Cherreads

Chapter 11 - CH 09 - Negara Qinghe (SC)

3 bulan kemudian. 

Di langit-langit malam yang di hiasi oleh jutaan bintang, sebuah pedang terbang melesat dan ekornya meninggalkan sinar cahaya kehijauan, mirip seperti bintang jatuh.

Sosok Tian Zi berdiri tegak di atas pedang itu, jubah hitamnya berkibar lembut. Dia telah kembali dengan transportasi ini beberapa jam yang lalu sejak Mao Qiao memberitahu bahwa mereka sudah dekat dengan tujuan.

Tidak ada alasan besar di baliknya, hanya saja mereka akan tinggal di negara ini untuk waktu yang belum ditentukan, jadi tidak ada salahnya untuk melihat dan mengenali tempat terlebih dulu.

“Di depan sana adalah perbatasan Negara Qinghe,” ucap Mao Qiao memperjelas. Meskipun dia tidak menampakkan diri, tapi suaranya masih dapat di dengar dari dalam tubuhnya.

Tian Zi menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia buru-buru mempercepat pedangnya setelah Mao Qiao memberinya peringatan.

“Hati-hati saat melewati wilayah Istana Kerajaan.”

Tak sampai setengah jam setelah mereka memasuki Negara Qinghe, Tian Zi mendapati pemandangan yang begitu indah di tengah-tengah pegunungan yang curam.

Telihat tiga bangunan megah mencuat dari kegelapan, bagaikan permata bercahaya yang diletakkan di atas kain beludru malam. Bangunan-bangunan itu berdiri kokoh di puncak gunung, arsitekturnya memancarkan keanggunan dan kekuasaan yang tak terbantahkan. Cahaya keemasan hangat terpancar dari jendela-jendela besar, menerangi siluet gunung dan menari-nari di antara pepohonan.

Pemandangan itu diperindah oleh detail di sekelilingnya. Pohon-pohon bersemi dengan bunga-bunga merah muda yang lembut, menciptakan kontras yang memukau dengan kegelapan hutan di bawahnya. Kelopak-kelopak bunga itu tampak bercahaya dalam remang cahaya, seolah memancarkan kehangatan dan kehidupan di tengah kesunyian pegunungan.

Pilar-pilar tinggi menjulang ke atas, dihiasi dengan ukiran teratai yang amat indah dan rumit. Atap-atapnya melengkung anggun, ditutupi dengan genting berwarna kecoklatan yang berkilauan seperti permata. Juga, ada air terjun yang mengalir deras, suaranya bergemuruh dan memenuhi lembah, menciptakan simfoni alam yang memukau.

“Siapa pemilik dari tempat megah itu? Mereka seharusnya keluarga yang sangat kaya, 'kan?” tanya Tian Zi dengan nada tertegun.

“Selain kaya, mereka juga bukan keluarga sembarang, karena itu merupakan Istana Kerajaan Negara Qinghe. Mereka yang menempatinya adalah keluarga kerajaan yang bertanggung jawab atas keamanan negara.”

“Pantas saja,” ucap Tian Zi, masih terkunci pada pemandangan yang sulit diabaikan itu. “Tapi, bukankah kau pernah mengatakan bahwa negara di sudut ini sangat miskin apalagi dari segi kekuatan? Mengapa aku lihat Negara Qinghe tidak demikian?”

“Jangan tertipu dengan penampilan luarnya saja. Meskipun Negara Qinghe berada di sudut peta, tapi bukan berarti keluarga kerajaan sangat miskin, malahan sangat langka jika ada raja yang tidak memiliki apapun,” jelas Mao Qiao.

Tian Zi mengerti. Lagi pula tidak tahu apakah kemegahan dan keindahan ini dapat dimiliki oleh kota-kota di dalamnya juga.

Namun, ada hal lain yang mengusik pikirannya. Jika memang mereka adalah keluarga yang bertanggung jawab atas keamanan negara, mengapa malah memilih tinggal di tengah-tengah gunung curam yang jauh dari keramaian? Bukankah akan jauh lebih baik jika berdiri di tengah kota agar lebih mudah membaur dengan rakyat dan memahami kesah-kesus mereka?

Tian Zi ingin menanyakan ini, namun Mao Qiao lebih dulu menghentikannya dengan berkata, “Untuk sekarang jangan dulu banyak tanya. Sebentar lagi kita akan melewati area Istana Kerajaan, pasti ada semacam formasi atau larangan yang di sembunyikan. Jadi, tetap awasi sekitarmu dan aktifkan persepsi jiwa.”

Mendengar itu, Tian Zi melipat kedua tangannya, membalas dengan nada mencibir, “Untuk apa begitu tegang? Kau kan ada disiku.”

“Apa maksudmu?” Tanya Mao Qiao, tampak terkejut dengan perubahan sikap Tian Zi.

“Dibandingkan dengan semua individu di negara sudut ini, persepsi jiwamu tetap jauh lebih tinggi dari mereka. Mustahil ada perangkap yang bisa mengelabuimu, 'kan?”

