Storm meninggalkan aula Istana Urco Tastarius.
Ia berjalan melewati koridor-koridor megah tanpa mengatakan apa pun.
Napstylea segera mengikutinya.
Tidak lama kemudian, Aryes dan anggota X.A.R.A. lainnya juga menyusul.
Jester.
Lira.
Violys.
Zero.
Roxis.
Dan Proxi.
Mereka semua tidak ingin membiarkan Storm sendirian terlalu lama.
Pintu istana terbuka.
Cahaya dari langit Planet Urco Tastarius langsung menyinari mereka.
Storm terus berjalan hingga akhirnya tiba di bagian luar istana.
Di sana terdapat altar luas yang menghadap langsung ke langit.
Storm berhenti.
Ia berdiri di ujung altar.
Tatapannya terangkat.
Langit Urco Tastarius terbentang luas di hadapannya.
Bintang-bintang terlihat samar di balik atmosfer planet.
Bagi seseorang seperti Storm yang telah menjelajahi begitu banyak tempat...
pemandangan seperti itu seharusnya terasa biasa.
Namun sekarang...
Ia hanya berdiri diam.
Napstylea berhenti beberapa meter di belakangnya.
Ia memperhatikan Storm dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Storm..."
Tidak ada jawaban.
Napstylea menghela napas.
Ia berharap Storm tidak terus seperti ini.
Ia tahu kehilangan Arabels meninggalkan kesedihan besar dalam dirinya.
Namun ia juga tahu...
Storm tetap harus melanjutkan hidupnya.
Beberapa langkah kemudian, Aryes datang bersama yang lainnya.
Jester berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku.
Lira dan Violys berjalan berdampingan.
Zero berada di belakang mereka.
Roxis datang dengan ekspresi serius.
Proxi bergerak paling belakang.
Aryes kemudian maju.
"Storm."
Storm menoleh perlahan.
Aryes mengeluarkan sesuatu dari tangannya.
Sebuah lencana berwarna metalik dengan simbol X.A.R.A.
Ia mengulurkannya kepada Storm.
"Mulai hari ini..."
Aryes berhenti sejenak.
"...statusmu berubah."
Storm melihat benda tersebut.
"Kapten."
Aryes menyerahkan lencana itu.
"Menurutku kau pantas mendapatkannya."
Storm menerima lencana tersebut.
Aryes melanjutkan,
"Kau sudah menunjukkan bahwa kau bukan hanya seorang petarung."
"Di banyak situasi, kau mampu mengambil keputusan ketika orang lain tidak tahu harus berbuat apa."
Aryes tersenyum tipis.
"Dan kau mampu menjadi pemimpin bagi tim."
Jester langsung maju.
Ia menepuk bahu Storm.
"Hei, Kapten!"
Storm menoleh sedikit.
Jester tertawa.
"Naik jabatan langsung dari pemimpin kita sendiri."
"Suatu kehormatan, bukan?"
Namun Storm hanya melihat lencana di tangannya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kegembiraan.
Jester perlahan menghentikan tawanya.
Violys kemudian berbicara.
"Kau memang pantas mendapatkannya."
Lira mengangguk.
"Setelah semua yang kamu lakukan..."
Zero memasukkan tangannya ke saku.
"Aku cuma berharap satu hal."
Storm menatapnya.
Zero tersenyum kecil.
"Semoga kau bisa kembali seperti dulu."
"Dulu?"
Zero mengangguk.
"Storm yang terus menjelajahi luar angkasa."
"Storm yang selalu mencari tempat baru."
"Dan Storm yang tidak takut menghadapi petarung kuat."
Ia memandang langit.
"Aku ingin melihatmu kembali menjadi petarung yang menjelajahi bintang-bintang."
Storm tidak menjawab.
Lencana itu masih berada di tangannya.
Kemudian...
Proxi bergerak maju.
Langkahnya lebih pelan daripada biasanya.
Ia berhenti di depan Storm.
"Tuan Storm."
Proxi mengangkat sesuatu.
Sebuah topi Navigator.
Topi yang sudah sangat dikenal oleh mereka semua.
Topi milik Arabels.
Storm langsung terdiam.
Proxi menatap topi itu.
"Sebelumnya aku menyimpannya di Ginga Stars."
Ia memegangnya dengan kedua tangan.
"Aku pikir lebih baik benda ini tetap berada di sana."
"Tapi..."
Proxi berhenti.
"Kurasa kau mungkin mencarinya."
Ia menyerahkan topi tersebut kepada Storm.
Storm tidak langsung mengambilnya.
Matanya terpaku pada topi itu.
Untuk beberapa saat...
Tidak ada suara.
Tidak ada percakapan.
Hanya angin lembut yang melewati altar.
Kemudian tangan Storm bergerak.
Ia menerima topi tersebut.
Jarinya menyentuh bagian pinggirnya.
Dan pada saat itu...
Ingatan lama muncul di dalam pikirannya.
Arabels.
Senyumnya.
Suara tawanya.
Cara dia berdiri di ruang kendali Nexus.
Cara dia mengenakan topi tersebut ketika sedang menjalankan tugas sebagai Navigator.
Semua kenangan itu datang begitu saja.
Storm menundukkan wajah.
Untuk sesaat...
Ia merasa seperti melihat seseorang berdiri di hadapannya.
Arabels.
Dengan senyum yang sama seperti dulu.
Tidak mengatakan apa pun.
Hanya berdiri di sana.
Menatapnya.
Storm mengangkat wajah.
Namun sosok itu telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah langit Urco Tastarius.
Tangannya menggenggam topi Navigator itu sedikit lebih erat.
Napstylea melihatnya dari belakang.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Aryes juga memilih diam.
Begitu pula Jester, Lira, Violys, Zero, Roxis, dan Proxi.
Tidak ada seorang pun yang ingin mengganggu momen tersebut.
Storm kemudian menatap topi itu lagi.
Lencana Kapten masih berada di tangan satunya.
Satu benda melambangkan masa depannya.
Satu benda lagi mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya.
Storm memejamkan mata.
Kemudian membuka kembali matanya.
Tatapannya masih tenang.
Namun kali ini...
Tidak sepenuhnya kosong.
Ia memasukkan lencana Kapten ke bagian pakaiannya.
Lalu memegang topi Navigator Arabels dengan hati-hati.
Napstylea tersenyum tipis.
Setidaknya...
Storm masih menyimpan sesuatu dari masa lalunya.
Dan mungkin...
Itu adalah awal kecil agar Storm yang dulu perlahan kembali.
