Setiap hari dia selalu mencari wanita itu, padahal istrinya dirumah bersama anak- anaknya
Wanita itu bukan pelacur dan juga bukan orang yang dia kenal, hanya teman yang kebetulan bersaudara seperti teman dari kecil dan sampai besar serta punya suami sampai punya anak
Dy bilang akan membahagiakan wanita itu karena mendengar kabar ayahnya meninggal sudah 10 tahun silam dy hidup sendirian
Pagi itu, ketty mengenyam pendidikan di salah satu universitas swasta
Temannya bilang dy paling cantik dan baik hati dikelas, tomy lelaki yang telah menikkah itu
Ketty : pagi ini kamu antar aku ke kampus?
Tommy : iya, soalnya Kammu belum sarapan dan aku khawatir penyakit lambung kamu kambuh
Ketty: iya kita kemana?
Tommy : ke restaurant yang buka pagi ini, naik motor aja ya biar gak terlambat kuliah nya, sks kamu percepat biar kerja
Ketty : iya mas
Tommy : kemudian dy ke restaurant dan makan bersama
Ketty,: mas udah sholat dhuha?
Tommy : belom
Ketty : sholat bareng, tapi sendiri-sendiri
Tommy :iya lah
Ketty : kok nangis?
Tommy: pusing gak kerja sambil kuliah?
Ketty : biasa aja
Tommy : aku tidak pernah cerita sudah menikkah dan punya anak
Ketty :kaget dan menangis, ya, sepertinya begitu. Dia tidak berani mengaku kepada mamanya kalau di antara kami tidak ada apa-apa. Atau, bahkan untuk berpura-pura kalau kami sudah pu tus. Makanya, di kantor malah sengaja membuat ru mor itu semakin kuat.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus tegas. Kalau perlu, aku keluar saja dari sana. Aku masih muda, baru juga lulus kuliah, tentu akan ada perusahaan lain yang bisa menerimaku bekerja.
Dan sekarang, aku harus bisa bicara kepada Ibu tentang kemungkinan aku keluar dari pekerjaan. Aku bisa mengiyakan pertanyaannya, bahwa bosku ga lak. Ibu pasti akan merasa tidak tega.
Hanya saja, sebelum sempat aku bicara, Ibu lebih dulu melanjutkan ucapannya.
"Bos ga lak itu wajar, sebab kalau gak ga lak nanti karyawannya semaunya," sambungnya.
"Bener itu," timpal A Tommy. "Lagian, kamu baru sehari kerja. Jadi, masih tahap menyesuaikan diri."
Lalu ketty menikkaaah menjadi istri kedua Tommy, pas disana ada cerita tentang a evan dan Vina adik nya, mereka membicarakan pekerjaannya maka
Mendengar itu, aku menelan ludah. Keberanian untuk bicara kalau aku mau berhenti bekerja, tiba-tiba padam. Dan akhirnya, aku hanya diam.
"Malah bengong …," ucap Ibu.
"Tau … mikirin apa, sih?" A Evan melem parku dengan bantal.
Aku memeluk bantal itu sambil menggeleng dan memajukan bibir dua sentimeter.
"Kenapa?" tanya Ibu mulai khawatir, matanya memicing, siap menginterogasi.
Sedangkan pikiranku masih dipenuhi tingkah Pak Raka itu. "Dasar si drama king," gumamku tanpa sadar
"Siapa?" tanya Ibu cepat.
Aku kaget. "Eh? Nggak, maksudku... temen kantor."
Ibu langsung senyum penuh makna. "Temen kantor? Laki-laki?"
"Kenapa? Ada cowok yang gang guin kamu?" tanya A Evan juga.
"Hmm …," Ibu mengangguk-angguk penuh curi ga, sementara Aa Evan menaikkan sebelah alisnya.
Aku bangkit, berjalan ke dapur lalu membuat teh untuk menghindari mereka.
Sekilas, aku melihat Ibu dan A Evan saling bisik. Entah apa, dan aku tidak ada waktu untuk mencari tahu. Karena, pikiranku saat ini benar-benar penuh oleh sosok si Drama King itu. Ya, dia memang cocok dijuluki begitu!
Tiba-tiba, ponselku berbunyi.
Aku mengintipnya. Ada pesan dari Bos Drama King. Mulai sekarang aku menamainya seperti itu.
Kubuka pesannya dengan rasa penasaran sekaligus deg-degan.
Besok kita makan siang. Mama minta kita kirim foto berdua. Gak perlu romantis, yang penting kelihatan cocok. Pake filter juga boleh.
Aku terdiam.
Kamu boleh pilih mau makan di mana.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menolak!
Gak bisa. Aku sibuk. Banyak laporan. Banyak deadline. Mau meeting sama vendor juga.
