"Tunggu sebentar, kenapa kau bilang akan berada di Bumi untuk sementara waktu? Apa kau mau pergi dari sini?" ucap Rey, alisnya berkerut, nada suaranya terdengar cemas.
Raida hanya tertunduk dan terdiam. Jemarinya mengepal, seolah mencari kata-kata yang tepat.
"Benar juga, aku baru sadar kalau kau mengatakan itu. Katakan sesuatu, Raida, jangan diam saja," ucap Zeks, melangkah selangkah lebih dekat. Matanya menatap Raida tajam namun penuh kekhawatiran.
Perlahan, Raida mengangkat kepalanya, menatap ke arah mereka berempat yang kini menunggu jawabannya dengan wajah tegang.
Ia menghela napas panjang. "Haa... Ya, sebenarnya aku akan meninggalkan Bumi. Aku harus kembali ke markas pasukan pelindung galaksi."
Rey spontan menyela, suaranya meninggi. "Lalu kapan kau akan kembali?"
Raida mengalihkan pandangan, menatap langit sejenak seolah jawaban ada di sana. "Aku juga tidak tahu kapan. Aku akan kembali… kemungkinan setelah tugasku selesai. Aku pasti akan kembali," kata Raida, berusaha terdengar yakin meski matanya menyiratkan kebimbangan.
Amel menunduk sejenak, bahunya bergetar halus. "Mengapa... mengapa kau harus kembali? Tugas apa memangnya itu?" suaranya lirih, nyaris bergetar.
Raida menatap Amel, ada rasa bersalah yang sekilas melintas di wajahnya. "Bukankah aku sudah pernah bilang pada kalian kalau aku ini komandan Divisi 1? Karena aku sudah lama meninggalkan markas, tugasku menumpuk dan harus segera kuselesaikan," balas Raida pelan.
"Kalau begitu, bisakah kami ikut bersamamu?" kata Sarah, menggenggam ujung pakaiannya sendiri, jelas tidak rela berpisah.
"Benar, bisakah kami juga ikut? Kami bagian dari pasukan pelindung galaksi, seharusnya kami punya otoritas untuk pergi ke sana," ucap Zeks, nada suaranya tegas namun mengandung harapan.
Raida menggeleng pelan. "Lalu siapa yang akan menjaga Bumi selama kita pergi?" tatapan Raida bergantian menelusuri wajah mereka satu per satu. Keheningan sejenak menggantung di antara mereka.
Ia kemudian mengibaskan tangan seolah mengakhiri pembicaraan. "Sudahlah… lagipula aku belum akan pergi sekarang. Aku masih memiliki urusan di Bumi."
Raida menatap Amel sedikit lebih lama. "Dan Amel, kau sedang tidak sehat. Sebaiknya kau segera pulang, begitu pula kalian bertiga. Istirahatlah."
Tanpa menunggu jawaban, Raida melesat pergi ke langit, meninggalkan hembusan angin yang membuat rambut mereka berkibar, sementara keempatnya hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh dengan perasaan campur aduk.
"Jadi… Gezon telah tiada."
Suara berat itu menggema di dalam ruangan gelap, memantul di dinding-dinding hitam tanpa ornamen. Sosok yang duduk di kursi utama itu dikenal sebagai Ark. Satu-satunya cahaya berasal dari sinar pucat yang melayang di atas meja pertemuan berbentuk lingkaran.
Dua belas kursi mengelilingi meja tersebut, namun empat di antaranya kosong.
Sebuah siluet tinggi dengan bahu lebar mendengus pelan, uap samar keluar dari tubuhnya. Kra Dhot mengetukkan jarinya ke permukaan meja. "Ya. Begitulah faktanya," katanya dingin. "Kita kehilangan kontak dengan Gezon saat ia menjalankan misinya di Planet Biru [Bumi.]"
Siluet kurus dan tegak di seberangnya langsung bereaksi. Or Vin berbicara dengan nada kesal yang nyaris meledak. "Hebat. Kalau begitu kita kehilangan satu lagi dari kita."
Suara wanita menyusul, tenang namun penuh tekanan. Siluetnya tampak aneh, rambutnya bergerak seperti cairan hidup. Nira menyilangkan kakinya. "Bukan hanya kehilangan," katanya perlahan.
"Gezon kemungkinan besar dibunuh oleh pria itu. Hanya dia yang mampu melakukannya."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tajam.
