi dua hari lalu, ada sebuah portal — lingkaran cahaya biru gelap yang diameternya cukup untuk satu orang masuk dalam satu waktu, memancarkan resonansi yang Hyun-woo rasakan seperti tekanan di balik tulang dadanya.
"Ini tidak ada dua hari lalu," kata Jun-hee.
"Tidak," konfirmasi Hyun-woo. "Ini dibuat setelah kita pergi."
"Dibuat oleh apa yang ada di atas," kata Ha-eun. Bukan pertanyaan. "Ini undangan."
"Atau perangkap," kata Yeon-ji.
"Keduanya tidak saling eksklusif," kata Hyun-woo.
Yeon-ji menatapnya. "Itu seharusnya membuatku merasa lebih baik tapi tidak."
Hyun-woo masuk pertama.
Portal itu terasa seperti melewati lapisan air yang tidak basah — tekanan dari segala arah selama satu detik penuh, lalu tiba-tiba tidak ada tekanan sama sekali, dan ia berdiri di tempat yang berbeda.
Lantai empat belas bukan ruangan.
Ia adalah ruang terbuka yang tidak seharusnya ada di dalam tower — langit yang terlihat seperti langit sungguhan tapi dengan warna yang salah, abu-abu kebiruan yang tidak cocok dengan waktu manapun dalam sehari. Tanah yang terasa padat di bawah kaki tapi terbuat dari sesuatu yang bukan batu dan bukan tanah. Dan di kejauhan, struktur yang terlihat seperti bangunan — tapi dibangun dengan logika arsitektur yang tidak mengikuti gravitasi dengan cara yang normal.
Ha-eun masuk setelah Hyun-woo. Lalu Jun-hee. Lalu Yeon-ji yang masuk dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan untuk berkomitmen pada keputusan yang sudah diambil dan tidak akan berhenti di tengah jalan karena tidak ada tempat yang baik untuk berhenti di tengah jalan ketika kamu sudah di dalam portal.
Semua empat orang berdiri di lantai empat belas.
Dan sesuatu menyadari ini.
Bukan gerakan. Bukan suara. Hanya perubahan kualitas udara — seperti tekanan yang sangat halus yang bergerak dari segala arah ke satu titik, dan titik itu adalah tempat mereka berdiri.
Ha-eun menutup matanya.
"Ia tahu kita di sini," katanya pelan. "Dan ia... tertarik. Bukan seperti predator yang menemukan mangsa. Lebih seperti—" Ia berhenti. Mencari kata yang tepat dalam tiga abad kosakata. "Seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari."
"Itu lebih mengkhawatirkan dari predator," kata Yeon-ji.
Hyun-woo tidak menjawab karena ia sudah tahu ini.
Ia merasakannya juga — bukan melalui indra fisik, tapi melalui sesuatu yang lebih dalam. Tekanan yang sama seperti dua malam lalu, tapi kali ini ia bisa merasakannya lebih jelas karena ia di lantai yang sama, bukan satu lantai di bawah dengan batu dan udara sebagai penyangga.
Besar. Lebih besar dari yang bisa ia kalkulasi dengan referensi yang ia punya.
Dan familiar dengan cara yang tidak seharusnya familiar.
"Ia datang," kata Ha-eun.
Dari arah struktur di kejauhan, sesuatu bergerak.
Tidak berjalan — bergerak, dengan cara yang tidak terikat pada konsep lokomotif yang manusia atau makhluk berbadan fisik gunakan. Seperti jarak antara ia dan mereka yang menentukan di mana ia akan muncul, bukan pergerakan fisik melalui ruang.
Satu detik, jauh.
Detik berikutnya, tidak.
Yang berdiri di depan mereka tidak punya bentuk yang konsisten — tapi bukan karena berubah-ubah seperti The Umbral yang pernah digambarkan dalam laporan aliansi. Lebih karena bentuknya terlalu kompleks untuk ditangkap oleh persepsi visual dalam satu waktu. Mata Hyun-woo memproses bagian-bagiannya secara bergantian: tinggi yang tidak pasti, permukaan yang memantulkan cahaya dengan cara yang salah, dan di pusat dari apapun yang menjadi wajahnya —
Mata.
Dua mata. Berbentuk seperti mata manusia tapi dengan iris yang memancarkan cahaya yang warnanya tidak bisa Hyun-woo deskripsikan karena tidak ada dalam spektrum yang punya nama.
Tapi bukan emas.
Sesuatu yang berbeda.
