Raka yang masih berdiri di depan pintu ruang makam. Kalimat pria itu terus terngiang di kepalanya.
“Jangan biarkan mereka membunuhmu untuk kedua kalinya.”
Raka kemudian menatap pria tersebut.
“Untuk kedua kalinya?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Raka dengan wajah yang sulit dibaca. Seolah-olah sedang melihat seseorang yang sudah lama hilang. Raka kemudian menunjuk dirinya sendiri.
“Siapa yang pernah membunuhku?”
Laras langsung melangkah maju.
“Raka, jangan terlalu dekat.”
Namun Raka tidak memedulikannya.
“Jawab aku.”
Pria itu kemudian menatap Raja.
“Dia belum memberitahumu apa pun?”
Raka langsung menoleh kepada Raja.
“Yang Mulia?”
Raja tetap diam dan Raka langsung mengerutkan kening.
“Serius? Bahkan sekarang juga?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Sepertinya kerajaan ini tidak berubah.”
Raja kemudian mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Pria itu menatap Raja dengan tatapan dingin.
“Apakah kau masih takut pada kebenaran?”
“Jangan bawa masa lalu ke hadapanku.”
“Justru masa lalu itulah yang sedang kembali.”
Tiba-tiba tanda keemasan di tangan Raka kembali menyala. Cahaya itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Raka langsung memegang lengannya.
“Ah... panas!”
Laras segera mendekatinya.
“Raka!”
Dari dalam ruang makam, suara bisikan kembali terdengar.
“Pewaris...”
“Pewaris...”
“Pewaris...”
Raka kemudian melihat ke dalam ruangan. Di balik pria tersebut, terdapat banyak peti batu yang tersusun di sepanjang dinding. Beberapa peti sudah retak. Dari celah-celahnya, keluar cahaya keemasan yang sama seperti tanda di tangan Raka.
“Siapa mereka?” tanya Raka.
Pria itu menoleh ke belakang.
“Mereka adalah orang-orang yang pernah melindungi warisan Nusantara.”
Raka kemudian menatap peti-peti tersebut.
“Para pewaris?”
“Bukan semuanya.”
“Lalu siapa?”
“Penjaga. Prajurit. Pengkhianat. Dan orang-orang yang mati karena mencoba menyelamatkan dunia ini.”
Raka langsung terdiam. Raja kemudian berjalan maju.
“Jangan dengarkan dia.”
Pria itu menatap Raja.
“Kenapa? Karena aku mengatakan sesuatu yang tidak ingin kau dengar?”
Raja langsung mencabut pedangnya. Laras langsung terkejut.
“Yang Mulia!”
Raka pun mundur.
“Kenapa Raja mengeluarkan pedang?”
Pria itu hanya tersenyum.
“Masih sama seperti seribu tahun lalu.”
Raja mengarahkan pedangnya.
“Pergilah.”
“Ini bukan tempatmu lagi.”
“Selama aku masih menjadi Raja Arkapura, tempat ini berada di bawah perlindunganku.”
Pria itu menggeleng pelan.
“Tidak. Tempat ini bukan milik Arkapura.”
Ia kemudian menatap Raka.
“Tempat ini milik mereka yang telah dikorbankan.”
Tiba-tiba salah satu peti batu di belakangnya retak.
KRAK!
Raka langsung menoleh. Dari dalam peti, muncul cahaya putih yang perlahan membentuk bayangan seorang wanita. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi rambut panjang dan pakaian kunonya terlihat samar. Tiba-tiba Raka langsung membeku.
“Siapa itu?”
Pria itu tidak menjawab. Bayangan wanita tersebut kemudian mengangkat tangannya ke arah Raka.
“Pewaris...”
Suara itu terdengar seperti berasal dari banyak tempat sekaligus. Tiba tiba Raka merasakan kepalanya kembali sakit.
“Ah...”
Laras pun segera memegang bahunya.
“Raka, jangan lihat terlalu lama!”
Namun semuanya sudah terlambat. Cahaya putih memenuhi pandangan Raka. Dan tiba-tiba ia melihat sebuah tempat yang berbeda. Langit berwarna merah. Api membakar pepohonan.
