Bab 4
Kehangatan sup kaldu yang baru saja tersaji di atas meja makan kastil seolah menguap begitu saja. Berita tentang kegagalan panen total di sektor selatan dan barat menghantam ruangan seperti gada besi.
Tanpa membuang waktu untuk beristirahat setelah perjalanan jauhnya, Escarlate langsung bersiap. Di bawah kawalan ketat beberapa prajurit dan dipimpin langsung oleh Lord Aeon Awestern, mereka bergegas menuju area pertanian yang dilaporkan.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan malas, tertutup oleh kabut abu-abu tebal yang menggantung di atas wilayah Vesthall. Ketika derap kaki kuda mereka berhenti di batas sektor selatan, pemandangan di depan mereka tampak seperti lukisan dari neraka.
Sejauh mata memandang, ladang gandum yang seharusnya menguning keemasan kini berubah menjadi lautan hitam pekat. Batang-batang gandum layu, meliuk patah, dan diselimuti oleh cairan kental berbau busuk yang menusuk hidung.
"Ini bukan sekadar hawar tanaman biasa," bisik Escarlate.
Penyihir itu melangkah turun dari kudanya, membiarkan jubah peraknya terseret di tanah berlumpur.
Dia berlutut, mengulurkan tangannya di atas seikat gandum yang membusuk. Cahaya biru lembut berpendar dari ujung jarinya, meraba aliran energi di dalam tanaman mati tersebut.
Aeon memperhatikan dari atas kudanya, tangannya terkepal erat di atas pelana. Ingatan dari game-nya mulai berputar cepat. Blight of Vesthall. Dalam alur cerita asli, bencana ini adalah pukulan telak yang membuat rakyat kelaparan, memicu pemberontakan besar yang akhirnya meruntuhkan pertahanan wilayah ini dari dalam sebelum musuh luar menyerang.
"Bagaimana hasilnya, Scarlet?" tanya Aeon, suaranya berat dan berwibawa, meski jantungnya berdegup kencang.
Escarlate berdiri kembali, wajah cantiknya tampak tegang.
"Ada sisa-sisa manipulasi mana yang sangat tipis, My Lord. Tetapi yang aneh... energi ini tidak datang dari udara atau sihir kutukan luar. Energi busuk ini merembes naik dari dalam tanah."
"Dari bawah tanah?" Aeon mengernyit.
Pikirannya langsung terhubung pada peta topografi Vesthall yang dia hafal di luar kepala.
Di sebelah barat daya sektor pertanian ini, di balik perbukitan batu yang gundul, terletak sebuah tempat yang sudah lama terlupakan.
"Tambang tua," gumam Aeon.
"Kita harus ke sana sekarang."
Perjalanan berlanjut ke arah perbukitan batu. Di sana, mulut gua besar yang gelap menganga lebar seperti monster yang sedang tertidur.
Tambang tua Vesthall, sumber daya perak dan besi yang ditutup hampir satu dekade lalu oleh Lord terdahulu karena laporan adanya gas beracun dan runtuhnya beberapa terowongan utama.
Dingin dan aroma belerang yang samar langsung menyambut mereka begitu mereka melangkah masuk ke dalam area luar tambang.
Aeon turun dari kudanya, memimpin jalan dengan obor di tangan kanan. Sir Tyeo, yang baru saja kembali dari misinya di timur, berjalan di sampingnya dengan tangan yang selalu siaga di gagang pedang besar miliknya.
"Tempat ini sudah mati selama bertahun-tahun, My Lord," ujar Tyeo, matanya mengawasi langit-langit gua yang dipenuhi sarang laba-laba raksasa.
"Tidak ada apa pun di sini selain batu runtuh dan kegelapan."
Namun, Aeon tahu lebih baik. Sebagai pemain game, dia tahu tambang ini ditutup bukan karena kehabisan sumber daya, melainkan karena kebodohan dan ketakutan penguasa lama terhadap monster tingkat rendah di kedalaman.
"Nyalakan sihir pendeteksi struktur, Scarlet," perintah Aeon.
Escarlate merapalkan mantra pendek. Gelombang cahaya biru menyebar di sepanjang dinding gua, menyingkap struktur terowongan yang ternyata masih sangat kokoh di bagian dalam.