"Jika kita rangkum, tiga dari kita lenyap di Bumi. Satu berkhianat. Dua dibunuh langsung oleh Raida. Dan satu lagi… tewas di tangan manusia-manusia yang baru terbangkitkan."
Cakar tajam mengetuk sandaran kursi.
Garum mendengus meremehkan. "Memalukan. Salah satu dari kita tumbang oleh manusia yang bahkan belum sepenuhnya membangkitkan potensi mereka."
Sebuah suara wanita lain terdengar dari ujung ruangan. Sepasang mata ungu menyala tajam dalam kegelapan. Khetrah tersenyum sinis.
"Mereka bertiga memang lemah. Terutama Gezon, dia hanya hidup dari kepercayaan tuan Nebros. Tak lebih."
Siluet lain menyela, suaranya datar namun menusuk. Varkhel menyilangkan lengannya.
"Dan jangan lupakan satu hal, Gezon selalu meremehkan kita. Ironis, justru dia yang mati paling dulu. Itu sudah menjelaskan segalanya."
BRAK!
Meja pertemuan bergetar saat Trion memukulnya dengan keras. "Cukup!" bentaknya. "Dia berjuang sampai akhir! Kalian tidak berhak menghina namanya!"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan.
Ark menghela napas panjang. "Tenanglah, Trion. Kami tidak sedang menghina," katanya pelan namun tegas. "Kami hanya menyebutkan kenyataan. Tapi karena emosimu… baiklah. Kita pindah ke topik utama."
Kra Dhot berdiri dan mengangkat tangannya. Sebuah layar hologram menyala di tengah meja, menampilkan data dan peta galaksi.
"Kita telah mengirim banyak pihak, pasukan kita sendiri, pemburu harta, bahkan perombak," jelasnya. "Namun semuanya gagal memperoleh informasi tentang Kristal Kehidupan dan kekuatan Raja Pertama Pasukan Pelindung Galaksi."
Garum menyipitkan matanya.
"Manusia-manusia terbangkitkan itu berkembang terlalu cepat," katanya. "Dan yang lebih mengkhawatirkan… Raida berdiri di belakang mereka. Sosok yang pernah mengguncang seluruh alam semesta."
Nira mengangguk perlahan.
"Artinya kita harus mengubah rencana. Mengirim orang satu per satu hanya membuang waktu. Tapi berdiam diri di sini juga sama bodohnya."
Ark mencondongkan tubuh ke depan.
"Lalu apa usulanmu? Mengirim armada?"
Sebelum Nira menjawab Pintu ruangan terbuka.
Aura berat langsung menekan semua yang hadir.
Nebros melangkah masuk, diikuti seorang manusia di belakangnya.
"Sepertinya itu ide yang bagus," kata Nebros tenang.
Tanpa komando, semua sosok di ruangan menunduk.
"Tapi itu berarti kita memulai perang," ujar Ark dengan nada hati-hati.
Nebros tersenyum tipis.
"Memang itulah tujuanku."
Ia melirik ke sosok di belakangnya.
"Dan yang akan memimpin perang ini… adalah dia."
Sosok itu maju beberapa langkah, senyum percaya diri terukir di wajahnya.
"Aku rasa kalian mengenalku," katanya santai. "Tapi jika lupa, kalian bisa memanggilku Varrel. Dari ras mana aku berasal, kalian pasti sudah tahu."
Ia melangkah lebih dekat ke meja.
"Aku akan memimpin perang ini. Dan aku sudah menyiapkan rencana."
Matanya berkilat."Aku butuh satu kandidat dari kalian."
Varkhel mengerutkan kening. "Untuk apa?"
Varrel menyeringai lebar. "Untuk mengirim peringatan perang ke Bumi."
Beberapa sosok langsung bereaksi.
"Pertama, kita kirim satu orang untuk menghancurkan Bumi sebagai peringatan," lanjut Varrel. "Jika mereka berhasil mengalahkannya… barulah kita menyerang dengan armada penuh."
"Itu rencana bodoh," potong Nira dingin. "Dan tidak masuk akal."
Varrel tertawa kecil. "Tenang saja. Jika gagal… aku masih punya rencana lain."
Kra Dhot berdiri perlahan.
"Rencana seperti apa?"
"Aku tidak berniat memberitahukannya," jawab Varrel tanpa ragu.
Lalu ia menatap sekeliling."Jadi… siapa yang ingin pergi?"
Keheningan kembali jatuh.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya, Trion mengangkat tangannya. "Biarkan aku."