Bangunan-bangunan seperti candi runtuh di kejauhan. Para prajurit berlari sambil membawa senjata. Suara teriakan dan dentingan pedang terdengar dari segala arah. Dan Raka berdiri di tengah halaman batu. Tetapi kali ini, ia tidak sendirian. Di depannya berdiri seorang pria muda dengan pakaian hitam dan putih. Di tangannya terdapat keris yang sama seperti pusaka di ruang bawah tanah. Pria itu menatap Raka.
“Apakah kau sudah siap?”
Raka langsung menggeleng.
“Siap untuk apa?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap langit merah.
“Jika gerbang itu terbuka, semuanya akan berakhir.”
Raka kemudian melihat ke belakang pria tersebut. Di sana berdiri Laras. Namun Laras terlihat berbeda. Rambutnya lebih panjang, pakaiannya dipenuhi noda darah, dan di tangannya terdapat pedang yang patah.
Dan aka langsung terkejut.
“Laras?”
Laras menatapnya dengan mata penuh kesedihan.
“Jangan biarkan dia membuka gerbang.”
Raka kemudian menatap pria di depannya.
“Siapa dia?”
Pria itu perlahan menoleh. Wajahnya terlihat sangat mirip dengan Raka. Dan Raka pun langsung mundur.
“Tidak mungkin...”
Pria tersebut kemudian berkata:
“Jika kau ingin menyelamatkan mereka, kau harus mengorbankan dirimu.”
Raka pun menggeleng.
“Aku tidak mengerti!”
Tiba-tiba suara perempuan yang selama ini berbicara kepadanya terdengar dari belakang.
“Raka...”
Raka pun langsung menoleh. Di belakangnya berdiri seorang wanita berjubah putih. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup cahaya. Namun suaranya terasa sangat familiar.
“Jangan percaya kepada siapa pun.”
Raka kemudian menunjuk pria yang mirip dengannya.
“Termasuk dia?”
Wanita itu tidak menjawab. Dan tiba-tiba Langit terbelah. Sebuah gerbang raksasa muncul di atas candi. Dari dalamnya, keluar cahaya ungu dan kabut hitam yang menyelimuti seluruh langit.
Para prajurit mulai berteriak. Lalu Pria yang mirip Raka kemudian mengangkat kerisnya.
“Sekarang!”
Raka langsung berteriak.
“Jangan!”
Namun pria itu sudah menusukkan kerisnya ke tanah. Cahaya keemasan menyebar dengan sangat cepat. Tiba tiba Laras langsung berlari ke arah Raka.
“Raka, pergi!”
“Tidak!”
“Pergi sekarang!”
Kemudian terdengar suara ledakan besar.
DUUUMM!
Raka langsung menutup matanya. Ketika ia membukanya kembali, seluruh tempat itu telah berubah menjadi lautan api. Pria yang mirip dengannya sudah tidak terlihat. Laras terbaring di tanah. Dan wanita berjubah putih itu berdiri di depan gerbang. Raka pun langsung berlari mendekatinya.
“Apa yang terjadi?”
Wanita itu menoleh.
“Maafkan aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak bisa menyelamatkanmu.”
Raka langsung menggeleng.
“Apa maksudmu?”
Wanita itu mengangkat tangannya. Cahaya putih kemudian menyelimuti tubuh Raka.
“Tidurlah.”
“Tidak! Tunggu!”
Namun tubuh Raka mulai menghilang menjadi cahaya. Sebelum semuanya menjadi gelap, Raka mendengar suara wanita itu.
“Suatu hari nanti, kau akan kembali.”
Cahaya putih tiba-tiba pecah. Raka langsung tersentak dan kembali ke ruang makam.
“HAH!”
Ia terjatuh ke lantai dan Laras segera berlutut di sampingnya.
“Raka!”
Raka bernapas dengan cepat. Keringat dingin membasahi wajahnya.
“Aku...”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Aku melihat sesuatu.”
Raja langsung menatapnya dengan wajah serius.
“Apa yang kau lihat?”
Raka kemudian mengangkat wajahnya.
“Perang.”
Raja pun terdiam.
“Gerbang yang terbuka. Candi yang terbakar. Dan seseorang yang mirip denganku.”