“Kau bocah! Kau pikir penggunaan ruang sebelumnya tidak menghabiskan banyak spiritualku? Jangan lupa jika yang aku gunakan itu adalah keterampilan semata, bukan ruang asli yang didapatkan dari pencapaian ranah. Jadi...”

“Baiklah, baiklah. Tidak perlu menjelaskan lagi. Aku mengerti,” potong Tian Zi cepat.

“Baguslah jika kau mengerti,” kata Mao Qiao sinis. Tapi itu tak bertahan lama ketika menyadari Tian Zi yang masih belum bertindak juga. “Kenapa masih diam? Cepat lakukan! Kita tidak tahu perangkap itu ada di dalam atau malah...”

Bang!

Belum sempat Mao Qiao menyelesaikan kalimatnya, bumi tiba-tiba bergetar. Sebuah lingkaran berwarna keemasan yang rumit bangkit tepat di bawah pedang terbangnya, memancarkan cahaya menyilaukan.

Dalam sepersekian detik, dari lingkaran itu, garis-garis cahaya keemasan yang tipis namun cepat melesat ke samping, mirip seperti aliran listrik yang menghidupkan sirkuit.

Garis-garis energi itu bergerak horisontal melintasi lembah dan pegunungan, secara berurutan mengaktifkan lima lingkaran formasi lain yang tersembunyi. Formasi-formasi ini, yang sebelumnya tak terlihat, kini bersinar terang seolah-olah enam sakelar raksasa baru saja dihidupkan.

“Ini... Formasi? Mereka menaruhnya di luar kawasan istana?” ucap Tian Zi terkejut, melihat keberadaan lima titik formasi yang sebelumnya ia tak sadari.

Tak sampai di situ, detik berikutnya energi dilepaskan secara vertikal. Dari setiap lingkaran formasi, dari yang paling jauh hingga yang berada tepat di bawah kakinya, dinding cahaya keemasan pekat secara bersamaan menjulang tinggi ke langit.

Cahaya-cahaya ini, yang tingginya mencapai ratusan meter, bergerak cepat miring ke dalam, bertujuan untuk menyatu di satu titik di atas kepala Tian Zi, mengunci sebagian area lembah.

“Gawat! Kita akan terperangkap. Segera menjauh dari lingkaran ini!” Mao Qiao seketika keluar dari persembunyiannya dalam bentuk roh.

Pada saat itu, Tian Zi mengerahkan seluruh Energi Spiritualnya. Pedang terbang melesat dengan kecepatan penuh, membelah udara, berusaha keluar dari radius formasi sebelum cahaya keemasan di atasnya menyatu.

Namun, kecepatan cahaya-cahaya yang membentuk kubah itu jauh melebihi perkiraannya. Dalam sekejap mata, dinding-dinding cahaya itu bertemu di udara.

ZZZZZT!

Formasi itu selesai. Tian Zi hanya bisa menyaksikan dirinya terkunci sepenuhnya, terperangkap di dalam kerucut cahaya keemasan yang menjulang dari lembah. Suara bising dari formasi itu bergemuruh.

°°°°

Di bawah rembulan yang menggantung bagai keping perak di langit kelam, terhampar sebuah taman yang memancarkan keindahan abadi. Di tengahnya, seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun hadir, memancarkan aura keanggunan yang memikat.

Rambutnya yang sehitam malam tergerai lembut, tanpa jepit rambut atau aksesoris sejenisnya, membuatnya menari mengikuti irama angin yang berbisik mesra.

Gaunnya bagai kabut pagi yang membungkus tubuhnya, berwarna hijau muda yang agak transparan namun menenangkan dan anggun, dihiasi sulaman perak yang rumit, menggambarkan bunga-bunga yang bermekaran di musim semi.

Setiap gerakan tubuhnya mengalunkan keindahan yang mempesona, bagai tarian naga di antara awan.

Di pangkuannya tergeletak sebuah alat musik kecapi yang terbuat dari kayu cendana berusia ratusan tahun. Jari-jarinya yang lentik menari di atas senar, menghasilkan melodi yang memilukan hati. Setiap nada yang keluar bagai tetesan embun yang jatuh dari kelopak bunga, menyentuh jiwa dan membawa kedamaian.

Di sekelilingnya, taman itu bermandikan cahaya rembulan yang lembut. Bunga-bunga plum bermekaran dengan indahnya, memancarkan aroma manis yang memabukkan. Pepohonan dengan daun merah muda menjulang tinggi, melindungi taman dari dunia luar.

Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa serta bisikan dari dunia lain, seolah roh-roh kuno berkumpul di taman itu, mendengarkan melodi yang dimainkan oleh sang bidadari.

Di bawah rembulan yang menyaksikan segalanya, wanita itu terus memainkan kecapi-nya, menciptakan simfoni keindahan yang memukau, sebelum tiba-tiba simbol rumit yang terukir di dahinya mengeluarkan cahaya berkedip.

“Formasi kerajaan aktif?” Jari-jarinya seketika berhenti memetik, dunia seakan menjadi kosong saat wanita itu mengerutkan dahinya.

