Eps 6 : GERBANG YANG TERBUKA
Matahari pagi baru mengintip di ufuk timur. Tapi asrama prajurit sudah lebih dulu bangkit. Riuh. Kacau. Penuh teriakan dan langkah kaki yang bergegas.
Kabar telah menyebar ke seluruh istana: hari ini adalah Perburuan Kerajaan.
Tradisi tahunan. Ajang para bangsawan menunjukkan kehebatan. Pesta pora di hutan buruan yang akan berlangsung selama tiga hari.
Bagi para prajurit rendahan seperti Li Daiwang? Ini artinya tiga hari kerja ekstra tanpa tidur yang cukup.
'Setidaknya... lebih baik daripada berdiri diam di Aula Utama di bawah tatapan Maharani.'
Rama merapikan seragam lusuhnya. Gerakan tangannya otomatis, sementara pikirannya melayang ke tempat lain. Ke benda dingin yang masih menempel di kulit dadanya.
Kalung Giok Darah. Milik Maharani Wei Qingwan.
'Setiap kali aku bergerak, rasanya seperti membawa kepala sendiri di tangan. Bom waktu yang bisa meledak kapan saja.'
Tapi ia tidak bisa memikirkan itu sekarang. Ada hal lain yang lebih mendesak.
'Pesta perburuan... Di cerita asli, di sinilah semuanya dimulai.'
Ingatannya melayang ke halaman-halaman novel "Kebangkitan Sang Jenderal" yang pernah ia baca sambil lalu di kehidupan sebelumnya. Bab 23 sampai 27. Perburuan Kerajaan. Di sinilah Murong Ze memasang jebakan pertamanya yang serius.
Pemanah bayaran. Tuduhan penyerangan. Gu Changfeng dituduh mencoba membunuh salah satu pangeran.
Hasilnya? Klan Gu kehilangan muka. Gu Changfeng dihukum berat. Dan Murong Ze naik satu tingkat lebih dekat ke takhta.
'Kalau kejadiannya sama persis... ini awal kehancuran Klan Gu.'
Rama menghela napas panjang.
'Aku harus cari cara mencegahnya. Tapi bagaimana? Aku hanya figuran. Suaraku tidak didengar siapa pun.'
"Li Daiwang! Melamun apa kau di sana?! Cepat bawa perlengkapan ini ke kereta Tuan Muda Gu!"
Rama tersentak. "I-iya, Komandan. S-segera."
Ia mengangkut kotak-kotak itu. Berat. Tapi anehnya, ujung jarinya yang sekarang lebih sensitif bisa merasakan setiap serat kayu, setiap getaran dari dalam kotak. Getaran logam. Mungkin isinya panah atau perangkap berburu.
'[Sentuhan Ringan]... ternyata berguna juga untuk tahu isi kotak tanpa membukanya. Lumayan.'
Dengan langkah tertatih-tatih khas prajurit rendahan yang tidak punya tenaga lebih, Rama berjalan menuju tempat pemberangkatan.
Di tengah keramaian kuda dan kereta megah, Gu Changfeng berdiri tegak. Wajahnya dingin. Wibawa. Memberi perintah pada anak buahnya dengan suara rendah yang entah kenapa bisa didengar semua orang.
Tapi perhatian Rama teralihkan pada sosok di dekat kereta.
Seorang wanita muda. Gaun biru muda sederhana, tapi pas di badan—menandakan kualitas jahitan yang tidak murahan. Rambutnya diikat rapi dengan hiasan kayu giok. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu di matanya. Ketegasan yang tersembunyi di balik kelembutan.
[Wawasan Dasar] memberinya nama sebelum ia sempat bertanya: Gu Wanqing. Adik perempuan Gu Changfeng. Tokoh pendukung penting. Dalam cerita asli, ia dikorbankan demi melindungi kakaknya.
Pikiran Rama mulai mengalir, tidak terjaga:
'Itu dia Nona Gu... Wanita yang baik. Cantik, cerdas, dan setia pada keluarganya. Sayang sekali... di cerita asli, dia harus menanggung semua akibat kelicikan Murong Ze demi melindungi kakaknya yang keras kepala itu. Kakaknya itu... diberi tahu pasti tidak mau dengar. Terlalu percaya pada kekuatannya sendiri. Aku kasihan melihatnya...'
Rama menggelengkan kepala pelan, melanjutkan langkahnya sambil membawa kotak berat.
Lalu—
Kakinya tersandung batu.
'Sial—'
Keseimbangannya goyah. Kotak di tangannya miring, nyaris jatuh tepat ke arah Gu Wanqing yang berdiri tidak jauh dari sana.
Refleks mengambil alih. Rama menahan kotak itu dengan satu tangan, tapi tubuhnya terus bergerak. Dan dalam kekacauan itu—
Tangannya menyentuh lengan Gu Wanqing.
Kulit. Hangat. Hanya sedetik.
Gerbang terbuka.
Tapi tidak ada yang menyadarinya. Tidak Rama. Bahkan tidak Gu Wanqing—belum.
"Ah! Ma-maafkan saya, Nona! S-saya tidak sengaja!" Rama segera menunduk dalam. Wajahnya dipenuhi kepanikan yang setengah akting, setengah sungguhan. 'Jangan sampai dihukum. Jangan sampai dihukum. Aku tidak butuh masalah tambahan...'
Gu Wanqing menatapnya. Awalnya ia ingin menegur karena kaget, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Prajurit ini sudah cukup ketakutan.
"Ti-tidak apa-apa." Suaranya keluar sedikit terbata—entah kenapa ia merasa sedikit aneh. Seperti ada sesuatu yang baru saja berubah, tapi ia tidak tahu apa. "Hati-hatilah lain kali."
Rama menghela napas lega. 'Untung tidak kena marah.'
Ia segera berlalu, kembali mengangkut beban beratnya.
Gu Wanqing mengawasi punggung prajurit itu menjauh. Aneh. Ia merasa... berbeda. Tapi tidak bisa menjelaskan apa.
'Mungkin aku hanya lelah,' pikirnya, menggelengkan kepala.
Ia berbalik, berniat kembali ke dekat kakaknya—
Dan saat itulah sesuatu terjadi.
Sebuah suara. Samar. Seperti bisikan dari kejauhan. Tapi tidak ada yang berbisik di dekatnya.
<"...Awas kau, Gu Changfeng. Aku sudah bawa beban berat begini demi memastikan kau siap tempur...">
Gu Wanqing membeku.
'(Apa itu? Siapa yang bicara?)'
Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya keramaian persiapan perburuan.
<"...Jangan sampai kau malah masuk jebakan Murong Ze. Aku tidak mau repot-repot menyelamatkanmu...">
Suara itu. Suara prajurit rendahan tadi. Li Daiwang. Tapi... dari mana? Prajurit itu sudah jauh di depan sana. Tidak mungkin suaranya sampai sejauh ini.
<"...Tapi kalau kau mati, cerita ini bisa kacau. Jadi tolonglah... pakai otakmu barang sedikit. Jangan cuma jago perang tapi buta intrik...">
Jantung Gu Wanqing berdegup kencang.
'(Aku... mendengar pikirannya? Tidak mungkin. Itu tidak mungkin.)'
Ia menatap ke arah prajurit itu—yang kini hanya terlihat sebagai titik kecil di antara kerumunan. Suara itu terus terdengar di kepalanya, meski semakin samar seiring jarak yang menjauh.
<"...Kalung sialan ini masih menempel di dadaku. Bom waktu. Dan sekarang ditambah acara perburuan yang bisa jadi ajang pembantaian. Hari yang indah...">
Lalu sunyi.
Suara itu menghilang sepenuhnya.
Gu Wanqing berdiri terpaku. Tangannya mencengkeram lipatan gaunnya. Napasnya tidak teratur.
'(Apa yang baru saja terjadi? Apakah aku... mendengar isi kepalanya? Dari jarak sejauh itu?)'
Ia mencoba menenangkan diri. Mencoba berpikir rasional.
'(Mungkin aku benar-benar gila. Mungkin ini tanda aku kurang tidur.)'
Tapi kata-kata itu... Jebakan Murong Ze. Cerita ini bisa kacau. Kalung bom waktu.
'(Dari mana prajurit rendahan tahu nama Murong Ze? Dan apa maksudnya "cerita ini"?)'
Gu Wanqing bukan wanita yang mudah percaya pada takhayul. Tapi ia juga bukan wanita bodoh yang mengabaikan tanda bahaya.
'(Aku tidak boleh langsung percaya begitu saja. Tapi... aku juga tidak boleh mengabaikannya.)'
Ia menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan.
'(Baiklah. Aku akan mengawasi. Mencari tahu sendiri. Jika memang ada yang mencurigakan pada Murong Ze hari ini... maka suara itu benar. Dan aku harus melakukan sesuatu.)'
Ia melangkah mendekati kakaknya. Bukan untuk memperingatkan—belum. Tapi untuk mengamati. Mencari tanda-tanda kebenaran dari "bisikan" aneh yang sekarang entah kenapa bisa ia dengar dari prajurit rendahan itu.
'(Dan satu hal lagi...)'
Ia menatap ke arah di mana Rama menghilang.
'(Aku harus mencari tahu lebih banyak tentang prajurit bernama Li Daiwang itu.)'