Belum sempat aku tekan tanda kirim, ponselku kembali berbunyi. Kali ini, vidio call.
Aku langsung lari ke kamar dan mengangkatnya dengan suara super datar. "Kenapa?"
Wajah Raka muncul. Dia sedang berada di mobil, senyum-senyum seolah tidak ada masalah di antara kami.
"Tolong banget ya, Tari. Mama udah keburu seneng. Saya gak bisa nyuruh dia berhenti berharap gitu aja."
Aku mengerutkan alis. "Jadi, Pak Raka bohongin aku, dong. Bilangnya cuma sekali. Sekarang minta foto. Nanti apa? Prewed pal su? Undangan online?"
Dia tertawa kecil. "Ya … gimana, ternyata semesta mendukung kita."
Aku terdiam.
Kalimat itu harusnya membuatku semakin ma rah. Karena, semua ini ulahnya, tapi kenapa aku yang harus berkorban banyak?
Aku tidak diuntungkan apa-apa. Semua hanya untuk kepentingannya. Dan aku yang ru gi di sini. Tapi … kenapa jantungku malah berdebar?
Cepat-cepat aku menutup vidio call-nya.
Aku berbalik mau keluar kamar, langkahku terhenti.
Aa Evan berdiri di depan pintu, memandangku dengan dahi berkerut.
"Barusan vidio call sama siapa?" tanyanya pelan.
Aku menelan ludah. Si al. Kenapa A Evan harus tiba-tiba muncul? Dan kenapa pula posisiku seperti baru melakukan do sa besar? Padahal hanya vidio call.
"Barusan video call sama siapa?" tanya Aa Evan pelan.
"Temen kantor," jawabku, mencoba terlihat setenang mungkin walau wajahku mungkin sudah merah seperti udang rebus.
"Cowok?"
"Ehem ... Iya, tapi enggak yang kaya Aa pikirin. Dia itu... HRD. Iya! HRD," jawabku sambil ngangguk lebay, berharap aktingku natural.
Aa Evan memiringkan kepala, seperti sedang menilai kadar kejujuranku. "HRD, kok nyebut-nyebut prewed?"
Deg!
Aku membeku. Ternyata, A Evan mengintip dari tadi.
"Hayoo … langsung dapat kenalan cowok, ya? Aa bilangin ibu, lho," ucapnya menyebalkan.
"Apaan, sih? Bukan prewed, tapi … forwad. Ya, besok aku mau ketemu vendor dan aku harus meneruskan sebuah pesan ke sana," jawabku sekenanya.
"Hmm …," gumam Aa Evan sambil mengangguk pelan.
Untungnya dia kelihatan percaya. Atau ... pura-pura percaya? Entahlah.
"Ya udah, kata ibu makan dulu," ucapnya sambil melangkah ke depan.
Aku mengikutinya. Dosa apa yang sudah kuperbuat? Sampai-sampai hidupku harus terje bak dalam permainan konyol ini.
***
Keesokan harinya, aku dan Wina tiba di tempat vendor. Tempatnya lumayan mewah, dengan interior minimalis dan dinding bata ekspos. Aku menahan napas. Semoga hari ini baik-baik saja.
"Kamu catat semuanya ya, jangan cuma bengong," bisik ketty saat kami duduk menunggu di ruang tamu vendor.
Aku mengangguk. Tapi, detik berikutnya yang terjadi justru seperti je bakan.
Vendor datang membawa katalog. Wina langsung berbicara seolah dia manajer proyek. "Ini desain yang saya ajukan. Tapi... kalau menurut Tari gimana?" Dia melirik.
Aku terkejut. "Eh, saya?"
"Iya dong, kamu 'kan sekarang bagian dari tim kreatif. Ayo dong, kasih pendapat."
Vendor pun menatapku menunggu. Tanganku gemetar saat membuka katalog.
Semua desainnya berkelas dan bagus. Tapi, anehnya Wina menyelipkan satu desain yang benar-benar norak. Perpaduan warna oranye neon dan hijau stabilo.
Aku pun kaget. "Yang ini ... kayaknya nggak cocok ya, Mbak." Aku menunjuknya.
"Oh, ya? Bukankah itu desain yang kamu kirim ke email vendor?" Wina menatapku.
"Saya? Kirim desain itu?" Aku balik bertanya.
Vendor pun terlihat bingung.
Aku membuka laptop, mengecek email. Tidak ada email apa pun dari akunku ke vendor. Aku baru akan membuka suara, ketika tiba-tiba ….
Brukk!
Pintu terbuka dan suara tubuh menabrak tanaman hias terdengar di seisi ruangan. Semua orang menoleh. Termasuk aku.