Cahaya itu juga memantulkan kilauan samar dari urat-urat logam berharga yang masih melimpah di dinding-dinding terdalam.
"Luar biasa..." Escarlate berbisik kagum.
"Strukturnya masih stabil, dan kandungan bijih besi serta perak di dalam sini... sangat melimpah. Tapi ada sesuatu yang menyumbat aliran air bawah tanah di kedalaman, menyebabkan air asam tambang merembes ke sistem irigasi ladang kita di bawah."
Aeon tersenyum tipis di balik kegelapan gua. Solusi untuk bencana ini mulai terbentuk di kepalanya.
Sore harinya, Aeon mengumpulkan para perwakilan penduduk desa di halaman luar kastil. Wajah-wajah mereka tampak kuyu, dipenuhi keputusasaan.
Bagi para petani, gagal panen berarti satu hal: kematian akibat kelaparan di musim dingin yang akan datang.
"Lord Aeon," seorang tetua desa maju dengan tubuh gemetar, berlutut di atas tanah berbatu.
"Ladang kami hancur. Kami tidak memiliki apa pun untuk dimakan, apalagi untuk membayar upeti. Mohon... belas kasihan Anda."
Aeon berdiri di atas tangga batu kastil, jubah beludru tebalnya berkibar ditiup angin pegunungan yang dingin.
Wajahnya yang rusak akibat luka bakar tampak kaku, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Aku tidak akan meminta upeti dari ladang yang mati," suara bariton Aeon menggema, membuat para penduduk mendongak terkejut.
"Tetapi, House Awestern juga tidak memberikan sedekah cuma-cuma. Mulai besok, tambang tua Vesthall akan dibuka kembali!"
Bisik-bisik kebingungan langsung menyebar di antara kerumunan.
"Kalian para petani yang kehilangan mata pencaharian akan dipekerjakan di sana," lanjut Aeon, suaranya lantang.
Penggalian bijih besi dan pembersihan saluran air tambang. Setiap pekerja akan menerima upah harian berupa koin perunggu dan jatah roti gandum dari gudang cadangan kastil.
Hasil tambang akan dijual ke wilayah tetangga untuk membeli bahan pangan tambahan sebelum musim dingin tiba.
"Siapa pun yang bersedia bekerja, daftarkan diri kalian pada Jenn malam ini juga. Vesthall tidak akan mati kelaparan di bawah pengawasanku!"
Sorak-sorai haru dan bisikan penuh rasa syukur mulai pecah di halaman kastil. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rakyat melihat sosok pemimpin yang benar-benar peduli pada nasib mereka, bukan sekadar menuntut pajak.
Malam itu, Aeon duduk di meja kerjanya, menatap peta wilayah dengan secercah harapan.
Rencananya berjalan lancar. Dengan dibukanya tambang, dia bisa menyelamatkan ekonomi Vesthall sekaligus menghentikan rembesan air asam yang merusak ladang.
Ketukan keras dan panik tiba-tiba menghantam pintu ruang kerjanya.
Pintu terbuka kasar bahkan sebelum Aeon sempat menjawab. Kali ini, bukan pejabat logistik, melainkan seorang peternak muda dari perbatasan sektor selatan dengan pakaian yang robek-robek dan wajah yang dipenuhi darah kering.
"My Lord! Tolong... tolong kami!" teriak pemuda itu, jatuh tersungkur di lantai kayu mahoni.
Sir Tyeo yang berjaga di dekat pintu langsung menahan pemuda itu, sementara Jenn melangkah maju dengan waspada.
"Tenanglah. Apa yang terjadi?" tanya Aeon, bangkit dari kursinya dengan perasaan tidak enak yang mendadak mencengkeram dadanya.
Pemuda itu mendongak, matanya melebar dipenuhi teror yang mendalam.
"Ternak-ternak kami, My Lord... sapi, domba, bahkan kuda-kuda di kandang..." napasnya memburu, suaranya gemetar hebat.
"Semuanya... semuanya mati dalam satu malam! Tubuh mereka... mereka terkoyak tanpa sisa darah... Sesuatu di dalam kegelapan telah memangsa mereka semua!"
Bersambung.