Sementara itu, kegemparan baru terdengar dari gerbang.
Semua kepala menoleh.
Sebuah kereta berhiaskan permata berhenti. Tirai sutranya tersingkap. Dan seorang wanita turun.
Gaun ungu gelap. Gerakan anggun. Wajah yang menentang usia—kulit sehalus porselen, mata yang dalam dan cerdas, alis yang terukir sempurna.
Selir Yin Yue. Ibu kandung Pangeran Murong Ze.
Usianya mungkin sudah tidak muda. Tapi kecantikannya? Masih mampu menyaingi gadis-gadis muda di sana. Namun, di balik keanggunan itu, ada sesuatu yang lain. Kelelahan. Kekhawatiran. Seperti seorang ibu yang terus-menerus memikirkan anaknya yang bermasalah.
Rama, yang baru saja selesai menurunkan kotak terakhir, meneguk air dari kendi di dekatnya. Pikirannya mengalir tanpa sadar:
'Wah... Ibu Suri Yin Yue. Benar-benar cantik dan berkelas. Seperti lukisan yang hidup. Sayang sekali... anaknya sendiri yang akan menyeret nama baik ibunya ke dalam kubangan. Rencananya kali ini benar-benar gila. Menjebak Gu Changfeng dengan tuduhan penyerangan. Pakai pemanah bayaran pula. Itu akan membuat marah seluruh istana. Kalau gagal... kepala Murong Ze bisa digantung di gerbang. Ibu ini... pasti akan hancur hatinya kalau tahu anaknya berbuat senekat itu...'
Ia berjalan melewati kereta, hendak melapor pada Zhang Hu.
Tiba-tiba—
Angin kencang bertiup. Selendang sutra ungu melayang dari bahu Selir Yin Yue.
Refleks. Rama menangkapnya sebelum menyentuh tanah. Tangannya terulur, menyerahkan kembali selendang itu.
"Maaf, Nyonya. Selendang Anda—"
Jari-jarinya menyentuh jemari Selir Yin Yue.
Sekejap. Hanya sekejap.
Gerbang terbuka.
"Terima kasih," ucap Selir Yin Yue singkat, menarik tangannya. Ia tidak berpikir dua kali tentang sentuhan itu. Hanya prajurit rendahan yang kebetulan membantu.
Rama membungkuk dan berlalu.
Selir Yin Yue melanjutkan langkahnya menuju kereta putranya. Pikirannya sibuk memikirkan bagaimana cara menegur Murong Ze agar tidak bertindak gegabah selama perburuan nanti.
Dan saat itulah—
<"...Kalung sialan ini... kenapa harus aku yang menyimpannya...">
Selir Yin Yue menghentikan langkahnya.
'(Apa?)'
Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada yang berbicara padanya.
<"...Semoga saja hari ini tidak terjadi apa-apa. Atau setidaknya... semoga aku tidak terseret lagi...">
Suara itu. Samar. Tapi jelas. Suara laki-laki. Muda. Ada nada frustrasi di dalamnya.
'(Siapa itu? Dari mana suara itu berasal?)'
Matanya menyapu keramaian. Dan berhenti pada punggung seorang prajurit rendahan yang sedang berjalan menjauh. Li Daiwang. Prajurit yang tadi menangkap selendangnya.
<"...Murong Ze itu benar-benar ular berbisa. Tapi setidaknya rencananya kali ini cukup terang-terangan. Pemanah bayaran di hutan. Tinggal tunggu waktu...">
Darah Selir Yin Yue berdesir dingin.
'(Apa?!)'
<"...Kasihan ibunya. Wanita sebaik itu punya anak seekor ular. Kalau rencananya gagal, bukan cuma Ze yang mati. Satu klan bisa dihabisi. Ibu itu pasti tidak tahu apa-apa...">
Suara itu terus terdengar, semakin samar seiring prajurit itu menjauh.
<"...Ah, sudahlah. Bukan urusanku. Aku hanya figuran. Figuran tidak menyelamatkan siapa pun...">
Lalu sunyi.
Selir Yin Yue berdiri terpaku di tempatnya. Wajahnya sepucat kain putih.
'(Pemanah bayaran? Rencana? Murong Ze... anakku...)'
Pikirannya berpacu. Ia ingin mengabaikannya. Ingin menganggap itu hanya halusinasi karena kelelahan.
Tapi...
'(Enam bulan lalu. Ze'er pulang dengan wajah gelap. Ia membanting cangkir teh. Berteriak bahwa Gu Changfeng terlalu kuat. Terlalu berbahaya. Harus "disingkirkan".)'
Saat itu, Yin Yue mengira itu hanya kemarahan sesaat. Ia menenangkan putranya, menyuruhnya bersabar.
'(Tapi... bagaimana jika dia tidak sabar? Bagaimana jika dia benar-benar merencanakan sesuatu?)'
Ia menatap ke arah putranya di kejauhan. Murong Ze sedang tersenyum, berbicara dengan beberapa bawahannya. Senyum itu... senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
'(Ze'er... apa yang kau rencanakan?)'
Selir Yin Yue bukan wanita yang percaya pada suara gaib. Tapi ia percaya pada satu hal: ia mengenal anaknya sendiri.
'(Dia cukup bodoh untuk melakukan ini. Dan cukup nekat untuk tidak memikirkan akibatnya.)' Selir Yin Yue mengangguk yakin.
Ia menarik napas panjang.
'(Aku tidak akan langsung menuduhnya. Tapi aku akan mencari tahu. Jika benar ada pemanah bayaran di hutan hari ini... maka suara itu benar. Dan aku harus menghentikannya sebelum dia menghancurkan dirinya sendiri.)'
Ia memanggil pelayan kepercayaannya.
"Pergilah ke hutan buruan. Diam-diam. Cari tahu apakah ada orang asing yang mencurigakan di sana. Terutama yang membawa busur."
Pelayan itu mengangguk. "Nyonya... apa yang harus saya lakukan jika menemukannya?"
Selir Yin Yue menatap tajam. "Jangan lakukan apa-apa. Laporkan padaku dulu. Aku yang akan memutuskan."
Pelayan itu membungkuk dan menghilang di antara kerumunan.
Selir Yin Yue menatap ke arah di mana prajurit rendahan tadi menghilang.
'(Dari mana kau tahu semua ini, Dan kenapa... kenapa aku bisa mendengar isi kepalamu?)'
Ia tidak punya jawaban. Tapi ia tahu satu hal: ia harus mencari tahu lebih banyak tentang prajurit itu.
'(Setelah perburuan ini selesai... aku akan mencarinya.)'
Rama naik ke kereta pengawal dengan perasaan sedikit lebih tenang. Dari posisinya, ia bisa melihat pemandangan yang lebih luas.
Gu Changfeng sedang berbicara dengan Murong Ze. Wajah Gu Changfeng dingin seperti biasa. Tapi Murong Ze... ada senyum tipis di sudut bibirnya. Senyum licik yang hanya terlihat jika kau tahu apa yang dicari.
'Di situlah ular itu bersembunyi...' pikir Rama. 'Aku harus pastikan aku tidak berada di dekatnya saat kekacauan dimulai.'
Ia sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di belakangnya.
Gu Wanqing berdiri di samping kakaknya. Matanya tidak melihat pada Murong Ze atau Gu Changfeng. Tapi pada kerumunan prajurit rendahan di kejauhan. Mencari satu sosok tertentu. Mencari Li Daiwang.
Sementara itu, di kereta lain, Selir Yin Yue duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tenang di luar. Tapi pikirannya berputar kencang. Menunggu laporan dari pelayannya.
Dua wanita. Satu sentuhan. Dua gerbang yang telah terbuka.
Dan mereka berdua baru saja mendengar sesuatu yang akan mengubah segalanya.
"Li Daiwang! Jangan melamun! Perburuan akan segera dimulai!" bentak Zhang Hu.
"I-iya, Komandan!"
Rama menegakkan posturnya. Matanya memandang hutan di kejauhan.
'Ini baru permulaan. Aku harus tetap waspada.'
Ia sama sekali tidak tahu bahwa "gerbang" telah terbuka. Bahwa pikirannya yang ia anggap aman dan tersembunyi... sekarang bisa didengar oleh dua wanita yang bahkan tidak ia sadari telah ia "aktifkan".
Ia pikir ia sendirian. Figuran yang berusaha mengubah beberapa nasib dari balik bayang-bayang.
Padahal sekarang... ia punya dua pendengar rahasia yang mulai bergerak.
Iring-iringan kereta mulai bergerak. Roda-roda kayu menggelinding di atas jalan tanah, membawa serta ambisi, kekhawatiran, dan dua wanita yang sekarang terhubung secara permanen dengan pikiran seorang pembunuh bayaran yang menyamar sebagai prajurit rendahan.
Hutan kerajaan menanti.
Dan di dalam hutan itu... pemanah bayaran Murong Ze sudah mengambil posisi.
'Apakah rencana mereka cukup cepat?'
Rama tidak tahu. Tapi ia akan segera mengetahuinya.
****
Eps 7 : Siapa Kau Sebenarnya?
Iring-iringan kereta akhirnya memasuki area perkemahan di tepi hutan kerajaan.
Pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun menjulang di sekeliling, menciptakan kanopi alami yang menyaring cahaya matahari menjadi berkas-berkas keemasan.
Udara di sini lebih sejuk, lebih segar—setidaknya bagi para bangsawan yang turun dari kereta dengan tawa dan celoteh riang.
Bagi para prajurit rendahan, ini artinya kerja dua kali lipat. Mendirikan tenda. Mengatur parameter keamanan. Memastikan tidak ada ular atau binatang buas yang masuk ke area perkemahan.
Rama turun dari kereta pengawal, matanya memindai sekeliling. 'Hutan. Tempat yang sempurna untuk penyergapan. Terlalu banyak titik buta. Terlalu banyak tempat bersembunyi.'
Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk, Gu Wanqing menarik lengan kakaknya menjauh dari keramaian. Wajahnya serius. Matanya mencari-cari kesempatan untuk bicara empat mata.
"Kak, tolong dengarkan aku." Gu Wanqing menarik lengan kakaknya, suaranya rendah namun mendesak. "Hati-hati dengan Pangeran Murong Ze. Aku... aku mendengar sesuatu. Dia menyiapkan sesuatu yang buruk hari ini. Jangan menjauh dari pengawalanmu. Tolong... tetap di tempat terbuka."
Gu Changfeng mengerutkan kening. Lalu tertawa kecil—tawa yang meremehkan. Tangannya sibuk meluruskan sarung pedang di pinggang.
"Wanqing, kau terlalu banyak membaca dongeng menakutkan." Ia menepuk bahu adiknya sekilas. "Murong Ze? Dia hanya pria manja yang pandai bicara. Apa yang bisa dia lakukan padaku? Lihatlah pasukanku ini." Ia menunjuk ke arah prajurit elit yang berbaris rapi. "Siapa pun yang berani mendekat akan jadi sarapan panahku."
'(Keras kepala... persis seperti yang dikatakan suara itu.)'
Gu Wanqing mengepalkan tangannya. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa ia mendengar langsung dari pikiran seseorang. Tapi ia tahu betapa gilanya itu terdengar.
"Tapi Kak! Aku punya firasat buruk—"
"Sudahlah." Gu Changfeng memotongnya dingin. Nada suaranya final. "Aku ini Jenderal. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Kau cukup bersenang-senang di sini. Biarkan urusan perang menjadi urusanku."
Ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah tegap, meninggalkan Gu Wanqing yang berdiri sendirian di tengah keramaian.
'Firasat buruk...' Gu Wanqing menggigit bibirnya. 'Kalau saja kau tahu dari mana "firasat" ini berasal...'
Di sudut lain perkemahan, tidak jauh dari tenda kebesaran Selir Yin Yue, pelayan kepercayaannya muncul dari balik pepohonan. Berlari terengah-engah. Wajahnya sepucat kain putih.
Ia menunduk dalam, suaranya bergetar.
"Nyonya... benar. Benar semua."
Jantung Selir Yin Yue berhenti sejenak.
"Di balik bukit sebelah timur... ada puluhan orang bersembunyi. Membawa busur dan panah. Mereka berpakaian seperti pemburu liar, tapi gerak-gerik mereka... terlatih. Seperti Militer."
Dunia serasa berputar.
Selir Yin Yue memejamkan matanya rapat. Tangannya meremas kain gaunnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
'Ze'er... anak bodoh... kenapa kau harus sejauh ini? Kenapa kau tidak bicara padaku dulu?' Gumamnya pelan.
Ia ingin marah. Ingin menangis. Ingin menampar putranya sendiri. Tapi lebih dari segalanya, ia ingin menyelamatkannya dari kebodohannya sendiri.
"Segera hentikan mereka. Sekarang juga. Aku tidak peduli bagaimana caranya—"
BWOOOOO—
Suara terompet panjang menggema di udara. Bukan terompet perburuan yang merdu. Melainkan suara yang kering, kasar, dan terdengar mengancam.
Selir Yin Yue membuka matanya. Darahnya berdesir dingin.
Dari arah hutan yang lebat, ia bisa melihat siluet putranya—Murong Ze—berdiri di atas kuda. Tangannya terangkat tinggi.
Senyum tipis di wajahnya.
'(Terlambat...)'
Air mata menggenang di pelupuk mata Selir Yin Yue. Tapi ia tidak membiarkannya jatuh. Belum. Ia masih punya satu kesempatan terakhir.
Sementara itu, di pos pengawalan, Rama berdiri bersama prajurit rendahan lainnya. Pandangannya lurus ke depan. Posturnya kaku. Persis seperti prajurit penakut yang tidak ingin mencari masalah.
Tapi di dalam, sesuatu berteriak.
Tenggorokannya tercekat. Bulu kuduknya berdiri. Ini bukan rasa takut—ini adalah insting yang sudah terasah oleh puluhan tahun hidup di ambang kematian.
'Ada yang salah.'
Matanya menyipit, memindai sekeliling tanpa menggerakkan kepala. [Pembaca Wajah] tidak berguna di sini—tidak ada wajah yang bisa dibaca. Tapi [Sentuhan Ringan]... ia merasakan getaran halus di tanah melalui sol sepatunya yang tipis. Getaran langkah kaki. Banyak kaki. Bergerak serempak.
'Mengapa tiba-tiba sunyi?'
Suara burung yang tadi berkicau riang... kini hilang. Hening total. Hanya ada suara angin yang berdesir di antara dedaunan.
'Burung-burung tidak akan diam kecuali ada predator besar di dekat sini. Atau... banyak predator.'
Matanya bergerak ke bukit sebelah kiri. Semak-semak di sana bergerak. Tapi tidak ada angin. Dan bayangan di balik pohon besar itu... bukan bayangan hewan berkaki empat. Itu bayangan manusia. Membungkuk. Membawa sesuatu yang panjang di tangannya.
'Busur.'
Jantung Rama berdegup kencang. Matanya bergerak lebih cepat. Kanan. Kiri. Depan. Belakang.
'Mereka ada di mana-mana. Posisi mereka... formasi pengepungan. Kita sudah terkepung sejak awal!'
"MEREGAH!! ADA PENYERANG DI BUKIT!!"
Teriakan itu keluar sebelum Rama sempat berpikir. Melanggar semua aturan yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Melanggar topeng Li Daiwang yang penakut.
Beberapa prajurit di dekatnya menoleh, bingung. Zhang Hu melotot, mulutnya sudah terbuka untuk membentak—
Tapi suara Rama tenggelam di tengah riuh rendah persiapan perburuan. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak orang.
'Sial. Tidak ada yang mendengar.' Gerutunya merutuki.
Dan detik berikutnya...
WUSSS! WUSSS! PRANG!
Hujan panah melesat dari balik pepohonan. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba dipenuhi bayangan hitam yang mematikan.
WUSSS! WUSSS! PRANG
Hujan panah. Dari segala arah.
Satu panah menancap di tanah tepat di samping kaki Rama. Getarannya terasa melalui [Sentuhan Ringan]—kayu berkualitas militer. Bukan panah mainan.
Jeritan memecah udara. Para bangsawan yang tadi tertawa riang kini berlarian tak tentu arah, gaun sutra mereka robek, wajah mereka penuh teror. Prajurit berusaha membentuk barisan pertahanan, tapi serangan datang begitu tiba-tiba dan dari segala arah.
"Penyerangan! Kita diserang!"
"Lindungi Yang Mulia!"
"Ke mana Pangeran?! Selamatkan Pangeran!"
Kekacauan total. Dalam sekejap mata, area perkemahan yang tadinya damai berubah menjadi medan perang.
Gu Changfeng—yang tadi meremehkan peringatan adiknya—kini berdiri di tengah badai panah. Pedang besarnya sudah terhunus. Matanya menyala-nyala seperti api perang.
"BENTENG PERTAHANAN! JANGAN BIARKAN MEREKA MENDEKAT!"
Suaranya menggelegar, memotong kekacauan. Ia mengayunkan pedangnya, memotong dua panah yang melesat ke arahnya sekaligus. Gerakannya cepat, tepat, mematikan.
Pasukan elitnya bergerak membentuk formasi. Mereka adalah yang terbaik—dan itu terlihat dari cara mereka bergerak di tengah kekacauan.
Tapi jumlah penyerang terlalu banyak. Dan posisi mereka terlalu menguntungkan.
Gu Changfeng menggeram. Ia bisa menahan serangan dari depan. Tapi ia tidak bisa berada di mana-mana sekaligus.
'Sayap kanan... mereka mendorong ke sayap kanan!'
Ia menoleh. Dan melihat titik pertahanan di sebelah kanan mulai retak. Prajurit di sana jatuh satu per satu, panah menancap di dada dan leher mereka.
Gu Wanqing berlindung di balik kereta. Tangannya gemetar. Tapi matanya terus mencari satu sosok—kakaknya.
Dan ia melihatnya. Gu Changfeng. Berdiri tegak di tengah pertempuran. Gagah. Perkasa. Seperti pahlawan dalam cerita-cerita yang dulu dibacakan ibu mereka.
Tapi kemudian ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Titik buta. Sisi kanan kakaknya. Seorang pemanah bayaran telah mengangkat busurnya. Membidik. Tepat ke arah punggung Gu Changfeng yang sedang sibuk menangkis serangan dari depan.
