Kota Yang Mulai Jatuh
Valey yang melihat kebrutalan perang itu hanya menunjukan senyum tipis, dalam pikiran dan hatinya tidak memiliki rasa belas kasih. Korban di kubu musuh berjatuhan, pasukan demi-human dan elf sangat kuat karena di bekali senjata khusus dan tentu saja berkah dari skill Valey. Peningkatan statistik terlihat jelas dengan kekuatan yang mereka tunjukkan, para prajurit elit yang tersisa tidak berkutik sama sekali di hadapan pasukan Valey. Mahita dan Bamantara hanya mengamati dari kejauhan di samping Valey, meskipun begitu Mahita tetap mengirim beberapa pengawas untuk mencegah adanya serangan senyap dari musuh. Dalam momen ini, kota yang besar menjadi medan perang yang mematikan. Tetapi sesuai dengan perjanjian yang di tentukan, musuh yang menyerah akan di ampuni dan larangan untuk menyerang warga sipil.
Para warga kota sangat ketakutan saat melihat serangan mendadak itu, banyak dari mereka terjebak di dalam rumah maupun di dalam bangunan. Beberapa prajurit musuh yang menyerah telah membuang senjata, rasa putus asa mulai menggrogoti mental para prajurit musuh. Tetapi yang tetap melawan akan mati mengenaskan. Para petualang menyebar kesetiap bangunan dan rumah untuk melindungi warga sipil, guild petualang dan petualang rank S mengevakuasi para warga menuju ke gedung milik guild petualang.
Vistere yang melihat perang ini sangat khawatir dengan keamanan para penduduk kota, dia dan Remir tetap berjaga di pintu utama gedung pelatihan guild petualang. Vistere dan Remir yang melihat perang ini seperti pembantaian sepihak, mereka berdua sangat merinding melihat kekuatan pasukan demi-human dan elf. Kekuatan prajurit yang setara rank A, membuat Vistere teringat dengan para prajurit milik Kekaisaran.
Pertarungan terus berkecamuk sampai di tengah kota, bahkan alun-alun kota pun menjadi medan pertarungan yang intens. Eldo Leonhard terus maju menyerang para musuh, dengan kekuatan besarnya dia terus mengayunkan pedang besarnya tanpa terlihat lelah. Para musuh kewalahan menghadapi Eldo yang sangat kuat itu, bahkan beberapa bangunan rusak akibat efek dari ayunan pedang Eldo. Dia bagaikan monster yang mengamuk di tengah kota, meskipun di kepung oleh banyak prajurit musuh dia tetap berdiri tidak kenal takut.
Eldo memberi tatapan tajam dan sedikit mengeluarkan energi magisnya "Aku akan membalas perbuatan kalian semua!!" dengan suara yang keras dia mulai menyerang lagi dengan pedang besarnya.
Di sisi lain, Vantder Movic masih berada di dalam balai kota untuk melindungi para keluarga Vantder dan para utusan. Para pedagang yang mendukung, telah kabur menuju ibu kota setelah pembantaian para pedagang budak di malam hari. Karena itu keluarga Vantder sangat marah dan mulai saling berdebat, para utusan Duke Abigail juga muak dengan perdebatan mereka. Karena situasi di dalam balai kota tidak kondusif, Movic memutuskan untuk berjaga di luar balai kota dan menyusun strategi baru. Tetapi beberapa prajurit sambil berlari dengan ketakutan melaporkan informasi yang mengejutkan, para prajurit demi-human dan elf beraliansi dan menjebol pertahan kota. Movic tidak menyangka akan menghadapi dua ras yang kuat, dia tidak mengira bahwa elf akan mau beraliansi dengan para demi-human.
"Perintahkan prajurit sekitar untuk mengelilingi balai kota, dan laporkan dengan cepat jika ada serangan musuh!" Movic memberi perintah dengan nada panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena dia saat ini satu-satunya petinggi prajurit yang tersisa dan dia sangat kesulitan harus mengemban tanggung jawab yang besar ini.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara ledakan di dekat alun-alun kota yang tidak jauh dari balai kota. Movic berlari menuju ke tempat tinggi agar dapat melihat area sekitar, tetapi apa yang dilihatnya adalah kehancuran di depan matanya. Tanpa pikir panjang dia berlari menuju alun-alun, tetapi itu adalah kesalahan fatal karena meninggalkan tugasnya sebagai kepala prajurit dan penjaga balai kota. Tentu saja hal ini adalah kesempatan bagi Ruby dan Arnesti untuk menyerang balai kota, berkat pengamatan bawahan mahita segala informasi dapat di ketahui dengan cepat.