Ark menoleh tajam. "Apakah kau yakin, Trion?"
"Aku yakin," jawabnya tegas.
Khetrah menyipitkan mata. "Ini bukan ajang balas dendam. Jangan main-main."
Trion mengepalkan tangan. "Tolong. Biarkan aku yang pergi."
Varrel mengangguk puas. "Baik. Sudah diputuskan."
Ia menatap Trion. "Bersiaplah."
"Baik," jawab Trion singkat.
Varrel berbalik. "Aku pamit."
Ia keluar mengikuti Nebros.
Ark berdiri dan meletakkan tangannya di pundak Trion.
"Kami tidak akan menghalangimu," katanya pelan. "Lakukan apa yang menurutmu benar."
Trion mengangguk.
Satu per satu, sosok di ruangan itu menghilang, hingga hanya tersisa kegelapan…
Setelah Raida menjelaskan situasi kepada Amel dan yang lain, ia pulang melewati jalanan yang sepi dan gelap. Di tengah perjalanannya, langkahnya terhenti.
"Keluarlah," ucap Raida dengan suara datar namun tajam. "Kau sudah mengikutiku dari tadi. Apa kau tidak lelah?"
Beberapa detik berlalu sebelum sebuah sosok keluar dari kegelapan. Sosok itu asing di mata Raida, seorang manusia dengan mata berwarna emas yang bersinar samar, dan rambut emas.
"Kau siapa?" tanya Raida waspada. "Dan kenapa kau mengikutiku?"
Sosok itu tersenyum ramah. "Aku sama sepertimu. Sayangnya, aku baru saja terbangun dari tidur panjangku," katanya santai. "Dan saat aku terbangun, aku merasakan energi yang sangat besar. Ternyata itu adalah kau yang sedang bertarung."
Ia tertawa kecil. "Tak kusangka manusia zaman sekarang begitu lemah."
"Apa maksudmu?" ucap Raida. "Siapa kau sebenarnya? Apa kau manusia terbangkit atau..."
Belum sempat Raida menyelesaikan kata-katanya, sosok itu menyerang dengan pukulan yang sangat cepat.
Raida terpental beberapa meter akibat serangan itu.
"Hey," kata Raida bangkit dengan wajah kesal.
"Lebih baik kau katakan siapa kau sebenarnya. Kalau tidak, aku akan menghabisimu."
Sosok itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk tangan. "Hahaha! Ternyata masih ada manusia kuat di planet ini."
Dalam sekejap, Raida berpindah ke belakang sosok itu dan melancarkan pukulan keras.
BOOOM!!
Suara keras menggema, namun pukulan itu berhasil ditangkis.
"Apa kau suruhan Nebros?" tanya Raida.
"Nebros?" balas sosok itu heran. "Aku tidak mengenalnya."
Raida mundur beberapa langkah. "Kalau begitu, katakan siapa kau sebenarnya."
Sosok itu menjawab Raida dengan bahasa asing.
Raida terkejut. "Bahasa itu… Jadi begitu. Kau adalah manusia kuno dari era kejayaan manusia di masa lalu."
Sosok itu bertepuk tangan. "Benar. Tak kusangka kau juga mengetahui bahasa kuno."
"Namaku Fey," lanjutnya. "Seperti yang kau tahu, aku berasal dari zaman kuno. Aku telah tertidur ribuan tahun, dan akhirnya terbangun di zaman ini."
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan," kata Raida.
"Apa itu?" sahut Fey.
"Apa rencanamu sekarang?"
Fey terdiam sejenak. "Entahlah. Untuk saat ini, aku tidak memiliki tujuan."
"Kalau begitu, bergabunglah denganku," kata Raida.
Fey tampak terkejut. "Secepat itu? Kau percaya padaku secepat itu?"
Raida mengangguk. "Entah kenapa, aku merasakan ikatan batin denganmu."
"Hei, itu membuatku merinding," ucap Fey.
Raida melangkah mendekat. "Bagaimana? Apa kau mau?"
"Mundur. Jangan mendekat," kata Fey.
Raida terus mendekat, sementara Fey terus mundur. Tanpa pikir panjang, Fey langsung pergi dari tempat itu.
"Tunggu..." Raida hendak menghentikannya, namun Fey menghilang terlalu cepat.
Raida menatap ke arah langit, ke arah Fey pergi.
"Manusia kuno, ya…" gumamnya pelan.
"Ini semakin menarik."