"KAKAK! AWAS!!"
Teriakannya histeris. Tapi sia-sia. Suaranya tenggelam dalam hiruk-pikuk pertempuran.
Tanpa pikir panjang, tangannya menyambar sebilah pedang pendek milik pengawal yang tergeletak di tanah. Kakinya bergerak sendiri. Menerobos kepanikan. Berlari ke arah kakaknya.
'Aku bukan ahli pedang. Aku mungkin akan mati. Tapi...'
Air mata mengalir di pipinya.
'...aku tidak akan membiarkan kakak mati sendirian.'
Dari posnya, Rama melihat semuanya.
Gu Wanqing. Berlari. Pedang pendek di tangannya. Menuju arah pemanah yang membidik kakaknya.
'Dasar bodoh...'
Analisis dingin langsung bekerja di kepalanya. Panah itu beracun—ia bisa melihat kilau hitam di ujungnya dari sini. Gu Wanqing tidak punya kemampuan bela diri. Menghadang panah dengan tubuh kosong atau pedang pendek? Itu bukan keberanian. Itu bunuh diri.
'Dia akan mati. Sia-sia.'
Panah melesat. Gu Wanqing melompat ke depan.
'Gila. Dia benar-benar gila.'
Dan kemudian—tubuh Rama bergerak.
Sebelum pikirannya sempat memproses. Sebelum ia bisa mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia hanyalah figuran. Bahwa ia tidak boleh menonjol. Bahwa menyelamatkan satu nyawa bisa membongkar seluruh penyamarannya.
'Sial. Sial. SIAL!'
Insting bertahan hidup yang selama ini ia latih untuk membunuh... entah bagaimana berubah menjadi insting menyelamatkan.
Ia merunduk. Tangannya menyambar sepotong kayu tebal dari tanah. Kakinya mendorong tubuhnya ke depan dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki seorang prajurit rendahan.
'Jangan mati, Nona bodoh...'
BRAKK!
Tubuhnya menghantam tubuh Gu Wanqing. Ia merasakan tulang rusuk wanita itu melalui [Sentuhan Ringan]—rapuh, kecil, mudah patah. Ia memutar tubuhnya di udara, memastikan ia yang menanggung sebagian besar benturan dengan tanah.
Mereka berguling. Debu beterbangan. Napas Rama tersengal.
Dan di atas mereka—WUSSS!—panah itu melesat. Melewati tempat di mana kepala Gu Wanqing berada sepersekian detik yang lalu.
DUKK!
Panah menancap pada pohon di belakang mereka. Getarannya terasa melalui tanah.
Rama terdiam. Jantungnya berpacu seperti mau meledak. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Ia menoleh. Menatap panah yang menancap di pohon itu. Ujungnya hitam pekat. Mengkilap berminyak.
'Racun. Racun ular. Cukup untuk membunuh dalam hitungan detik.'
Gu Wanqing terbaring di tanah. Paru-parunya kosong. Pandangannya buram.
Lalu ia melihatnya.
Wajah itu. Wajah prajurit rendahan yang sama. Li Daiwang. Wajah yang pucat dan penuh ketakutan setiap kali ia melihatnya.
Tapi sekarang...
Mata itu. Tatapan itu. Bukan tatapan seorang pengecut. Itu adalah tatapan seorang pemangsa. Tajam. Fokus. Menghitung setiap kemungkinan dalam sekejap mata.
'(Siapa... siapa dia sebenarnya?)'
"Kau... kau—"
Tapi sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Rama sudah bangkit.
Gerakannya kasar, efisien. Tangannya yang kapalan menarik lengan Gu Wanqing, memaksanya berdiri.
Dan saat sentuhan itu terjadi—
Suara itu. Jernih. Keras. Penuh emosi yang ditahan.
<'KAU MAU MATI YA, NONA?! MENJADI PAHLAWAN DALAM SITUASI BEGINI?! ITU NAMANYA BUNUH DIRI!'>
Gu Wanqing terkesiap.
<'Kalau kau mati... siapa yang akan mengurus kakakmu yang keras kepala itu?! Siapa yang akan mengingatkannya bahwa dia tidak abadi?! Dasar wanita bodoh... nekat... hampir saja kau mati sia-sia...'>
Suara itu... bukan sekadar kemarahan. Ada sesuatu yang lain di dalamnya. Kekhawatiran. Ketakutan. Seperti seseorang yang baru saja hampir kehilangan sesuatu yang berharga.
Gu Wanqing menatap wajah Rama. Wajah itu masih sama—dingin, datar, tidak terbaca. Tapi suara di kepalanya... suara itu bergetar. Penuh emosi yang tidak ditunjukkan oleh wajahnya.
'Dia... dia benar-benar mengkhawatirkanku? Tapi kenapa? Aku hanya orang asing baginya...'
Air mata—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan—menggenang di pelupuk matanya.
"Kau... siapa kau sebenarnya?"
Rama tidak menjawab. Matanya sudah bergerak ke arah lain—memindai ancaman berikutnya. Pemanah itu masih di sana. Masih membidik. Pertempuran masih berkecamuk.
'Sial. Aku sudah menarik terlalu banyak perhatian.'
Ia mendorong Gu Wanqing ke balik kereta—tempat yang lebih aman—dan berbalik tanpa sepatah kata.
Tapi sebelum ia melangkah pergi, Gu Wanqing menangkap lengannya.
"Tunggu—"
Sentuhan itu. Sekali lagi. Dan suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan, lebih lelah:
<'...Aku hanya ingin bertahan hidup. Tapi kenapa dunia ini terus memaksaku untuk peduli...'>
Lalu Rama menarik lengannya. Menghilang di antara kepulan debu dan jeritan pertempuran.
Gu Wanqing berdiri terpaku. Tangannya masih terulur. Jantungnya berdegup kencang.
'Li Daiwang... siapa kau sebenarnya? Dan kenapa... kenapa aku bisa mendengar isi kepalamu?'
Di kejauhan, suara pedang beradu dan jeritan terus berlanjut. Tapi di telinga Gu Wanqing, hanya satu suara yang terus terngiang—suara seorang prajurit rendahan yang menyelamatkan nyawanya, dan entah bagaimana, telah mencuri sesuatu dari dalam dadanya.
'Aku akan mencari tahu. Siapa pun kau... aku akan mencari tahu.'
****
EPS 8: BAYANGAN DI BALIK DEBU
Debu masih beterbangan. Jeritan masih memecah udara. Tapi Gu Wanqing tidak mendengar semua itu.
Ia masih berdiri di belakang kereta. Tangannya terulur ke arah kosong—ke arah di mana prajurit rendahan bernama Li Daiwang menghilang di antara kepulan debu dan kepanikan.
Jantungnya berdegup terlalu kencang. Napasnya tidak teratur. Air mata—entah karena takut, syok, atau sesuatu yang tidak bisa ia namai—masih mengalir di pipinya.
'(Apa yang baru saja terjadi?)'
Ia menatap telapak tangannya sendiri. Getaran halus masih terasa di sana—sisa dari sentuhan kasar namun menyelamatkan itu.
'Dia... dia menyelamatkanku. Prajurit rendahan itu. Li Daiwang.' Gumamnya pelan.
Tapi bukan aksinya yang membuat Gu Wanqing terpaku sampai sekarang. Bukan fakta bahwa ia nyaris mati tertusuk panah beracun.
Melainkan suara itu.
Suara di dalam kepalanya. Suara yang jernih, penuh emosi tertahan, dan begitu... jujur.
"KAU MAU MATI YA, NONA?! MENJADI PAHLAWAN DALAM SITUASI BEGINI?! ITU NAMANYA BUNUH DIRI!"
"Kalau kau mati... siapa yang akan mengurus kakakmu yang keras kepala itu?!"
"...hampir saja kau mati sia-sia..."
Gu Wanqing memejamkan mata. Tangannya mengepal di dada.
'(Kenapa? Kenapa dia peduli? Dia bahkan tidak mengenalku. Aku hanya orang asing. Hanya... adik dari atasannya.)'
Tapi suara itu tidak berbohong. Ia tidak tahu bagaimana, tapi ia yakin—suara yang ia dengar di kepalanya adalah suara hati yang sebenarnya. Bukan kata-kata yang direncanakan. Bukan basa-basi.
Itu adalah kejujuran yang bahkan tidak ditunjukkan oleh wajah datar prajurit itu.
'(Siapa kau sebenarnya, Li Daiwang?)'
WUSSS!
Sebuah panah menancap di kayu kereta tepat di samping kepalanya. Gu Wanqing tersentak, tersadar dari lamunannya.
Pertempuran masih berlangsung. Ia masih dalam bahaya.
Tapi sebelum ia bergerak mencari perlindungan, sebuah suara—samar, seperti bisikan dari kejauhan—kembali terdengar di kepalanya.
<"...sial... kenapa aku melakukan itu... sekarang dia curiga... bodoh... dasar bodoh...">
Jantung Gu Wanqing berhenti sejenak.
'Itu dia. Itu suaranya.'
Ia menoleh ke segala arah, mencari sumber suara itu. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya prajurit yang berlarian, bangsawan yang menjerit, dan pedang yang beradu.
