Ren akhirnya tiba di kaki gunung bersalju itu. Angin dingin berembus pelan, membawa aroma es dan sesuatu yang… aneh. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang.
Gunung ini… auranya tidak normal, batin Ren.
Matanya menyipit saat ia melihat sebuah desa kecil berdiri tak jauh dari jalur pendakian. Asap tipis keluar dari cerobong rumah-rumah kayu—tanda kehidupan masih berjalan seperti biasa, setidaknya di permukaan. Ren memutuskan untuk mampir. Barangkali, penduduk lokal memiliki kunci untuk memahami keganjilan tempat ini.
Peringatan dari Masa Lalu
Kedatangan Ren disambut dengan tatapan penuh kecurigaan dan ketakutan. Seorang pria tua pengangkut kayu mencegatnya, memperingatkan bahwa gunung itu telah "terbangun" dan mengeluarkan raungan yang mengerikan. Namun, saat Ren menunjukkan aura sihirnya, warga mulai melunak dan mengarahkannya ke satu-satunya orang yang memegang kebenaran: Kepala Desa.
Di dalam rumah kayu yang sederhana, Ren duduk berhadapan dengan pria paruh baya berwajah lelah tersebut.
"Di puncak gunung itu..." kata Kepala Desa pelan, "terdapat sebuah segel yang mengurung seorang iblis."
Ren mengernyit. "Iblis apa?"
"Kami tidak tahu. Tugas kami hanya menjaga segel itu secara turun-temurun," jawabnya dengan suara berat. "Namun beberapa bulan lalu, suara raungan mulai terdengar. Bangsawan yang kau temui mengirim penyihir, tapi mereka hilang. Lalu Dewan Sihir datang membawa pasukan—mereka pun tak pernah kembali."
Labirin Tanpa Pintu Keluar
Kepala Desa menatap Ren dengan tatapan memohon agar bocah itu membatalkan niatnya. Ia menjelaskan bahwa medan menuju puncak telah dikelilingi oleh Formasi Sihir—sebuah labirin ilusi yang membuat siapapun berjalan berputar-putar tanpa henti hingga mati kedinginan atau kelelahan.
"Dulu, kami punya Amulet Warisan untuk menembus ilusi itu," lanjut Kepala Desa dengan senyum pahit. "Tapi benda itu sekarang dibawa oleh rombongan Dewan Sihir yang menghilang di atas sana."
Hening sejenak. Ren menghela napas pelan. Berarti, tidak ada jalan pintas. Tidak ada bantuan alat sihir. Ia harus mengandalkan indranya sendiri di tengah badai yang mampu memutarbalikkan kenyataan.
"Tanpa amulet itu, peluangmu hampir nol," tegas Kepala Desa.
Ren menutup matanya sejenak. Ia memikirkan Bungee Gum, Texture Surprise, dan janjinya kepada Laxus serta rasa penasarannya pada kekuatan Gildarts. Jika ia jatuh di sini, ia takkan pernah mencapai puncak yang ia dambakan.
Ia membuka matanya—tenang, namun penuh tekad. "Aku tetap akan pergi."
Menuju Kabut Abadi
Kepala Desa terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Kau benar-benar penyihir yang keras kepala. Baiklah, tapi ingat satu hal: Jangan percaya pada apa yang kau lihat di gunung itu."
Ren mengangguk hormat, lalu berbalik menuju pintu. Angin dingin menyambar wajahnya saat ia melangkah keluar. Matanya menatap tajam ke arah puncak Draeven yang kini tertutup kabut tebal yang seolah bernapas.
Iblis, segel, dan Dewan Sihir yang lenyap... Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Menarik..."
Ren mulai melangkah, meninggalkan kehangatan desa terakhir. Ia tahu, di atas sana, bukan hanya otot yang akan diuji, melainkan ketajaman insting dan kemampuannya untuk membedakan antara kenyataan dan tipu daya sihir.