Entitas itu tidak bergerak. Tidak menyerang. Tidak membuat suara. Ia hanya berdiri — dan kehadiran fisiknya saja sudah cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa berbeda.
Jun-hee berdiri dengan tangan di senjatanya tapi tidak menariknya — keputusan yang benar, karena menarik senjata adalah provokasi dan ini bukan situasi yang menguntungkan untuk memulai provokasi.
Yeon-ji berdiri di posisi yang memberi akses ke peralatan evakuasi tanpa terlihat seperti bersiap untuk lari.
Ha-eun membuka matanya dan menatap entitas itu langsung — tanpa gentar, dengan cara seseorang yang sudah bertemu dengan banyak hal yang tidak punya nama selama tiga abad dan sudah belajar bahwa ketakutan adalah respons yang paling tidak berguna dalam situasi seperti ini.
Dan Hyun-woo —
Merasakan sesuatu di balik matanya bergerak.
Bukan tekanan, bukan rasa sakit. Lebih seperti resonansi — seperti dua frekuensi yang berbeda yang tiba-tiba menemukan titik di mana mereka overlap dan menghasilkan sesuatu yang ketiga.
Entitas itu menatap langsung ke Hyun-woo.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di lantai ini, ia membuat sesuatu yang menyerupai suara — tapi bukan dari tenggorokan, bukan dari mulut, bukan dari apapun yang bisa Hyun-woo identifikasi sebagai organ vokal. Lebih seperti suara yang muncul langsung di dalam kepala, tanpa melalui telinga.
Kata-kata dalam bahasa yang tidak Hyun-woo kenali.
Tapi ia mengerti artinya.
Bukan karena ia tahu bahasanya. Tapi karena ada sesuatu dalam resonansi kata-kata itu yang menyampaikan makna secara langsung, melewati semua lapisan terjemahan yang biasanya ada antara suara dan pemahaman.
"Kamu akhirnya kembali," kata entitas itu. "Kami sudah menunggu sangat lama."
Hyun-woo tidak bergerak.
Tidak menjawab.
Di balik mata hitamnya, sesuatu yang sudah lama hanya duduk diam — yang sudah dua kali hampir terbangun — terasa seperti akhirnya membuka matanya sepenuhnya.
Warna mulai berubah di tepi iris Hyun-woo.
Dari hitam —
— ke emas.
Ha-eun melihat ini dari sudut matanya dan tidak mengatakan apapun. Tapi tangannya yang sudah bertumpu di meja batu tiga abad lebih banyak dari tangan manapun di ruangan ini — mengepal sangat pelan.
"Kami?" kata Hyun-woo akhirnya. Suaranya sama tenangnya seperti selalu.
Entitas itu tidak langsung menjawab. Sesuatu dalam cara ia berdiri berubah — bukan postur, tapi kualitas kehadirannya. Seperti sesuatu yang tadinya menahan diri memilih untuk sedikit kurang menahan diri.
"Ada yang lain," kata entitas itu. "Di atas. Yang lebih tua. Yang sudah menunggu lebih lama dari aku."
"Menunggu apa?" tanya Hyun-woo.
"Menunggu jiwa yang cukup matang untuk bicara."
Jun-hee di belakang Hyun-woo menarik napas pelan — sangat pelan, sangat terkontrol. Yeon-ji tidak bergerak sama sekali.
Ha-eun menutup matanya lagi.
Dan dalam kegelapan di balik kelopak matanya yang sudah tertutup, perempuan tiga ratus tahun itu melihat sesuatu yang membuatnya mengerti kenapa penglihatan tiga bulan lalu membuat matanya menangis darah selama tiga hari.
Bukan karena apa yang akan terjadi.
Karena apa yang sudah terjadi — sangat lama yang lalu, di tempat yang jauh sebelum kata "lama" dan "jauh" punya makna yang manusia kenali.
"Hyun-woo," kata Ha-eun pelan. Hanya namanya. Tidak lebih.
Hyun-woo mendengar infleksi di balik namanya itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam percakapan ini, ia merasakan sesuatu yang ia tidak biasanya kenali dalam konteks seperti ini.
Rasa ingin tahu yang tidak bisa ia kendalikan.
"Siapa kamu?" tanyanya ke entitas itu.
Entitas itu — untuk pertama kalinya — membuat sesuatu yang geometrinya menyerupai senyuman.
"Pertanyaan yang lebih baik," katanya, "adalah siapa kamu. Dan kamu belum tahu jawabannya."
Bersambung.....