Salah satu bawahan Mahita itu Falma, memperingatkan Ruby dan Arnesti..
"Nona Mahita memerintahkan kalian untuk melumpuhkan para bangsawan bukan untuk membunuh, tugasku hanya mengintai dan akan membantu jika di perlukan."
Ruby dan Arnesti mengangguk, dan mereka mulai menyerang balai kota dengan beberapa prajurit elf dan oni.
>>>
Para warga kota berlari menuju gerbang barat untuk kabur menuju ibu kota, para petualang sangat kewalahan mengevakuasi para warga karena jumlahnya terlalu banyak. Kepanikan warga menjadi masalah serius bagi petualang dan prajurit kota, dan lebih parahnya lagi gerbang barat di jaga ketat dan para warga dilarang untuk pergi. Perdebatan dan kekerasan tidak bisa di hindari, tetapi seseorang di balik bangunan memanah kepala para penjaga. Semua orang terpaku melihat itu, tetapi para petualang menyadari ini kesempatan untuk membuka gerbang dan kepanikan dapat di tekan meski hanya sedikit. Akhirnya para warga berhasil keluar dari kota menuju ibu kota, dan tentu saja hal itu sangat ceroboh karena ibu kota adalah medan perang yang sesungguhnya.
Di berbagai sudut kota terjadi pertarungan antar prajurit, banyak dari prajurit bangsawan Vandter lebih memilih menyerah daripada harus berjuang. Karena mereka menyadari bahwa mereka bukanlah tandingannya, sejak sang jendral kalah moral para prajurit menjadi turun belum lagi adanya insiden berdarah di malam hari membuat mental mereka goyah. Di kota bagian barat dan selatan pertempuran telah usai, para prajurit memilih untuk menyerah dan membuang senjata mereka.
Salah satu bawahan Bamantara "Bills", ditugaskan untuk mengawasi setiap pergerakan senyap musuh, dia masih memperhatikan di atas bangunan dengan detail.
"Bills"
Tidak ada yang perlu di khawatirkan, instingku berkata aku harus pergi ke pusat balai kota.
Bills merupakan bawahan Bamantara yang terampil, dia juga memimpin intelijen negara saat di dunia Erias dulu. Disaat Bills menuju pusat kota, dia melihat seseorang yang mencurigakan yang mengawasi jalanya perang. Disudut bangunan sebelum balai kota, terdapat 3 orang dengan wajah tertutup dengan pakaian warna hitam. Dari laporan yang diterima Bills, mereka memiliki kecocokan dengan bentuk pedang yang melengkung. Bills tersenyum sinis dan mulai mendekat.. "Aku menemukan tikus yang busuk"
Dengan menjaga jarak dengan 3 orang itu, Bills diam-diam mulai menguping untuk mendapatkan informasi. Dari percakapan mereka, Bills menemukan informasi yang berguna..
NC 1
"Serangan balasan ini sungguh brutal, meskipun ras demi-human sedikit mereka berhasil menguasai separuh kota dalam waktu singkat"..
Jalanya perang menjadi mencekam, berkat strategi trisula prajurit hutan agung dapat mengendalikan perang. Taktik yang sering digunakan Valey saat event Invasi di game Erias dulu...
NC 2
"Aku juga tak menyangka bahwa mereka memiliki perlengkapan tempur yang kuat, tidak ada informasi apapun tentang perlengkapan itu"
NC 3
"Ya berkat serangan balasan ini rencana kita gagal total, rencana utama terhambat gara-serangan ini. Dan yang paling aku benci adalah menunggu informasi dari intelijen kita yang ada di hutan rach."
Bills yang mendengar itu mulai menyampaikan laporan ke bamantara melalui telepati.
"Bamantara"
"Sayang sekali, intelijen itu sudah dihabisi oleh bawahan Mahita. Tapi mereka yang ada disini hanya berfokus untuk menyerang demi-human. Tapi, tangkap mereka! mungkin mereka memiliki informasi yang bagus."
