Cherreads

Chapter 88 - Bab 88: Defeat

Halaman sekolah dipenuhi aura mencekam. Tentakel hitam di tubuh Hikari bergetar liar, menunjukkan kendali Slenderman semakin kuat.

Dari sisi lain, Airi berdiri kaku. Wajahnya gelap sepenuhnya, hanya mata dan mulut putih cerah yang terlihat, tersenyum menyeramkan. Dia tidak bicara—hanya gerakan pedang yang cepat dan brutal menghantam Hikari.

Hikari berusaha menahan tubuhnya sendiri, menjerit dalam hati:

Aku… aku masih Hikari… jangan biarkan dia menguasai tubuhku…

Serangan Airi menghantam dengan ganas. Hikari menangkis sebisa mungkin, tapi tentakel hitam membuat tubuhnya bergerak liar, sulit dikendalikan.

Di sisi lain, Arou dan Arthur menghadapi Wendigo dan monster lain. Arou menebas monster yang mendekat dengan dua pedangnya, sementara Arthur memutar kapak raksasa, menghantam monster besar dengan serangan kuat.

Lumina, yang sudah sadar, bergerak dari bayangan, menyerang monster satu per satu untuk memberi ruang bagi Airi dan Hikari.

Tomo dan Haru tetap berada di tepi halaman, menonton dengan cemas.

Hikari menutup mata sejenak, menahan pengaruh Slenderman. Tentakel hitam di punggung dan lengannya bergerak liar, tetapi perlahan Hikari mulai mengendalikan gerakannya.

Aku harus… aku bisa… jangan menyerah…

Arou menyadari perubahan itu dan berteriak ke Arthur:

"Dia mulai melawan kendalinya sendiri!"

Arthur mengangguk, tetap fokus menahan Wendigo, tapi kini memberi celah agar Hikari bisa bergerak lebih bebas.

Airi, wajah gelap dan senyum putihnya masih menakutkan, menyerang Hikari dengan cepat. Hikari bergerak menangkis sambil berusaha menjaga tubuhnya tetap di bawah kendali.

Situasi tetap kacau: Hikari melawan kendali Slenderman di satu sisi, Airi menyerang brutal, Wendigo dan monster lainnya menghancurkan halaman. Namun sedikit demi sedikit, Hikari mulai menguasai tubuhnya kembali, menatap Airi dengan tekad.

Haru dan Tomo menahan napas, menyaksikan pertarungan yang bukan hanya melawan monster, tapi juga pertarungan batin Hikari melawan Slenderman.

Airi, wajah gelap sepenuhnya, hanya mata dan mulut putih cerah yang terlihat, mulai tertawa menyeramkan. Suara tawa itu bergema dingin dan menakutkan:

"HAHAHAHAHAHAHA!"

Tawa itu membuat semua murid dan guru terpaku ketakutan.

Hikari menjerit dalam hati, berusaha melawan kendali:

Aku… aku Hikari… jangan biarkan dia mengambil alih tubuhku… aku harus…

Serangan Airi brutal dan cepat. Pedangnya menghantam tubuh Hikari, memaksa Hikari menangkis dengan tentakel hitam yang bergerak liar.

Masing-masing gerakan mereka mengirimkan gelombang kekuatan yang membuat tanah di sekitar retak.

Arou dan Arthur masih sibuk menahan Wendigo dan sisa monster. Arou menebas beberapa monster yang menyerang dari sisi, sementara Arthur memutar kapaknya menghantam monster besar.

Lumina, yang sudah sadar, tetap fokus menahan beberapa monster lain agar tidak mengganggu pertarungan Hikari vs Airi.

Haru dan Tomo hanya menonton dari tepi halaman, napas tertahan, mata terbelalak menyaksikan Hikari yang dikendalikan dan Airi mode gelap yang menyeramkan.

Hikari menahan tubuhnya, menjerit dan menggeliat:

Aku tidak mau menyerah… aku masih Hikari… aku harus mengendalikan tubuhku!

Setiap serangan pedangnya menekan Hikari, memaksa Hikari untuk menahan diri lebih keras.

Tentakel hitam di tubuh Hikari bergerak liar, namun perlahan, Hikari mulai bisa menahan beberapa gerakan, menangkis serangan Airi sambil mencoba mengontrol tubuhnya.

Arou menatap Hikari, berteriak:

"Dia masih melawan kendalinya! Fokus, Arthur!"

Arthur mengangguk, tetap menahan Wendigo agar Hikari dan Airi bisa bertarung tanpa gangguan dari monster lain.