<"...dia pasti mengira aku aneh... seorang prajurit rendahan yang tiba-tiba bisa bergerak secepat itu... sial... sial...">
Suara itu semakin samar. Seperti radio yang kehilangan sinyal. Menjauh.
'(Dia bergerak menjauh. Ke arah sana.)'
Tanpa pikir panjang, Gu Wanqing mulai bergerak. Melangkah di antara kekacauan. Menghindari panah dan pedang. Matanya menyipit, mencari satu sosok di tengah lautan manusia yang panik.
'(Aku harus menemukannya. Aku harus tahu... siapa dia sebenarnya.)'
Rama bersembunyi di balik tenda yang sudah roboh separuh.
Napasnya masih tersengal. Bukan karena lelah—tubuh kurus Li Daiwang ini memang tidak sekuat tubuh aslinya. Tapi lebih karena adrenalin yang masih mengalir deras di pembuluh darahnya.
'Bodoh. Bodoh. BODOH.'
Ia meninju tanah pelan. Debu beterbangan.
'Aku melanggar aturanku sendiri. Hanya karena seorang wanita nekat yang mencoba menjadi tameng hidup.'
Ia memejamkan mata. Tapi bayangan itu tidak mau pergi. Wajah Gu Wanqing. Matanya yang membelalak kaget. Tangannya yang terulur, mencoba menangkap lengan Rama sebelum ia menghilang.
'Kenapa aku melakukan itu? Dia hanya tokoh fiksi. Aku hanya figuran. Figuran tidak menyelamatkan siapa pun.'
Tapi semakin ia mencoba merasionalisasi, semakin keras suara lain di kepalanya berbisik: Kau tidak ingin dia mati. Kau tidak ingin melihat wanita itu terluka.
'...Sial.'
Ia membuka mata. Menampar pipinya sendiri pelan.
'Fokus. Kau masih dalam zona perang. Jangan mati konyol karena melamunkan wanita.'
Ia mengintip dari balik tenda. Matanya memindai area pertempuran dengan presisi seorang pembunuh bayaran.
[Pembaca Wajah] tidak banyak membantu di sini—terlalu banyak wajah panik yang tidak relevan. Tapi [Sentuhan Ringan]... ia merasakan getaran tanah. Langkah kaki. Banyak sekali.
'Pemanah masih di posisinya. Tapi ada pergerakan baru... pasukan tambahan?'
Ia menyipitkan mata. Dari arah perkemahan utama, ia melihat pasukan pengawal kerajaan mulai bergerak ke bukit sebelah timur—tempat pemanah bayaran bersembunyi.
'Itu bukan pasukan Gu Changfeng. Itu pasukan istana. Siapa yang memerintahkan mereka?'
Pertanyaan itu hanya melintas sekilas. Yang lebih penting: pemanah bayaran mulai terdesak. Serangan mereka melemah. Pertempuran mungkin akan segera berakhir.
'Bagus. Semakin cepat selesai, semakin cepat aku bisa kembali menjadi figuran tak terlihat.'
Tapi kemudian ia melihatnya.
Seorang pemanah. Bukan dari bukit timur. Tapi dari arah yang berbeda—dari balik pohon besar di sisi kanan perkemahan. Pemanah itu tidak bergerak seperti yang lain. Ia lebih tenang. Lebih sabar. Menunggu momen yang tepat.
Dan busurnya... mengarah ke satu orang.
Gu Changfeng.
'Sial. Lagi?'
Rama menyipitkan mata. Ia menghitung sudut. Jarak.Dan Posisi Gu Changfeng yang sedang sibuk menangkis serangan dari depan.
'Pemanah itu... posisinya sempurna. Gu Changfeng tidak akan melihatnya sampai panah itu menancap di lehernya.'
Jantung Rama berdegup kencang.
'Dalam cerita asli... apakah Gu Changfeng mati di sini? Atau hanya terluka? Kenapa aku tidak ingat detailnya?!' Gumamnya kesal.
Ia mengutuk dirinya sendiri. Dulu ia hanya membaca novel itu sambil lalu. Tidak menghafal setiap detailnya. Sekarang ia membayar mahal kelalaian itu.
'Kalau aku tidak melakukan apa-apa... cerita mungkin akan kembali ke jalurnya. Gu Changfeng mungkin hanya terluka. Atau mungkin... mungkin ini memang takdirnya untuk mati di sini.'
Tapi kemudian bayangan itu muncul lagi.
Gu Wanqing. Wajahnya yang putus asa saat berlari menyelamatkan kakaknya. Air matanya. Suaranya yang histeris: "KAKAK AWAS!!"
Dan suara hatinya sendiri yang—entah bagaimana—bocor dan terdengar oleh wanita itu:
"...Kalau kau mati, siapa yang akan mengurus kakakmu yang keras kepala itu?!"
Rama memejamkan mata.
'...SIAL!'
Gu Wanqing terus bergerak.
Sebuah panah nyaris mengenai bahunya. Ia merunduk tepat waktu. Pedang beradu di dekat telinganya. Ia menghindar dengan refleks yang bahkan ia tidak tahu ia miliki.
'(Di mana dia? Di mana?)'
Suara itu terus terdengar. Samar. Terputus-putus. Tapi cukup untuk memandunya.
<"...pemanah... posisi... Gu Changfeng...">
Jantung Gu Wanqing berdegup kencang. 'Kakak? Ada bahaya lagi?'
Ia menoleh ke arah kakaknya. Gu Changfeng masih berdiri tegak. Pedangnya berlumuran darah musuh. Tapi ia tidak melihat apa yang Gu Wanqing takutkan—pemanah di posisi tersembunyi.
<"...kalau Gu Changfeng mati, cerita ini kacau...">
'(Cerita ini? Apa maksudnya?)'
<"...tapi kalau aku selamatkan dia, identitasku...">
Gu Wanqing menghentikan langkahnya. Suara itu lebih jelas sekarang. Berarti ia semakin dekat.
'(Identitasnya? Dia takut identitasnya terbongkar?)'
Ia mengedarkan pandangan. Dan di sana—di balik tenda roboh—ia melihatnya.
Li Daiwang.
Prajurit rendahan itu sedang berjongkok. Wajahnya tegang. Matanya menatap ke satu arah dengan intensitas yang tidak wajar. Tangannya memegang sebutir batu kecil.
'(Apa yang dia lakukan?)'
Gu Wanqing tidak berani mendekat. Ia hanya mengamati dari kejauhan, tersembunyi di balik kereta yang terbalik.
Dan kemudian ia melihatnya.
Pemanah. Di balik pohon besar. Membidik kakaknya.
'(Tidak... KAKAK!)'
Tapi sebelum ia bisa berteriak, Rama sudah bergerak.
Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, ia melemparkan batu kecil itu. Bukan ke arah pemanah—tapi ke arah kuda di dekat Gu Changfeng.
TING!
Batu itu mengenai tapal kuda. Suaranya kecil. Hampir tidak terdengar di tengah hiruk-pikuk pertempuran.
Tapi kuda itu mendengarnya. Ia meringkik kaget. Berdiri dengan kaki belakangnya. Tubuhnya yang besar secara tidak sengaja menghalangi jalur panah yang baru saja melesat.
DUKK!
Panah itu menancap di pelana kuda. Bukan di leher Gu Changfeng.
Gu Changfeng menyadari bahaya. Ia menoleh, melihat pemanah itu, dan dengan satu lemparan pisau yang cepat dan mematikan—pemanah itu jatuh. Mati seketika.
Semua terjadi dalam hitungan detik.
Dan tidak ada yang melihat batu kecil itu. Tidak ada yang melihat prajurit rendahan di balik tenda roboh.
Tidak ada... kecuali Gu Wanqing.
'(Dia... dia melakukannya lagi.)'
Gu Wanqing menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.
'(Dia menyelamatkan kakakku. Tapi dengan cara yang tidak akan diketahui siapa pun.)'
Ia menatap sosok Rama yang kini kembali berjongkok. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi bangga atau lega. Hanya... kosong. Seperti tidak ada yang terjadi.
'(Kenapa? Kenapa dia melakukan ini sambil bersembunyi? Kenapa dia tidak ingin diketahui?)'
Dan kemudian suara itu datang lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat.
<"...Kau selamat. Syukurlah...">
Jantung Gu Wanqing berhenti. Rama melihatnya dari kejauhan.
'(Kau selamat? Siapa? Kakaknya? Atau...)'
<"...Sial! Kenapa aku memikirkan itu?! Dia hanya tokoh fiksi! Aku tidak peduli! Aku TIDAK PEDULI!">
Gu Wanqing terkesiap. Tangannya semakin erat menutup mulut. Bukan karena takut. Tapi karena... sesuatu yang hangat menjalar di dadanya.
'(Dia... dia memikirkan aku? Dia lega aku selamat?)'
Ia menatap Rama yang masih berjongkok, sekarang memukul kepalanya sendiri pelan sambil menggerutu pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan dimulai, Gu Wanqing tersenyum.
Air mata masih mengalir. Tapi kali ini... bukan air mata kesedihan.
Di tempat lain, Selir Yin Yue berdiri di depan tendanya. Wajahnya tenang. Tapi tangannya yang meremas kain gaun menunjukkan sebaliknya.