“Lapor!” tiba-tiba, seorang penjaga berjubah kuning datang menghampiri dengan tergesa-gesa.

“Kenapa? apa ada sesuatu?” tanya wanita itu, bangkit dari duduknya yang membuat gaun peraknya yang bercampur hijau muda transparan terurai lurus, panjang hampir menyentuh kakinya.

“Ada seseorang yang menerobos masuk!” ucap penjaga itu.

Apa mereka datang untuk mengincar kakek lagi? bisik wanita itu, sebelum mengangkat kepalanya dan berbicara, “berapa orang?”

“Sepertinya... hanya satu.”

Alisnya seketika berkerut mendengar jawaban itu. Tidak biasanya mereka hanya mengirim satu orang. Apa mungkin jebakan?

Saat masih memikirkan ini, tiba-tiba persepsinya merasakan aura yang sama mulai mendekat, dan tak lama kemudian sebuah siluet cahaya melesat dengan cepat tepat di atas kepalanya.

Melihat sekilas jika ada sosok di atas pedang terbang itu, wanita itu yakin jika orang tersebut yang telah memicu formasi istana. Buru-buru ia melesat ke langit setelah meninggalkan perintah pada penjaga tersebut.

“Ayahanda dan kakak sedang tidak di rumah, kalian tetaplah di sini untuk menjaga kediaman dan kakek. Aku akan mengejarnya!”

“Berhati-hatilah Nona.”

Di bawah langit gelap yang kosong, Tian Zi melesat dengan cepat. Ekspresinya panik saat ia terus memalingkan wajahnya ke belakang.

“Beruntung, tadi itu hanya formasi sekte tingkat tiga, tidak begitu sulit bagiku memecahkannya.” Mao Qiao mengambil napas perlahan, lalu mengembuskannya agak kasar.

“Kau ini, aku sudah mengingatkanmu sebelumnya untuk berhati-hati saat melewati istana kerajaan, kenapa masih sangat ceroboh?”

“Aku tidak tahu jika mereka menaruhnya di luar kawasan,” ucap Tian Zi masih sedikit khawatir.

“Karna itu aku menyuruhmu untuk berhati-hati. Ini adalah Istana Kerajaan Negara Qinghe, reputasinya jelas tidak biasa. Tidak mungkin mereka menaruhnya di tempat yang mudah diketahui.”

“Tapi, kau sudah menghancurkannya. Seharusnya mereka tidak akan menyadarinya, 'kan?”

“Tidak sesederhana itu,” kata Mao Qiao, suaranya tiba-tiba berhenti.

“Jadi maksudmu, kita tetap ketahuan?”

Mao Qiao tidak menjawab, terus mengawasi dari arah belakang.

Melihat itu Tian Zi kembali berkata, “Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin aku yang baru lepas dari pemburuan akan kembali di buru lagi? Bukankah ini sangat tidak beruntung?”

Tiba-tiba...

“Di depanmu!”

Mendengar peringatan Mao Qiao, Tian Zi reflek menghentikan pedangnya. Alisnya mengerut tajam saat ia menarik pandangannya ke langit yang ada di hadapannya.

Setelah lama menunggu dan masih tak menemukan apa-apa, tiba-tiba terdengar suara yang menggema dan penuh wibawa.

“Setelah memasuki wilayah seseorang tanpa izin, mengapa Tuan begitu terburu-buru untuk pergi? Kenapa tidak datang untuk meminum teh terlebih dahulu?”

Dari langit yang kosong, sebuah siluet anggun turun perlahan diiringi dengan daun-daun bunga plum yang berhamburan. Rambut hitamnya yang panjang dan halus menari di udara saat ia melayang, dan gaun perak kehijauannya berkibar lembut.

Di antara jari-jari kirinya, sebuah teratai perak melayang satu inci di atas telapak tangannya. Teratai itu seukuran telapak tangan, dan di tengah-tengah kelopaknya, ada semacam kobaran api yang memancarkan cahaya keemasan.

Saat kakinya mendarat, riak samar tercipta tanpa sedikit pun mengeluarkan suara. Kehadirannya begitu menenangkan, tapi juga mengandung ancaman yang tidak bisa diabaikan.

“Siapa?” bisik Tian Zi, melihat kehadiran wanita di depannya yang begitu mencolok, meskipun tak memiliki perhiasan semacam aksesoris rambut yang dapat menambah kesempurnaannya itu.

Mungkin ini adalah sesuatu yang wajar baginya mengingat selama lima belas tahu ini Tian Zi selalu bersembunyi di dalam hutan. Tapi saat orang-orang dari Sekte Phoenix Emas mengepungnya, ada beberapa golongan wanita yang juga ikut berpartisipasi. Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang setingkat dengan wanita ini.

Siapa dia? Manusia? Atau dewi yang sengaja turun ke dunia fana karna merasa bosan di surga?

— Yue Qingzhu

______________

★ Ilustrasi Formasi Kerajaan (8) 

★ Ilustrasi Istana Kerajaan Qinghe (9) 

★ Komik singkat Pertemuan Tian Zi dengan Yue Qingzhu (1) 

More Chapters