Pertarungan berlangsung sengit, semakin lama Airi menertawakan Hikari dengan suara dingin:

"HAHAHAHAHAHAHA!"

Sementara Hikari terus berusaha melawan pengaruh Slenderman, suasana semakin tegang dan menakutkan. Pertarungan ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga pertarungan batin Hikari melawan kendali Slenderman, dengan Airi mode gelap sebagai lawan yang sangat menakutkan.

Pertarungan brutal antara Hikari dan Airi mode gelap mencapai puncaknya. Pedang Airi menghantam tentakel hitam Hikari, tubuh Hikari bergerak liar, namun perlahan Hikari mulai menguasai diri.

Tiba-tiba, wajah gelap Airi memudar, langit-langit kembali cerah, lampu-lampu sekolah menyala satu per satu.

Keheningan yang mencekam menyelimuti halaman sekolah.

Namun dalam gerakan terakhir, tentakel hitam Hikari secara tak sengaja melukai Airi. Tangan kiri, kepala, dan menusuk perut Airi dengan tentakel. Hikari menjerit, menangis terisak:

"IBU!!"

Hikari segera mencoba melepas kendali, tubuhnya bergetar hebat, air mata menetes deras. Ia menunduk, menatap Airi yang terkulai, wajah penuh luka.

Di sisi lain, Arou, Arthur, dan Lumina telah berhasil mengalahkan Wendigo.

Hikari berhasil menyingkirkan pengaruh Slenderman dari tubuhnya. Tentakel hitam perlahan lenyap, tubuh Hikari kembali normal, namun wajahnya pucat penuh kesedihan.

Airi terbaring tak bernyawa. Suasana berubah menjadi hening, hanya suara tangisan Hikari yang terdengar. Hikari meraih tubuh Airi, memeluknya sambil menangis.

"Maafkan aku, ibu…"

Semua orang yang menyaksikan—murid-murid, guru, bahkan Haru dan Tomo—terkejut dan ikut merasakan kesedihan yang mendalam.

Halaman sekolah yang tadi kacau kini kembali tenang, tapi duka dan kehilangan menghantui hati Hikari dan semua yang ada di sana.

Halaman sekolah kembali tenang. Tentakel hitam sudah lenyap dari tubuh Hikari, Wendigo dan monster lain berhasil dikalahkan oleh Arou, Arthur, dan Lumina.

Namun keheningan itu dipenuhi rasa kehilangan.

Hikari terduduk di tanah, memeluk tubuh Airi yang tak bergerak, air mata deras membasahi wajahnya.

"Ibu… aku… maafkan aku…" isak Hikari terdengar parau, menggetarkan hati semua yang melihat.

Arou, Arthur, dan Lumina mendekat perlahan, mencoba menenangkan Hikari.

Arou menepuk bahu Hikari, suaranya lembut tapi tegas:

"Hikari… kau sudah melakukan yang terbaik. Airi ingin kau selamat."

Arthur tetap waspada, memeriksa sisa monster di sekitar, memastikan tidak ada ancaman tersisa.

Lumina berdiri di dekat Hikari, menatap Airi dengan sedih, tapi mencoba memberi kekuatan agar Hikari bisa bangkit.

Haru dan Tomo, meski tidak bisa ikut bertarung, berdiri di tepi, menyaksikan Hikari menahan duka yang luar biasa.

Di tengah keheningan itu, Hikari menatap ke langit, hatinya dipenuhi kesedihan dan rasa kehilangan. Namun di balik kesedihan itu, ada tekad yang mulai tumbuh.

Aku harus terus kuat… untuk ibu… untuk semua orang…

Tiba-tiba, dari arah tubuh Hikari yang tadi dikendalikan Slenderman, tersisa sisa aura gelap samar, seperti ada pesan atau tanda yang belum sepenuhnya hilang. Hikari menatapnya, merasa ada sesuatu yang belum selesai.

Arou menatap Hikari dengan serius.

"Kita harus tetap waspada, Hikari. Ini belum berakhir."

Hikari mengangguk perlahan, menghapus air mata. Meski hatinya hancur, tekadnya untuk melanjutkan pertarungan melawan kegelapan semakin kuat.

Setelah pertarungan brutal dan kesedihan yang menimpa Hikari, suasana sekolah kembali normal. Namun duka masih terasa di hati Hikari. Semua orang terlihat lelah dan sedih, terutama Hikari yang kehilangan Airi.

Priscilla memperhatikan Hikari dari jauh, melihat betapa berat hatinya. Ia menatap Hikari dengan lembut, memberi semangat tanpa berkata banyak.

More Chapters