Pelayan kepercayaannya baru saja kembali. Kali ini dengan napas lebih teratur.
"Nyonya. Pasukan pengawal sudah bergerak. Mereka mengira Pangeran Murong Ze dalam bahaya. Mereka akan membersihkan area bukit timur."
Selir Yin Yue mengangguk pelan. "Bagus."
"Tapi Nyonya... bagaimana kalau Pangeran tahu bahwa Nyonya yang mengirim mereka? Bagaimana kalau dia marah?"
Selir Yin Yue menatap ke arah bukit timur. Di sana, ia bisa melihat siluet putranya di atas kuda. Bahkan dari kejauhan, ia bisa merasakan kemarahan dan frustrasinya.
'(Ze'er... Ibu tidak akan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri. Bahkan jika itu berarti Ibu harus mengkhianati rencanamu.)'
"Biarkan dia marah," jawabnya. Suaranya tenang. Tapi ada getaran halus di dalamnya. "Lebih baik dia marah padaku dan tetap hidup... daripada dia mati konyol karena rencananya yang bodoh."
Pelayan itu menunduk dalam. "Nyonya bijaksana."
Selir Yin Yue tidak menjawab. Ia terus menatap ke arah putranya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tidak membiarkannya jatuh.
'(Kau akan membenciku, Ze'er. Tapi setidaknya... kau akan tetap hidup.)'
Senja mulai turun di hutan kerajaan.
Serangan berakhir. Pemanah bayaran berhasil dipukul mundur—sebagian besar terbunuh, sisanya melarikan diri ke dalam hutan. Pasukan pengawal kerajaan yang dikirim secara misterius telah melakukan tugas mereka dengan baik.
Perkemahan porak-poranda. Tenda-tenda roboh. Darah di mana-mana. Tapi para bangsawan utama selamat. Maharani—yang konon mengawasi dari kejauhan—tidak jadi turun tangan.
Gu Changfeng berdiri di tengah perkemahan. Pedangnya masih terhunus. Wajahnya berlumuran darah dan keringat. Tapi ia hidup. Klan Gu selamat.
"Wanqing!" Ia melihat adiknya berjalan mendekat. Wajahnya panik. "Kau tidak apa-apa?! Kenapa kau keluar dari persembunyian?! Hampir saja kau—"
"Aku tidak apa-apa, Kak." Gu Wanqing memotongnya pelan. Suaranya tenang. Terlalu tenang.
Gu Changfeng mengerutkan kening. "Kau yakin? Wajahmu pucat. Dan matamu... kenapa matamu merah?"
Gu Wanqing menggeleng. "Hanya debu."
Tapi matanya tidak menatap kakaknya.
Matanya mencari ke arah lain—ke kerumunan prajurit rendahan yang sedang sibuk membersihkan puing-puing.
Dan di sana. Di sudut jauh. Duduk di atas tanah dengan punggung bersandar pada roda kereta yang patah.
Li Daiwang.
Prajurit itu terlihat lelah. Wajahnya kotor. Seragamnya robek di beberapa bagian. Tapi tidak ada luka serius. Ia hanya duduk diam. Menunduk. Memainkan sehelai rumput di tangannya. Persis seperti prajurit rendahan lainnya yang kelelahan setelah pertempuran.
Tapi Gu Wanqing tahu lebih baik.
Di balik topeng itu... ada seseorang yang berbeda. Seseorang yang berbahaya. Seseorang yang bisa membunuh dengan mudah... tapi memilih untuk menyelamatkan.
Dan saat ia menatapnya, seolah merasakan tatapan itu, Rama mendongak.
Mata mereka bertemu.
Hanya sedetik. Mungkin kurang.
Tapi cukup.
Dan saat mata mereka bertemu, suara itu datang lagi. Kali ini sangat jelas. Seolah ia berdiri tepat di sampingnya.
<"...Kau selamat. Syukurlah...">
Gu Wanqing menghela napas panjang. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdegup kencang.
'(Dia benar-benar mengkhawatirkanku.)'
Kemudian suara itu berubah. Panik. Frustrasi.
<"...Sial! Kenapa aku memikirkan itu?! Dia hanya tokoh fiksi! Aku tidak peduli! Aku TIDAK PEDULI!">
Rama membuang muka. Kembali menunduk. Memainkan rumput di tangannya seolah tidak terjadi apa-apa
Dan Gu Wanqing tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. Air mata kembali mengalir. Tapi ia tidak peduli.
'(Kau boleh berpura-pura tidak peduli, Li Daiwang. Tapi aku mendengarmu. Aku mendengar semuanya.)'
'(Dan aku akan mencari tahu... siapa kau sebenarnya.)'
Matahari semakin turun. Cahaya keemasannya mewarnai perkemahan yang porak-poranda.
Rama masih duduk di tempat yang sama. Punggungnya terasa sakit. Tubuhnya lelah. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar.
'Aku selamat. Untuk sekarang.'
Ia menghela napas panjang. Menatap langit senja yang mulai memerah.
'Serangan sudah berakhir. Cerita mungkin sudah berubah. Gu Changfeng selamat. Gu Wanqing selamat. Murong Ze gagal.'
'Aku bisa kembali menjadi figuran. Kembali ke rutinitas membosankan sebagai Li Daiwang. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang tahu.'
Tapi kemudian ia merasakannya. Benda dingin di balik pakaiannya.
Kalung Giok Darah.
Masih di sana. Menempel di kulit dadanya seperti es yang tidak pernah mencair.
'Sial. Aku hampir lupa.'
Ia meraba dadanya. Memastikan kalung itu masih tersembunyi dengan aman.
'Aku harus menyingkirkan benda ini. Tapi bagaimana? Dan kapan?'
Belum sempat ia memikirkan jawabannya, suara genderang terdengar dari gerbang perkemahan.
Semua orang menoleh.
Sebuah kereta berhiaskan lambang kekaisaran mendekat dengan cepat. Debu beterbangan di belakangnya. Dari dalam kereta, turun seorang utusan istana—seorang kasim muda dengan wajah serius. Di tangannya, sebuah gulungan perintah dengan stempel kekaisaran berwarna emas.
Semua orang terdiam. Bahkan Gu Changfeng menghentikan langkahnya.
Kasim itu membuka gulungan. Suaranya melengking, terdengar jelas di seluruh perkemahan.
"ATAS PERINTAH YANG MULIA MAHARANI WEI QINGWAN!"
Jantung Rama berhenti.
"SEMUA PRAJURIT YANG BERTUGAS HARI INI—TERMASUK PRAJURIT RENDAHAN—HARUS MELAPOR KE AULA UTAMA BESOK PAGI!"
Darah Rama berdesir dingin.
"AKAN ADA INVESTIGASI KHUSUS TERKAIT INSIDEN PENYERANGAN INI! MAHARANI SENDIRI AKAN MEMIMPIN PEMERIKSAAN!"
Kasim itu menutup gulungan. Perkemahan hening. Lalu bisik-bisik mulai bermunculan.
Tapi Rama tidak mendengar semua itu.
Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya. Tempat di mana Kalung Giok Darah tersembunyi.
'Investigasi? Maharani?'
'SIAL. SIAL!'
'Kalau Maharani terlibat langsung... dan kalungnya masih ada padaku...'
'Aku tidak hanya akan ketahuan sebagai penyamar. Aku akan dituduh mencuri pusaka kerajaan. Hukuman mati. Tanpa pengadilan.'
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pandangannya mulai kabur. Bukan karena luka—tapi karena panik.
'Aku harus kabur. Malam ini juga. Sebelum besok pagi.'
'Tapi kabur ke mana? Aku tidak tahu dunia ini di luar istana. Aku hanya tahu cerita di dalam novel.'
'Dan kalau aku kabur... aku akan jadi buronan. Seluruh kerajaan akan mencariku.'
'Terjepit. Aku benar-benar terjepit.'
Di kejauhan, Gu Wanqing melihat semuanya.
Ia melihat kasim itu datang. Ia mendengar pengumumannya. Dan ia melihat reaksi orang-orang di sekitarnya—kebanyakan bingung atau takut akan investigasi.
Tapi kemudian matanya mencari satu sosok.
Li Daiwang.
Dan apa yang ia lihat membuat napasnya tercekat.
Prajurit itu duduk membeku. Wajahnya—yang biasanya datar dan tanpa ekspresi—kini menunjukkan sesuatu yang belum pernah Gu Wanqing lihat sebelumnya.
Ketakutan.
Bukan ketakutan pura-pura seperti yang ia tunjukkan pada Zhang Hu atau atasan lainnya. Tapi ketakutan yang nyata. Ketakutan yang dalam. Ketakutan seorang buruan yang merasa sudut ruang geraknya semakin sempit.
Dan kemudian suara itu datang. Samar. Tapi cukup jelas.
<"...Kalung sialan itu... Maharani... investigasi... sial... sial... AKU TERJEPIT...">
Gu Wanqing mengerutkan kening.
'(Kalung? Kalung apa? Dan kenapa dia takut pada Maharani?)'
Ia menatap Rama lebih dalam. Prajurit itu sekarang menunduk. Tangannya mengepal di atas tanah. Bahunya bergetar pelan.