Laras langsung membeku. Raka kemudian menatapnya.
“Aku juga melihatmu.”
“Melihatku?”
“Kau terluka. Kau bilang jangan biarkan dia membuka gerbang.”
Laras tidak menjawabnya. Lalu Raka langsung berdiri dengan susah payah sambil gemeteran.
“Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?”
Laras hanya menunduk.
“Karena aku tidak tahu apakah itu benar-benar ingatanmu.”
“Lalu apa?”
“Bisa jadi hanya penglihatan.”
“Penglihatan tentang masa lalu?”
Laras masih terdiam. Pria di dalam ruang makam kemudian berjalan mendekati mereka.
“Itu bukan sekadar penglihatan.”
Raja langsung mengangkat pedangnya.
“Jangan ikut campur.”
Pria itu menatap Raka.
“Itu adalah ingatan yang mulai kembali.”
Raka langsung menoleh.
“Jadi aku pernah berada di sana?”
Pria itu mengangguk.
“Ya.”
Raka merasakan dadanya sesak.
“Siapa pria yang mirip denganku?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia kemudian menatap Raja.
“Bukankah kau seharusnya menjelaskan hal itu kepadanya?”
Raja pun menggenggam pedangnya lebih erat.
“Dia belum siap.”
Raka langsung membentak.
“Berhenti mengatakan aku belum siap!”
Suara Raka menggema di lorong.
“Aku sudah melihat terlalu banyak hal yang tidak masuk akal sejak tiba di dunia ini!”
Lalu Raka menunjuk pria tersebut.
“Dia mengenalku.”
Kemudian ia menunjuk Raja.
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
Lalu ia menatap Laras.
“Dan kau juga.”
Laras hanya terdiam. Raka kemudian mengangkat catatan kakeknya. Halamannya kembali terbuka sendiri. Tulisan baru muncul perlahan. Pewaris pertama bukanlah orang yang dipilih oleh gerbang. Raka membaca kalimat itu dengan suara pelan.
“Pewaris pertama bukan orang yang dipilih oleh gerbang...”
Pria itu kemudian menatapnya.
“Karena pewaris pertama adalah orang yang menciptakan gerbang tersebut.”
Raka langsung membeku. Raja langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam.
“Jangan.”
Namun pria itu melanjutkan.
“Dan orang yang menciptakan Gerbang Nusantara...”
Ia menatap Raka dengan wajah penuh kesedihan.
“Adalah orang yang sedang berdiri di hadapanku sekarang.”
Raka tidak bisa berkata apa-apa. Tanda keemasan di tangannya menyala semakin terang. Dari dalam ruang makam, seluruh peti batu mulai bergetar.
KREK...
KREK...
KREK...
Laras langsung mengangkat pedangnya.
“Yang Mulia, kita harus pergi!”
Raja pun masih menatap Raka.
“Bawa dia keluar.”
“Bagaimana dengan Anda?”
Raja tidak menjawab. Pria itu kemudian menggenggam kerisnya.
“Sudah terlambat.”
Dari dalam peti-peti batu, terdengar suara bisikan yang semakin jelas.
“Pewaris pertama...”
“Telah kembali...”
“Gerbang akan terbuka...”
Raka pun menatap Raja.
“Yang Mulia...”
Raja akhirnya berkata dengan suara pelan.
“Raka, apa pun yang kau lihat di dalam ingatanmu... jangan pernah percaya bahwa kau adalah penyelamat.”
Raka langsung mengerutkan kening.
“Lalu aku ini apa?”
Raja menatapnya.
“Alasan perang itu dimulai kembali.”
Tiba-tiba seluruh ruang makam dipenuhi cahaya ungu. Dan dari kejauhan, terdengar suara perempuan itu sekali lagi.
“Raka...”
Raka langsung menutup telinganya.
“Jangan!”
Suara itu kemudian berbisik.
“Jangan biarkan mereka mengingat siapa dirimu.”
Kemudian seluruh pintu ruang makam tertutup dengan sendirinya.
DUM!
Raka, Laras, Raja, dan pria misterius itu kini terjebak di dalam ruangan. Dan dari balik peti-peti batu yang retak, sesuatu mulai bangkit.