Bills berdiri dan dalam sekejap berada dibelakang mereka dan merangkul dua orang misterius itu..
"Bills"
Halo tuan, aku juga mau bergabung dalam obrolan kalian"
Dua orang itu terpaku tidak bisa bergerak karena jentikan jari Bills, sedangkan satu orang lagi hanya terdiam dan kebingungan dengan kejadian ini.
NC 1
"K k kau siapa!?"
Dengan senyum sinis, Bills perlahan mulai meraih leher dan menjentikan jarinya. "clib"
"Bills"
Menurut saja, kalian tidak memiliki hak untuk menolak kehkehkeh"
Tiga orang misterius dibawa kesebuah bangunan untuk di introgasi.
Di dalam gedung kosong yang ditinggalkan pemiliknya, tiga orang misterius itu di introgasi dengan sihir cuci otak. Sihir cuci otak merupakan sihir manipulasi yang memiliki kemampuan untuk memaksa target menuruti perintah pengguna, sihir ini sangat terlarang karena menyebabkan kerusakan otak yang fatal dan membuat target mati.
Bills merupakan insectar jenis semut, semua bawahan Bamantara merupakan jenis insectar. Bills ahli dalam menyamar, dia merupakan penyihir spesialis type racun yanh dapat membunuh target dengat cepat. Meskipun type penyihir, dia juga memiliki fisik kuat yang di atas standar yang memungkinkanya untuk menyargap musuh.
Bills
"Informasi kalian sangat berguna, meskipun kalian hanyalah bawahan yang ceroboh"
Bills lalu melaporkan hasil introgasinya ke Bamantara.
Bamantara
"Baik, kerja bagus bills.. lanjutkan pencarian informasi di kota ini. Informasi remeh juga tidak masalah, karena mungkin bukan hanya negara suci yang memiliki campur tangan di kota ini."
Bills
"Baik tuan, sesuai perintah anda."
Bills lalu bergerak menuju mansion, dia berpikir untuk mengulik semua dokumen penting sebelum dilenyapkan orang lain. "
Movic tiba di alun-alun kota diikuti beberapa bawahanya, pikiranya mulai goyah dengan emosi yang meluap. Movic melihat kekacauan di sepanjang jalan, banyak mayat prajurit tergeletak di jalanan. Dia sudah kehilangan akal sehatnya dan segera ingin membalas. Movic mulai berhdapan dengan Eldo, dia mulai menghunuskan pedangnya di hadapan Eldo.
Movic
"Heeii!! akulah lawan mu!! akulah yang memimpin prajurit di kota ini!!"
Dengan suara lantang Movic menantang Eldo untuk bertarung, meskipun dia tahu dia akan kesulitan atau akan mati dia tidak gentar sedikitpun. Dengan idealismenya dan harga diri sebagai prajurit, dia mengabaikan resiko di depan matanya.
Eldo
"Hoo... Kau dan semua pasukanmu akan aku habisi disini, demi keluarga, teman, dan rakyatku dihutan rach.. Aku akan membalas semua atas kekejaman prajurit kerajaan."
Eldo dan Movic mulai bersiap untuk beradu kekuatan. Meskipun terlihat berat sebelah, tetapi Movic yang sebagai keluarga cabang Vandter memiliki skill berpedang yang di akui.
"Aku Eldo Leonhard akan menghancurkanmu!!! haaaaa!!!"
"Aku Vandter Movic akan membunuhmu!!! haaaa!!!!"
Mereka mulai beradu pedang dengan kekuatan yang luar biasa, suara benturan pedang menggema dengan nyaring. Dua skill berpedang yang berbeda telah di tunjukan, Eldo yang menunjukan kekuatan dan Movic yang menunjukan kecepatan.
Semua prajurit memilih menjaga jarak sebagai pertarungan akhir untuk pemimpin, di momen ini adalah puncak akhir dari peperangan.
Valey mulai bergerak, prang Ibu kota menemui jalan buntu, negara-negara di dekat kerajaan Ladiva menyiapkan rapat darurat, dan pasukan kekaisaran menunjukan pertarungan yang gagah berani.