Dan saat itulah Gu Wanqing membuat keputusan.
'(Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, Li Daiwang. Aku tidak tahu kenapa kau takut pada Maharani. Aku tidak tahu kalung apa yang kau bicarakan.)'
'(Tapi...)'
Ia mengepalkan tangannya. Tekadnya bulat.
'(Kau menyelamatkan nyawaku. Dua kali. Tanpa meminta imbalan apa pun. Tanpa ingin diketahui.)'
'(Sekarang... giliranku.)'
'(Aku akan melindungimu. Dari apa pun yang kau takuti.)'
'(Bahkan jika itu berarti aku harus berhadapan dengan Maharani sendiri.)'
Malam mulai turun di hutan kerajaan. Bintang-bintang bermunculan satu per satu. Angin malam berhembus pelan, membawa serta bau darah dan asap dari sisa-sisa pertempuran.
Di tengah perkemahan yang porak-poranda, dua orang—dari latar belakang yang sangat berbeda—duduk di sudut yang berbeda. Satu bersembunyi dalam ketakutan. Satu lagi mengamati dengan tekad yang membara.
Mereka belum tahu. Tapi takdir mereka sudah terikat.
Dan besok pagi... segalanya akan berubah.
****
EPS 9: BAYANGAN DI BAWAH CAHAYA LAMPU
Malam semakin larut. Di bawah naungan tenda darurat yang dingin, Rama duduk bersila di sudut paling gelap—posisi yang memungkinkannya melihat semua pintu masuk sekaligus. Kebiasaan lama yang sulit mati.
Di sekelilingnya, para prajurit lain sudah terlelap kelelahan. Dengkuran halus bersahut-sahutan. Luka gores di tubuh mereka dibiarkan begitu saja—terlalu lelah untuk dirawat. Suasana damai yang kontras dengan kekacauan berdarah beberapa jam lalu.
Namun bagi Rama, kedamaian itu hanyalah ilusi.
Tangannya meremas ujung bajunya tepat di dada. [Sentuhan Ringan] membuatnya sangat sadar akan benda itu—bulat, dingin, dengan ukiran halus yang sekarang bisa ia rasakan setiap detailnya bahkan tanpa melihat. Kalung Giok Darah. Menempel di kulitnya seperti es yang tidak pernah mencair.
'Besok pagi. Semua prajurit harus melapor. Maharani sendiri yang akan memeriksa...'
Jantungnya berdegup tidak teratur. Ia tahu betul sifat Wei Qingwan dari [Wawasan Dasar] dan dari tatapan yang ia lihat di Aula Utama kemarin. Wanita itu cerdas. Tajam. Instingnya setajam elang. Ia tidak akan melewatkan detail kecil apa pun.
'Kalau dia memeriksa satu per satu... aku yakin dia bisa merasakan keberadaan pusaka ini. Atau setidaknya... merasakan ada yang tidak beres denganku.'
Saat itulah, di tengah kesunyian malam, sebuah suara terdengar jelas di dalam benaknya. Bukan bisikan yang menakutkan. Suara berat namun hangat. Disertai gelak tawa rendah yang terdengar... sangat puas
.
"Kuhahaha... Bagus. Bagus sekali."
Mata Rama terbuka seketika. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ia mengenali suara itu.
'Dewa Sastra...'
"Kau memang berbeda dari yang lain, Anak Muda. Dan sepertinya... kau tengah berada dalam kesulitan yang cukup rumit, bukan?"
Suara itu terdengar geli. Seperti sedang menonton pertunjukan yang menghibur.
"Kalau begitu, terimalah sedikit hadiah dariku. Tanda apresiasi. Tingkah lakumu hari ini... cukup menghibur."
Tiba-tiba, cahaya keemasan yang lembut namun hangat menyelimuti tubuhnya. Hanya terlihat oleh matanya sendiri. Para prajurit lain tetap terlelap, tidak menyadari apa pun.
Rama merasakan aliran energi yang dahsyat namun nyaman menjalar dari tulang belakangnya ke seluruh pori-pori tubuh. Ini bukan sekadar perubahan tampilan. Ini adalah transformasi mendasar.
Otot-ototnya mengencang. Sendi-sendinya terasa lebih lentur. Paru-parunya mengembang lebih penuh. Ia bisa merasakan bahwa tubuhnya kini berada dalam kondisi fisik terbaik—persis seperti di masa puncak kejayaannya saat ia masih hidup sebagai Shadow of Evil.
'Ini... tubuh lamaku? Tapi terbungkus dalam penampilan Li Daiwang?'
Ia menunduk memandangi tangannya sendiri. Masih tangan yang sama—kasar, kotor, dengan kapalan di tempat yang salah. Tapi kekuatan di dalamnya... berbeda. Jauh berbeda.
Dan bersamaan dengan itu, sesuatu yang lain berubah. Postur tubuhnya yang tadinya sengaja dibuat bungkuk dan takut-takut, kini terasa lebih alami saat berdiri tegak. Ada wibawa baru yang memancar dari dirinya. Bukan wibawa seorang jenderal atau bangsawan. Tapi wibawa seorang prajurit yang telah melihat kematian dan kembali.
[Raga Puncak] —kemampuan baru yang mengembalikan kondisi fisik terbaiknya.
"Gunakan dengan baik, Anak Muda. Dan jangan mati dulu. Pertunjukan masih panjang."
Suara itu menghilang. Tawa renyahnya menggema sebentar, lalu lenyap.
'Jadi ini... hadiahnya. [Raga Puncak]. Kondisi fisik di masa puncakku... dan aura seorang prajurit sejati.'
Ia meremas tangannya. Terasa jauh lebih bertenaga. Jauh lebih familiar. Seperti memakai sarung tangan lama yang sudah sangat pas di tangan.
'Ironis. Dulu aku menggunakan tubuh ini untuk membunuh. Sekarang... untuk bertahan hidup.'
Tapi kemudian ia menyentuh dadanya. Benda dingin itu masih di sana. Kalung Giok Darah. Maharani tetap akan memeriksa besok pagi.
'Meskipun aku lebih kuat dan terlihat lebih gagah... kalau ketahuan membawa barang haram, tetap saja leherku akan dipenggal.'
'Kekuatan fisik tidak bisa menyelamatkanku dari algojo.'
'Aku butuh rencana lain.'
Di barisan tenda bangsawan yang jauh lebih besar dan mewah, Gu Wanqing duduk di depan meja riasnya. Wajahnya terpantul di cermin perunggu—lelah, kotor, dengan sisa-sisa darah yang belum sepenuhnya dibersihkan. Tapi matanya tidak bisa terpejam.
Di tangannya, ia memegang jimat kecil pemberian keluarganya. Jimat yang dulu selalu membuatnya merasa aman. Sekarang... hanya sepotong kayu dan benang.
"Li Daiwang..."
Namanya keluar sebagai bisikan. Hampir tidak terdengar.
Bayangan prajurit itu terus berputar di kepalanya. Gerakan lincahnya saat menyelamatkannya. Ketangkasan melempar batu yang menyelamatkan kakaknya. Wajahnya yang datar—tapi suara hatinya yang penuh emosi.
Dan yang paling membuatnya gelisah: suara panik yang ia dengar saat pengumuman investigasi tadi.
<"...Kalung sialan itu... Maharani... investigasi... sial... AKU TERJEPIT...">
Itu tadi sore. Sekarang, ia tidak mendengar apa-apa. Jarak antara tendanya dan tenda prajurit mungkin terlalu jauh—lebih dari 200 meter. Suara hati Li Daiwang tidak mencapai sini.
'Dia takut pada Maharani... karena sebuah kalung. Apa dia mencurinya? Tidak. Tidak mungkin. Dia bukan orang seperti itu.'
Gu Wanqing menggelengkan kepalanya sendiri. Ia tidak punya bukti. Hanya perasaan. Tapi perasaan itu begitu kuat.
'Aku bisa merasakannya. Di balik semua kerahasiaannya... dia bukan orang jahat.'
'Dia menyelamatkanku. Dua kali. Tanpa pamrih. Bahkan saat dia takut identitasnya terbongkar.'
'Sekarang... giliranku.'
Ia bangkit berdiri. Mengambil selendang tebal berwarna gelap dan menyelimuti tubuhnya. Di cermin, ia melihat bayangannya sendiri—seorang wanita muda dari keluarga terhormat, menyelinap di malam hari menuju tenda prajurit rendahan.
'Kalau ada yang melihatku... reputasiku hancur. Keluarga akan malu.'
Tapi ia tidak peduli.
'Reputasi bisa diperbaiki. Nyawa tidak.'
"Nona? Ke mana Anda pergi? Malam ini berbahaya." Pelayan pribadinya terbangun, matanya masih sayu.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar." Gu Wanqing berbisik tegas. "Tetaplah di sini. Aku tidak akan pergi jauh."
Sebelum pelayannya bisa memprotes, ia sudah menyelinap keluar. Memanfaatkan kegelapan malam dan kebingungan para penjaga yang sedang berganti giliran tugas.
Langkah kaki pelan mendekat.
Rama langsung menegakkan tubuh. Insting pembunuh bayarannya—yang sekarang didukung oleh [Raga Puncak]—langsung aktif. Ia merunduk, bersembunyi di balik bayangan gerobak kayu. Matanya mengintip.
Dari balik kegelapan, muncul sosok wanita berbalut selendang gelap. Postur ramping. Gerakan hati-hati namun tegas.
'Gu Wanqing?!'
Jantungnya berdegup kencang. 'Apa yang dia lakukan di sini? Ini wilayah prajurit rendahan. Tidak pantas bagi seorang Nona Besar berada di sini—apalagi malam-malam begini.'
Gu Wanqing berhenti tidak jauh dari tempat persembunyiannya. Matanya menyapu sekeliling, mencari sesuatu. Atau seseorang.
Dan seolah ada magnet yang menarik, pandangannya jatuh tepat ke arah di mana Rama bersembunyi.
"Keluarlah." Suaranya pelan tapi tegas. "Aku tahu kau ada di sana... Prajurit Li Daiwang."
'Sial. Dia mencariku.'
Rama melangkah keluar dari balik gerobak. Mencoba memasang wajah takut-takut seperti biasa.
"M-maafkan saya, Nona. Saya tidak sedang melakukan hal buruk. Saya hanya... berjaga."
Gu Wanqing berjalan mendekat. Tatapannya menelusuri wajah Rama. Dari atas sampai bawah. Ada sesuatu di matanya—bukan kemarahan, bukan kecurigaan. Tapi... pencarian.
"Jangan berpura-pura di depanku." Suaranya rendah, penuh penekanan. "Aku melihatmu hari ini. Dua kali."
Jantung Rama berdegup kencang. 'Melihat apa?'
"Saat kau menarikku dari panah beracun... dan saat kau melempar batu ke arah kuda di dekat kakakku." Gu Wanqing menyipitkan mata. "Gerakanmu bukan gerakan prajurit rendahan biasa. Kau... bukan orang biasa."
'Sial. Dia melihat lemparan batu itu.'
Rama menunduk lebih dalam. "Nona... saya hanya prajurit biasa yang kebetulan—"
"Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya." Gu Wanqing memotong. Suaranya sedikit bergetar, tapi tegas. "Yang aku tahu... kau menyelamatkan nyawaku. Dan nyawa kakakku. Itu sudah cukup."
Ia mengulurkan tangan ke balik pakaiannya. Mengeluarkan kantung hitam dan lencana perak.
Rama menatap benda-benda itu. Bingung. "Apa ini, Nona?"
"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan." Gu Wanqing menatap lurus ke matanya. "Tapi aku tahu kau takut pada pemeriksaan besok. Aku bisa melihatnya di matamu saat pengumuman tadi."
'Dia... dia memperhatikanku?'
"Kantung ini bisa menyembunyikan aura benda apa pun di dalamnya. Lencana ini akan memberimu perlindungan dari Keluarga Gu." Gu Wanqing mendorong benda-benda itu ke tangan Rama. Sentuhan jari mereka bertemu sekilas.
Dan saat sentuhan itu terjadi, suara hati Rama—yang tidak ia sadari—bocor:
<'...Kenapa dia membantuku? Dia bahkan tidak tahu apa yang kusembunyikan. Dia tidak tahu aku bisa saja penjahat. Pembunuh. Kenapa dia... memercayaiku...'>
Gu Wanqing merasakan matanya memanas. Tapi ia menahan air matanya.
"Anggap ini pembayaran hutang nyawa." Suaranya serak. "Sekarang... sembunyikan barangmu. Dan bersiaplah untuk besok."
Ia berbalik. Melangkah pergi.
Tapi sebelum menghilang, ia berhenti sejenak. Menoleh sedikit.
"Dan Prajurit Li... satu hal lagi."
Rama mendongak.
"Setelah semua ini selesai... kau akan menjadi pengawal pribadiku. Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya di sisiku. Dan entah kenapa..." Ia tersenyum tipis. "...aku merasa bisa memercayaimu."
Kemudian ia benar-benar pergi. Ditelan kegelapan malam.
Rama berdiri terpaku. Dua benda di tangannya terasa berat.
'Dia... dia tahu aku menyembunyikan sesuatu. Tapi dia tidak bertanya apa.'
'Dia melihat gerakanku hari ini. Tapi dia tidak melaporkanku.'
'Kenapa? Kenapa dia begitu...'
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimat itu di kepalanya. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
'...Terima kasih, Nona Gu.'
Setelah memastikan Gu Wanqing benar-benar pergi, Rama bergerak cepat. Ia mengeluarkan Kalung Giok Darah dari balik pakaiannya. Batu giok merah darah itu berkilau di bawah cahaya rembulan—indah, tapi mematikan.
Ia memasukkannya ke dalam kantung hitam pemberian Gu Wanqing. Menarik talinya hingga tertutup rapat.
Dan seketika—
[Sentuhan Ringan] merasakan perubahannya. Aura dingin yang selama ini menusuk-nusuk kulitnya... menghilang. Seperti ditelan kegelapan. Kalung itu masih ada. Masih di sana. Tapi seolah-olah tidak ada.
'Bahan khusus... ternyata benar-benar berfungsi.'
Ia menyelipkan kantung itu di balik bajunya, di tempat yang tersembunyi namun mudah dijangkau. Lencana perak ia simpan di saku bagian dalam.
'Pengawal pribadi...'
Ia menghela napas panjang.
'Wanita itu benar-benar tidak biasa. Bukannya menjauh dari orang mencurigakan sepertiku... dia malah menarikku makin dekat.'
Tapi di sudut hati kecilnya, ada perasaan lain yang muncul. Rasa bersalah. Dan sesuatu yang lebih hangat. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
'Aku baru saja menyerahkan nasibku ke tangannya. Tapi sepertinya... tidak ada pilihan lain saat ini.'
Ia kembali masuk ke dalam tenda. Kali ini, berkat [Raga Puncak], meski pikirannya tetap berputar, tubuhnya bisa beristirahat dengan lebih nyenyak.
Tapi tepat sebelum ia terlelap, sebuah pikiran melintas:
'Dia bilang dia melihat gerakanku. Tapi... apakah hanya itu?'
'Kenapa aku merasa... dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan?'
Matahari pagi akhirnya menyingsing. Sinar keemasannya menembus celah-celah pohon, menyinari perkemahan yang dipenuhi ketegangan. Bau darah sudah dibersihkan. Digantikan oleh bau keringat dan ketakutan.
Para prajurit sudah berbaris rapi di lapangan utama. Dari pangkat terendah hingga komandan. Semuanya berdiri tegak. Menunggu.
Di bawah kanopi besar di ujung lapangan, duduk sosok yang ditakuti semua orang pagi ini.
Maharani Wei Qingwan.
Gaun naga hitam keemasannya berkilau di bawah sinar matahari. Wajahnya dingin. Tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menyapu setiap wajah di barisan—seperti elang yang mengawasi mangsanya dari ketinggian.
Di sebelah kanannya berdiri Gu Changfeng dengan wajah serius dan sedikit lelah. Di sebelah kirinya, beberapa pejabat istana.
Tidak jauh dari sana, Murong Ze berdiri dengan wajah masam. Kegagalan rencananya dan campur tangan ibunya jelas membuatnya tidak senang.
Dan di antara barisan prajurit yang panjang, Rama berdiri tegak.
[Raga Puncak] membuat posturnya sempurna. Tidak menyolok—tapi juga tidak terlihat lemah atau pengecut. Ia tampil sebagai prajurit biasa yang siap menjalankan tugas. Aura kewibawaannya membuat pandangan rekan di sebelahnya tidak lagi meremehkan.
Namun di dalam, hatinya berdebar kencang.
Ia bisa merasakan tatapan Maharani menyapu seluruh barisan. Mencari sesuatu. Atau seseorang.
'Apakah dia merasakan kalungnya? Apakah dia tahu?'
Di kejauhan, di antara kerumunan keluarga bangsawan, mata Rama bertemu dengan mata Gu Wanqing. Wanita itu berdiri di samping kakaknya. Ia menatap Rama. Lalu mengangguk pelan. Sekali. Sangat halus. Tapi cukup untuk membuat Rama tahu:
'Aku di sini. Kau tidak sendirian.'
Rama menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya menyentuh lencana di sakunya dan kantung di dadanya.
'Baiklah... ujian sesungguhnya baru saja dimulai.'
Pemeriksaan pun dimulai.
Satu per satu, prajurit dipanggil. Diperiksa. Ditanya. Sejauh ini, tidak ada yang mencurigakan.
Dan dengan setiap langkah yang mendekat ke arah kanopi Maharani, jantung Rama berdegup semakin cepat.
Lalu—
"Prajurit Li Daiwang! Maju!"
'Giliranku.'
Ia melangkah maju. Dan saat ia mendongak, ia melihatnya.
Maharani Wei Qingwan menatapnya. Mata elang itu berhenti tepat padanya.
Dan di matanya... ada sesuatu. Bukan pengakuan. Bukan kecurigaan. Tapi... ketertarikan. Seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia duga.
'Sial. Dia melihat sesuatu.'
Jantung Rama hampir berhenti.
"Prajurit Li Daiwang..." Suara Maharani dingin. Menusuk. "Mendekatlah."
'...Aku tidak suka ini.'
****
Bersambung...
